
"Aku pulang," ucap Harin sembari membuka pintu.
"Tidak ada orang, kah?" ucapnya bingung saat tidak ada sautan dari ibunya.
"Apa ini?" ucap Harin bingung saat melihat secarik kertas di atas meja.
"Pergi ke toko Bu Ani. Ibu ada di sini," isi dari secarik kertas tersebut.
"Bu Ani?" ucapnya sembari meletakkan kembali secarik kertas tersebut.
"Bu Ani yang buka jasa salon, kah?" tanya Harin sembari menuju ke kamar.
Sesampainya di sana, Harin langsung masuk dan melihat ibunya serta seorang wanita paruh baya yang sedang asyiknya mengobrol.
"Apa kau Harin?" tanya wanita itu.
"Iya, saya Harin," jawab Harin sembari menunjukkan senyumannya.
"Harin, ibu akan buka toko salon," ucap ibunya Harin.
"Benarkah?" tanyanya dengan senang dan ibunya Harin langsung mengangguk.
Tiba-tiba, pintu toko tersebut terbuka dan terlihat seorang yang memakai seragam sekolah SMA Harapan Indah.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya orang itu langsung saat melihat Harin.
"Aiydeen, kenapa kau di sini?" tanya Harin kembali.
"Apa kalian saling kenal?" tanya wanita paruh baya itu.
"Kalian teman sekelas?" tanya ibunya Harin setelah mendengar cerita yang diceritakan oleh Harin.
"Harin, bagaimana Aiydeen di sekolah?" tanya Ibu Ani, ibunya Aiydeen.
"Dia sangat populer. Semua cewek menyukainya," jawab Harin yang membuat Ibu Ani langsung tertawa.
Setelah itu, Harin serta ibunya langsung pulang ke rumah. Saat makan malam, Harin bertanya ke ibunya terkait Ibu Ani dan Aiydeen.
"Ibu Ani yang dulu pernah jualan es krim itu, kah?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" jawab ibunya Harin sembari memakan masakannya.
"Seingat Harin dulu, Ini Ani tidak mempunyai anak, deh?" tanya Harin.
"Dulu anaknya ikut bersama suaminya di kota. Saat kita sudah pindah, dia baru pindah ke sini. Makanya kalian tidak pernah bertemu," jelas ibunya Harin.
"Ohh," jawab Harin sambil menganggukkan kepalanya.
****
"Apa dia orangnya? Kalau aku adalah dia, aku sudah malu setengah mati," ucap seorang siswa.
Harin menuju ke kelas seperti biasanya dan tidak lupa untuk menyapa siswa lain. Namun anehnya, kenapa banyak siswa yang menatap dirinya dengan aneh. Tidak hanya menatap, mereka berbisik dengan matanya yang menatap dirinya.
"Aneh. Kenapa aku merasa gugup?" kata Harin aneh sekaligus gugup di waktu yang sama.
"Ini aneh," gumamnya sembari berjalan menuju kelas.
"Harin?" panggil Rini dengan wajah yang sangat khawatir.
"Kenapa? Kalian kenapa?" tanya Harin bingung saat melihat mereka yang menatap dirinya.
"Apa kau tidak tahu sama sekali?" tanya Chris ke Harin.
"Tahu apa?" tanya Harin.
"Kau ingat Kak Kino?" tanya Rini ke Harin.
"Kak Kino yang di kantin itu?" tanyanya memastikan lagi.
"Iya," jawabnya dengan cepat.
"Dia mengunggah sesuatu di Instagram. Dan itu tentang dirimu," jelas Chris.
"Tentang apa?" tanya Harin yang semakin bingung.
"Dia bilang jika kau mempermainkan perasaannya dan menolaknya," jelas Chris lagi.
"Kapan aku menolaknya?" Ucap Harin dengan sangat bingung.
"Ni baca," ucap Rini sembari memberikan ponselnya ke Harin.
Harin menghela nafas gusar. Harin tidak pernah menemuinya selain di kantin kemarin dan itu pertama kalinya. Bagaimana bisa?
Hari ini hatinya sedang tidak baik-baik. Karena itu, wajahnya kelihatan sangat lesu dan lemas. Siapa saja yang tidak begitu jika dirinya dituduh seperti itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Aiydeen.
"Aku baik-baik saja," jawabnya sembari menuju ke lab.
"Kau tidak baik-baik saja, mukamu suram kayak kamar mandi yang tidak terurus," ucapnya dengan sangat khawatir.
"Bukan suram kalau itu. Seram," jawab Harin.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aiydeen.
"Aku akan berjalan menuju ke lab komputer dan belajar. Bye," ucap Harin sebelum lekas pergi.
"Tunggu aku!" jerit Aiydeen dari belakang.
