What Is Beauty?

What Is Beauty?
Teman Baruku



...Para bintang-bintang akan mengisi langit malam yang kosong serta menemani sang bulan yang sendirian  di malam yang sepi ini....


...*****...


"Kamu tidak hanya cantik, pintar lagi," ucap seseorang sembari membaca sehelai kertas yang berisi riwayat pendidikannya.


Harin hanya tersenyum lebar tanpa menjawab apa pun. Bagaiman tidak, orang lain telah menyebutnya cantik. Tiba-tiba, seseorang datang menuju ke arah mereka dengan ekspresi yang sangat dingin. Harin terdiam dan terpana melihat wajahnya yang sangat indah.


Bagaimana ada orang yang memiliki wajah sesempurna ini?


"Makasih, Reyhan," ucap seorang guru yang telah menjadi wali kelasku.


"Apa? Namanya Reyhan?" batinnya, yang masih terpana akan wajahnya yang "tampan" itu.


"Oh iya, Harin. Ini adalah teman sekelasmu sekaligus ketua kelasmu. Jadi kalau ada apa-apa, minta ke dia, ya?" Ucapnya,  mengenalkan orang dengan wajah yang tidak manusiawi itu ke dirinya.


"Reyhan, kamu bawa dia ke kelas," ucap wali kelasnya.


"Ikut aku," ucapnya dengan sangat dingin.


"Saya ke kelas dulu ya, Pak?" pamit Harin sebelum mengikuti Reyhan dari belakang.


Bagaimana ada orang yang sangat ganteng ini berjalan di hadapannya?


Dengan bahu yang yang sangat panjang bahkan jika diukur sudut bahunya, itu akan terbentuk sudut siku-siku. Pas 90 derajat.


Bagaimana jika kita meletakkan segelas air di atasnya? Pasti tidak jatuh, kan?


Namun, tiba-tiba Reyhan terhenti yang membuat Harin hampir menabraknya dari belakang. Harin melihat apa yang terjadi di hadapan. Seorang siswi yang berdiri di hadapan Reyhan. Ia merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi.


"Ada apa?" tanya Reyhan dengan nada khasnya, dingin.


Siswi itu tergagap saat akan berbicara yang membuat Reyhan kesal dan pergi melewati siswi itu.


"Tunggu! Tunggu!" panggil siswi itu.


Reyhan memberhentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya ke belakang untuk menghadap siswi itu, "Tiga detik," ucapnya.


"Satu, dua,-" Reyhan mengira dan saat ia akan menyebutkan nomor tiga, "Aku menyukaimu," ucap siswi itu dengan cepat dan lantang.


"Kau telat," kata Reyhan dengan sangat dingin dan langsung berjalan kembali namun dihentikan oleh siswi itu dari hadapannya.


"Kalau begitu tolong terima ini," ucapnya sembari memberikan sekotak yang sepertinya isinya adalah coklat terlihat dari merek yang tertulis di atas kotak itu.


Reyhan mengambil kotak tersebut membuat siswi tersebut tersenyum bangga karena benda itu diambil oleh orang yang ia sukai. Namun sayangnya, Reyhan malah melemparkannya ke belakang dan mendarat tepat di hadapan Harin. Sontak, Harin membeliakkan matanya saat melihat isi dari kotak kecil itu.


Terlihat ada enam biji coklat dengan gambar Reyhan di atasnya serta terlihat tulisan yang sangat besar yaitu aku menyukaimu. Harin menelan ludah dengan cepat. Bukannya heran melihat coklat itu namun, ia heran dengan Reyhan yang bisa-bisanya melempar kotak coklat itu. Sedangkan siswi itu hanya diam tidak berkata apa-apa.


Reyhan langsung beranjak dari sana tanpa berkata sepatah kata pun. Harin segera mengikutinya dari belakang. Ia juga tidak lupa untuk menyapa siswi tadi dengan senyuman hangatnya.


"Siapa dia? Wajahnya sangat cantik," ucap teman dari siswi itu.


"Diam!" marah siswi itu, kesal karena ditolak oleh Reyhan.


Reyhan pun masuk ke dalam kelas sedangkan Harin hanya berdiri di luar. Harin takut jika ia akan diejek lagi. Harin memperbaiki nafasnya dan merapikan rambutnya.


Harin masuk ke kelas dengan penuh percaya diri. Seketika, seluruh ruangan sungguh sepi saat melihat Harin masuk ke dalam ruang kelas itu.


"Apa mereka akan mengejekku? Atau ada yang salah dengan riasanku?" batin Harin.


"Kau anak baru?" tanya seseorang dari belakang sana.


"I-iya," jawabnya gugup.


"Mereka tidak akan menertawaiku, kan?" batinnya.


"Selamat datang, anak baru," sapa seseorang.


"Halo," sapa Harin kembali namun canggung.


Harin langsung duduk di tempat yang kosong setelah seorang siswa menyuruhnya untuk duduk di sana. Beberapa dari mereka membalikkan badannya untuk menatap Harin. Harin langsung menatap kembali wajah mereka.


