What Is Beauty?

What Is Beauty?
Prolog: Menjadi Yang Baru



Setelah hari itu, aku mulai tertarik untuk merubah wajahku dengan berbagai cara apa pun. Menggunakan skincare untuk merawat kulit wajahku, mulai memakai riasan dan mengubah gaya rambutku. Memang awalnya sangat sulit, namun aku akan bekerja keras untuk merubah penampilanku. Aku percaya jika kerja keras tidak mengkhianati hasil.


Di waktu yang bersamaan, aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak ingin di "pijak-pijak" lagi. Aku tidak ingin diganggu lagi. Aku tidak ingin diasingkan lagi.


Apa yang kalian berpikir sekarang? Apa ada yang dari kalian mengira jika aku akan melarikan diri lagi? Tidak. Aku tidak akan melarikan diri lagi. Aku tidak akan bersembunyi lagi.


Kali ini aku akan melakukannya.


Aku akan melakukanya.


Aku melakukannya.


****


"Hei, ayo," ucap seseorang yang mengajak temannya.


"Apa? Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk?" jawabnya sedikit kesal karena sudah diganggu oleh temannya itu.


"Aku bosan," jawabnya namun wajahnya memberikan kode-kode.


"Bilang dong," jawab temannya yang mengerti dari kode tersebut.


"Wahhhh, teman kita lagi belajar, ya? Ada apa ini? Jerawatnya sudah hilang. Apa yang kau pakai? Apa kau mencoba mengubah mukamu yang jelek itu?" tanya orang itu yang kaget melihat wajahku yang sudah membaik.


Sedangkan aku hanya terdiam tak berkutik.


"Harinn... Tidak ada cara lain selain kau melakukan oplas. Jadi jangan melakukan hal yang sia-sia, ya?" ucapnya yang membuat aku semakin kesal.


Aku menatap mereka. Aku menatap mereka dengan tatapan yang tidak pernah aku tunjukkan.


"Apa yang kau lihat? Kau kesal aku bilang begitu?" tanyanya.


Aku masih menatapnya, "apa yang kau lihat?!" tanyanya yang semakin kesal.


"Hentikan. Tolong hentikan," ucapku setelah sedari hanya diam.


"Apa? Hentikan?" Tanyanya kaget, "lihat-lihat! Dia bilang apa?" tanyanya lagi.


"Kau sudah berani, ya?" katanya yang sudah siap-siap memukul. Namun, dengan sigap aku tepis.


Aku berdiri seraya menggenggam tangannya dengan keras sehingga membuat dia kesakitan.


"Lepaskan," ucapnya kesakitan dan setelah itu aku langsung melepaskannya.


"Apa kau gila?" tanyanya kesal.


"Iya aku gila. Kenapa? Kau kesal?" tanyaku yang semakin berani.


"Aku gila saat kau mengganggu diriku. Aku kesal saat kau membully ku. Aku kesal saat kau mengejek dan menertawai diriku," ucapku yang langsung membuat mereka diam tak percaya.


"Kau kaget saat melihat aku begini?" tanyaku yang perlahan mendekatinya.


"Aku jadi begini karena kau," ucapku, "Mengapa kau tidak membantunya?" tanyaku ke temannya yang sudah kelihatan ketakutan.


"Benar aku jelek. Tapi, jika aku jelek, berarti kau lebih jelek dariku, kan?" tanyaku tepat berdiri dihadapannya.


"Maksud kau apa?" tanyanya bingung.


"Bagiku orang dengan hati yang jelek, lebih buruk dari orang memiliki wajah yang jelek. Benarkan?" jawabku.


"Delila!!" jerit temannya dengan keras.


****


Seorang wanita paruh baya masuk ke sebuah tempat yang tak lain adalah kantor polisi dengan sangat cemas dan terburu-buru.


"Apa anda orang tua dari Harin?" tanya seorang yang memakai seragam coklat.


"Iya. Di mana Harin?" tanya wanita paruh baya itu.


"Kau apakan anakku?!!" Terdengar sekali suara wanita yang berteriak karena marah dari luar bangunan itu.


"Oh? Kau ibu dari anak yang kurang itu?!" tanya wanita itu saat melihat ibunya Harin tiba di sana.


"Apa kau bilang!?" ucap Ibunya Harin dengan sangat marah.


"Bisa tenang sebentar?" tanya seorang polisi yang sepertinya dia memegang kasus ini.


"Saya tidak akan mulai jika masih ribut," kata polisi itu sembari duduk di tempatnya.


Semuanya duduk dan diam setelah polisi itu berkata begitu.


"Apa benar kamu memukulnya?" tanyanya ke diriku.


"Iya, saya memukulnya," jawabku dengan jujur.


"Lihat! Dia mulai dulu!" seru Ibunya Delila, anak yang sering merundung diriku.


"Tenang, Bu," suruh polisi itu.


"Apa benar kamu yang memulai dulu?" lanjut polisi itu menginterogasi.


Aku menggelengkan kepalaku, "Dia yang mulai dulu," jawabku.


"Dia menganggu saya dulu. Tidak salahkah saya melawan setelah diganggu terus-menerus?" jawabku lagi.


"Anakku tidak akan seperti itu! Jangan percaya!" ibunya Delila yang tidak terima kenyataan.


"Diam bisa tidak, Bu!" marah polisi tersebut.


"Bagaimana tidak!? Anak itu sudah melukai anak saya!" Jawab wanita itu tak mau kalah.


****


"Ibu lupa jika anak ibu pernah kena kasus mencuri?" suara polisi itu yang samar-samar semakin menghilang saat diriku serta ibukupergi meninggalkan tempat itu.


"Apa kamu tidak saya ini siapa? Berani-beraninya kamu mau menahan anak saya!" ibu itu marah karena anaknya ditahan karena kesalahannya itu.


Sedangkan, aku dan ibuku pulang.


"Maafkan Mama," ucap ibuku disela-sela keheningan itu.


Aku menatapnya.


"Mama terlalu sibuk bekerja. Jadi tidak ada waktu untuk menjaga kamu," ucapnya lagi, membuat aku menjadi sedih.


"Tidak, seharusnya Harin yang meminta maaf. Karena Harin semuanya jadi begini," kataku.


"Bagus sekali!" ucapnya yang membuat aku kaget.


"Orang yang seperti mereka pantas diberi hukuman. Ibu dan anak sama saja," ucap ibuku.


"Ayo kita pulang," ajak ibuku.


Sejak itu, aku tidak masuk ke sekolah lagi karena mendapat hukuman karena melukai orang lain. Lagian, aku akan pindah rumah. Pindah rumah, pindah sekolah juga.


Untuk alasannya, ibuku kesal dengan ayahku yang secara diam-diam menjual rumah yang sekarang kami tinggali. Dengan terpaksa, aku serta ibuku harus pindah ke rumah lamaku.


Jika dipikir-pikir lagi, kita hanya membutuhkan keberanian bukan waktu yang tepat. Jika menunggu waktu yang tepat, kapan untuk melawan? Jika kita memiliki sebuah keberanian, kapan-kapan pun kita bisa melawan tanpa sedikit pun rasa takut.


Aku lebih memilih diam bukan karena apa, aku hanya takut. Takut, karena aku "seorang".


Namun, itu semua sudah berlalu. Aku akan menguburnya sedalam-dalamnya. Aku tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui kisah lama ini.


Tempat baru, hidup baru.


Hidup baru, buku baru.


Buku baru, cerita baru.


Aku akan menjadi Harin yang baru.