
Pagi yang cerah, begitu juga dengan wajah Harin yang sangat cerah. Hari ini suasana hatinya sedang sangat baik. Harin tersenyum sepanjang pagi yang membuat orang lain yang melihat dirinya ikut tersenyum.
Kemudian, seorang guru masuk dengan senyuman khasnya itu.
"Selamat pagi, anak-anakku," sapa wali kelas, "Pagi juga, Pak," jawab seisi kelas.
"Hari ini bapak ada beberapa berita gembira untuk kalian. Ada yang tahu?" ucap wali kelasnya yang bernama Pak Beni.
"Gimana kita tahu jika bapak belum kasih tahu," jawab seorang siswa.
"Coba saja," kata Pak Beni yang membuat kami sekelas berpikir.
"Saya tahu. Bapak akan traktir kami makan, kan?" ucap Doni, anak yang paling ceria di kelas.
"Tidak," jawab Pak Beni sembari menggelengkan kepalanya.
"Terus?" tanya Doni.
"Kalian akan mengikuti lomba menulis cerita yang akan diadakan sekolah dalam memperingati hari ulang tahun sekolah," ucapnya dengan lantang.
Semua muridnya diam. Lomba menulis?
"Saya kira apa tadi," ucap Aiydeen tidak kaget.
"Inikan berita gembira, kenapa kalian tidak senang?" tanya Pak Beni dengan panik saat melihat anak-anaknya hanya diam tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.
Mereka lebih memilih mengikuti lomba seperti lomba olahraga dan lain-lain daripada menulis cerita. Menentukan ide itu mudah, hanya saja untuk mulai nulis itu sulit. Jika sudah memegang pensil atau pena, seketika ide menghilang begitu saja. Itu yang membuat mereka kurang dalam menulis padahal menulis itu bagus.
"Bukannya Bapak bilang ada beberapa berita? Jadi satunya lagi apa, Pak?" tanya Rini.
"Astaga saya lupa!" ucap Pak Beni sembari memegang dahinya.
"Maafkan bapak, ya? Kamu bisa masuk," ucapnya di hadapan pintu kelas memberi masuk seseorang.
Seketika, seluruh kelas mendadak sepi sampai-sampai Harin bisa mendengar suara nafas dari teman di sampingnya. Seketika seseorang siswi dengan aura yang berbeda masuk ke kelas. Rasanya seperti waktu berhenti secara tiba-tiba.
Dengan rambutnya yang terurai serta jepitan rambut di bagian kepala kirinya, mata yang sangat bulat serta senyumannya yang sangat manis membuat kami semua diam mematung.
Tidak ada kata lain selain cantik. Dia sangat cantik. Cantik sekali.
"Dan berita gembira lainnya adalah kita kedatangan teman baru," ucap Pak Beni ke semua muridnya yang sudah tercengang melihat siswi baru itu.
"Halo, aku Sara. Semoga kalian senang denganku," ucapnya memperkenalkan diri.
Seluruh orang yang ada di kelas itu langsung menepuk tangan. Semua orang menepuk tangan serta bersorak gembira kecuali dua orang ini. Yang pertama sudah pasti Reyhan. Dia seperti robot. Selain pintar, ia kelihatan seperti tidak mempunyai perasaan. Dan yang terakhir adalah Harin. Dia terdiam, dan terpesona.
"Wajah yang mungil, kulit yang lembut dan putih mulus, mata yang bulat serta bulu mata yang lentik, hidung mancung dan senyuman di bibirnya. Badannya yang mungil serta wajahnya yang imut itu membuat ia terlihat seperti anak kecil. Aku beri dia 100 persen. Dia sangat cantik," batin Harin, sepertinya menilai orang adalah hobi barunya.
Menilai dan membandingkan wajah seseorang, apakah itu normal?
Harin terdiam dan menatap siswa itu lekat. Pak Beni menyuruh siswa itu duduk di samping Reyhan sedangkan Harin masih menatap siswi itu. Menatapnya dengan ekspresi yang aneh namun memiliki arti sendiri.
