
Pagi hari yang cerah, Harin berjalan menuju ke sekolah dengan wajah yang sangat senang. Sepertinya ada yang terjadi dengan dirinya sampai-sampai bibirnya tak capek untuk melebar berbentuk lekukkan. Perlahan orang-orang mulai biasa dengan wajahnya tanpa riasan. Karena itu, ia tidak perlu takut untuk berjalan tanpa menundukkan kepala.
Saat ia akan memasuki bangunan sekolah, ia melihat Aiydeen yang hendak masuk ke bangunan. Harin berlari untuk menyapa temannya itu. "Pagi!"
Ternyata aksinya membuat Aiydeen terkejut. Aiydeen mengelus dadanya yang hampir membuat jantungnya loncat dari tempatnya. Harin tersenyum melihat reaksi Aiydeen yang menurutnya lucu.
"Sepertinya suasana hatimu sedang baik?" tanya Aiydeen.
"Iya. Kucingku yang hilang pulang ke rumah tadi malam. Kau tahu bagaimana aku merindukannya?" jelas Harin dengan sangat ceria.
"Kucingmu yang mana?" tanya Aiydeen.
"Warnanya abu sama hitam," jawab Harin.
"Ohh yang bulunya lebat itu?" tanya Aiydeen yang sudah mengingat kucing mana yang dimaksudkan oleh Harin.
Harin mengangguk dengan cepat. "Akhirnya dia pulang juga," terlihat dari raut wajahnya terlihat jika Harin benar-benar merindukan kucingnya.
"Sore ini aku ke rumahmu untuk melihat Kabu. Aku kangen bermain dengannya," kata Aiydeen.
"Baiklah, ketemu nanti sore. Aku pergi dulu," kata Harin sebelum meninggalkan Aiydeen yang ada di ambang pintu masuk.
Aiydeen menggelengkan kepalanya karena merasa jika kelakuan Harin barusan sangat lucu baginya. Kejadian tadi menurutnya langka karena Harin jarang terlihat sebahagia itu. Setelah melihat kepergian Harin, kali ini akan masuk untuk menuju ke kelasnya.
"Aiydeen?" panggil seseorang yang membuat langkahnya terhenti.
Aiydeen menoleh ke arah panggilan tersebut. "Toni? Kau kenapa?" tanya Aiydeen melihat Toni yang sedang mengambil napasnya kembali.
"Kau kenapa?" tanya Aiydeen sekali lagi.
"Aku dapat. Akun anonim," katanya dengan napas yang masih terengah-engah.
"Siapa? Siapa?" Aiydeen seketika kaget dengan berita tak terduga itu.
Mengetahui siapa yang mengunggah berita di komunitas online, Aiydeen dengan cepat menuju ke kelas untuk memberi tahu ke semua temannya. Ia berlari dan tak memperdulikan pintu yang hampir rusak ulahnya. "Aku sudah dapat!" katanya tepat di pintu masuk kelas.
"Apa yang kau dapat?" tanya Chris yang sangat penasaran.
"Akun anonim," jawab Aiydeen yang membuat semua temannya mendadak senang karena telah mendapat apa yang mereka cari selama ini. Aiydeen menyuruh semua temannya untuk mendekatkan dan membuat lingkaran supaya tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Kau tahu siswi yang pernah mencuri karya Arin?" tanya Aiydeen supaya teman-temannya mengingat kembali.
Semua temannya mengangguk karena mengingat. "Namanya Delila bukan?" tanya Arin.
"Iya benar namanya Delila. Dialah pemilik akun anonim itu," balas Aiydeen. Semuanya mendadak senang karena ternyata orang yang mengunggah berasal dari sekolah mereka. Mereka tidak perlu mencari di mana orang itu berada.
"Ayo kita sama-sama menyelesaikan ini sama-sama," kata Rini dengan penuh semangat. Semuanya ikut berpose seperti Rini yang sedang menggenggam tangannya dan menganggukkan kepala dengan yakin.
"Terima kasih sudah membantuku. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kalian semua," Harin sangat berterima kasih ke semua temannya yang sudah membantunya.
"Tidak apa-apa. Ajak kami main di rumahmu," kata Arin memberi ide.
Harin tertawa kecil yang diikuti oleh seluruh teman-temannya. Namun, ada sesuatu yang membuat perhatiannya teralihkan. Ia melihat Sara yang bermain ponselnya sendirian di mejanya. Sejak ia mulai mencurigai Sara, Sara mendadak menjadi pendi dan jarang bersama mereka lagi. Ia tidak itu peduli lagi karena apa pun terjadi ia harus memikirkan dirinya dahulu baru orang lain.
Harin, Rini dan Arin sedang berjalan menuju ke toilet. Sepertinya semua cewek kalau ke toilet pasti bareng teman. Ada yang kurang jika tidak membawa teman ke toilet. Namun, saat mereka akan masuk ke dalam, mereka dikagetkan dengan suara orang yang berteriak dari dalam. Dengan cepat Harin masuk untuk melihat apa yang terjadi.
"Kenapa kau tidak bilang saja jika kau tidak bisa menerima dan memberikan itu ke aku?" ucap siswi itu dengan sangat kasar. Siswi itu mendorong seorang siswi yang ia marahi itu sampai masuk ke dalam kamar mandi. Harin melihat tidak hanya satu melainkan ada dua orang lain lagi di sana.
