What Is Beauty?

What Is Beauty?
Berubah



Harin bingung saat berjalan di lorong kelas. Lorong kelas sungguh sepi tanpa ada seorang siswa yang terlihat di sana. Karena itu, ia berpikir apakah masalah itu sudah selesai atau ada hal lain yang terjadi?


Dengan penasaran, ia menuju ke kelas untuk melihat apa yang terjadi sekarang. Tidak ada bedanya dengan keadaan di luar, sepi nan sunyi. Sudah tentu Harin kebingungan bukan main. Biasanya mereka bercanda atau tidak mengobrol satu sama lain. Namun, kali ini mereka terlihat seperti sedang berduka.


"Apa yang terjadi? Kenapa seluruh sekolah mendadak sepi?" bisik Harin ke Rini yang ada di hadapannya.


"Kau tidak tahu? Berita itu benar, Aiydeen memang seorang mantan perisak," jawab Rini perlahan. Mendengar itu Harin dengan cepat menoleh ke arah meja milik Aiydeen yang ada di belakang.


"Terus dia ada di mana?" tanya Harin dengan sangat khawatir.


"Aku sangat kecewa dengan dia. Ternyata Aiydeen yang aku kenal dengan keramahannya ternyata mantan perisak," kata Chris tiba-tiba dengan nada yang sangat sedih.


"Aku kaget saat lihat foto yang diunggah. Kasian banget yang jadi korbannya. Aku tertipu dengan wajah tampannya," saut seorang siswa. Karena hal itu, satu persatu mulai bersuara mengenai Aiydeen. Namun, Harin merasa mereka bukan membela, bisa dibilang mirip seperti menghina.


"Kenapa kalian berkata seperti itu? Bukankah kita seharusnya membantunya alih-alih berkata seperti itu? Dia tetap teman kita. Lagi pula semua itu sudah terjadi, kenapa kalian menganggap itu baru saja terjadi?" Harin benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya mereka seperti itu ke temannya sendiri. Bukannya membantu justru membuat keadaan semakin buruk.


Salah satu dari mereka berdiri dengan wajah yang kesal,"Kau membelanya karena kau suka kepadanya? Bukankah kita harus berpikir bagaimana kalau dia melakukan itu ke kita? Bagaimana dengan korbannya? Kau tahu apa perasaan mereka?"


"Apa kalian tahu cerita sebenarnya? Apa kalian sudah mendengar penjelasan dari Aiydeen? Berita hanyalah berita. Kita tidak bisa mempercayai seperti saja," Harin benar-benar sudah tidak percaya apa yang terjadi sekarang. Hanya karena suatu hal yang sudah lama terjadi, mereka menjadi berbeda.


"Mau bukti apa lagi? Apa kau belum lihat foto-foto yang tersebar? Apa kau tidak punya ponsel untuk melihatnya? Apa gunanya ponsel yang kau beli itu?" dia benar-benar membuat darah Harin memanas.


Suara pintu terbuka yang membuat seisi kelas terdiam. Harin yang sudah siap-siap beradu mulut dengan siswa itu tidak jadi karena Pak Beni sudah tiba. Harin menghela nafas kasar sebelum duduk di bangkunya. Pak Beni meletakkan tumpukan buku di atas meja dan menatap seluruh anak muridnya.


Ia menghela nafas panjang. "Benar apa yang dikatakan oleh Harin bahwa kita tidak bisa percaya begitu saja. Kita harus mendengar langsung dari Aiydeen," katanya membuat semua murid langsung diam tertunduk.


"Kalau begitu kenapa dia tidak masuk? Bukankah dia harus menjelaskan semuanya?" tanya sang ketua kelas.


"Dia pasti kaget saat mengetahui masa lalunya tersebar ke mana-mana. Baiklah, hari ini yang tidak hadir hanya Aiydeen. Jangan khawatir, guru memutuskan Aiydeen untuk tidak hadir karena berita ini sampai ke grup WhatsApp orang tua. Jadi, mereka terus-menerus menelepon guru-guru untuk menanyakan itu karena khawatir jika anaknya adalah korban dari Aiydeen," jelas Pak Beni. Semuanya diam mendengar ucapan Pak Beni.