Harin sedang bersantai di atap sekolah sekalian menghirup udara dari atap sekolah yang lumayan tinggi itu. Tidak disangka jika kehidupan yang ia anggap akan baik-baik saja tidak sejalan dengan ekspektasinya. Dia kira semuanya akan berubah tetapi tetap saja. Jika begini, semuanya kelihatan sama saja tidak ada yang berubah walaupun wajahnya berubah. Ia tak hentinya menghela nafas kesal bercampur kecewa. Sedang asyiknya bersantai, Sara dengan tiba-tiba mendekati Harin.
"Apa Kak Kino menyukaiku?" tanya Harin tidak percaya jika dirinya disukai oleh Kino.
"Iya, dia menyukai dirimu. Tapi, apa kamu juga suka sama Kak Kino?" tanya Sara.
"Tidak," jawab Harin dengan cepat bahkan lebih cepat dari kecepatan angin.
"Baguslah kalau begitu," jawab Sara.
"Maksudmu?" tanya Harin bingung.
"Kamu mau tahu apa julukannya?" tanya Sara yang membuat penasaran yang ada di tubuh Harin semakin meninggi.
"Apa?" ucap Harin yang sudah penasaran.
"Mereka memanggilnya "buaya" karena kebiasaannya yang sering menggoda cewek. Semua siswa kelas 12 tahu kalau dia begitu. Sudah banyak cewek jadi korbannya," jelas Sara.
"Ahhh, begitukah?" ucap Harin setelah mendengar cerita tersebut.
Harin menutup rasa bingungnya. Aneh saja, tidak sampai sebulan ia bersekolah di sini, ia sudah bisa mengetahui hal yang seperti itu.
"Aku jadi lega jika kau tidak menyukai Kak Kino," kata Sara sembari menatap Harin.
"Dia tidak pernah meminta untuk berpacaran dengannya tapi dia mengatakan jika aku menolaknya," ucap Harin kesal.
Sara menepuk punggung Harin untuk menenangkan Harin yang gelisah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Walaupun Sara menunjukkan gelagat yang aneh dan mencuci, Harin berpikir positif jika sifat Sara seperti itu. Aneh dan mencurigakan.
****
"Benar dia bilang itu ke kamu?" tanya Arin ke Harin.
"Iya, dia bilang itu ke aku," jawab Harin.
Benar yang dikatakan oleh Sara jika Kino adalah orang yang seperti itu yang suka menggoda banyak cewek di sekolahnya itu. Tapi, darimana ia tahu tentang itu? Dia baru beberapa hari di sini. Itu cukup mencurigakan.
"Dia sedikit aneh bagiku," ucap Aiydeen yang ikut nimbrung.
"Aneh?" tanya Rini bingung apa yang dikatakan oleh Aiydeen.
"Hanya aneh saja," jawab Aiydeen tanpa memberikan alasan yang pasti.
"Aku lihat dia sering ajak Reyhan berbicara tapi kalian tahulah Reyhan itu bagaimana. Kalau aku jadi dia, aku akan menyerah saja. Mengajak berbicara dengan Reyhan sama saja seperti mengajak dinding berbicara," jelas Chris, yang memerhatikan Sara yang duduk tepat di hadapannya.
"Jadi selama ini kau memerhatikan dia?" tanya Rini marah. Bagaimana tidak marah jika pacarnya memerhatikan cewek lain.
"Tidak-tidak. Dia duduk di depanku, jadi mau tak mau aku perhatiin, deh," jelas Chris.
Beberapa menit kemudian, Sara masuk dengan wajahnya yang kelihatan sangat kesal. Terlihat sangat berbeda dari biasanya yang sering tersenyum itu.
"Sara, kau kenapa?" tanya Harin dengan khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja," jawabnya.
"Aneh. Biasanya ia tidak pernah lupa untuk senyum," ucap Arin.
"Dia tidak baik-baik saja," ucap Harin sangat khawatir melihat temannya itu.
Keesokan harinya, mereka menuju ke sekolah keadaan yang sedikit lembab serta tanah yang masih basah karena di basahi oleh hujan yang turun tadi malam. Tiga menit sebelum bel berbunyi mereka sudah hadir di sekolah.
Mereka pun berjalan bersama-sama menuju ke kelas. Saat di tengah perjalanan, secara tiba-tiba Kino menghampiri Harin. Hal itu membuat Harin sedikit kaget karena Kino dengan nafasnya yang masih terengah-engah meminta untuk ingin berbicara dengan Harin. Harin tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.
"Reyhan?" ucap Harin bingung saat melihat Reyhan ada di sana.
Sepertinya Reyhan sudah menunggu kedatangan Harin dan Kino di tempat itu. Hal itu membuat Harin bertanya-tanya. Kenapa Kino secara tiba-tiba ingin mengajak bicara dengannya. Bahkan terdapat Reyhan di sana yang kelihatan sudah menunggu itu.
