What Is Beauty?

What Is Beauty?
Tersebar



"Kamu tahukan jika aku menyukai Reyhan? Kamu bisa membantuku?"


Harin kaget seketika. Bagaimana tidak, mereka menyukai orang yang sama. Harin ingin sekali mengalah tapi di sisi lain ia ingin tetap mempertahankan perasaannya. Ia dilanda kebingungan, jika ia membantu Sara artinya ia harus menyerah. Namun, jika ia tetap mempertahankan, ia tidak ingin membuat temannya kecewa.


"Kamu membantu diriku, kan? Kamu kan temannya," kata Sara lagi.


"Teman? Kami tidak sedekat itu," jawab Harin yang berusaha menutupi rasa sedihnya sekaligus khawatir.


"Jadi kau bisa membantuku?" tanya Sara lagi.


Tidak ada pilihan lain. "Baiklah aku membantumu."


Ia tahu apa yang ucapkan tadi akan membuat dirinya menyesal. Namun, ia tidak ingin temannya kecewa dengan dirinya. Berteman dengan Sara yang cantik dan pintar, ia sudah bersyukur.


"Terima kasih," jawab Sara dengan kegirangan. Berbeda dengan Harin, wajahnya terlihat jelas seperti sedang bersedih.


Siapa saja yang tidak kesal jika ada berita tentang dirinya disukai oleh seseorang yang ia tidak suka. Melihat wajahnya saja ia sudah muak bagaimana lagi jika mengetahui orang itu menyukai dirinya. Reyhan sangat kesal dengan pengakuan Sara yang mengaku jika ia menyukai Reyhan.


Reyhan mengajak Sara ke tempat yang sepi agar siswa lain tidak mendengar pembicaraan mereka. Sara awalnya senang karena berpikir jika Reyhan akan membalas perasaannya. Di tempat yang sepi pasti cocok untuk menyatakan perasaan.


"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Reyhan dengan sangat dingin.


"Melakukan apa?" tanya Sara yang bingung. Reyhan tidak menjawab dan menatap Sara dengan dingin. Akhirnya Sara mengerti. "Karena aku menyukaimu."


"Aku tidak pernah menyukai dirimu. Jadi, jangan berharap jika perasaanmu terbalaskan," jawab Reyhan dengan dingin. Sara sudah tentu kecewa dengan jawaban tersebut.


"Aku tidak suka caramu mendekati diriku. Kau tahu, itu sangat merepotkan. Aku sangat tertekan saat melihat wajah kau setiap hari," kata-katanya sangat menusuk hati Sara. Itulah salah satu kelebihan tersembunyi Reyhan, bisa mengatakan kata-kata yang tajam setajam silet.


"Apa yang kau sukai darinya? Dia bisa secantik itu karena riasan," pertanyaan yang dilemparkan oleh Sara sepertinya ia tahu. Reyhan tertawa saat melihat sisi lain dari Sara.


"Dia sangat jujur tidak seperti dirimu yang munafik. Apa kau tidak tahu jika kau sebenarnya membenci Harin?" seketika Sara terdiam mendengar kalimat tersebut.


"Tidak perlu khawatir aku tidak akan memberitahu ke semua orang jika siswi yang bernama Sara membenci Harin karena aku tidak sama sepertimu," kata Reyhan lagi-lagi membuat Sara kesal.


Setelah itu, Reyhan meninggalkan Sara yang sudah tidak bisa menahan rasa kekesalannya. "Awas kalian."


Sejak dari itu, Harin menjadi menjauh dari Reyhan. Reyhan tahu ia melakukan itu karena Sara. Karena itulah ia ingin meluruskan semuanya.


Harin yang sedang berjalan bersama Aiydeen menuju kantin disamperin oleh Reyhan. Seketika Harin menjadi dingin. "Kau mau apa?" tanya Harin dingin.


Harin mendengar bisikan tersebut. "Kau dengar itu? Sara pasti sedih jika melihat orang yang ia sukai berbicara dengan cewek lain."


"Aku tidak pernah menyukai dirinya," kata Reyhan dengan jujur.


"Kau bisa belajar menyukainya, kan?" tanya Harin. Lihat dari nadanya sudah jelas Harin seperti sedang kesal.


Tak berselang lama, Harin berinisiatif untuk pergi dari sana namun, ditahan oleh Reyhan. Reyhan mengajaknya untuk berbicara empat mata di suatu tempat. Walaupun pada awalnya ia menolak, ia mengikutinya karena Aiydeen yang membujuknya.


"Apa?" Harin dengan dingin bertanya.


"Aku tidak pernah menyukai Sara bahkan sedetik pun," kaya Reyhan.


"Terus?" Harin masih dingin ke Reyhan.


"Karena aku menyukai dirimu," jujur Reyhan.


Sontak Harin kaget. Ternyata orang ia sukai, menyukai dirinya juga. Tapi, apa boleh buat, ia telah menyerah dengan perasaannya. "Kenapa kau mengatakan itu ke diriku? Bukankah kata-kata itu untuk Sara?"


"Aku pergi," Harin pamit karena terlanjur kesal. Harin pasti sangat kesal dengan dirinya. Reyhan tidak bisa berbuat banyak dan hanya melihat kepergian Harin.


Beberapa hari kemudian, adalah hari sial bagi Harin. Hari ini adalah hari yang sangat membuat Harin khawatir. Hari di mana masa lalunya tersebar luas. Ia takut jika teman-temannya menjauhi dirinya karena melihat wajah jeleknya.


Entah siapa yang menyebarnya, ada orang yang sengaja menyebarkan foto serta video tentang masa lalu Harin saat di sekolah lama. Seperti kebiasaannya, orang yang ada di dalam foto telat mengetahui. Harin yang masih perjalanan menuju kelasnya dibuat kebingungan saat melihat semua siswa menatapnya aneh.


"Aku tidak percaya."


"Dewi cantik apaan?"


Walaupun ia merasa ada yang aneh, ia dengan cepat menuju ke kelas. Tampaknya keadaan di dalam kelas sama seperti di luar. Semua teman sekelasnya menatapnya aneh. Harin yang ditatap seperti sudah pasti kebingungan.


"Harin apa ini benar kau?" tanya Rini sembari menunjukkan beberapa foto dan sebuah video ke dirinya.


Harin tak menjawab dan diam tak berkutik. Ia tidak sangka jika hari yang sangat ditakutinya benar-benar hadir. Ia tidak bisa menahan rasa sedih dan menangis di saat itu juga. Melihat reaksi Harin, membuat teman sekelasnya seketika yakin jika benar Harin yang ada di dalam foto tersebut.


Semuanya berpaling dari dirinya kecuali Rini yang ada di depannya yang masih tidak percaya. Harin menepis tangan Rini yang hendak memegang lengannya. Setelah itu, Harin berlari keluar kelas sembari menangis. Di saat yang bersamaan, Reyhan berinisiatif untuk mengejar Harin namun, ditahan oleh Sara yang ada di sampingnya. Akhirnya ia mengalah karena Aiydeen sudah mengejar Harin duluan.


Harin berlari sambil menangis. Ia keluar dari sekolah dan diikuti oleh Aiydeen dari belakang. Aiydeen kehilangan jejak Harin dikarenakan banyak mobil yang lewat. Ternyata Harin sudah menaiki bus yang ada di sana. Walaupun ia tidak tahu ke mana arah bus itu pergi, Harin hanya ingin pergi menjauhi. Aiydeen tetap mencari di mana Harin namun, usahanya gagal.