WHY...

WHY...
Main hingga lupa waktu



Aku memakai baju berwarna biru, celana dengan batas di bawah lutut berwarna hitam, dan memakai sandal jepit berwarna biru tua. Aku menyukai warna biru, karena itu sesuai dengan kepribadianku. Yaitu tenang dan menyendiri, namun cerdas dan pintar.


Sedangkan alasan mengapa aku menyukai warna hitam yaitu... hitam melambangkan kesedihan yang mendalam. Ya... aku masih bersedih atas kematian adikku yaitu Sumi, dan juga Mami. Aaaa... aku rindu sekali kepada mereka berdua, tetapi setidaknya mereka berdua tenang di sana.


Aku sudah sampai! Kuketuk pintu rumah Chang.


"Permisi!" Kataku


Seseorang membuka pintu, kulihat ada seorang anak yang kulihat bukan Chang, karena ukuran badannya yang lebih kecil dari Chang serta warna rambutnya yang berbeda jauh dengan warna rambut Chang. Kurasa itu adiknya yaitu Lara, lebih baik kutes dia dulu apakah dia punya sopan santun atau sama seperti ayahnya.


"Permisi, kakakmu yang bernama Chang ada di rumah ga? Saya temannya Chang, saya ke rumahmu cuman untuk bermain sama kakakmu saja kok." Kataku dengan lembut


"Masuk saja dulu kak, kakak Chang lagi di dalam kamar. Kalau boleh tahu, nama kakak siapa? Maaf kalau saya bertanya, karena saya tidak pernah lihat kakak sebelumnya." Balas Lara


Tidak terduga, ternyata anak ini sangat menjaga sopan santun. Tapi baguslah, dia tidak seperti orang tuanya. Dia mengantarkanku ke ruang tamu, dan mengambilkan secangkir teh. Sebenarnya aku ingin masuk ke kamar Chang, tetapi ini kan di rumah orang. Sudahlah, lebih baik aku menunggu saja dulu.


Dan ternyata di rumah Chang, orang tua mereka sedang ada urusan pesta sehingga Chang dan Lara tinggal di rumah berdua. Sudahlah, sebaiknya aku juga bersama mereka. Kami pun berbincang tentang banyak hal, terkadang Lara bertingkah sebagai pelawak yang membuat aku dan Chang menjadi tertawa.


Ternyata, Lara memang sering melawak orang lain agar mereka menjadi tersenyum dan tertawa. Lara merasa bahwa semua orang pantas mendapat sukacita, termasuk orang-orang yang dia kenal dan tidak. Menurutku, Lara cukup bijaksana. Seandainya Sumi ada disini, Lara dan Sumi pasti senang karena mereka mendapat teman baru.


Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 18.00 sore. Astaga! Aku hampir lupa kalau aku harus pulang sekarang! Dengan cepat kuambil tasku dan pamit pulang kepada mereka berdua, walaupun sebenarnya aku masih mau bersama mereka lebih lama lagi. Tapi apa boleh buat, lagipula aku harus tidur awal karena besok ada sekolah. Kebetulan juga orang tua Chang sudah sampai di rumah, tapi... tunggu sebentar...


Orang itu... sangat mirip dengan guruku yang kutemui saat pulang sekolah tadi, dan aura hitam itu masih menempel padanya. Jadi tadi itu aku melihat ayah Chang!? Bagaimana bisa beliau menjadi guru di sana!?


Astaga... sangat banyak pertanyaan yang muncul di otakku, tapi aku harus pulang! Jangan sampai mama mengkhawatirkanku seperti waktu itu! Saat aku sampai di rumah, kulihat mama papaku juga baru sampai ke rumah. Syukurlah, aku tidak terlambat...


Bersambung~~