"Bagaimana orang jelek seperti dirimu menjadi penyanyi utama?!" siswi itu benar-benar kasar ke siswi yang ia marahi itu.
Harin tidak terima jika ada siswi yang diperlakukan seperti itu. Ia mengambil sebuah ember berisi air dan mencampakkan air tersebut ke arah tiga orang tersebut. Sontak, mereka bertiga kaget sekaligus kesal.
"Dia Harin," kata salah satu temannya yang membuat mereka langsung diam ditempat.
"Air ini cocok untuk mulut kalian yang busuk itu," mereka langsung kecut mendengar kata yang menusuk ini dari mulut mungil Harin.
"Kenapa kalian tega lakukan itu ke dia? Kalau kau mau bukankah kau harus bekerja keras?" Harin benar-benar marah.
Mereka terdiam mungkin karena takut atau apa. Arin muncul dari belakang Harin yang langsung membuat orang yang ada diantara mereka menjadi menundukkan kepala. "Kau lagi. Apa kau tidak kapok?" tanya Arin saat melihat wajah Delila di sana.
"Minggir," Arin menyuruh Harin untuk minggir sedikit.
Mereka bertiga kaget bukan main saat Arin yang tiba-tiba melayangkan tendangan ke depan wajah Delila. Tendangan itu meleset dan hampir saja mengenai hidung milik Delila.
"Tendangan aku ternyata meleset. Aku dengar harga operasi hidung murah?" kata-katanya membuat mereka langsung terdiam.
Rini langsung membantu siswi yang diganggu oleh Delila dan membawanya keluar dari sana. Tinggal Arin, Harin dan 3 orang tersebut di sana. "Sebentar? Delila ada yang ingin aku tanyakan," kata Harin yang masih ingin berurusan dengan mereka terutama Delila.
"Saya yang mengunggah itu di komunitas online," kata Delila yang jujur perbuatannya dengan bahasa yang paling sopan.
"Lalu siapa yang memberikan foto dna video tersebut?" tanya Arin.
Delila tidak menjawab. Terlihat wajahnya yang panik membuat Harin dan Arin terus-menerus menekan dirinya untuk segera jujur. "Siapa dia?"
"Teman sekelas kalian. Dia teman sekelas kalian," kata Delila yang sudah tidak tahan.
"Siapa?" tanya Arin dengan nada agak marah.
"Sara. Dia memberiku semua itu dan menyuruhku untuk mengunggah itu di komunitas online," Arin maupun Harin langsung lega setelah mendengar cerita dari Delila. Namun, mereka benar-benar kecewa karena semua ini terjadi karena ulah Sara.
Setelah itu, mereka pergi tanpa berkata apa pun yang membuat Delila kesal. Seragamnya basah dan pelakunya tidak mempertanggung jawabkan. "Aku tidak membawa seragam lebih."
Teman-temannya meninggalkan Delila dengan kesal. Mereka berpikir karena Delila pakaian mereka basah. Sudah pasti temannya kesal bukan main. Di saat Delila akan keluar di sana, tidak disangka jika ada yang menghalanginya untuk keluar.
"Kau Delila, kan?" tanya seorang siswa.
"Iya aku Delila. Kenapa, kau mau menyiram ku dengan air lagi?" tanya Delila dengan kesal.
"Kau sudah tahukan untuk buat apa, kan?" Tanya siswa itu yang membuat Delila bingung.
"Apa?"
Tanpa menjawab, siswa itu memberikan sebungkus tisu ke arah Delila. "Karena Harin aku melakukan ini."
"Kau tahukan apa maksudku? Kau harus memikirkan dirimu dulu baru orang lain," kata siswa itu dan langsung meninggalkan Delila yang kesal.
"Sepatutnya kau memberiku handuk bukan tisu!" Delila dengan kesal mencampakkan tisu pemberian siswa tadi ke lantai. Namun, beberapa saat kemudian ia ambil kembali.
*****
Semuanya menatap dirinya dengan sangat aneh. Dia mulai merasa risi dengan tatapan aneh dari mereka. Namun, ia tetap berusaha untuk tidak mempedulikan tatap-tatapan aneh itu. Kata-kata yang menyakitkan mulai ia dengar. Yang biasanya orang-orang memuji dirinya namun, sekarang ia harus mendengar ejekan-ejekan dari mereka.
Begitu juga dengan keadaan yang ada di kelasnya. Semuanya menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh. Bukan saja aneh, mereka bahkan tidak suka untuk menyapa dirinya. Ia tersenyum mengetahui apa yang terjadi sekarang. Ia duduk di tempatnya seakan-akan tidak terjadi dengan dirinya.
"Aku tidak percaya. Bagaimana mau meminta maaf jika ia sama sekali tidak menghiraukan kita. Aku menyesal bertemanan dengannya."
Ternyata orang yang menjadi sasaran tatapan aneh adalah Sara. Sara yang tidak perduli langsung mengambil ponsel dari tasnya dan memainkannya tanpa memperdulikan kalimat setajam silet itu. Ternyata dari tadi ponsel menerima pesan yang banyak dari akun media sosialnya. Tidak hanya di dunia nyata ternyata di dunia maya juga dikatain.
"Apakah ini sisi asli dari dirinya?"