What Is Beauty?

What Is Beauty?
Punya Pacar?



"Apa ini tema untuk lomba nanti?" tanya Arin ke diriku, Rini dan Sara yang sedang berhadapan dengan papan mading.


"Iya, lumayan juga," jawab Rini sambil menatap ke wajah Arin yang masih menatap papan Mading tersebut.


"Kau pasti bisa. Kami akan mendukung dari belakang," kata Harin menyemangati Arin seraya memegang bahunya.


"Benar, kami akan mendukungmu. Semangat," seru Sara yang ikut menyemangati Arin.


"Terima kasih atas dukungan kalian. Sekarang, yang harus kita lakukan adalah...," katanya itu membuat mereka sangat penasaran, "mencari ide," lanjutnya lagi. Setelah itu, ia langsung pergi dan mereka pun ikut di belakangnya.


Namun tiba-tiba seseorang memanggil Sara dari belakang dan ia langsung menoleh, "Iya?" jawabnya.


Di belakang sekolah terdapat sebatang pohon yang rindang. Sekeliling tempat tersebut di penuhi oleh daun kering yang berguguran karena di tiup angin serta dua sosok yang tak lain adalah Kino dan Sara yang sedang berteduh di bawah pohon yang rindang itu.


"Sara, apa kamu bisa membantuku?" tanya Kino.


"Tentu," jawabnya disertai dengan senyuman yang lebar itu.


"Kamu sekelas dengan Harin, kan?" tanya orang itu dengan sangat serius.


"Iya. Kenapa dengan Harin?" tanya Sara yang bimbang karena nama temannya dipertanyakan.


"Tolong bantuku. Aku menyukainya, jadi bantu, ya?" ucap Kino meminta bantuan.


"Tentu, akan saya bantu, kok," jawab Sara dengan senyumannya yang tak luntur.


"Oke. Saya tunggu hasilnya, ya?" ucap Kino dengan wajahnya yang kelihatan sangat bahagia.


Sara pun mengangguk kepalanya menanggapi kalimat terakhir yang dilontarkan oleh kakak kelasnya itu. Setelah itu, mereka langsung pergi ke kelas masing-masing supaya tidak ada yang mencurigai mereka.


****


"Oh iya, kalian sudah siap pr MTK?" tanya Harin yang membuat seisi kelas yang mendengar sontak kaget.


"Emang ada?" tanya Chris bingung dan Harin langsung mengangguk kepalanya dengan cepat.


"Sudah tentu aku siap. Kalian pasti kira aku belum siap, kan?" ucapnya membuat Harin menggelengkan kepalanya.


"Kalian semua sudah, kan?" tanya Chris ke seluruh isi kelas, "Sudah," jawab semua murid di kelas itu dengan serentak.


"Berkat Rini, aku bisa menjawab pertanyaan nomor 5," ucap Chris sedangkan Rini senyum-senyum tidak jelas ke arah pacarnya itu.


"Mulai sudah," kata Arin sambil menghela nafas pasrah.


"Harin?" panggil seseorang dari belakang, sontak Harin menoleh dengan cepat.


"Aiydeen? Kenapa?" jawab Harin sambil menatapnya.


"Aku dengar kau pintar," ucapnya membuat mereka yang mendengar itu langsung kebingungan.


"Maksudmu?" tanya Harin bingung.


"Apa aku bisa nyontek tugas MTK punyamu? Akan aku gantikan dengan apa pun yang kau mau," ucapnya membuat Harin menjadi sedikit kesal.


Harin berdiri dan menghadap ke dirinya yang sangat tinggi itu, "Kau mau lihat punyaku? Sudah tentu, bentar aku ambilkan," ucapnya sembari mengambil buku dari dalam tas dan langsung memberinya.


"Terima kasih," ucap Aiydeen saat akan mengambil buku itu dari tanganku namun Harin langsung menarik kembali buku itu yang membuat Aiydeen sedikit kebingungan.


"Ada yang harus aku perbaiki," ucapnya sembari memperbaiki sesuatu.


"Nih, cepat catat sebelum terlambat," ucap Harin seraya memberikan buku itu ke Aiydeen.


Aiydeen dengan senang kembali ke tempatnya untuk segera mencatat tugas Harin itu. Di saat ia membuka buku tersebut, kagetnya halaman dari buku tersebut kosong dan terlihat sebuah tulisan yang membuat ia sangat kesal.


