What Is Beauty?

What Is Beauty?
Reyhan dan Sara



"Lebih kalian pergi dari sini. Aku tidak ingin membuat keributan," ucapnya yang berusaha mengusir mereka. 


Mereka tidak menghiraukan ucapan Harin dan tertawa lepas seakan-akan apa yang dikatakan oleh Harin hanya sebatas bercanda. Melihat itu, sudah tentu Harin naik pitam, begitu juga dengan teman-temannya yang melihat kejadian tersebut. Walaupun dirinya sudah tidak bisa menahan rasa marah bercampur kesal, ia tetap bersabar. 


"Apa kau ingin kami menceritakan bagaimana wajahmu dulu?"


"Pergi!" jerit Harin dengan sangat kesal. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan lagi.


Teman-temannya yang sibuk dengan pekerjaannya langsung terdiam melihat Harin yang berubah drastis. Namun, dari wajah Harin terlihat lebih ketakutan daripada sedang kesal. Hal itu membuat teman-temannya sedikit mencurigai Harin. Tiga tamu yang membahas tentang wajah lama dari Harin. Apa yang disembunyikan oleh Harin dan ketiga tamu ini.


"Kau pikir kau sudah hebat dengan wajah barumu itu?" tanya salah satu mereka yang semakin membuat teman-temannya Harin semakin mencurigai dirinya. 


Harin berdiri dan menatap lekat ketiga tamu yang tak diundang menurutnya, "Iya. Sayangnya aku baru sadar sekarang jika kalian semua hanyalah sampah."


"Sampah?" mereka kaget mendengar itu. Mereka menjadi saling menyalahkan satu sama lain. Karena itu, mereka memutuskan untuk pulang karena terlanjur malu dan canggung. 


"Sampah," panggil seseorang dengan sangat lantang. Walaupun kesal, mereka tetap menoleh ke arah panggilan tersebut. Orang dengan tinggi badan yang tinggi berdiri tepat 2 meter dari mereka. Siapa lagi kalau bukan Reyhan.


"Kalian sudah bayar belum?" tanyanya dengan gaya khasnya, dingin.


Salah satu dari mereka langsung meletakkan beberapa lembar uang di atas meja dan pergi dengan rasa malu. Reyhan mengambil uang tersebut dan menatap jalan yang dilalui oleh Harin sebelumnya. "Apa dia baik-baik saja?" ucapnya khawatir.


Suasana festival malam ini sungguh meriah dikarenakan akan ada artis yang ternyata lulusan sekolah itu juga akan datang. Orang-orang sudah menunggu di lapangan untuk menunggu artis yang akan menampilkan penampilannya. Walaupun keadaan yang sangat meriah, berbeda dengan Harin yang menyendiri di kelas sambil termenung.


Bumi itu sangat sempit. Bagaimana ia bisa bertemu dengan orang yang ia benci. Ia menjadi khawatir apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya saat melihat 3 orang tadi. Ia menjadi takut jika ia akan dikucilkan seperti dulu lagi. Ia tidak ingin ditertawakan hanya karena wajahnya yang jelek. Suara pintu terbuka membuat Harin sadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah pintu. Sesosok masuk dengan wajah yang berbeda dengan dirinya yang masam dan kecut. 


"Kau tidak apa-apa?" tanya Aiydeen sembari duduk di samping Harin.


Harin mengangguk dengan cepat dan berusaha menutupi kesedihannya itu. Aiydeen seketika tahu jika Harin sedang tidak baik-baik saja. Aiydeen mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberinya ke Harin. Harin seketika tersenyum melihat apa yang diberi oleh Aiydeen. 


"Kamu cantik kalau lagi senyum. Jadi senyum terus, ya?" kata Aiydeen yang berhasil membuat Harin tersedak dengan air ludahnya sendiri.


Harin menatap wajah Aiydeen dengan tatapan yang mematikan, "Kau mau aku sumbat mulutmu pakai tisu basah atau kau mau aku masak kamu di oven di suhu 180 derajat selama 20 menit?"