"Harin? Kau sedang lihat apa?" tanya Rini, membuat Harin langsung sadar dari menatap siswi itu.
Reyhan, Aiydeen dan Arin yang mendengar itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Rini yang sedang bertanya kepada Harin.
"Tidak ada apa-apa. Udah sana," jawab Harin sembari menolak pelan kepala Rini melihat ke hadapan kembali.
Harin menatap kembali ke arah Reyhan serta siswa baru itu. Nampaknya, Sara sedang berbicara dengan Reyhan.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanyanya penasaran.
"Kenapa aku harus memikirkan tentang itu, sih," ucap Harin sembari mengeluarkan buku yang akan digunakan nanti.
Di sisi lain, sepertinya Reyhan kelihatan tidak senang dan itu terlihat dari wajahnya yang cemberut. Rupanya itu terjadi dikarenakan Sara si siswi baru itu terus menerus mengajak berbicara dengan dirinya. Sara tidak tahu siapa Reyhan sebenarnya. Itu membuat Reyhan sedikit tidak nyaman akan keberadaan Sara di sampingnya. Sara tetap tersenyum walaupun ia tahu jika pertanyaannya tidak dijawab oleh Reyhan sama sekali.
*****
"Sudah anak-anak, kita sambung Minggu depan, ya? Ingat pr kalian," ucap Ibu Rena, guru yang mengajar Bahasa Inggris.
Ibu Rena keluar dari kelas tersebut dan di ujung sana terlihat orang-orang yang mengerumuni tempat duduk Sara si anak baru itu. Mereka menanyakan latar belakang dari Sara. Biasalah, siswa baru pasti pernah seperti itu. Mereka penasaran dengan teman barunya. Jika dilihat dari hari pertama ia masuk, sepertinya ia akan mempunyai banyak teman.
Gaya bicaranya yang membuat semua orang langsung menyukainya. Berbicara dengan senyuman serta wajah yang polos, sepertinya itu adalah caranya untuk berteman. Harin memerhatikan itu dari kejauhan. Sejujurnya ia iri karena melihat Sara yang dikelilingi oleh orang-orang. Apa boleh buat, ia di kerumunan saja sudah ketakutan. Apalagi di tanya-tanya seperti itu?
"Ayo ke kantin," ajak Harin.
Arin serta Rini yang juga memerhatikan Sara langsung menyetujui ajakan Harin. Mereka langsung berdiri dan mengikuti Harin dari belakang. Di saat mereka akan menuruni tangga, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah belakang membuat mereka bertiga langsung menoleh ke belakang.
"Sebentar?" panggil seseorang.
"Kalian mau ke kantin?" tanya seseorang yang ada di hadapan Harin, ternyata itu Sara.
"Iya, kenapa?" tanya Arin cepat.
"Jika aku ikut kalian, bisa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Boleh saja," jawab Arin.
Seketika, Sara dengan tiba-tiba merangkul tangan Harin yang membuat dirinya sedikit kaget. Akhirnya mereka menuju ke kantin bersama-sama. Di sepanjang perjalanan ke kantin, Harin tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi. Entah itu kaget atau apa, Harin jelas-jelas seperti merasakan sesuatu.
"Wahh.. tempat ini sangat cantik tidak seperti di sekolah lamaku," seru Sara yang melihat pemandangan dari taman sekolah itu.
"Emang sekolahmu dulu tidak ada taman?" tanya Rini ke Sara.
"Ada, tapi hanya sebagai hiasan, aja," jawabnya.
"Harin, bisakah aku bertanya sesuatu?" tanyanya, membuat Harin langsung sadar dari lamunannya.
"Tentu," jawabnya dengan canggung.
"Apa kau memakai parfum?" tanyanya dan Harin langsung mengangguk.
"Kenapa?" tanya Harin.
"Apa kau sangat menyukai parfum itu?" tanyanya membuat Harin menjadi sedikit kebingungan.
"Tidak, aku hanya bertanya saja," ucapnya langsung saat melihat wajah Harin yang tiba-tiba berubah.
