
Tempat baru, kisah baru. Itu yang diharapkan dari Harin serta ibunya yang baru saja pindah ke rumah lamanya.
Rumah lamanya itu terletak di sebuah kota kecil. Mereka pernah tinggal di sana dan itu hanya sebentar. Setelah Harin sudah berusia 7 tahun, mereka memutuskan untuk pergi ke kota yang lebih besar serta pekerjaan ayahnya yang ada di sana. Namun, Harin dan ibunya terpaksa kembali lagi ke rumah lamanya karena ayahnya yang menjual rumah secara diam-diam.
"Wahhh, rumah ini tidak berubah sama sekali," kata ibunya yang kaget melihat rumahnya yang masih sama peris sejak ia tinggal bertahun-tahun lamanya.
"Ma, yang namanya rumah mana bisa berubah. Kalau rumah lebih cocok dengan kata rusak atau roboh," kata Harin.
"Sama sajalah," balas ibunya yang tidak mau kalah.
"Rumah dibilang berubah. Emang manusia bisa berubah?" balas Harin, seraya mengangkat semua barang-barang yang dibawa ke dalam rumah lamanya itu.
"Aku pikir barangnya akan banyak sekali," kata Harin yang telah menyelesaikan tugasnya dalam membantu ibunya mengemasi barang-barang yang mereka bawa itu.
"Barangnya sedikit jadi cepat selesai," ucap ibunya yang mendengar perkataan Harin.
"Kita hanya bawa baju, kulkas sama diri kita," sedangkan Harin malah tertawa mendengar ucapan ibunya itu.
"Ma, kita juga termasuk barang pindahan, kah?" tanya Harin ke kalimat yang dilontarkan oleh ibunya itu.
"Kita juga pindah, kan? Bukan barang saja yang dipindahkan," jawab ibunya, Harin lagi-lagi tertawa mendengar perkataan ibunya.
...*****...
Membutuhkan sehari untuk membersihkan rumah tersebut. Dari membersihkan semua perabot rumah dari debu-debu yang menempel, menyapu dan mengepel, membersihkan jendela rumah dan pekerjaan membersihkan lainnya itu membutuhkan sangat banyak waktu dan tentu juga tenaga. Jadi, tidak heran lagi jika perut Harin sudah berbunyi untuk segera diisikan.
"Harin, sini makan," panggil ibunya untuk makan malam bersama.
"Harin, apa kamu bisa menghantarkan lauk ini ke rumah sebelah?" tanya ibunya, sontak Harin melihat beberapa Tupperware yang berisi lauk yang dimasak ibunya itu.
"Maksud Mama rumah tetangga?" tanya Harin memastikan.
"Iyalah, siapa lagi," jawab ibunya.
"Alah... Aku capek, Ma. Mama aja gimana?" ucap Harin dengan malas, seraya memijit punggungnya seolah-olah ia benar-benar capek.
"Kami ingat kamu saja yang capek, Mama juga. Sudah, nanti hantar, ya?" kata ibunya, membuat Harin langsung mendekat ke ibunya untuk makan malam bersama.
"Sebelum pergi, biar Harin makan dulu," ucapnya sembari mengangkat sendok untuk siap-siap makan, "Ini enak banget," puji Harin, sedangkan ibunya tersenyum melihat anak semata wayangnya itu.
"Ma, aku hantar lauknya dulu, ya?" ucap Harin pamit untuk menghantarkan lauk tersebut.
Sembari berjalan Harin berpikir, "Apa dia masih mengingat diriku?"
"Dia tidak akan ingat, kan? Terakhir dia melihat diriku sejak 10 tahun yang lalu. Jadi aku yakin jika dia tidak mengenal wajahku," ucap Harin, sembari menuju ke rumah tetangganya yang tak jauh di sebelah rumahnya.
Harin mengetuk pintu rumah itu.
"Permisi?" panggil Harin dari luar setelah beberapa kali mengetuk pintu.
"Iya," jawab seorang wanita yang sepertinya seumuran ibunya, sembari membuka pintu.
"Saya tetangga baru. Ini ibu saya memberi Tante sedikit lauk," kata Harin, sembari menyerahkan beberapa Tupperware tersebut ke wanita itu.
"Lauk? Terima kasih, ya. Kalau bisa tahu, nama kamu siapa?" tanya wanita, sedangkan Harin terdiam tak berkutik.
"Dia tanya namaku. Bagaimana ini? Kalau aku beri tahu namaku pasti dia langsung tahu siapa aku," batin Harin yang khawatir. Bukannya apa, ia hanya khawatir jika ia akan dikenal sebagai dirinya yang dulu sebabnya kini ia telah berubah.
"Saya Harin," jawab Harin dengan canggung, "semoga dia tidak mengingatku," batin Harin.
"Harin? Namamu secantik orangnya," respon wanita yang membuat Harin menghembus nafas lega.
"Kalau begitu saya pulang dulu, ya? Ibu saya pasti sudah menunggu," kata Harin sebelum pamit undur diri.
"Dia sudah berubah," gumam wanita itu, sembari melihat kepergian Harin yang tanpa melihat ke belakang langsung pergi dengan cepat.
"Kamu sudah bagi makanannya?" tanya ibunya setelah melihat Harin pulang dengan tangan yang kosong.
