What Is Beauty?

What Is Beauty?
Prolog: Masa Kelamku



"Dia sangat cantik sekali," pujiku sembari menatap lekat wajah temanku, Arin.


"Dia mungil dan sangat cantik, menurutku dia adalah tipe cewek yang imut," kataku memerhatikan temanku lagi satu, Rini.


"Sadar, Harin," ucapku sambil menepuk pelan pipiku.


"Mereka benar temanku? Ini bukan mimpi, kan?" seluruh isi kepalaku diisi dengan pertanyaan seperti itu.


Bagaimana tidak? Aku dulunya selalu dibully karena diriku yang sangat jelek. Mereka mengejekku,  memanggilku "raksasa", "orc", seakan-akan aku adalah bahan candaan bagi mereka.


Aku anggap jika apa yang aku lalui ini hanya sebuah mimpi karena mereka yang sangat cantik itu menjadi temanku. Aku telah melalui kisah-kisah yang sangat memilukan sampai-sampai aku sangat membenci melihat wajahku di kaca.


Begini ceritanya.....


"Hei, gendut!!" panggil seorang anak laki-laki yang memanggil seseorang, itu adalah aku.


Sontak aku menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan aktivitas makanku di sebuah warung tepi jalan. Aku membalikkan badanku ke arah anak laki-laki serta dua temannya itu dengan sebuah gorengan di tangan kananku.


"Kerjaannya hanya makan. Hahahahahaha," ucap anak laki-laki itu sembari tertawa bersama teman-temannya.


Aku membalikkan badanku kembali dan makan tanpa memikirkan tentang 3 anak laki-laki yang sering mengganggu diriku. Mereka sering mengganggu diriku, kapan dan di mana pun. Ada kejadian di saat aku sedang di duduk di atas ayunan sendirian, mereka melempari batu kerikil ke tubuhku.


Ini sangat sakit, namun tidak setara dengan hatiku. Apa yang aku lakukan hanyalah diam tanpa membalas apa pun. Sekiranya aku melawan, mereka akan membalas diriku 2 kali lipat.


Suatu hari, aku sedang berada di dalam kamar mandi. Di saat aku akan keluar, tiba-tiba pintunya tidak bisa dibuka. Sepertinya pintunya dikunci. Aku menggedor-gedor pintu tersebut dengan keras berharap bisa terbuka. Namun, ini semua terjadi karena ulah tiga anak laki-laki yang iseng tersebut.


Mereka menahan pintu tersebut menggunakan kursi kecil sebagai penahan supaya pintu tersebut tidak bisa dibuka dari dalam. Setelah itu, mereka meninggalkan aku di dalam. Aku menggedor-gedor keras pintu sembari menangis dari dalam kamar mandi yang sempit dan pengap itu.


"Kenapa ada kursi di sini?" ucap tukang pembersih toilet dengan bingung.


Di saat ia mengambil kursi tersebut dan membuka pintu dari kamar mandi tersebut, terlihat aku yang sedang terduduk sembari memeluk lutut dengan keringat yang mengalir di seluruh tubuhku, "Astaga!" kagetnya.


Beginilah kehidupanku setiap harinya, diganggu dan diejek karena penampilan diriku yang mereka sebut "jelek dan gendut". Aku menjadi benci ke diriku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menurunkan berat badanku.


Aku berusaha sekuat mungkin untuk menurunkan berat badanku walaupun diremehkan oleh 3 anak laki-laki itu. Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Aku berhasil menurunkan berat badanku.


"Hari ini kita membagikan hasil ujian kemarin, ya? Seperti biasa. Harin, selamat! Nilai kamu selalu sempurna," puji guru itu ke diriku dan diikuti tepukan tangan dari teman sekelasku.


Aku pintar, tapi tidak cantik.


Walaupun aku sering sendirian, namun aku mempunyai seorang teman yang sama-sama sering diganggu oleh mereka. Dia adalah Lila. Kami sering disuruh itu, disuruh ini dan macam-macam.


Suatu hari, aku bersama Lila menuju ke belakang sekolah. Sontak aku bingung, kenapa Lila mengajak diriku ke tempat ini. Di saat yang bersamaan ia meminta maaf kepada diriku. Aku mengerutkan dahiku kebingungan.


Tanpa angin dan ribut, ia meminta maaf ke diriku. Seketika aku mengerti maksudnya. Suara yang sangat ku benci itu muncul yang berarti mereka segera mendekati diriku serta Lila. Sontak, aku menatap Lila yang sudah tertunduk diam.


Aku didorong hingga jatuh ke tanah yang kotor ini. Mereka tak berhentinya menertawai diriku dan mengatakan diriku sangatlah jelek. Aku tidak bisa berbuat apa dan  hanya terdiam. Mereka mengeluarkan ponsel dan memberikannya ke Lila yang akan digunakan untuk merekam diriku. Sontak, aku melihat dirinya dengan kaget. Lila menurut perkataan mereka tanpa melawan sedikit pun.


Aku mulai merasakan sesuatu yang dingin mengusap rambutku dengan suara tawa mereka yang semakin menjadi-jadi. Kepalaku dituang dengan sekotak susu. Mereka tertawa dengan sangat keras sedangkan Lila hanya merekam kejadian itu dengan tangisannya yang ia tahan. Aku menangis karena tidak tahan diperlakukan seperti ini.


"Kenapa kalian lakukan ini ke diriku?" tanyaku sembari menangis.


Ia menjawab, "Karena kau jelek," jawabnya sambil memukul kepalaku dengan jari telunjuknya itu.


Mendengar jawaban itu, aku menangis sejadi-jadinya. Tega-teganya mereka melakukan ini ke diriku. Apa salahku? Apa salah aku menjadi jelek? Apa aku pantas disebut "raksasa"? Apa mukaku sejelek itu?


"Ambil tepungnya, cepat," suruhnya ke temannya.


Dia menuangkan sebungkus tepung ke atas kepalaku yang membuat seluruh tubuhku. Ia menyuruh Lila untuk mendekatkan ponsel tersebut ke wajahku yang sudah dipenuhi oleh tepung. Lila hanya menurut dan aku diam dan menangis. Itulah kami. Seseorang yang tidak mempunyai kekuasaan maupun keberanian untuk melawan.


Setelah puas dengan apa yang mereka lakukan, mereka meninggalkan diriku yang sudah terduduk dengan tubuhku yang sudah sangat kotor. Mereka pergi tanpa membersihkan tempat itu. Aku mengusap wajahku untuk menyeka segala tepung yang ada di wajahku.


Aku berdiri dan menuju ke kamar mandi. Aku membersihkan kepalaku, rambutku dan wajahku yang dipenuhi oleh tepung dan susu. Aku membersihkan segalanya tanpa tersisa sedikit pun. Aku pulang dengan pakaianku yang basah dan masih bau susu di pakaianku.


Keesokan harinya aku tetap masuk ke sekolah walaupun sudah berkali-kali diganggu oleh mereka. Sejak kejadian itu, Lila tidak pernah muncul di hadapan diriku bahkan dia hanya melewati saat melihat diriku. Aku rasa dia merasa bersalah atas kejadian atau bisa saja disuruh oleh mereka. Aku hanya bisa pasrah.


Aku, lagi dan lagi diganggu oleh mereka.