"Jika kau ingin, bayar dulu," ucap teman sebangku Aiydeen yang membaca isi dari bacaan itu.


Aiydeen menatap Harin dengan sangat kesal sedangkan Harin mengangkat kedua bahunya seraya tertawa kecil. Rini dan Arin yang melihat momen ini ikut tertawa melihat Aiydeen yang diketawain oleh teman-temannya.


Di sisi lain, terlihat Sara yang masuk ke kelas dan langsung ke tempatnya. Harin sadar dengan sikap Sara yang secara tiba-tiba seperti orang yang kebingungan. Harin memerhatikan dirinya dari kejauhan. Di saat Harin akan menghampirinya, seketika guru pun masuk yang membuat Harin harus mengurungkan niatnya itu.


"Apa dia baik-baik saja?" Ucap Harin sangat khawatir.


"Baik, semuanya. Sila duduk di tempat masing-masing. Kita akan mulai belajar, ya?" ucap Ibu Rena, guru yang mengajar pelajaran Bahasa Inggris itu sambil meletakkan buku yang ia bawa itu. Entah apa yang membuat murid di kelas itu menguap tidak henti.


Saat Ibu Rena selesai menulis sebuah kalimat di atas papan tulis, di ujung sana terlihat seorang siswa yang sedang tertidur. Sontak, Ibu Wati langsung memanggilnya yang membuat siswa itu langsung bangun.


"Aiydeen?" panggil Ibu Wati yang membuat seisi kelas menolehkan kepalanya ke arah pemilik nama.


"Iya!" ucap Aiydeen cepat sambil berdiri dengan wajahnya yang seperti orang linglung.


"Nyenyak tidurnya?" tanya Ibu Wati sedangkan mereka tertawa mendengar pertanyaan itu.


"Coba kamu jelaskan apa arti dari kalimat ini," suruh Ibu Wati sedangkan Aiydeen menggaruk kepala kebingungan.


"Tulisan Ibu sangat cantik," jawabnya membuat seisi kelas tertawa mendengar itu.


"Lain kali jangan tidur saat jam pelajaran apa pun, ya?" kata Ibu Wati memperingati Aiydeen.


"Sudah, kalau begitu Reyhan, apa kamu bisa artikan kalimat tersebut?" ucap Ibu Wati ke Reyhan. Di saat begini, siapa lagi kalau bukan Reyhan yang akan disebut namanya.


"We can draw lessons from the past, but we cannot live in it. Kita bisa mengambil pelajaran dari masa lalu tetapi kita tidak bisa hidup di dalamnya," ucapnya mengartikan kalimat itu.


"Apa kalian tahu darimana kalimat ini?" tanya Ibu Rena ke seluruh siswa di kelas itu.


"Kalimat itu dari Lyndon B. Johnac. Benarkan, Bu?" jawab Harin dengan cepat.


"Benar, benar sekali. Ia adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-36. Dari kalimat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan yaitu kita bisa menjadikan masa lalu itu sebagai pelajaran dan pengalaman untuk masa depan. Namun, kita tidak bisa tinggal atau hidup di masa lalu itu," jelas Ibu Wati mengenai kalimat tersebut.


Mereka terdiam mendengar penjelasan Ibu Wati itu. Benar, kita bisa mempelajari masa lalu tapi, kita tidak bisa hidup di waktu yang sudah berlalu.


Suara bel berbunyi dan sudah waktunya untuk mengisi perut yang sudah berbunyi meminta untuk segera diisi oleh makanan. Mereka segera menuju tempat yang tak lain adalah kantin.


"Hari ini ramai banget," ucap Harin saat melihat kantin hari ini sangat ramai tidak seperti biasanya.


"Cepat sebelum kita tidak dapat tempat duduk," ucap Arin.


Tersisa satu meja makan yang bisa diisi oleh empat orang. Yang duduk di meja tersebut yaitu Rini, Chris dan Harin. Saat Arin akan mengisi sisa tempat yang kosong, Sara yang datang entah dari mana langsung duduk di tempat itu yang membuat Arin sedikit kesal. Arin terpaksa menuju ke meja sebelah yang memiliki sisa tempat duduk itu.


"Kau ambil itu sangat banyak, pasti kau sangat menyukai itu?" tanya Sara yang melihat sup sayur banyak di piring Harin.


