
Sudah dua hari Harin tidak menampakkan dirinya. Sudah tentu teman-temannya khawatir akan dirinya. Memang masih ada rasa kecewa namun, mereka tetap mengkhawatirkan Harin.
"Harin sudah dua hari tidak masuk. Apa dia baik-baik saja?" kata Rini yang sangat khawatir saat tidak mengetahui kabar dari Harin dua hari kebelakangan.
"Apa kita ke rumahnya saja? Siapa yang tahu rumahnya?" tanya Arin yang ikut khawatir.
"Biar aku saja yang pergi," kata Reyhan. Mereka tidak mempermasalahkan jika Reyhan yang akan ke rumah Harin karena biasanya ia paling tidak suka disuruh. Sekarang yang paling penting adalah keadaan Harin.
"Reyhan, gunakan kesempatanmu sebaik mungkin," ucap Reyhan yang sambil bercermin di kaca toilet. Dikarenakan ia akan ke rumah Harin, ia ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk menyatakan perasaannya sekali lagi.
Malam harinya, ia sudah bersiap-siap untuk ke rumah Harin. Namun, ia merasa sedikit malu saat bertemu dengan ibunya Harin. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menghubungi Harin untuk memberitahu jika ia akan ke sana. Lebih tepatnya mereka akan janjian bertemu di taman dekat dengan rumah Harin.
Sesampainya di sana, tidak ada siapa pun dan hanya terlihat seekor kucing jalanan yang sedang duduk di bawah tanaman yang ada di sana. Sembari menunggu, ia mendekati kucing tersebut untuk diajak berbicara. Walaupun ini terlihat aneh, cara itu bisa membuat dirinya sedikit tenang karena tujuannya tidak hanya menyemangati Harin.
Setelah cukup lama menunggu, Harin tiba di sana. "Maaf karena telat. Aku tadi bantuin ibuku mengangkat barang," kata Harin dengan napas yang masih terengah-engah.
Reyhan tersenyum dan mengatakan jika ia baik-baik saja. Harin datang sudah membuatnya lega. Harin masih merasa bersalah karena berita tersebut yang membuat dirinya terdiam. Sedangkan Reyhan, ia merasa gugup karena tujuannya untuk menggunakan kesempatan keduanya. Sampai-sampai suara kucing lah yang membuat kecanggungan antara mereka hancur.
"Kucing itu lucu," kata Harun dengan canggung.
Dengan canggung Harin bertanya, "Kenapa suruh aku ke sini? Ada yang kau ingin bicarakan?"
Reyhan menatap Harin yang ada di samping. "Kau tahu jika kita semua mirip bulan?" tanya Reyhan yang membuat Harin kebingungan.
Harin diam untuk berpikir apa agaknya jawaban dari pertanyaan yang dilempar oleh Reyhan tadi. Semua manusia cantik atau ganteng? Atau manusia harus hidup sederhana karena warna bulan yang sederhana?
"Apa?" tanya Harin menyerah.
"Manusia memiliki dua sisi yang berbeda yaitu sisi terang dan sisi gelap. Sisi terang manusia adalah sisi yang dipertunjukkan ke semua orang. Sedangkan sisi gelapnya adalah sisi yang sisi yang tidak pernah kelihatan bahkan orang lain tidak tahu apa yang terjadi apa yang terjadi di sisi itu," jelas Reyhan. Harin hanya diam menyimak karena menurutnya itu sedikit membingungkan.
"Dan sisi hanya orang yang tepat bisa memahami apa yang terjadi di sisi gelap itu. Karena itu, aku ke sini ingin melihat sisi gelap itu dari bulan yang indah ini," lanjut Reyhan lagi. Harin sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh Reyhan. Reyhan ingin dirinya menceritakan sisi gelapnya yaitu masa lalu yang kelam baginya.
Harin masih terdiam tidak membalas. Ia masih belum bersedia dan merasa sulit untuk menceritakan sisi gelapnya. Walaupun fisiknya terlihat diam mematung tapi otaknya berpikir keras bagaimana ia akan menceritakan semuanya.
