What Is Beauty?

What Is Beauty?
Bahagia



Sudah beberapa hari Sara tidak masuk ke sekolah karena tidak kuat menahan omongan dari siswa-siswa di sekolahnya. Memang Sara yang membuat dirinya ditimpa masalah terus tapi ia merasa sangat khawatir dengan kondisi Sara. Saat itu juga, ia sangat khawatir apakah Sara benar baik-baik saja?


"Apa seharusnya kita ke rumahnya? Aku sangat khawatir dengan kondisinya," kata Harin ke Arin.


"Apa kau gila? Dia sudah membuat dirimu jatuh dalam masalah. Kenapa kau masih mengkhawatirkan dirinya?" tanya Reyhan yang kesal.


"Bukan begitu. Tetap saja aku mengkhawatirkan dirinya. Aku merasa ada yang janggal dengan dirinya," kata Harin.


"Jika itu mau mu, aku oke-oke saja," balas Arin.


"Malam ini aku ke rumahnya," Kata Harin dengan sangat khawatir.


Ternyata semua temannya mengetahui hubungan antara Reyhan dan Harin. Memang Harin masih belum bersedia untuk memberitahu ke semua temannya namun, ia akan melakukan apa pun yang bisa membuat dirinya bahagia. Dan itu semua berkat dari Reyhan yang ikut membantu.


"Aku kira tidak ada yang akan mencairkan si es batu itu," kata Rini kaget mendengar berita baik itu.


"Benarkan? Sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Arin.


"Belum lama," jawab Harin dengan malu-malu.


"Kenapa tidak kasih kabar, sih?" Tanya Rini.


"Aku belum sedia memberitahu ke kalian," balas Harin.


"Tak mengapa. Aku ikut senang mendengar kabar baik ini. Akhirnya temanku yang dingin ini sudah punya pasangan," kata Chris sembari memeluk Reyhan. Reyhan tidak menolak namun, tidak membalas pelukan dari Chris. Tapi, setidaknya ia tidak sedingin dulu.


"Pantesan kau menolakku saat itu. Ternyata sudah menyukai seseorang," kata Aiydeen.


"Apa? Harin menolak Aiydeen?" mereka benar-benar kaget mendengar itu.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dari kami lagi?" tanya Chris yang merasa ada lagi yang disembunyikan.


"Tidak ada. Kalian saja yang ketinggalan informasi," jawab Aiydeen bercanda.


Harin tertawa melihat teman-temannya bercanda bersama. Akhirnya, setelah banyak perjuangan ia bisa melihat senyuman teman-temannya lagi. Kapan lagi ia bisa seperti ini lagi? Karena itulah ia memutuskan untuk melakukan apapun yang bisa membuat dirinya bahagia.


"Kau ada hutang penjelasan ke diriku," kata Reyhan tiba-tiba.


"Penjelasan apa?" tanya Harin.


"Kau menolak Aiydeen," jawab Reyhan yang langsung dimengerti oleh Harin. Harin tersenyum dan setelah itu Reyhan mengusap rambutnya sambil tersenyum.


Malam harinya, sesuai janji Harin dan Reyhan sedang menunggu Arin di jalan yang dekat dengan rumah Sara. Akhirnya, beberapa menit kemudian Arin datang. "Maaf aku telat. Aku hampir nyasar tadi."


"Kau tahu rumahnya?" tanya Arin ke Harin.


Harin mengangguk. "Dia pernah memberikan alamat rumahnya ke diriku."


Mereka berjalan sedikit agar tiba di rumah Sara. Namun, saat hampir tiba di rumah milik Sara, mereka mendengar suara teriakan kencang di sebuah tangan kecil tidak jauh dari sana. Tak berselang lama, terlihat seseorang yang memakai jaket hitam berlari keluar dar gang kecil tersebut. Tanpa berpikir panjang, Reyhan dengan sepenuh tenaganya langsung mengejar orang tersebut. Arin juga ikut berlari mengikuti Reyhan.


Arin tidak kalah laju dalam mengejar orang tersebut. Jika dibandingkan dengan cewek lainnya, Arin dibilang sangat laju dalam berlari. Ia bahkan bisa menyusul Reyhan yang larinya sangat kencang. Setelah cukup lama mengejar, akhirnya Reyhan berhasil menangkap orang tersebut. Ternyata orang tersebut adalah teman sekelasnya yang bernama Raka yang biasa dijuluki sebagai siswa paling terdiam.


Saat itu Sara sedang memberikan makanan kaleng ke kucing yang selalu datang ke gang dekat rumahnya. Setelah itu, ia dikagetkan dengan kedatangan Raka di sana.


