
Sara diliburkan dalam beberapa hari karena kondisinya yang masih belum kembali pulih. Walaupun Sara tidak ada, orang-orang tetap berbicara dengannya. Dia sudah diikuti oleh Raja sudah lumayan lama. Bisa dibilang Raka sudah menyukai Sara sejak kedatangannya. Namun, semakin lama rasa obsesinya terhadap Sara semakin bertambah sejak Sara mengaku jika ia menyukai Reyhan.
"Tak sangka jika Raka sudah membuntuti Sara. Pasti Sara ketakutan saat merasa ada yang memerhatikannya," Rini merasa kasihan ke Sara setelah Harin menceritakan bagaimana Raka kemarin malam. Namun, Raka bisa diserahkan ke pihak berwenang berkat kejaran Reyhan.
"Aku ingin makan gorengan Kang Asep," kata Arin.
"Kalau begitu pulang nanti kita mampir," kata Harin yang ingin ikut bersama Arin.
"Harin, aku ingin bertanya sesuatu?" tanya Rini.
Harin menoleh dan bertanya, "Kau ingin tanya apa?"
"Kau pakai skincare apa? Kulitmu terlihat sangat sehat," tanya Rini. Harun sudah mulai memberanikan diri untuk tidak memakai riasan lagi. Ia ingin belajar untuk menjadi dirinya.
"Aku hanya memakai skincare yang biasa-biasa saja dan tentunya cocok dengan kulitku," jawab Harin dengan mudah.
"Aku iri melihat kulitmu. Kulitmu sangat bagus dan sehat," puji Rini. Harin tersenyum mendengar pujian tersebut. Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang buruk.
Seperti yang dijanjikan, mereka bertiga sedang menuju ke warung gorengan Kang Asep yang tidak jauh dari sekolah mereka. "Kalian ke mana saja? Sudah lama kalian tidak mampir ke sini," kata Kang Asep saat melihat Harin, Arin dan Rini menghampiri warungnya.
"Kami kebelakangan ini sibuk jadi jarang mampir ke sini," jawab Arin.
"Kalau begitu cepat pilih. Pilih apa saja, Kang Asep yang traktir," ucap Kang Asep yang membuat ketiga pelanggannya kegirangan.
"Terima kasih, Kang Asep," ucap mereka serentak.
"Iya, cepat pilih. Kalian makan di sini saja biar lebih seru," suruh Kang Asep.
Setelah selesai memakan gorengan, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah hampir malam. Mereka berterima kasih ke Kang Asep karena sudah mentraktir mereka sebelum pamit untuk pergi.
"Makanan berasa lebih enak jika makan bersama," kata Rini sambil memegang perutnya yang kembung karena kenyang.
"Benar. Lagi-lagi gorengan yang kita makan tadi masih hangat," lanjut Arin.
"Tidak sia-sia aku ikut kalian," Harin ikut senang.
Mereka hampir tiba di perhentian bus namun, netra Harin tertuju ke sekelompok siswa yang tidak jauh darinya. "Kalian melihat itu?" tanya Harin ke kedua temannya.
"Lihat apa?" tanya Rini yang masih mencari apa yang dikatakan oleh Harin. Setelah lumayan lama mencari, akhirnya mereka menemukan apa yang dicari. Mereka melihat ada beberapa siswa yang menuju ke suatu gang sempit yang dekat dengan sekolah mereka. Bisa di bilang gang tersebut berada di samping sekolah mereka.
Seorang siswa di ajak menuju ke suatu gang. Siswa tersebut terlihat sedikit ketakutan terlihat dari raut wajahnya. Anehnya lagi, mereka tidak memakai seragam yang sama.
"Kau pikir dengan kau pindah sekolah aku tidak bisa mencarimu lagi?" tanya siswa yang memakai seragam berbeda. Siswa itu langsung diam ketakutan.
