WHY...

WHY...
Psikopat beraksi!!! =)



Aku terbangun pukul 06.00 pagi, dan aku baru menyadari bahwa aku tertidur di meja belajarku. Tapi tunggu, barang apa itu? Ada sebuah barang yang muncul di meja belajarku, tapi itu bukan barangku. Aku bahkan tidak pernah membawa barang itu sebelumnya, bahkan aku tidak pernah melihat barang itu sejak dulu.


Barang yang muncul di meja belajarku itu adalah sebuah album foto yang sudah usang dan sedikit berdebu. Hm... sepertinya aku harus membawanya ke sekolah untuk kulihat, karena aku harus pergi ke sekolah hari ini. Aku pergi mandi dan sarapan, lalu menyusun buku untuk pelajaran nanti, sekaligus mengecek apakah ada yang tertinggal atau tidak.


Sebenarnya aku juga ingin membawa buku diary raksasa itu, tapi masalahnya dia terlalu berat untuk kubawa ke sekolah. Akhirnya mau tidak mau, aku harus meninggalkannya di dalam rumah. Setelah siap pergi ke sekolah, akupun pamit kepada kedua orang tuaku dan keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, kulihat ada segerombolan gadis yang kemarin. Yap, geng yang kemarin melawanku. Tapi yang menjadi berbeda adalah mereka membawa 5 orang laki-laki untuk menghajarku. Astaga... apakah laki-laki itu tidak berpikir bahwa aku punya bola petir? Atau mereka anak polos? Tapi menurutku mereka tidak polos secara penampilan, atau jangan-jangan mereka anak bar-bar? Sudahlah, kalau mereka mau menghajarku, jangan salahkan aku kalau mereka yang terkena imbasnya.


Geng laki-laki itu mulai datang. Sudah kuduga, mereka kesini dan mereka membawa senjata. Aku mundur dan memasang raut wajah takut untuk memancing mereka, lalu berlari menuju lorong yang sangat jarang diketahui oleh orang-orang (lorong ini pernah muncul di bab ke sembilan.).


Sesampainya di lorong, aku langsung bersembunyi agar aku tidak terlihat. Dan beberapa menit kemudian, geng laki-laki itu mulai masuk ke lorong. Mereka kebingungan dengan lorong ini, karena mereka tidak tau lorong segelap ini ada di lokasi sekolah. Langsung saja aku mengambil beberapa kerikil dan pasir yang ada di dekatku, lalu aku merubah wujud mereka menjadi batu permata yang sangat bersinar.


"BOM!!!" (Suara batu permata meledak)


Geng laki-laki itu kaget karena batu itu meledak layaknya seperti bom, sebuah kesempatan untuk melarikan diri. Fiuh... untunglah aku mempelajari mantra itu saat aku membaca buku diary raksasa di hari kemarin, mantra itu sangat berguna untuk situasi tadi. Kurasa aku harus berterima kasih kepada buku diary raksasa itu, karena dia telah menampung semua memori dan hal-hal penting yang harus kuketahui.


Untunglah pakaianku tidak kotor sedikitpun, sehingga aku bisa langsung kembali ke kelas dengan tenang, tanpa dicurigai oleh siapapun. Oh iya! Aku kan udah di kelas, bagaimana kalau aku buka album foto tadi dan kulihat isinya? Sepertinya itu bukanlah ide yang buruk.


Bersambung~~