What Is Beauty?

What Is Beauty?
Reyhan dan Aiydeen



"Reyhan. Dia sangat menyebalkan! Dasar sisiopat!" ucap Rini marah bercampur aduk dengan kesal.


"Kenapa?" tanya Harin bingung, bisa-bisanya ia menyebut Reyhan sebagai seorang sisiopat.


"Kau tidak tahukah? Selain julukannya Si Kutub Utara, sisiopat adalah julukannya yang lain?" tanya Arin, Harin menggeleng dengan cepat, tidak tahu.


"Sifatnya yang dingin dan kejam terhadap orang lain. Dia tidak mempunyai teman selain Chris yang sering menempel," jelas Arin.


Harin diam tak berkutik. Mengetahui itu, ia menjadi teringat kejadian saat dirinya baru mulai bersekolah. Bagaimana ia bisa membuang pemberian dari siswi itu?


Dia kelihatan kejam.


Namun, ada yang lebih menyeramkan selain Reyhan si sisiopat itu. Yaitu, bagaimana siswi-siswi di sekolah ini mengagung-agungkan dua orang yang paling tampan di sekolahnya. Dua orang itu tentu saja Aiydeen dan juga Reyhan.


Jika dipikir-pikir, mengapa ada yang menyukai Reyhan, sedangkan sifatnya yang dingin? Aiydeen masih bisa diperbincangkan. Dia ganteng dan juga ramah.


Di mana siswi-siswi sudah berkerumun, di situlah ada Reyhan dan Aiydeen.


"Ada apa di sana?" tanya Harin kaget saat melihat ada beberapa siswi yang berlarian di hadapannya.


"Mari kita mempersembahkan para bintang-bintang di sekolah kita," kata Rini sembari mendekati kerumunan siswi-sisiwi itu.


Harin menutup mulutnya, matanya yang melebar saat mengetahui apa yang dimaksudkan dengan para bintang-bintang itu.


Apa yang membuat mereka menjerit histeris seperti ini? Dia bukan seorang idola?


"Kenapa Reyhan?" tanya Harin bingung, melihat ada yang sedang membaca buku sembari duduk di atas bangku kursi.


"Reyhan, siswa paling pintar di sekolah ini. Dia sering mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Si Udara di Kutub Utara, itulah nama julukannya," jelas Arin dengan sangat detail tanpa meninggalkan sedikit pun informasi.


"Dia lagi duduk dan baca buku, bagaimana bisa?" tanya Harin tak habis pikir.


"Lihat itu," ucap Arin sembari menunjukkan jarinya ke siswi di hadapan mereka.


"Lihat itu, ganteng banget," ucap siswi itu.


Di ujung sana, Reyhan tidak memperdulikan kerumunan itu dan melanjutkan aktivitasnya yang sedang membaca. Namun, jeritan siswi-siswi itu membuat dirinya terganggu. Ia menutup bukunya dan menghela nafas.


"Kau lihat itu! Dia menghela nafas!!" jerit seorang siswi dengan sangat histeris.


"Ayo ke kantin, tempat ini sangat menyeramkan," ucap Harin ketakutan, mengajak Rini dan Arin pergi dari sana.


"Ada-ada saja," kata Harin, tak mengerti lagi.


Mereka sedang duduk di bangku yang ada di taman sekolah sembari makan es krim. Namun, dari kejauhan kedengaran suara jeritan histeris yang membuat Harin menjadi kesal.


"Apa lagi!" marahnya sembari menoleh ke arah suara.


"Dia bintang selanjutnya," seru Rini.


"Aiydeen, mukanya kek playboy namun sifatnya sangat lembut bagaikan sutra. Mereka menyukai Aiydeen karena Aiydeen pintar olahraga, semua olahraga dia bisa. Alasan disukai adalah senyumannya itu. Dia murah senyum," jelas Arin dengan detail.


Harin hanya mendengarkan penjelasan Arin sambil melihat Aiydeen yang berada di ujung sana. Memang tidak diragukan lagi jika mereka akan disukai oleh banyak orang. Memiliki wajah yang tampan dan pintar akan sesuatu hal pasti membuat semua orang akan tergila-gila.


Sayangnya, Harin adalah salah satu korban dari dua orang itu. Jika mengingat kembali, rasanya ingin saja menjambak rambut kedua orang itu.


Menyebalkan sekali.


Saat itu, Harin yang sedang berada di perpustakaan untuk mencari buku dan meminjam buku. Di saat sedang mencari buku yang akan ia pinjam, matanya tertarik dengan suatu rak dengan buku yang sangat disukainya, yaitu buku komik.


Harin menghampiri rak tersebut untuk melihat-lihat, apa ada yang bisa ia baca. Namun, di saat ia akan meraih sebuah buku yang berada cukup tinggi di atas, sebuah tangan muncul dari belakang yang membuat Harin seketika kaget.