"Aku tidak suka memakai parfum," ucapnya dengan jujur.
Mereka hanya mengangguk mengerti. Aneh sih, tiba-tiba Sara bertanya seperti itu.
"Ini berarti kita berteman, kan?" tanya Sara.
"Tentu," jawab Harin dengan senang.
"Sepertinya kamu mempunyai banyak teman," kata Sara, membuat Harin sedikit kaget.
"Kamu cantik, pasti banyak yang suka," ucapnya lagi, lagi-lagi Harin dibuat melayang olehnya.
Ini adalah pertama kalinya ia dipuji oleh orang lain. Selain ibunya, ia tidak pernah dipuji. Dulunya ia sering diejek dan dibully. Namun sekarang ia tidak perlu risau akan hal itu lagi. Ia sudah berubah. Dengan riasannya itu, setidaknya ia tetap bisa bertahan. Mereka melanjutkan mengobrol kecil sehingga seseorang mendekati mereka berempat.
"Reyhan, apa yang kau buat di sini?" tanya Sara yang melihat Reyhan yang mendekat ke arah mereka yang asyik mengobrol.
"Ikut aku," jawabnya tiba-tiba, membuat mereka yang melihat kaget bukan main.
"Kenapa?" tanya Sara lagi.
"Pak Beni mencari mu," jawabnya dengan dingin.
"Aku pergi dulu, ya?" ucapnya sebelum mengikuti Reyhan dari belakang sedangkan mereka mengangguk seraya membalas lambaian tangan Sara.
"Apa kau suka dengan dia? Sudah ku duga dia akan seperti itu," ucap Rini dengan tidak suka.
"Tapi dia yang ingin berteman denganku, bukan! Dengan kita," ucap Harin cepat ke arah kedua temannya supaya tidak ada yang mencurigai dirinya.
"Biarlah dia. Ayo kita kembali ke kelas," kata Arin yang sudah berdiri untuk siap-siap kembali ke kelas.
"Ayo," ucap Harin dan Rini serentak.
Bahagia itu tidak perlu yang mahal, entah itu uang dan lain-lain. Cukup dengan kalimat-kalimat yang sederhana, Harin sudah bisa tersenyum bahagia.
Sejak kedatangan Sara di sekolah tersebut, membuat semua siswa membicarakan tentang dirinya yang cantik. Mereka merasa jelek saat melewati atau berjalan di samping Sara.
"Kenapa adik kelas kita banyak yang ganteng dan cantik? I'm so jealous," ucap seorang kakak kelas sambil menghela nafas.
"Arin, dia cantik kalau pakai riasan. Terus ada Harin, dia sangat cantik dengan riasan naturalnya. Tapi, aku sangat penasaran dengan wajah aslinya," jelas temannya yang tepat di sampingnya.
"Tapi, siapa sih namanya, teman mereka juga?" tanya siswi itu yang berusaha mengingat kembali.
"Sara," jawab temannya dengan cepat.
"Hanya ada satu kata untuk dia? Kau tahu?" tanya siswi itu yang membuat temannya menjadi penasaran.
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Sempurna," jawabnya sambil menatap temannya itu.
"Hidungku kelihatan sangat pesek dan mataku tidak bulat sepertinya. Apa lebih baik jika aku oplas saja?" ucap siswi itu sembari melihat wajahnya dari sebuah kaca kecil.
"Apa kau gila!? Jangan macam-macam!" jawabnya temannya sambil memukul punggung siswi itu.
"Aishh!! Jangan pukul juga, sakit tau!!!" Jerit siswi itu dengan sangat marah.
"Kau seharusnya bersyukur karena memiliki hidung dan mata yang masih berfungsi," ucap temannya itu untuk menyadarkan siswi tersebut.
"Aku baru mau menanyakan itu ke dirimu. Kenapa kau marah ke diriku seolah-olah aku sudah melakukannya," jawab siswi itu yang tidak mau kalah dari temannya itu.