"Iya, aku suka jadi aku ambil sedikit lebih," jawab Harin jujur.


"Halo, apa kau Harin?" panggil seseorang tiba-tiba.


"Iya," jawab Harin canggung saat melihat siswa laki-laki mendekati dirinya.


Entah mengapa hatinya berdegup kencang. Harin berusaha untuk tenang dan berusaha tersenyum untuk menutup kegugupannya. Tiba-tiba siswa laki-laki itu menyuruh Chris yang ada di hadapan Harin untuk pindah ke meja lain. Mau tak mau, Chris menuruti itu.


"Saya Kino, Kakak kelas," ucap Kino si kakak kelas.


"Saya Harin, Kak," jawab Harin dengan sangat canggung.


"Cepat makan sebelum makanannya dingin," suruh Kino.


"Kenapa pindah ke sekolah ini?" tanya Kino ke Harin yang sedang makan.


"Saya pindah rumah jadi harus pindah sekolah juga," jawab Harin dengan canggung.


"Benarkah?" jawabnya sembari mengangguk kepalanya.


"Apa sudah punya pacar?" tanyanya membuat Harin hampir tersedak dengan makanannya sendiri.


"Iya?" tanya Harin dengan bingung.


"Sudah punya pacar?" tanya Kino lagi.


"Oh? Tidak, tidak punya," jawab Harin cepat.


"Kenapa? Kenapa tidak? Belum punya atau apa?" tanyanya lagi.


Namun, pertanyaannya itu membuat Harin menjadi sedikit risih dan tidak nyaman. Harin menatap Rini serta Sara yang berada di dekatnya untuk meminta bantuan.


"Seseorang tolong bantu aku," batin Harin.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


Dengan terpaksa Harin menjawab," Hanya tidak tertarik."


"Tidak tertarik? Kamu bohong, kan?" tanyanya tidak percaya.


"Tidak, saya tidak bohong," jawab Harin berusaha meyakinkan.


"Kamu cantik, kenapa tidak ada? Kalau begitu sama saya, mau?" tanyanya membuat Harin tersedak sekali lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rini khawatir sembari memberikan segelas air.


"Terima kasih," ucapnya setelah menghabiskan air pemberian Rini tersebut.


"Gimana? Mau tidak?" tanyanya lagi.


"Tapi-" ucapan Harin dihentikan oleh suara hentakan meja.


"Apa itu?" ucap Kino dengan kesal.


"Kau kenapa, Reyhan?" tanya Chris saat Reyhan yang tiba-tiba menghentakkan tangannya di meja.


"Aku sudah selesai makan," ucapnya dan pergi dari mejanya itu.


"Kenapa dia? Apa dia marah?" tanya Chris ke Dino yang ikut bersama Reyhan di meja tersebut.


Bukannya menuju ke tempat letak piring, ia malah mendekati Harin yang jaraknya hanya satu meja makan dari tempatnya itu. Sekarang ia berada tepat di depannya dengan tatapan khasnya itu, dingin.


"Ada apa ini? Kau mau apa? Apa kau tidak lihat ada kakak kelas di sini?" tanyanya dengan kesal.


"Maaf, saya tidak melihat ada Kak Kino di sini," jawabnya ke arah Kino.


"Apa?! Tidak melihat?!" tanyanya dengan sangat kesal.


"Iya," jawabnya dengan santai.


"Harin?" panggilnya,"Iya," jawab Harin dengan cepat.


"Cepat, Pak Beni mencari mu," ucap Reyhan.


Harin segera mengangkat piringnya dan langsung pergi dengan cepat tanpa berkata apa-apa. Setelah itu, Reyhan langsung mengikuti dirinya dari belakang. Harin angsung meletakkan piringnya di tempat dan begitu juga dengan Reyhan.


"Sial*n, hampir saja" umpat Kino dengan kesal.


Harin dan Reyhan menuju ke ruang guru bersama-sama. Namun, saat hampir sampai di ruang guru, Reyhan secara tiba-tiba berhenti membuat Harin hampir saja menabraknya.


"Kenapa?" tanya Harin sedangkan Reyhan membalikkan badannya ke arahnya.


"Hati-hati," ucapannya membuat Harin mengerutkan dahinya.


"Jangan mudah percaya," ucapnya lagi dan Harin diam kebingungan.


"Reyhan!" Panggil Chris dari kejauhan dan setelah itu Reyhan pergi tanpa menjelaskan perkataannya tadi.


