What Is Beauty?

What Is Beauty?
Mencari Tahu



"Kita sama," balas Harin.


"Sama apa?" tanya Reyhan sambil menggoda Harin. Ia sebenarnya tahu apa yang akan dijawab oleh Harin.


"Perasaan kita sama," jawab Harin dengan pipinya yang merah merona.


"Aku tahu," balas Reyhan sambil tersenyum jengkel.


"Jadi kita anu itu, ya?" kata Harin malu-malu.


"Anu apa?" tanya Reyhan.


"Pacaran? Mesti dong," lanjut Reyhan yang mengerti apa yang dikatakan oleh Harin. Harin sangat lucu saat malu seperti itu.


"Reyhan, bagaimana jika aku besok datang ke sekolah? Tapi, aku takut kalau mereka masih kecewa denganku," Harin masih takut untuk ke sekolah.


"Tidak apa-apa, datang saja. Mereka akan mengerti, kok," jawab Reyhan.


Keesokan harinya, Harin yang sudah duduk di depan meja rias. Perkataan Reyhan tentang menjadi diri sendiri muncul di benaknya. Ia yang sudah memegang alat riasannya meletakkan kembali dan mengambil parfum. Ia ingin menjadi dirinya sendiri mulai sekarang.


Semuanya sangat kaget melihat Harin yang datang tanpa riasan pun. Walaupun ada yang masih berkata buruk padanya tapi ternyata ada yang mendukung dirinya. Itu membuat ia sedikit lega. Ia tanpa membuang waktu menuju ke kelas dengan percaya diri.


"Harin?" Rini yang kaget melihat Harin yang masuk ke kelas.


"Kau tahu bagaimana aku mengkhawatirkan dirimu?" Rini yang mendekati Harin untuk dipeluk.


"Maafkan aku," kata Harin saat dipeluk oleh Rini.


"Jangan meminta maaf. Aku menunggu dirimu bukan untuk mendengar permintaan maaf darimu," Rini melepaskannya pelukannya dari Harin.


"Maafkan kami, Harin. Kami seharusnya mendengar cerita darimu dulu sebelum bertindak," ucap Chris.


"Aku belum menceritakan apa pun lagi," kata Harin.


"Reyhan sudah menceritakan semuanya. Dia mendatangi dirimu kerena ide kami," kata Arin yang masih terduduk di kursinya.


"Terima kasih semuanya. Terima kasih," Harin memang sudah tidak ada kata lain yang ingin ia sampaikan selain berterima kasih.


Semuanya menyambut kembalinya Harin dengan sangat hangat. Kecuali satu orang ini. Siapa lagi kalau bukan Sara. Ia hanya diam dan melakukan hal lain. Bahkan ia menghindari untuk bertatap muka dengan Harin. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu.


Guru-guru juga ikut senang saat Harin kembali masuk sekolah. Yang salah adalah yang menyebarkan foto dan video tersebut bukan Harin. Pak Beni sebagai wali kelasnya turut senang sampai-sampai ia menangis.


"Kenapa bapak yang menangis?" tanya Harin bingung.


Seluruh kelas mendadak senang saat mengetahui jika pelajaran matematika kosong dan digantikan dengan jam kosong. Siapa saja tidak bahagia jika jam pelajaran paling meresahkan digantikan dengan jam kosong. Di saat itulah mereka memanfaatkan untuk berbincang siapa yang menyebar berita itu.


"Aku sangat penasaran siapa yang menyebar itu di komunitas online," kata Arin tiba-tiba membuat semuanya tertuju kepadanya.


"Benarkan? Harin, apa di sekolah ini ada yang pernah satu sekolah denganmu?" tanya Rini.


Harin menggeleng cepat. "Tidak ada."


Tepat Harin mengatakan itu, Sara dengan cepat berdiri dan keluar entah ke mana. Hal itu membuat semuanya merasakan sesuatu yang mencurigakan.


"Kalian ingat tiga orang yang datang saat festival?" tanya Aiydeen dengan nada yang sangat serius.


Semuanya mengangguk. "Kalian tahu siapa yang mengajaknya?" tanya Aiydeen lagi.


"Sara," dengan cepat Arin menjawab.


"Bara, Layla dan Asyraf. Jika kalian memerhatikan video yang diunggah, itu adalah suara mereka," kata Harin.