Harin benar-benar kehilangan selera makannya. Semua siswa yang ada di kantin sibuk membicarakan tentang Aiydeen. Lagian, itu semua sudah berlalu dan Aiydeen sudah berubah terlihat dari Aiydeen yang ramah dan memiliki banyak teman. Orang-orang lebih memandang satu kesilapan namun, lupa dengan beribu kebaikan yang telah Aiydeen buat.


Sara mendekati Harin yang kelihatan murung seharian. Ia mendekati untuk menghibur Harin. Siapa juga yang tega melihat ada teman yang sedang bersedih. "Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Sara khawatir.


Harin mengangguk dengan cepat. "Dia pasti kaget dengan berita itu, kan?"


"Sudah tentu. Jika aku diposisikannya, sudah pasti aku akan merasa kaget dan takut," jawab Sara. Sara dengan cepat meraih tangan Harin dan mengusapnya dengan pelan.


Harin sungguh khawatir dengan kondisi Aiydeen. Karena itu, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Aiydeen lewat pesan. Harin menanyakan apakah Aiydeen sudah makan serta kata-kata semangat. Tidak lupa ia menghantar stiker lucu supaya bisa menghibur Aiydeen. Walaupun harus menunggu beberapa menit, akhirnya Aiydeen jawab juga.


"Kau tidak sendirian," gumamnya setelah selesai menghibur Aiydeen lewat pesan.


Sudah dua hari, tidak ada berita tentang kasus Aiydeen. Hal itu membuat Harin semakin khawatir. Harin sampai rela menanyakan kasus tersebut ke Pak Beni. Namun, hasilnya tetap sama. Belum ada bukti pasti jika berita itu benar-benar terjadi.


Saat Harin akan keluar dari ruang guru, ia dikagetkan dengan suara kerumunan dari ujung lorong sana. Ia melihat ada sekelompok siswa yang sepertinya sedang menghadang seorang guru. Ternyata kelompok tersebut adalah kelompok temannya Aiydeen yang ikut menanyakan tentang Aiydeen.


"Dia bukan seperti itu, Bu. Memang penampilannya seperti itu tapi hatinya baik, kok. Dia sudah banyak membantu orang lain," ucap Toni, teman Aiydeen.


Guru itu tidak menghiraukan mereka dan pergi begitu saja. Sudah tentu hati Harin terharu melihat ada juga yang membela dan mempercayai Aiydeen. Harin mendekati mereka yang sudah kelihatan pasrah dan putus asa.


"Tidak apa-apa. Aiydeen pasti baik-baik saja," ucap Harin menyemangati mereka.


"Dia orang yang baik," kata Toni sebelum menangis sekuat mungkin.


Ini tidak bisa dibiarkan. Harin berinisiatif untuk ke rumah Aiydeen untuk mendengar penjelasan dari Aiydeen langsung. Malamnya, Harin mendatangi rumah Aiydeen yang tak jauh dari rumahnya.


Tok! Tok! Tok!


Harin mengetuk pintu namun, tidak ada balasan. Setelah menunggu beberapa menit, muncul seorang ibu paruh baya menyapanya. Ternyata itu adalah ibu dari Aiydeen.


"Maaf, tadi Ibu lagi di dapur. Ada apa kamu di sini?" tanyanya.


"Aiydeen ada, Bu?" tanya Harin langsung.


Ibu Aiydeen menggelengkan kepalanya. "Dia tidak ada di rumah. Ada apa dengan Aiydeen?"


"Ibu tidak tahu jika Aiydeen lagi ada masalah di sekolah?" tanya Harin. Sontak, membuat Ibunya Aiydeen langsung kaget bukan main. Ia tidak tahu jika anaknya sedang ada masalah.


"Ada berita muncul yang mengatakan bahwa Aiydeen adalah mantan perisak. Semua guru dan siswa panik yang membuat Aiydeen diliburkan dulu. Aiydeen tidak menceritakan itu ke Ibu?" Harin menjelaskan semuanya tentang masalah yang terjadi ke Aiydeen.


Tidak disangka, Aiydeen muncul di belakang Harin yang membuat Harin serta ibunya kaget. Ternyata Aiydeen tidak memberitahu masalahnya ke ibunya sendiri dan berusaha menutupinya.