"Dia menyuruhku untuk berhati-hati? Ada apa dengannya?" tanyanya bingung sembari pergi dari sana.


"Sebentar? Bukankah dia bilang kalau Pak Beni mencariku?" Harin baru teringat jika tujuan mereka adalah menuju ke ruang guru untuk menemui Pak Beni.


"Kenapa dia malah meninggalkan ku sendirian?" gumamnya dengan kesal sembari menuju ke ruang guru.


*****


Ada kalanya kita akan merasa bingung. Mengapa ada orang lain yang merasa iri ke diri kita. Sedangkan kita pula, merasa iri ke mereka. Ujung-ujungnya kita saling tunjuk satu sama lain sembari mengatakan "aku sangat iri".


Mungkin, itu yang dirasakan oleh Harin dan Sara yang saling merasa iri satu sama lain. Yang satunya merasa iri karena wajah yang cantik. Sedangkan satunya lagi, malah merasa iri karena ada dua orang yang sering menempel orang itu. Mereka saling iri namun tanpa diketahui satu sama lain. Lucu, kan?


"Dia bahkan tidak pernah menatapku," ucap Sara dengan wajah yang jelas sekali, kesal.


"Dia tidak pernah membalas bahkan menatap diriku," ucap Sara setelah menceritakan kejadian itu.


"Jangan berpikir seperti itu. Kau tahu sendiri dia seperti apa," ucap Harin ke Sara.


"Aku juga sering dikacangin dengannya," seru Rini.


"Aku iri," ucap Sara sembari menghela nafas.


"Iri kenapa? tanya Harin.


"Kau sangat cantik, pasti banyak yang menyukaimu," jawab Sara.


"Kau juga. Kau lebih cantik dariku, pasti lebih banyak orang yang menyukaiku," ucap Harin.


"Banyak orang menyukaiku?"


Kalimat itu membuat Harin mengingat kembali dirinya di masa lalu.


"Orang-orang menyukaiku? Benar mereka suka dengan diriku tapi, lebih tepatnya suka mengejek, menertawai diriku," pikirnya.


Biasanya, kenangan buruk akan lebih lama menetap dipikiran kita daripada kenangan manis. Harin ingat betul bagaimana ia dahulunya diejek hanya karena ia menyukai seseorang.


"Apa kau sudah mencatatnya?" tanya seseorang.


"Sudah, semuanya sudah ku catat," jawab Harin, "Bagus," jawabnya langsung.


"Tapi, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Harin dengan sangat gugup.


"Apa?" jawabnya namun netranya sibuk melihat-lihat isi buku itu.


"Sebenarnya, aku menyukaimu," jujur Harin dengan sangat berani.


"Apa?" ucapnya, "Kau menyukaiku?" tanyanya sambil menatap Harin.


"Iya," jawab Harin langsung.


"Kenapa? Ada yang salah?" Batin Harin cemas.


Mendengar kalimat itu, buku yang ia pegang dengan sengajanya ia jatuhkan. Sontak, Harin kaget melihat itu. Ia melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Harin yang sudah kaget sekaligus kebingungan melihat reaksi orang yang ia sukai itu.


"Apa kau gila?! Lihat mukamu di kaca dulu, deh. Dasar jelek!" katanya yang sangat menyakitkan bagi Harin.


"Apa salahku?!" tanya Harin, kebingungan akan letak kesalahannya.


"Apa salah kau?! Apa kau tidak sadar dengan muka jelek kau itu. Ada hati ingin menyukaiku!!!" jawabnya, seketika air mata Harin jatuh dari pelupuknya.


Harin menangis saat ia mengatakan dirinya jelek. Ia mengambil buku catatan itu kembali dan langsung pergi dari sana. Dari kejauhan, Harin bisa melihat bahwa dia membuang buku itu di tempat sampah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan kesal. Bisa-bisanya ia melakukan itu ke Harin.


"Kenapa salah aku?" tanya Harin dengan sangat sedih.


Kita dipaksakan untuk bertahan dari kerasnya proses untuk menjadi cantik. Namun, kita juga harus menahan pedihnya menjadi jelek. Itu sama saja seperti serba salah. Menjadi cantik dibilang tidak menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri dengan artian tetap dengan apa adanya dibilang tidak bisa mengurus diri sendiri.


Itulah resiko menjadi cantik.