Sontak, Harin memutarkan badannya untuk melihat siapakah orang itu.


Kenapa harus dia? Dia adalah Reyhan, si anak dingin itu. Bisa dibilang jika berpapasan dengan Reyhan, sama saja seperti terkena sial. Mungkin?


Harin menatap wajahnya yang bagaikan mahakarya itu dan mereka saling tatap-tatapan.


"Minggir," ucapnya dengan dingin.


Sontak, Harin langsung menjauh darinya. Setelah itu, Harin ingin mengambil buku yang ingin ia baca itu. Namun, buku itu malah diambil oleh Reyhan. Melihat buku yang akan ia baca diambil oleh Reyhan, Harin mengambil buku itu dari tangannya secara paksa namun ditahan olehnya yang membuat mereka saling berebut.


Sialnya, itu membuat menimbulkan masalah. Buku itu robek. Harin menatapnya dengan tatapan yang dipenuhi kemarahan yang ditahan, namun Reyhan menatap Harin dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.


"Terus ini bagaimana? Siapa yang akan ganti?" tanya guru yang menjaga perpustakaan.


Harin langsung menunjuk ke arah Reyhan begitu juga Reyhan yang menunjuk ke arahnya.  Dari kejadian itu, mereka harus membayar ganti rugi secara adil, dibagi dua. Begitulah lebih kurang bagaimana Harin harus menghadapi Reyhan si anak dingin itu.


Sangat menyebalkan.


Walaupun Aiydeen kelihatan ramah dan murah senyum, ternyata ia cukup menyebal juga.


Kejadian itu terjadi saat pelajaran olahraga. Pada saat itu, Harin serta Aiydeen satu kelompok saat bermain bola beracun. Saat itu, dikelompok mereka menjadi yang ditengah, yang akan menghindari lemparan bola. Di kelompok tersebut hanya tersisa Harin dan Aiydeen. Jujur, Harin bukanlah seseorang yang banyak bergerak. Jadi, dia tidak cukup baik dalam berolahraga.


Saat itu, lawan akan melempar bola ke arah mereka. Tiba-tiba Aiydeen berdiri di hadapan Harin sehingga Harin tidak akan terkena bola yang di lempar oleh pihak lawan. Awalnya Harin berpikir jika dia akan membantu dirinya dengan mengorbankan dirinya. Sayangnya, bukan dia yang akan berkorban namun Harinlah yang menjadi korban. Di saat lawan melempar bola, ia malah bergerak ke samping yang membuat bola itu terkena tepat di kepala Harin. Harin pingsan di tempat.


Begitulah kejadiannya.


Sangat menyebalkan, bukan?


****


"Dia sangat cantik sekali," puji Harin, sembari menatap lekat wajah temannya, Arin.


"Dia mungil dan sangat cantik, menurutku dia adalah tipe cewek yang imut," dia memerhatikan temannya lagi satu, Rini.


"Sadar, Harin," kata Harin sambil menepuk pelan pipinya.


"Mereka benar temanku? Ini bukan mimpi, kan?" seluruh isi kepalanya diisi dengan pertanyaan seperti itu.


Mereka sadar jika Harin menatap mereka dengan sangat aneh. Harin dengan sedikit memberanikan diri, ia jujur kepada mereka.


"Kalian sangat cantik," ucap Harin, tiba-tiba.


"Tiba-tiba?" jawab Rini.


"Jujur, aku tidak pernah mempunyai teman seperti kalian, cantik," jujurnya, sembari menatap mereka.


"Buat apa cantik jika tidak bahagia. Aku jika disuruh milih cantik atau bahagia, sudah tentu aku memilih bahagia," seru Arin, sedangkan Harin hanya diam menyimak ucapannya itu.


"Tetap saja kau cantik, aku iri," jawab Harin.


"Untuk apa kau iri? Cantik atau tidak, yang penting sekarang kita adalah teman, kan?" kata Arin dengan anggukan kepala Rini.


Harin hanya tersenyum mendengar perkataan itu. Sekarang, kita teman? Harin sangat bahagia sekarang. Jika kalian melihat dirinya yang dulu, apakah kalian tetap berteman dengannya?


Terus, bagaimana jika mereka mengetahui keadaan dirinya yang dulu? Itulah yang sangat Harin takutkan serta khawatirkan jika suatu hari nanti mereka mengetahui itu di tengah-tengah bahagianya itu. Itu serasa dihempas setelah setelah terbang setinggi-tingginya. Membayangkan saja sudah sakit, apalagi benar-benar terjadi.


Kalian adalah bintangku.


Bintang-bintang akan menemani sang bulan yang sendirian di langit malam yang sepi nan sunyi ini.