
Harin yang sedang menceritakan kejadian tadi pagi ke Arin dan Rini. Mereka sedikit mencurigai Sara. Bagaimana tidak, Kino mengaku jika Sara yang mengatakan jika Harin menolaknya bahkan mengatakan jika Kino adalah buaya. Sedangkan Harin mengetahui jika Kino seperti buaya itu dari Sara. Namun, Harin tetap berpikir positif dan tidak mencurigai Sara sama sekali. Lagian tidak ada bukti jelas jika Sara benar-benar mengatakan itu ke Kino.
Sekolah mereka akan mengadakan festival untuk merayakan hari ulang tahun sekolah mereka. Selain mengadakan festival, sekolah mereka juga mengadakan lomba menulis. Kelas mereka diwakili oleh Arin yang sudah ditunjuk menjadi perwakilan beberapa hari sebelumnya. Arin tidak hanya dikenal sebagai siswi yang cantik, ia juga sering dikenal sebagai siswi dengan karya sastranya yang bagus.
Sudah banyak perlombaan yang ia menang dalam lomba menulis. Arin tipe cewek paket lengkap yang tidak hanya cantik dan pintar. Banyak hal lain yang bisa ia lakukan. Karena lomba itu, Arin semakin sibuk dan harus tetap fokus. Itu membuat Arin jarang makan siang bersama Harin dan lainnya. Mereka memaklumi itu karena Arin melakukan itu untuk kelas mereka. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendukung Arin.
Biasanya Arin menulis karyanya di lab komputer karena ia lebih fokus saat sedang sendirian. Setelah pulang sekolah, ia menyempatkan untuk ke sana untuk membuat karyanya itu. Hampir setiap hari ia mengunjungi tempat itu. Semakin sering ke sana semakin cepat ia menyelesaikan karyanya itu.
"Arin, kau pasti bisa. Kau ikut bukan hanya untuk menang namun untuk menunjukkan bahwa kau bisa menulis," kata Arin menyemangati dirinya sendiri.
Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Akhirnya, ia telah menyelesaikan karyanya itu. Ia membaca kembali karyanya untuk mengecek kembali apakah ada yang ingin ia ubah atau ada kalimat yang kurang dan sebagainya. Di tengah asyiknya membaca, tiba-tiba perutnya memberi kode-kode. Hal tersebut membuat perut Arin seketika sakit sekali. Ia sudah tidak tahan untuk menjawab panggilan alam.
"Kenapa sekarang? Kenapa saat begini baru bilang, sih?" tanya Arin yang sudah tidak tahan menahan sakit di perutnya itu.
Tidak ada cara lain selain segera menjawab panggilan itu. Arin segera meninggalkan komputernya yang masih nyala untuk ke toilet tanpa takut jika ada yang mencuri karyanya itu. Bukannya apa, kita sebagai manusia pasti ada perasaan seperti lagian Arin sedang berada di perlombaan. Setelah selesai, ia kembali lagi untuk menyelesaikan proses akhir sebelum mengumpulkan karya tersebut. Ia mengumpulkan karyanya dengan penuh percaya diri tanpa mencurigai apa pun.
Beberapa hari kemudian, hari di mana hasil lomba atau pengumuman pemenang lomba akan diumumkan di Mading sekolah. Arin serta Harin dan lain-lainnya berdiri di hadapan Mading sebelum menuju ke kelas. Anehnya saat Arin sudah tiba di sana, semua siswa menatap sinis ke arah Arin. Harin dan lainnya kebingungan dengan hal itu.
"Ada apa?" tanya Harin bingung dan aneh.
"Arin?" panggil Rini yang sudah membaca isi dari Mading tersebut.
Alangkah terkejutnya saat melihat pengumuman tersebut. Memang ada nama Arin yang tertulis di atas kertas tersebut namun bukan di pemenang lomba namun di tempat lain. Tempat lain yang tidak pernah Arin bayangkan. Inilah alasan semua siswa menatap Arin dengan sinis.
"Aku tidak percaya. Teganya ia melakukan itu," ucap seorang siswa.
"Kata bisa menulis tapi kenapa mencuri karya orang lain?" tak habis-habisnya mereka mengatai Arin.
Arin telah dituduh mencuri karya orang lain. Sontak, teman-temannya seketika kaget mengetahui jika Arin dituduh telah mencuri karya orang lain. Tidak hanya dituduh, Arin akan dihukum karena tuduhannya itu. Arin dituduh mencuri karya dari siswa kelas sebelah yaitu Delila.
Delila itu memang dipanggil dengan "siswa dengan orang dalam". Setiap ada masalah, ia akan keluar sebagai orang yang tidak bersalah. Arin sangat sedih saat namanya tertulis sebagai siswa yang mencuri. Apa tidak ada yang mencari tahu kejadian sebenarnya? Mereka juga tidak memberi tahu judul karya dari pemenang lomba.
Arin tidak akan melakukan ini.
Arin curhat segalanya ke Harin dan temannya yang tetap di samping dirinya saat keadaan seperti ini. Ia menjelaskan jika karya yang ia tulis ini adalah cerita yang ia buat sudah sejak lama. Sayangnya, cerita aslinya ada di buku hariannya tapi buku tersebut telah hilang. Buku itu akan digunakan untuk menunjukkan bukti jika karya itu adalah miliknya bukan milik Delila.
Arin semakin sedih saat karyanya itu dicuri oleh orang lain. Karya tersebut ia tulis berdasarkan cerita dari kehidupannya. Ia menceritakan bagaimana orang tuanya kembali lagi setelah lama berpisah. Sebagai teman, Harin menenangkan Arin jika pasti ada cara lain untuk membuktikannya.