"Kenapa kau melakukan itu ke aku?" tanya Raka dengan suara yang bergetar.


"Kau tidak menyukainya, kan? Apa yang kau bilang itu salah, kan?" tanya Raka lagi. Sara saat itu sangat takut karena melihat Raka yang membawa sebuah botol ditangannya.


"Kau tau betapa sakit hatiku saat kau beritahu jika kau menyukai Reyhan setelah apa yang kau lakukan ke aku?" tanya Raka.


"Apa yang aku lakukan?" tanya Sara dengan ketakutan.


"Kau mengajak aku berfoto denganmu, kau memberiku air minum dan kau kucing yang kau kasih makan itu kau kasih namaku. Apa ada orang yang mau kasih nama Raka ke seekor kucing? Kau melakukan itu karena kau menyukaiku, kan?" Raka benar-benar sudah kelewat batas.


"Kau harus tanggung jawab semuanya," kata Raka sebelum membuka penutup botol yang ia bawa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sara yang susah ketakutan.


Raka yang sudah kesal langsung membuka penutup botol tersebut dan menuangkan semua cairan yang ada di dalamnya ke muka Sara. Sara menjerit dengan sangat kencang karena merasa wajahnya yang panas. Sara menjadi sangat panik jika wajah cantiknya kenapa-kenapa.


Di waktu yang sama, Harin, Reyhan dan Arin mendengar jeritan tersebut dan melihat ada yang berlari keluar dari gang gelap tersebut. Di saat Arin dan Reyhan mengejar orang tersebut, Harin malah menuju ke gang tersebut untuk mengecek ada apa di sana. Sesuai dugaannya, teriakan tadi milik Sara.


Harin menghampiri Sara yang sudah terduduk lemas. Sara memegang wajahnya sambil menangis kencang. Harin berusaha meyakinkan Sara jika wajahnya baik-baik saja karena cairan tersebut hanyalah air hangat. Namun, Sara dengan kasar menepis tangan Harin.


"Kenapa kau di sini? Kenapa kau yang membantuku? Kenapa harus kau?!" Sara menjerit karena Harin datang menyelematkan dirinya.


Harin menghela nafas panjang dan memijit kedua pelipisnya. Bisa-bisanya ia mempermasalahkan siapa yang datang menyelamatkan dirinya.


"Aku pun tidak mau menyelematkan dirimu jika aku tahu jika itu kau. Kenapa aku harus menyelamatkan dia, sih?" kata Harin yang sengaja kuatkan suaranya.


"Kenapa kau terlihat seolah-olah baik-baik saja di depanku? Kenapa kau masih terlihat bahagia di depanku? Padahal kau sama sekali tidak cantik," Sara yang tak hentinya menangis dan mempermasalahkan siapa yang menyelamatkan dirinya.


"Tolong hentikan!" Harin sudah tidak tahan lagi.


"Aku juga membenci dirimu! Aku sangat membenci dirimu sampai-sampai aku kira sekarang aku sedang berbicara dengan tembok! Memang betul aku ini jelek. Aku memakai riasan supaya menutupi wajah jelekku, aku menurunkan berat badan dan menahan semua itu hanya untuk terlihat cantik! Melakukan semua cara hanya untuk tampil cantik! Sekarang, apa kau bahagia menjadi cantik!?" Harin terus terang semuanya di depan Sara. Ia harus meluruskan apa yang menurutnya belum lurus.


"Saat ini, aku akan melakukan apa pun yang membuat aku bahagia. Aku akan melakukannya," lanjut Harin.


*****


Kejadian itu membuat Sara dilarikan ke rumah sakit. Harin dan Reyhan sedang duduk di depan ruangan Sara. Reyhan ingin pulang namun, Harin memilih untuk menemani Sara hingga orang tuanya tiba. Memang pada awalnya ada sedikit perdebatan namun, Reyhan mengalah.


"Hanya kali ini aku mengalah lain kali tidak ada," kata Reyhan sebelum pergi dari sana.


"Kabari jika kau sudah tiba di rumah," suruh Harin ke Reyhan.


Harin masuk ke kamar dan terlihat Sara yang masih di bawah alam sadarnya. Harin melihat wajah Sara dengan lekat. Tidak sangka selama ini yang ia anggap teman ternyata adalah lawannya. Harin menggenggam tangan Sara dan ikut tidur sembari menunggu orang tua Sara tiba.


Namun, beberapa menit kemudian, terlihat Sara terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling karena bingung di mana ia berada. Tapi, yang membuat ia semakin kebingungan adalah Harin yang tidur sembari memegang tangannya. Ia menjadi sadar apa yang telah ia lakukan ke Harin selama ini.


"Kenapa kau terlalu baik?"