"Dia memiliki wajah yang sangat mungil, aku memberi nilai untuk wajahnya yaitu 75 persen," Harin menilai wajah seorang siswi yang sedang menatapnya.


Tiba-tiba seseorang mendekati dirinya. Reflek, Harin menatapnya. Seketika, ia terpana akan wajah orang itu.


"Mata, hidung dan mulutnya sangat simetris. Aku beri dia 80 persen. Jika dia memakai riasan aku memberinya 90 persen. Dia sangat cantik sekali," ucapnya, menilai penampilannya.


Semua murid yang ada di kelas itu langsung menuju ke meja masing-masing, ternyata guru telah datang. Mereka semua duduk di kursinya masing-masing.


"Kita telah kedatangan teman baru. Kamu, sila maju ke depan dan memperkenalkan dirimu," ucap guru itu ke Harin.


Harin pun langsung maju untuk memperkenalkan dirinya. Namun, Harin sedikit gugup saat melihat mereka menatap dirinya.


"Halo, aku Harin Herlina. Panggil saja Harin," ucapnya memperkenalkan dirinya.


Mereka semua menepuk tangan yang membuat Harin sedikit lega saat mereka menyoraki dirinya dengan sebutan "cantik". Harin tersenyum dengan perlahan ke arah mereka.


Benar, aku sudah keluar dari "neraka" itu.


Harin sangat senang sekali. Namun, terlihat seorang yang hanya diam bahkan ia tidak memerhatikan dirinya saat memperkenalkan dirinya tadi dan menatap ke luar jendela. Siapa lagi kalau bukan Reyhan.


Harin kembali ke mejanya. Orang yang ada di hadapannya langsung membalikkan badannya dan memperkenalkan dirinya.


"Halo, aku Rini," ucapnya dengan senyuman lebar bahkan sudut matanya ikut tersenyum.


"Anak-anakku. Siapa pun kita, entah kita berada di posisi paling bawah, di tengah maupun di paling atas. Kita ini sama, tidak ada bedanya. Semua orang berhak dicintai. Karena itu, kalian semua harus berteman tanpa membeda-bedakan, ya?" ucapan guru itu membuat Harin sedikit lega.


Haaaa.... Guru itu sangat keren.....


"Baik, Pak," jawab semua murid serentak.


"Mari kita absen. Siapa yang tidak hadir? Aiydeen? Di mana dia?" tanya guru itu, menanyakan seseorang.


"Saya di sini, Pak!" ucap seseorang yang masuk dengan nafas yang terburu-buru.


"Aiydeen, sekarang sudah jam berapa?" Tanya guru itu ke siswa yang bernama Aiydeen.


"Maaf, Pak," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.


"Sudah sana duduk di tempat mu," suruh guru itu.


"Ini tempatku," ucap Aiydeen ke arah Harin, "Aku rabun jauh, jadi tidak bisa duduk di belakang," jawabnya dengan cepat.


Dengan terpaksa, ia menuju ke meja yang paling belakang tanpa berkata apa-apa pun. Dia duduk dan di sapa oleh teman-temannya.


"Selamat belajar, anak-anaku. Saranghae," ucap guru itu dan langsung keluar dari kelas.


"Apa? Bapak bilang apa? Telingaku gatal banget," ucap seorang siswa dengan ekspresi geli.


...*****...


Harin bersama dengan dua teman barunya yaitu Arin dan Rini menuju ke kantin untuk beristirahat. Harin sangat iri kepada mereka karena sangat cantik, lagi-lagi Arin yang sangat cantik walaupun tidak memakai sedikit pun riasan di wajahnya.


"Aku mau makan pau sambal, ayo beli," ucap Rini sembari memegang perutnya.


"Aku akan beli," ucap Harin setelah mendengar kata "pau".


"Kau mau ke mana?" tanya Arin bingung melihat Harin yang tergesa-gesa.


"Beli pau, kenapa?" tanyanya, bingung.


"Kita beli bersama," jawab Arin dengan cepat.


"Apa? Mereka bilang ingin beli bersama?" batin Harin dengan bingung.


"Aku sudah pindah sekolah," batin Harin mengingatkan dirinya jika dirinya bukan yang dulu.


"Ayo," kata Rini sembari menarik tanganku serta Arin untuk menuju ke kantin.


"Aku memiliki teman sekarang," ucap Harin dengan sangat bahagia.


"Harin, kau punya hobi?" tanya Rini.


"Tentu, dong," jawab Harin.


"Aku sangat suka mengambil foto," kata Rini, menceritakan tentang kesukaannya ke Harin.


"Aku suka mendengar lagu dan membaca," jawab Harin.


"Semua cewek cantik pasti hobinya tak lepas dari itu," kata Rini, nadanya seperti orang yang iri.


Harin tertawa kecil mendengar itu.


Sekarang, ia sudah mempunyai teman. Tidak seperti dulu. Tidak seperti dulu, ia bahkan tidak ada yang ingin mengajak berbicara dengan dirinya. Dengan wajahnya yang baru ini, ia berharap ia bisa menikmati hal-hal yang orang lain rasakan juga.