Dikarenakan itu, Arin terpaksa dipisahkan dari temannya yang ada di kelas. Jadi ia belajar sendirian di tempat khusus. Harin yang khawatir, mengunjungi tempat Arin lewat jendela. Ia menggambar gambar lucu ditangannya supaya menghibur Arin yang sedang bersedih itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arin.
"Aku merindukanmu," jawab Harin dengan nada yang kesal.
"Baru dua hari aku di sini. Kau sudah kangen," kata Arin.
"Kau dituduh bukan membunuh," kata Harin cepat.
"Oh iya. Nih aku belikan kamu roti dan yogurt. Aku tahu kau belum makan karena takut keluar, kan?" tanya Harin sembari mengeluarkan makanan yang ia beli untuk Arin.
"Terima kasih," kata Arin.
Ia sangat senang dengan kehadiran Harin di sana. Ia ingat jika tidak ada yang akan mengkhawatirkan dirinya. Namun, berkat Harin rasa sedihnya berkurang.
Besok adalah hari terakhir Arin "dikurung" di tempat itu sebelum hukuman apa yang ia akan dapat. Namum, hal ajaib terjadi di sekolah tersebut. Itu bagaikan hujan emas dan berlian. Seluruh ruang guru dikagetkan dengan sebuah buku harian yang sudah usang. Ternyata itu adalah buku harian milik Arin yang hilang. Nasib guru yang menjuri lomba menulis itu jujur. Ia menyelediki kejadian ini kembali dan benar saja jika Arin tidak bersalah.
"Siapa yang meletakkan buku ini?" pertanyaan itu memenuhi ruang guru.
Saking ajaibnya, mereka tidak tahu siapa yang meletakkan buku tersebut di sana. Setahu Arin, buku itu sudah hilang sejak ia di bangku SMP. Bagaimana buku itu bisa kembali? Dan anehnya lagi, siapa yang meletakkan buku itu? Semua itu masih menjadi misteri sehingga siswa sebenarnya yang mencuri karya Arin.
"Saya tidak percaya jika dia yang mencuri bahkan berbohong," kata Pak Beni tak habis pikir.
Ternyata orang mencuri karya Arin adalah Delila si pemenang pertama. Ada bukti yang lebih kuat untuk membuktikan, yaitu sebuah rekaman cctv yang ada di lab komputer. Di sana terlihat jelas jika Delila masuk ke lab komputer setelah Arin keluar beberapa detik kemudian. Bukti sudah ditemukan dan Arin bebas dari tuduhannya itu.
Akhirnya, Delila dihukum untuk membersihkan seluruh sekolah seperti mengutip sampah, membuah sampai dan mengepel lantai di bangunannya yang terdapat kelasnya selama dua minggu sesuai batas waktu pengumpulan karya lomba. Arin kembali senang setelah kejadian ini berlalu begitu saja. Ini benar-benar akan menjadi pengalaman terburuk bagi dirinya. Namun, kejadian ini akan ia ambil sebagai pelajaran untuk waktu yang akan datang.
"Arin, dia menyebalkan. Siapa yang letak buku itu di ruang guru?" Gumamnya, sembari memungut sampah.
Tiba-tiba, sebuah kaleng minuman dibuang oleh seseorang ke arah dirinya. Itu membuat Delila semakin kesal. Ternyata itu Chris yang sengaja mencampakkan kaleng itu ke tempat sampah yang dekat dengan Delila berdiri.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Chris sembari mengutip kembali sampah yang tidak masuk di tempat sampah itu.
"Kau suka dengan julukan barumu? Apa namanya? Pembohong? Pencuri?" Tanya Aiydeen sembari mengutip sampah dan membuangnya di plastik sampah yang dipegang oleh Delila.
"Darimana kau mendengar itu?!" tanya Delila yang sudah kesal.
"Apa kau tidak tahu? Seluruh sekolah membahas itu," kata Aiydeen sedangkan Delila sudah sangat kesal.
"Semangat. Dua minggu itu sekejap, kok. Pejam kelip sudah dua Minggu," kata Aiydeen sebelum pergi meninggalkan Delila yang sudah menahan kekesalannya itu.
"Ini sangat menyebalkan!!!" jeritnya kesal seraya mencampakkan kaleng ke arah depannya dengan amarahnya yang sudah tak terbendung lagi.
"Kamu!!" teriak seseorang sembari memukul keras punggung Delila.
Ternyata itu adalah ibunya. Setelah anaknya dinyatakan bersalah, ibunya menuju ke sekolah untuk melihat anaknya itu. Bukannya memarahi serta menegur anaknya itu, ibunya malah memarahi Delila karena sudah mempermalukan dirinya.
"Kenapa kau mencuri karya orang lain?!" Tanya ibunya dengan kesal.
"Aish! Kenapa ibu membela dia!? Seharusnya ibu membelaku bukan dia!" jawab Delila yang sama-sama kesal.
"Menjawab? Uang jajan mu ibu kurangi dan ibu tidak akan menghantar kau ke sekolah selama sebulan," ucap ibunya yang sudah tidak tahan dengan perlakuan anaknya itu.
Delila tidak terima, "Kenapa yang jajanku Ibu kurang?"
Akhirnya, karya Arin dianggap sebagai pemenang. Menulis itu tidak mudah. Kita harus mengorbankan waktu, tenaga serta kreativitas supaya karya yang kita cipta bisa terasa hidup.