"Sudah. Lagian ngapain juga Harin makan di tengah jalan," jawabnya, sembari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
...*****...
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu. Besok adalah hari pertama Harin masuk ke sekolah barunya. Harin yang sedang melihat tanggal di kalender, langsung berlari ke kamarnya untuk mengecek apakah barang riasannya masih ada.
"Kau kenapa?" tanya ibunya bingung, melihat Harin yang berlarian seperti seseorang yang sedang dikejar orang nagih hutang.
"Sunscreen aku hampir habis. Masker juga. Aku harus beli segera," ucap Harin setelah mengecek barang kesayangannya itu.
"Ma! Harin mau keluar sebentar! Ada yang mau dibeli!" jerit Harin dari luar rumah, seraya memakai sepatu.
"Ramai sekali," ucap Harin yang melihat banyak sekali orang yang ada tempat tersebut.
Harin berkeliling untuk mencari toko yang menjual alat make-up. Sembari mencari toko yang menjual make-up, ia mampir ke toko kaki lima yang menjual makanan. Setelah lama berkeliling, akhirnya ia tiba di toko yang menjual make-up.
"Ini sudah cukup," kata Harin yang memegang sekantong berisi barang yang ia bawa sembari menuruni tangga dari toko tersebut.
Tas yang dijinjingnya bergerak karena sebuah getaran, "Ada yang nelpon," ucapnya, seraya mencari ponselnya yang bergetar itu.
Ternyata yang menelpon adalah ibunya. Di saat ia sedang asyik mengobrol bersama ibunya, seseorang menabraknya yang membuat barang yang ia beli tadi terjatuh dengan tidak sengaja.
"Maaf," ucap orang itu sembari membantu mengambil barang yang terjatuh itu.
"Ini," kata orang itu sembari memberi barang yang Harin yang jatuh tadi.
"Terima kasih," kata Harin sebelum pergi dari sana.
"Siapa itu?" terdengarlah suara ibunya dari ponsel yang digenggam Harin.
"Tadi ada yang tidak sengaja menabrak," balas Harin dengan cepat.
Sedangkan orang tadi memerhatikan Harin yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Siapa tadi?" tanya seorang, sepertinya itu adalah temannya.
"Sudah tentu manusia," jawab orang itu.
Keesokan harinya, Harin memulai harinya dengan membuka mata dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk siap-siap menuju ke sekolah barunya itu. Ia memakai seragam barunya dan memakai sedikit riasan di wajahnya. Serta ia menghias sedikit rambutnya.
"Harin! Cepat turun!" panggil ibunya dari bawah.
Harin berjalan dengan cepat sehingga suara tapak kakinya terdengar hingga ke telinga ibunya yang berada di dapur itu. Ia menuruni anak tangga dengan sangat cepat dan tergesa-gesa.
Ibunya kaget melihat penampilan anaknya itu, "Ayo makan," kata ibunya, sembari menatap Harin kaget.
"Hari ini aku mau naik bus, jadi Mama enggak usah hantar Harin," kata Harin.
Ibunya terdiam, "Ma?" panggil Harin.
"Kenapa?" tanya Harin, dia tersadar jika ada yang salah dengan dirinya.
"Tidak sesuai kah?" tanya Harun, seraya menunjukkan ke arah wajahnya itu.
"Tidak. Sangat sesuai," jawab Ibunya.
"Benar?" tanya Harin lagi.
"Iya. Harin anak Mama cantik sangat cantik," puji Ibunya, sedangkan Harin tersenyum lebar.
"Harin mau berangkat ya, Ma?" pamit Harin sebelum pergi.
"Iya. Hati-hati, ya?" pesan ibunya dari depan pintu.
"Iya, Harin berangkat dulu," pamit Harin sebelum menutup rapat pintu.
"Bersenang-senanglah kami di sekolah," kata ibunya dengan senyuman lebar di wajahnya.
Ibunya sangat senang melihat Harin yang kembali ceria karena sebelumnya Harin jarang sekali tersenyum seperti itu. Entah itu pergi atau pulang dari sekolah, Harin tidak pernah menunjukkan senyumannya itu.
"Perasaan apa ini?" ucap Harin saat melihat semua orang melihat ke arahnya.
"Siapa dia?"
"Apa dia seorang artis?"
"Dia adalah tipe cewek yang aku suka?"
"Dia cantik sekali"
Ini yang diharapkan oleh Harin selama ini. Setelah sekian lama ia berharap akan mendapatkan ini semua dan sekarang sudah mendapatkannya.
Kini, Harin telah berubah. Dia bukan Harin yang sering diejek lagi. Dia bukan gadis yang tidak mempunyai teman lagi. Dia adalah Harin yang baru.
"Kau lihat itu? Dia tersenyum ke diriku," ucap seseorang setelah Harin membalas senyumannya.
Harin akhirnya bisa berjalan tanpa lagi takut maupun menundukkan kepalanya ke bawah lagi dan takut serta khawatir jika mereka akan menertawai dirinya lagi. Semuanya telah berubah.
...Ini aku, Harin yang baru. Sekarang, aku bukan seorang gadis yang sering diejek jelek, namun aku adalah Harin yang baru....