"Cepat lakukan," ucap Reyhan dengan dingin.
Harin tidak tahu apa yang terjadi sekarang, hanya diam memerhatikan setiap detik kejadian ini.
"Iya, aku akan lakukan," jawab Kino dengan nada ketakutan.
"Ak-aku min-," ucap Kino dengan gugup namun dipotong oleh Reyhan, "katakan dengan betul."
"Aku minta maaf karena sudah menuduh dirimu mempermainkan perasaanku dan mengatakan jelek tentang dirimu!" Kata Kino dengan sangat lantang.
Sontak, Harin menatap Reyhan bingung. Apa yang terjadi sekarang? Kenapa dia tiba-tiba meminta maaf ke Harin? Dan mengapa Kino keliatan sangat ketakutan? Dan kenapa Reyhan menyuruhnya untuk melakukan itu?
"Aku minta maaf," ucap Kino yang tidak berani untuk mengangkat kepalanya.
Kino mengatakan kalimat yang sama yaitu "maafkan aku" selagi tidak ada jawaban dari Harin. Karena tidak tega melihat itu, "Iya, saya maafkan Kak Kino," jawab Harin.
"Setelah ini saya tidak ingin jika ada kabar begini lagi. Kalau ada, awas, ya?" ucap Reyhan ke Kino yang sudah siap untuk pergi dari sana.
"Iya," jawabnya dengan cepat dan langsung pergi dari sana.
Harin memerhatikan Kino yang semakin lama semakin menghilang dari penglihatannya. Ini sangat aneh. Dia tiba-tiba meminta maaf dan itu atas suruhan dari Reyhan. Kalimat yang tepat untuk sekarang adalah apa yang dilakukan Reyhan hingga Kino melakukan itu?
"Apa yang kau lakukan dengannya?" tanya Harin bingung.
"Menegurnya," jawab Reyhan dengan santai, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
-Flasback on-
"Kak Kino?" panggil Reyhan.
"Apa?" ucap Kino.
"Ada apa?" tanya Kino yang bingung saat Reyhan membawanya ke atap sekolah.
"Kenapa sibuk menggoda cewek bukannya siswa kelas 12 harus fokus untuk ujian masuk universitas?" tanya Reyhan tiba-tiba.
"Menggoda cewek? Siapa?" ucap Kino dengan kesal.
"Siapa lagi kalau bukan...," ucap Reyhan yang sengaja memperpanjang ujung kalimatnya.
"Kalau bukan siapa?" tanya Kino yang tidak sabar.
"Kau," jawabnya dengan cepat.
"Apa? Kau memanggilku "kau"?" tanyanya dengan kesal.
"Dasar adik kelas kurang ajar!" ucapnya dengan kesal sembari melempari pukulannya ke arah Reyhan.
Namun, itu sia-sia. Reyhan dengan mudah mengelak dari pukulan itu. Kino yang berusaha memukul Reyhan namun dengan mudahnya Reyhan elak.
"Hentikan. Saya tidak mau berantem," ucap Reyhan sambil mengelak pukulan yang dilontarkannya.
Tak mau kalah, Kino melontarkan beberapa pukulan dengan cepat ke arah Reyhan. Namun itu hanya sia-sia. Reyhan dengan sigap mengunci tubuh Kino supaya kakak kelasnya yang lebih pendek dari dirinya diam. Kino menjerit kesakitan saat tubuhnya dikunci oleh Reyhan.
"Jangan bergerak. Semakin bergerak semakin sakit, lho?" ucap Reyhan semakin kencang mengunci tubuh Kino.
"Saya sudah sabuk hitam taekwondo," ucapnya yang membuat Kino seketika diam tak bergerak.
"Dengar ini baik-baik dan jangan membuang waktuku hanya karena ini," ucap Reyhan yang masih mengunci tubuh Kino.
"Kenapa kau mengunggah tentang Harin di Instagram?" tanya Reyhan.
"Dia menolak diriku dan mengatakan jika diriku adalah buaya. Emang aku hewan, dibilang buaya," jawabnya.
"Darimana kau tahu jika Harin berkata seperti itu?" tanya Reyhan.
"Sebelum aku menjawabnya, tolong lepaskan. Sakit," ucapnya yang sudah kesakitan.
Reyhan pun langsung melepasnya. Kino segera berdiri dan membersihkan seragamnya yang kotor itu.
"Cepat beritahuku," ucap Reyhan yang tidak sabar.
"Sara. Dia bilang itu ke diriku," jawabnya.
"Sara?" ucapnya bingung.
