
Semua orang menatapnya dengan aneh. Tidak ada pandangan yang terlepas darinya. Saling mendekat untuk berbisik mengatakan, apa orang itu tidak merasa malu setelah apa yang terjadi ke dirinya? Namun, orang yang menjadi pusat perhatian ini berjalan dengan penuh percaya diri.
"Aiydeen? Kau datang?" tanya Chris kaget sekaligus khawatir akan temannya.
Aiydeen mengangguk namun, reaksi teman-temannya berbeda dengan yang diharapkan. Ia mengira jika seluruh temannya akan senang dengan kehadirannya. Semuanya malah berbisik, sudah pasti mengatakan yang bukan-bukan tentang dirinya. Sebagai teman, Harin pasti merasa kecewa dengan sikap semua temannya.
"Bukankah kalian menginginkan jika Aiydeen datang? Kenapa sekarang kalian sepertinya tidak suka?" tanya Harin yang membuat semua temannya langsung terdiam.
"Tetap saja dia mantan perundung," jawab seseorang dari belakang sana yang langsung membuat Harin kesal. Bagaimana tidak, siapa saja yang tidak marah jika ada yang mengatakan itu ke temannya sendiri? Bukannya mendukung justru mereka membuat keadaan semakin pelik.
Aiydeen memegang tangan Harin saat ia ingin menjawab ucapan teman sekelasnya. "Tidak apa-apa, biar aku saja. Terima kasih telah membantuku," kata Aiydeen yang menenangkan Harin.
"Berita itu benar. Aku memang mantan perisak. Aku dulu suka sekali menganggu siswa lain, meminta uang mereka dan masih banyak lagi. Namun, aku sadar jika apa yang aku lakukan saat itu salah. Aku berusaha untuk berubah. Aku sudah meminta maaf kepada semua siswa yang telah aku ganggu. Aku telah mendapatkan akibat dari perbuatan aku dulu. Aku benar-benar minta maaf," jelas Aiydeen.
Semuanya diam mendengar sampai tidak sadar jika Pak Beni mendengarkan pengakuan dari Aiydeen. Pak Beni sampai menangis mendengar pengakuan tersebut. Dikarenakan keberadaannya sudah ketahuan, ia masuk dengan suara hisapan cairan yang ada di hidungnya sambil mengusap kedua matanya.
"Terima kasih karena sudah berani , Aiydeen. Bapak bangga sama kamu tapi alangkah baiknya kamu menceritakan semuanya di ruang guru. Bapak ingin mendengar lagi yang lebih detail, bisa?" ucapnya sambil terbata-bata karena tangisannya.
Aiydeen mengangguk dengan cepat. Setelah itu, ia memandangi Harin yang ada di sampingnya sambil tersenyum. Sebenarnya, semua ini berkat Harin yang menyemangati dan mendukung dirinya. Jika saja Harin tidak ada, ia tidak akan berani untuk menginjakkan kakinya di lantai sekolah.
Kemarin, Harin datang untuk mencari Aiydeen di rumahnya. Karena ini menyangkut masa lalu, Harin mengajak Aiydeen untuk membicarakan itu di taman. Memang pada awalnya suasana sedikit canggung dikarenakan Harin yang masih belum terbiasa jika berbicara berdua dengan lawan jenis.
"Aku akan nunggu sampai kamu mau cerita," ucap Harin setelah lama diam dalam canggung.
Aiydeen tertawa pelan mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Harin. "Baiklah, aku akan menceritakan semuanya dari awal."
"Berita itu memang betul, aku dahulu suka merundung. Menganggu, meminta uang secara paksa sampai memukul, semuanya sudah pernah aku lakukan ke mereka. Tapi, akhirnya aku sadar jika semua itu salah makanya aku memutuskan untuk berhenti saja. Aku tidak berteman dengan teman-temanku yang suka merundung juga, meminta maaf dan aku melakukan apa pun untuk menebus kesalahanku. Hubungan aku dan mereka yang pernah aku ganggu sudah membaik. Aku juga tidak percaya dan kaget saat tahu cerita masa lalu aku tersebar, " ia menjelaskan segalanya dari a sampai z.
Harin yang mendengar itu langsung lega. Tidak mudah untuk menceritakan masa lalu yang kelam ke orang lain. Harin berdiri dan mendekati Aiydeen. Tiba-tiba, kulit Aiydeen terasa hangat saat Harin memeluknya. "Terima kasih. Kau tidak sendirian, kok. Ada aku," kata Harin sembari memeluk Aiydeen.
Siapa bilang hati Aiydeen baik-baik saja? Saat melihat Harin di hadapan pintu rumahnya sudah membuat hatinya berdetak kencang apalahi dipeluk. Harinya berdetak dan hampir meledak saking cepatnya. Setelah beberapa detik kemudian, Harin melepaskan pelukannya dan duduk kembali di tempatnya seakan-akan tidak ada yang terjadi barusan.
"Kau harus menceritakan ini ke teman-teman biar mereka percaya jika kau sudah berubah," suruh Harin yang langsung dibalas oleh Aiydeen dengan anggukan kepala. Begitulah alasan mengapa Aiydeen berani ke sekolah dan menceritakan kisah benar dari masa lalu.