"Benarkah? Berarti Sara dan mereka saling berteman?" Rini yang mencocokkan segala bukti.


"Kesimpulannya hanya Sara yang berkesempatan untuk melakukan karena hanya dia yang mengenal tiga orang itu," akhirnya Reyhan buka suara.


"Tapi, kenapa Sara?" Harin yang masih tidak percaya jika Sara yang melakukan itu.


"Aku tidak menuduhnya. Aku hanya memberikan pendapatku," lanjut Reyhan lagi.


"Kita harus menyelediki ini. Aku punya teman yang bisa mencari tahu siapa akun anonim itu," kata Aiydeen. Semuanya mengangguk menyetujuinya.


Harin khawatir akan hal itu dan menatap Reyhan. Reyhan mengangguk kepalanya memberi kode jika semua ini baik-baik saja. Berkat itu, Harin sedikit tenang.


Harin sedang berada di kelas berduaan bersama Sara. Setelah semua ini, Harin sedikit mencurigai jika dalang semua ini adalah Sara. Tapi, di sisi lain ia masih tidak percaya. Karena itu, ia memutuskan untuk membicarakan itu langsung.


"Kita berteman, kan?" tanya Harin.


Sara tidak menjawab dan bertanya tentang hal lain. "Reyhan bagaimana? Kau sudah janji untuk membantuku."


"Kenapa kau sangat penasaran dengan Reyhan?" tanya Harin.


"Aku menyukainya. Kenapa?" tanya Sara yang masih berpura-pura.


"Apa kau tidak jika Reyhan tidak pernah menyukaimu walaupun sedetik?" Harin sengaja menanyakan itu karena ingin melihat reaksinya.


"Apa maksudmu?" kaget Sara.


"Aku rasa kau tidak menyukainya. Kau melakukan itu karena ingin membuat semua perhatian menuju kepadamu, kan?" tanya Harin yang membuat Sara semakin menunjukkan sisi lain dari dirinya.


"Apa karena kau tidak menyukaiku? Di sekolah ini masih banyak orang yang bisa kau minta bantuan dan orang satu-satunya yang akrab dengannya adalah Chris. Kenapa kau meminta dariku?" Harin yang semakin yakin.


Karena tidak tahan ditanya seperti itu, Sara menjerit dengan wajah yang kesal. Dari situ, Harin mengerti kenapa Sara selalu baik dengannya. "Aku sangat senang saat kau menjadi temanku," kata Harin sebelum pergi meninggalkan Sara.


"Kau dengar itu? Dia sangat senang saat berteman denganmu," tiba-tiba seseorang menanyakan itu ke Sara yang sudah tidak bisa menahan kesal.


"Jangan mengejar ku lagi. Aku sudah berpacaran dengan orang lain," kata Reyhan yang tiba-tiba.


Reyhan tidak memberi kesempatan Sara untuk membuka mulutnya. "Aku berpacaran dengan Harin."


"Terus kau mau apa?" Sara yang sudah sangat kesal.


"Aku sebenarnya ingin sekali mengungkapkan kelakuan busuk kau tapi tidak akan aku lakukan. Biarkan orang lain yang melakukan. Bukankah kau melakukan itu juga?" Sara benar-benar kebingungan saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Reyhan. Sepertinya Reyhan mengetahui sesuatu apa yang dirahasiakan oleh Sara.


"Ayo semangat, Toni!" kata Aiydeen menyemangati Toni.


Aiydeen yang bersama temannya Toni sedang di cafe. Mereka bersama-sama mencari siapa dibalik akun anonim yang menyebarkan foto dan video yang asa di komunitas online. Itu tidaklah mudah dan membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra. Berjam-jam menunggu hanya untuk mencari satu akun anonim.


Kerja keras tidak mengkhianati hasil. Merkea berhasil mendapat siapa dibalik akun anonim tersebut. Kagetnya, orang tersebut satu sekolah dengan mereka. Tanpa berpikir panjang, mereka lanjut menyelediki lebih dalam lagi sampai ke lubang cacing.


"Jika kita berhasil aku akan mentraktir kalian makan," kata Aiydeen yang langsung membuat Rini semakin bersemangat.


"Kalian? Kalau begitu semua anggota ku. Mereka berjumlah 12 orang. Kau sanggup?" tanya Toni.


"Tentu," jawab Aiydeen.