"Kau tahu tidak semua orang mengira jika aku ini orang jahat karena dirimu?" Kata siswa itu dengan nada rendah namun, terdengar kesal.
"Maafkan aku," siswa itu ketakutan sampai-sampai tidak tahu mau jawab apa lagi.
"Apa nomor ponselmu? Kau tahu bagaimana aku merindukan dirimu?" tanya siswa itu. Siswa yang ketakutan itu tidak menjawab yang membuat siswa itu kesal.
"Jangan bergerak atau menghindar," kata siswa itu dengan nada rendah namun, terdengar kesal.
"Layla!" jerit seseorang yang membuat pemilik nama langsung menoleh.
Ternyata orang yang memakai seragam beda itu adalah Layla dan teman-temannya. "Kau? Kenapa kau bisa di sini? Seragam itu sama denganku, apa kita satu sekolah?" tanya Harin kebingungan melihat siswa yang diganggu Layla itu.
"Wahhh, apa ini reunian? Kita bertemu lagi," ucap Layla dengan senang. Lila adalah satu-satunya teman yang ingin mengajak bicara dengan Harin. Ia juga menjadi korban perundungan dari Layla. Bisa dibilang alasan Lila dibully sama seperti Harin.
"Lila, sini cepat," suruh Harin. Lila yang ketakutan itu langsung menuruti perkataan Harin. Hal itu membuat Layla langsung marah.
Di sebuah kamar berwarna hitam, terlihat tiga orang yang sedang bermain game. Mereka adalah Reyhan, Aiydeen dan Chris. Reyhan mengajak Aiydeen dan Chris untuk bermain game bersama sekaligus mempererat hubungan mereka. Chris yang sedang melawan Aiydeen dalam game pertarungan.
"Yes! Aku menang!" kata Aiydeen senang sedangkan Chris mendesah dengan kesal.
"Berikan itu ke aku," ucap Reyhan yang menginginkan stik.
"Ayo kita selesaikan ini dengan satu putaran," kata Reyhan yang sudah siap-siap mengalahkan Aiydeen.
Kembali disaat Harin dan Layla yang masih beradu mulut. "Semua foto itu sudah tersebar. Sudah pasti kehidupan sekolahmu sangat menyedihkan," kata Layla sambil tertawa.
Harin mengambil buku yang dibawa Arin dan mencampakkan buku tersebut tepat mengenai wajah Layla. Hal itu membuat Layla tidak bisa menahan amarahnya. "Kau ingin cari mati?" tanyanya dengan kesal.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu!" tepat ia mengatakan itu, Harin langsung maju untuk berkelahi dengan Layla. Arin dan Rini ikut membantu Harin untuk melawan dua teman Layla.
"Mana bisa mukul kepala orang lain," kata teman Layla yang memakai pita kuning dengan marah saat Rini memukul kepalanya menggunakan gulungan kertas karton.
Arin membuat lawannya sedikit ketakutan dikarenakan tendangan milik Arin. Namun, lawannya berhasil membuat Arin hampir terjatuh dengan menarik tasnya. Namun, Arin cukup kuat untuk menahan dirinya. Di saat lawannya akan memukul Arin, Arin langsung melindungi dirinya menggunakan tasnya.
"Ark! Tanganku," ucap lawannya merasa sakit di bagian tangannya.
Arin mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang tipis tapi tidak tebal yang berwarna putih dari dalam tasnya. Ternyata itu adalah album musik yang ia beli.
Harin memukul wajah Layla. Ia kaget saat merasa jika tubuhnya seakan-akan dikontrol seseorang. Ia memukul wajah Layla sekali lagi dan benar saja, Harin mendadak menjadi kuat.
"Ayo kalahkan Aiydeen," kata Chris.