"Kau tahu kenapa sifatku dingin? Itu karena cara aku untuk mempertahankan diriku," tiba-tiba Reyhan buka suara yang membuat Harin membuka telinga besar-besar.
"Aku merasa berteman dengan kalian hanya menyia-nyiakan waktu. Lebih aku belajar agar nilai yang diperoleh sesuai ekspektasiku. Namun, sejak kehadiranmu aku sadar jika aku ini terlalu kesepian. Setiap kali aku berada di dekatmu, aku sadar bahwa sudah banyak yang aku lewatkan. Jika kau sadar, aku sudah mulai ikut makan bersama kalian, mendengar dan ikut mengobrol walaupun hanya dua atau tiga kata tapi aku merasa senang. Senang karena akhirnya aku bisa merasakan apa yang dirasakan banyak orang," Harin benar-benar tertegun mendengar apa yang diceritakan oleh Reyhan. Semua orang pasti ada alasan atas kelakuan yang ia lakukan.
"Karena kau sudah tahu sisi lain dari diriku, sekarang aku ingin mendengar cerita darimu," kata Reyhan dengan nada sangat hangat berbeda dengan nada yang biasa ia gunakan, dingin. Harin menghela napas panjang sebelum menceritakan semuanya.
Reyhan tersenyum dan menatap wajah Harin. "Kau sudah melakukan terbaik. Bagaimana perasaanmu, sudah membaik?"
Harin mengangguk dengan cepat. "Terima kasih karena sudah mendengar ceritaku."
"Tidak masalah untuk menceritakan apa yang membuat hatimu sedih. Lihat sekarang, semuanya baik-baik saja," kata Reyhan sembari tersenyum hangat.
Harin tertegun melihat itu. Reyhan sangat berbeda dari biasanya yang dingin dan kelihatan kejam. Ia merasa lebih baik dari sebelumnya berkat Reyhan.
"Tapi, kenapa kau ingin mendengar ceritaku? Bukankah kau selalu cuek dan terlihat tidak peduli?" tanya Harin penasaran. Bisa dibilang jika Reyhan sedikit aneh karena tiba-tiba saja berubah hangat seperti ini.
"Karena kau Harin," jawab Reyhan.
"Dan karena aku menyukaimu," lanjut Reyhan lagi.
"Apa?" Harin benar-benar kaget mendengar itu. Ini kedua kalinya Reyhan mengakui perasaannya. Tapi, kali ini jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Kenapa kau menyukaiku? Aku cantik karena riasan," tanya Harin.
"Aku menyukaimu karena dirimu bukan wajahmu. Dan banyak sekali orang di sana yang sanggup tampil sempurna padahal aslinya beda," jawab Reyhan yang lagi-lagi membuat Harin tertegun.
"Tapi, Sara bagaimana? Apa dia tahu jika kau menyukaiku?" tanya Harin yang membuat Reyhan menghela napas panjang.
"Bisa tidak kau memikirkan tentang dirimu dulu baru orang lain? Di sini hanya ada kau dan aku, buat apa memikirkan orang lain?" Reyhan yang tak habis pikir jika Harin terlalu baik. Sudah jelas jika Reyhan menyukainya, kenapa harus memikirkan orang lain.
"Aku bukan tidak memikirkan diriku tapi merasa tidak pantas denganmu. Kau pintar dan ganteng," jawab Harin.
"Sudahlah. Bagaimana?" tanya Reyhan.
"Apanya?" Harin belum mengerti ala yang ditanyakan oleh Reyhan.
"Kau menyukaiku juga tidak?" tanya Reyhan.
"Kau rasa?" bukannya menjawab Harin malah bertanya.
"Aku pulang dulu," kata Reyhan tiba-tiba. Sepertinya ia kesal.
"Baiklah, aku akan memberi tahu," Harin berdiri dan langsung mengejar Reyhan yang hendak pergi.