Aiydeen tertawa kecil mendengar respon Harin. Biasanya cewek akan terpesona jika ia mengeluarkan jurus buayanya tapi Harin sedikit berbeda. Harin tidak menolak pemberian dari Aiydeen. Menolak berarti menyia-nyiakan. Bagaimana ia akan mengabaikan sebuah kotak jus buah naga kesukaannya. 


"Kau tahu jika sebentar lagi ada artis yang akan datang?" tanya Aiydeen.


Harin mengangguk dan menjelaskan jika artis yang akan datang adalah artis kesukaannya. Tiba-tiba Aiydeen dengan cepat menarik tangan Harin dan membawanya ke lapangan untuk menyaksikan penampilan artis kesukaannya. Harin tak menolak dan membiarkan dirinya ditarik oleh Aiydeen. 


"Aku mencitaimu apa adanya."


...*****...


Beberapa hari setelah festival, berita tentang seorang siswa yang menyatakan perasaannya di depan umum saat artis yang datang saat itu tampil. Yang membuat berita itu semakin panas karena mereka merupakan siswa yang populer. Penampilan dan kepopuleran  menjadi pusat perhatian. Tidak hanya itu, ada berita yang belum sampai di telinga Harin. Sebaiknya jangan sampai Harin tahu. 


"Nasib baik Chris tembak aku saat itu di belakang sekolah," jelas Rini menceritakan bagaimana Chris menembak dirinya. "Tapi, aku lebih tidak percaya jika Reyhan dan Sara berpacaran," sambung Rini lagi. 


Seketika Harin terdiam di tempat, "Berpacaran?"


"Kenapa? Kau tidak tahu?" tanya Rini.


"Benar, kau tidak tahu. Begini ceritanya, saat malam festival ada yang melihat Reyhan dan Sara sedang berbicara sesuatu. Lihat dari raut wajah, mereka kelihatan sedang serius," jelas Rini ke Harin.


"Reyhan dan Sara?" Ia masih tidak percaya dengan berita itu. Ia yakin jika Reyhan bukan orang seperti itu. Orang sedingin itu mana bisa cair dengan begitu saja. Tapi, bisa saja ini benar. 


"Oh begitu," respon Harin.


"Awalnya aku memang tidak percaya tapi mereka sering kelihatan berdua. Makanya aku kira mereka sedang berpacaran," Rini tak habis-habisnya membahas tentang Reyhan dan Sara sepanjang jalan menuju kelas.


Sepanjang hari, Harin kelihatan seperti mayat hidup. Tidak berbicara tapi masih bernafas. Ia masih memikirkan tentang Reyhan. Entah apa yang membuat ia begitu, ia sungguh kaget dengan berita Reyhan dan Sara itu.


Yang aneh adalah perasaannya. Apakah ini perasaan kaget atau yang lain? Ia masih bingung apa yang ia rasakan sekarang. Apa ini perasaan sebatas teman atau lebih?


"Aku menyukainya?" pikir Harin. Perasaan itu masih samar-samar, apakah ia benar-benar menyukainya atau tidak. Tapi, satu hal yang membuat ia harus undur diri. Ia tidak ingin merusak hubungan pertemanannya hanya karena alasan percintaan.


"Apa aku harus undur atau terus berjuang?" Harin menghela nafas dengan pasrah.


"Berjuang untuk apa?" tanya Aiydeen entah datang dari mana membuat Harin langsung kaget.


Harin kaget sekaligus takut jika Aiydeen memahami apa yang ia bicarakan tadi. Peluhnya bercucuran layaknya air terjun karena takut sekaligus panik. Ia berharap apa yang dikatakan dirinya tidak dipahami oleh Aiydeen.


"Kau tidak apa-apa? Kamu berkeringat, kau tidak sakit, kan?" tanya Aiydeen khawatir. Harin dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Dan satu hal lagi yang membuat ia langsung sadar. Mengapa setiap kali ia merasa khawatir, Aiydeen akan selalu hadir? Mengapa setiap kali ia memikirkan Reyhan, Aiydeen yang selalu muncul? Kenapa?