Layar televisi yang menunjukkan karakter yang digunakan Reyhan dan Aiydeen berupa menjadi Harin dan Layla yang sedang berkelahi. Di waktu yang bersamaan, di setiap Reyhan menggerakkan karakternya, Harin ikut bergerak sama persis dengan karakter yang digunakan Reyhan. Di situlah bagaimana Reyhan mengalahkan Aiydeen yang berarti Reyhan mengendalikan Harin untuk mengalahkan Layla.
"Yes!" Kata Reyhan saat menang dari Aiydeen. Begitu juga dengan Harin yang sudah menumbangkan Layla.
Sejak saat itu, Harin mulai berani melawan Layla yang ingin menganggu Lila. Ia sudah tidak takut untuk membalas Layla lagi. Walaupun apa pun yang terjadi, ia harus melawan siapapun yang ia anggap salah. Sejak saat itu, Lila dan Harin kembali berteman seperti dulu.
Seisi kelas dihebohkan dengan kedatangan Sara. Yang membuat semuanya semakin kaget adalah penampilan dari Sara yang berubah. Sebelumnya ia memiliki rambut yang lumayan panjang dan sekarang ia memotongnya menjadi pendek.
"Apa rambutku aku aneh?" tanya Sara.
"Tidak, kau sangat cantik dengan rambut pendek," jawab Harin.
Sara tersenyum mendengar jawaban dari Harin. "Maafkan aku, Harin."
"Tidak perlu risau, aku sudah memaafkan dirimu karena kita adalah teman," jawab Harin sambil tersenyum.
"Tapi, di mana Reyhan?" tanya Sara.
Harin melihat jam yang ada di tangannya. "Jam segini biasanya dia di vending mechine. Kenapa?" tanya Harin penasaran.
"Ada yang ingin aku luruskan," jawab Sara sebelum pergi dari sana.
Reyhan yang sedang memasukan koin ke dalam mesin kesayangannya. Sayangnya, koin yang dimasukkan malah jatuh. Ia mengejar koin tersebut dan koin tersebut berhenti di hadapan sebuah sepatu yang tidak asing baginya.
Ia mengambil koinnya dan berdiri. Ia melihat Sara dengan penampilan barunya menatap dirinya. "Rambutmu?" tanya Reyhan.
"Aku memotongnya karena aku ingin mencoba sesuatu yang belum aku lakukan," jawab Sara sembari merapikan rambutnya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Reyhan dengan dingin sambil memasukkan koinnya.
"Aku harus meluruskan sesuatu," jawab Sara.
"Aku tidak pernah menyukaimu bahkan sedetik pun," kata Sara yang membuat Reyhan terhenti dari aktivitasnya.
Reyhan menoleh ke arah Sara. "Aku akan pindah sekolah karena urusan pekerjaan orang tuaku makanya itu aku ingin meluruskan yang belum terluruskan," ucap Sara.
"Kau pindah?" tanya Reyhan.
Sara mengangguk. "Aku akan ke luar negeri."
"Baiklah. Aku harap kau hidup bahagia di sana," kata Reyhan dengan dingin sembari melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhentikan.
Pak Beni masuk seperti biasanya. "Anak-anakku, bapak ada satu berita yang ingin disampaikan ke kalian. Sara teman kalian akan pindah ke luar negeri karena urusan pekerjaan orang tuanya," jelas Pak Beni. Pantesan saja jika tadi Sara sempat menemui mereka di kelas.
Bulan purnama yang terlihat berlubang itu lebih indah daripada bulan sabit yang tidak menunjukkan jati dirinya. Kita diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi nyata bukanlah sempurna. Mencintai diri sendiri memang sulit karena membutuhkan proses. Tapi, percayalah jika kita sudah menerima kekurangan diri kita dan mencintai diri sendiri, maka kita sudah menemukan kunci kebahagiaan.
Menjadi cantik bukan berarti untuk tampil sempurna. Menjadi cantik tidak perlu mendapatkan pujian dari orang lain. Jadilah diri sendiri dengan standar kecantikan kita sendiri.