WHY...

WHY...
Aku telah menjadi Cinderella!



Seperti kopi hitam, padahal warna dari teh itu hampir mirip dengan teh manusia asli.


Untunglah aku sering minum kopi hitam saat aku masih kecil, jadi aku masih bisa meminumnya tanpa terganggu oleh rasanya.


Kukira ada rapat yang harus dibahas, ternyata mereka hanya berbincang santai saja. Apa aku perlu bertanya kepada mereka tentang kejadian itu? Atau... nanti saja? Kurasa aku akan bertanya nanti saja, karena tidak mau menganggu pembicaraan mereka.


Ah... aku sangat ngantuk... aku pun tertidur tiba-tiba.


"Naoo.. kau tidak apa-apa?" Tanya Chang dengan lembut


Aku membuka mataku, dan aku melihat sekelilingku. Astaga! Aku berada di rumah Chang sekarang! Bagaimana bisa!!?? Aku melihat ke arah jendela, dan ternyata... masih siang. Lha? Jadi yang di dunia dimensi itu... hanya mimpi atau kenyataan? Em... kurasa itu bukan mimpi semata, menurutku itu benar-benar terjadi.


Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja karena aku tidak mau Chang panik soalku, dan untungnya Lara tidak terluka sedikitpun. Akhirnya kami bertiga pun bermain hingga sore, dan untungnya aku ingat waktu sehingga aku tidak terlambat pulang ke rumah. Kali ini aku pulang jam 17.00 sore, karena aku harus datang ke acara pesta pernikahan teman orang tuaku.


Aku memakai gaun berwarna biru muda, layaknya gaun Cinderella. Tapi aku tidak punya sepatu kaca... untungnya aku punya sepatu hak tinggi yang memiliki persamaan warna dengan gaunku, jadi aku bisa memakai sepatu itu sebagai penggantinya.


Aku hanya memakai dandanan tipis, hanya sekedar untuk menutupi jerawatku yang bisa dibilang... cukup banyak. Papaku tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang belum selesai, sekaligus ingin menjaga rumah agar tetap aman. Jadi aku pergi bersama dengan mamaku menggunakan mobil, dan kami sampai tepat pada waktunya.


"Tante, bolehkah aku mengajak Naomi jalan-jalan di sekitar sini? Jangan khawatir, saya akan menjaganya dengan baik." Kata Kaseki kepada mamaku sambil memastikan bahwa aku akan aman bersamanya


"Silahkan, jangan terlalu jauh ya. Selamat bersenang-senang~~" Jawab mamaku sambil menahan tawa


Astaga... tapi ya sudahlah, aku bisa bersama Kaseki dengan tenang, tanpa gangguan mamaku yang sering kali mendadak menyebalkan. Bukan bermaksud untuk mengusir mamaku, tapi aku kezel.


Kaseki membawaku ke sebuah taman yang indah, disana terdapat beberapa lampu taman yang berwarna-warni. Kaseki membawakanku sebuah hadiah, tidak kusangka dia membawaku sebuah box berbentuk hati berwarna merah dan pink yang dipadukan menjadi satu.


Setelah kubuka isinya, ternyata dia memberiku berupa sebuah kalung yang berliontin Bunga Sakura. Tapi... tunggu dulu. Bagaimana bisa dia tahu kalau aku menyukai Bunga Sakura? Aku menatap matanya agak lama untuk mencari jawabannya, dan ternyata Kaseki tahu kalau aku akan mendapat jawabannya dari tatapanku.


Tapi Kaseki tidak bereaksi apa-apa, justru jarak kepala kami semakin dekat. Bahkan sekarang jarak kepala kami hanya berjarak 1 cm, dan sepertinya... Kaseki... ingin... menciumku. AAAAA... BAGAIMANA INI... AKU GA BISA MENAHAN TATAPANKU LEBIH LAMA LAGIII... jarak kami pun sudah semakin dekat, sekarang keningku sudah bersentuhan dengan kening Kaseki. Kaseki mulai menutup matanya dengan perlahan dan...


Cup!


Bersambung~~