"Aku minta tolong ke dirinya untuk mendekati Harin. Tapi, sehari sebelum aku unggah itu, dia bilang kalau Harin tidak menyukaiku dan menolakku. Dia juga mengatakan jika aku ini buaya," ia menceritakan semuanya dengan sangat kesal.
"Aku kesal dan aku unggah, deh," ucapnya lagi.
Reyhan terdiam sejenak. Anak baru itu tidak seperti wajahnya yang imut dan polos itu, pikirnya.
"Kau senang? Kalau gitu aku pergi dulu," ucap Kino.
"Jangan pernah kau berbicara dengan Harin lagi, ingat itu," ancam Reyhan.
Reyhan sekarang sudah sangat kesal bercampur marah. Jika digambarkan dalam film, sekarang tubuh Reyhan dipenuhi oleh warna merah seperti api yang membara.
"Apa kau ibuku yang bisa sesuka hati mengaturku?" ucap Kino sebelum pergi dari sana.
"Atau aku bilang ke guru jika kau sering bolos dan merokok. Cepat pilih?" ucap Reyhan mengancam Kino.
"Bagaimana kau tahu itu?" tanya Kino terkejut.
"Aku memang sedingin suhu kutub utara, tapi mataku tidak beku dan masih bisa berfungsi," jawabnya.
"Oke! Kau mau apa sekarang?" tanya Kino yang sudah tidak ada pilihan lain lagi.
"Padam unggahan itu. Minta maaf ke Harin dan jangan pernah ganggu dia lagi. Kalau tidak aku akan memberi tahu ke guru tentangmu," ucap Reyhan.
"Kalau tetap tidak mau. Kau mau apa?" tanya Kino yang membuat Reyhan semakin kesal.
Dengan cepat Reyhan meraih pergelangan tangan Kino dan menariknya yang membuat Kino menjerit kesakitan, "Atau aku patahkan tangan ini supaya kau tidak bisa makan lagi," kata Reyhan yang semakin lama semakin kuat ia menarik.
"Oke! Akan aku lakukan besok!" ucapnya yang sudah kesakitan.
Reyhan melepaskan tangannya sedangkan Kino berdiri kembali untuk segera pergi dari sana. Reyhan membersihkan pakaiannya kembali dan mengambil tasnya yang jatuh saat mengunci tubuh Kino tadi. Ia menjadi teringat dengan pengakuan Kino beberapa menit yang lalu. Baginya Sara sangat mencurigakan. Mengapa ia mengatakan itu ke Kino?
"Sara? Ini menarik," ucap Reyhan sembari meninggalkan tempat itu.
-Flasback off-
"Kau mengancamnya? Jadi apa kau tidak akan memberi tahu ke guru?" tanya Harin setelah mendengar cerita dari Reyhan.
"Iya, tapi dia akan tetap ketahuan," jawabnya.
"Bagaimana?" tanya Harin.
"Sebenarnya aku tahu itu dari menguping pembicaraan Pak Satpam dengan Pak Agus tentang bau rokok di belakang sekolah. Dari situ juga aku tahu jika ada banyak murid yang suka bolos," ucap Reyhan menjelaskan.
"Kau kenapa?" tanya Reyhan saat melihat Harin tersenyum.
"Ini pertama kalinya kau bicara sangat panjang. Selama ini kau hanya menjawab tidak atau ya," jawab Harin dengan senyumannya yang semakin melebar.
Reyhan memerhatikan itu. Dia diam tak berkutik namun berbeda dengan tubuh bagian dalamnya. Ia serasa ingin meledak.
"Perasaan apa ini?" pikirnya.
"Tapi, kenapa kau lakukan itu? Apa ada korban selain aku? Apa korban sebelum diriku juga kau bantu?" Tanya Harin penasaran.
"Tidak, aku hanya membantumu," jawab Reyhan.
"Kenapa?" tanya Harin lagi.
"Aku hanya ingin membantumu. Karena kita teman?" jawabnya.
"Terima kasih, Si Kutub Utara," ucap Harin dibalas dengan senyuman Reyhan.
"Apa kau tersenyum?" tanya Harin kaget melihat Reyhan tersenyum.
Ini sangat langkah. Bagaimana seorang yang dingin bisa tersenyum?
"Kenapa? Tidak bisa?" tanya Reyhan kembali.
"Sayangnya aku tidak membawa ponsel. Jika ada, aku mengambil foto kau tersenyum dan mencetak itu menjadi lembaran foto. Setelah itu aku pajang di museum. Pasti banyak yang datang lagi-lagi penggemar dirimu. Pasti banyak uang yang aku dapat. Kaya aku," katanya yang ujung-ujungnya berbicara dengan diri sendiri.
Sedangkan Reyhan hanya menatap Harin. Harin tidak seperti penampilannya yang kelihatan pemalu.
"Dia lucu," pikirnya sambil tersenyum.