Setelah selesai menceritakan semuanya ke Pak Beni, Aiydeen kembali ke kelas. Namun, saat ia baru sampai semuanya menghampiri dirinya untuk meminta maaf dan Aiydeen langsung memaafkan mereka. Harin tersenyum bangga melihat semua temannya yang berkumpul di kelilingi Aiydeen untuk meminta maaf.
Saat jam istirahat, Harin yang baru dari kamar mandi dipanggil oleh suara seseorang. Ia menoleh dan melihat jika Chris yang memanggilnya. Tanpa berpikir lama, Harin langsung menghampiri Chris. Namun, Harin merasakan sesuatu aneh dari tingkah aneh dari Chris. Ia tidak henti-hentinya tersenyum aneh ke dirinya.
"Kau kenapa senyum-senyum kek gitu?" tanya Harin bingung.
Chris tersenyum lebih lebar dan sedikit mendekat ke arah Harin. Sontak, Harin melihatnya keheranan. Tanpa berpikir panjang, Harin langsung mendekati Chris untuk menyamakan posisinya yang agak menunduk itu.
"Aiydeen menunggumu di belakang sekolah. Cepat datang sebelum terlambat," ucap Chris yang nyaris seperti berbisik.
Harin menarik kembali kepalanya dan mengernyitkan dahinya. "Apa terlalu penting sampai harus bisik-bisik seperti itu?"
Chris langsung mendorong Harin supaya cepat menemui Aiydeen yang sudah ada di belakang sekolah. "Semoga beruntung!" jerit Chris memberi semangat.
"Ada apa dengan sikapnya tadi? Apa yang Rini lakukan sampai-sampai pacarnya seperti itu?" Harin masih bingung dengan sikap Chris dan merasakan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat melihat Aiydeen yang sudah berdiri di bawah pohon besar dekat belakang sekolah. "Aiydeen?" panggil Harin.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Harin tanpa mencurigai apa pun.
"Aku suka kamu," ucapannya membuat Harin tersedak air liurnya sendiri.
"Apa?" Matanya membulat tidak percaya sekaligus kaget. Aiydeen menyukai dirinya?
"Aku suka kamu sejak kamu pertama kamu pindah ke sekolah ini," jelas Aiydeen lagi dengan penuh percaya diri.
Saking kagetnya, Harin tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Seketika, kemampuan berbicaranya seketika anjlok. Apa yang harus ia jawab, pikirnya. Harin menghela nafas, ia sudah tahu apa yang akan ia jawab.
"Aku suka kamu juga," jawab Harin setelah lama diam. Sontak, Aiydeen membulatkan matanya mendengar itu.
Aiydeen sudah tersenyum lebar karena merasa perasaannya dibalas. "Aku menyukai kami tidak lebih dari seorang teman."
"Apa?" seketika senyuman itu luntur.
"Aku menyukaimu karena kau adalah temanku. Kau pintar, bisa melakukan banyak olahraga dan tampan. Maaf," jelas Harin lagi.
"Aku sudah menyukai seseorang," ucap Harin memotong Aiydeen yang hendak berbicara juga.
"Ohh begitukah? Tapi, apa aku tetap bisa menjadi temanmu?" tanya Aiydeen.
"Tentu saja. Kau tetap temanku," jawab Harin.
"Baiklah temanku. Aku mau kasih tahu jika aku dihukum untuk tidak ikut lomba basket," ucap Aiydeen sembari mengajak Harin untuk pergi dari sana.
"Benarkah? Bagaimana dengan timmu?" tanya Harin khawatir.
"Diganti sama Reyhan," jawab Aiydeen. Benar juga, Reyhan itu jago dalam bermain bola basket juga. Akhirnya mereka berdua kembali ke kelas.
"Sayang sekali, aku terlanjur menyukaimu."
Dua sosok itu tidak menyadari jika ada yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka di sana. Orang itu memandangi mereka berdua dengan tatapan yang sangat tidak suka seakan-akan ia mempunyai dendam dengan mereka.
Beberapa hari kemudian sejak Aiydeen mengakui perasaannya pada Harin, cukup banyak siswa yang mengetahui jika ada yang menyukai seseorang. Berita itu menjadi hangat dikarenakan orang yang diperbincangkan di antara siswa yang populer. Namun, Harin belum mengetahui siapa yang diperbincangkan. Akhirnya ia mengetahui itu dari teman sekelasnya.
"Kau belum tahu?" tanya Arin.
"Dia memang begitu. Selalu telat," balas Rini.
"Sara dengan gamblang mengaku jika dia menyukai Reyhan. Jadi, benar dong kemarin saat festival mereka sedang pdkt?" jawab Rini.
"Sara mengaku? Dia menyukai Reyhan?" Harin memang belum percaya akan itu. Sejak festival, ia sudah tahu jika akan terjadi seperti ini. Ia berpikir mengapa ia tetap mempertahankan perasaannya.
Saat Harin menanyakan lagi, dia dikagetkan dengan kedatangan Sara. Sara mengajaknya untuk membicarakan secara empat mata. Tanpa berpikir panjang, ia mengikutinya. Mereka sedang di luar lorong kelas yang sepi. Tanpa basa basi, Sara terus mengatakan inti pembicaraannya ke Harin. Setelah itu, Harun benar-benar kaget dengan apa yang keluar dari mulut Sara.
"Kamu tahukan jika aku menyukai Reyhan. Kau bisa membantuku?"