*****
Terlihat Sara yang sedang bercermin sembari merapikan rambutnya. Setelah itu, ia membasuh tangannya dan segera keluar dari tempat itu.
Saat itu, Sara yang akan kembali ke kelas setelah dari kamar mandi. Dengan tidak sengaja, ia melihat Harin yang sedang berbicara dengan Aiydeen.
"Mau ke mana?" tanya Aiydeen.
"Minggir, aku harus segera menghantar ini ke ruang guru," jawab Harin yang membawa banyak sekali buku.
Melihat jika Aiydeen yang tak kunjung pergi, Harin dengan cepat pergi dari sana, namun dihalangi oleh Aiydeen kembali.
"Minggir!" ucap Harin sembari melewati Aiydeen.
Namun, itu malah membuat Harin hampir terjatuh. Aiydeen yang mengetahui jika Harin akan terjatuh, dengan cepat ia menarik seragam Harin bagian belakang yang membuat Harin tertarik ke belakang kembali. Namun, buku yang ada di tangannya jatuh ke lantai. Harin terdiam sejenak dan langsung membalikkan badannya ke arah Aiydeen.
"Bukannya bantu!" ucap Harin yang sudah siap untuk memukul Aiydeen sebelum mengambil semua buku yang terjatuh itu.
"Yaudah sini aku bantu," ucap Aiydeen sembari melihat Harin yang sedang mengambil buku-buku tersebut.
"Tidak usah. Seharusnya dari tadi," jawabnya dengan kesal sembari berdiri.
Harin segera berdiri dan langsung pergi dari sana dengan kesal, "Buang-buang waktuku saja," gumam Harin kesal.
Sara yang melihat itu dari kejauhan langsung kembali ke kelas dengan wajah yang lesu. Entah apa yang membuat dirinya seperti itu, ia merasakan sesuatu dalam dirinya. Setiap kali ia melihat Harin saat bersama Reyhan atau Aiydeen, ia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya.
****
"Ayo makan. Aku sudah lapar," ajak Rini ke teman-temannya.
"Ayo," ucap Harin sembari merangkul Rini.
Seperti biasanya, setelah makan mereka akan menyempatkan untuk duduk di taman sembari mengobrol. Mereka melakukan ini supaya hubungan mereka semakin erat.
"Kita hari ini keluar lebih awal jadi masih ada sisa waktu sekitar 15 menit," ucap Sara sembari duduk di sebuah bangku.
"Oh iya, aku baru ingat. Maaf, aku tinggal kalian dulu, ya?" ucap Arin sembari berdiri.
"Kau mau ke mana?" tanya Rini.
"Pak Beni ingin membicarakan tentang tema lomba," jawab Arin.
"Benarkah?" ucap Rini.
"Aku pergi dulu, ya?" pamit Arin sebelum ia beranjak dari sana.
"Pasti kedepannya Arin sangat sibuk," ucap Sara ke Harin serta Rini yang melihat kepergian Arin.
"Iya," jawab Harin menanggapi perkataan Sara itu.
****
"Itu adalah impian banyak cewek. Makan banyak, tapi berat badan tetap tidak naik. Jujur, aku iri," ucap Rini iri mendengar penjelasan dari Sara.
"Walaupun kau makan banyak mana pun, berat badanmu tetap segitu?" tanya Rini sekali lagi dan Sara langsung mengangguk dengan cepat.
"Harin? Apa kau sama denganku?" tanya Sara ke Harin yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan tersebut.
"Tidak, berat badanku gampang naik," jawab Harin dengan cepat.
"Kau tinggi. Naik sekilo tidak akan kelihatan," ucap Rini iri.
"Janganlah kek gitu," ucap Harin membujuk Rini yang sepertinya sedang ngambek.
"Apa kau akrab dengan Reyhan?" tanya Sara tiba-tiba.
Sontak, aku serta Rini saling tatap-tatapan karena kebingungan.
"Pertanyaan itu untuk siapa?" tanya Rini ke Sara.
"Apa kau akrab dengan Reyhan?" tanya Sara seraya menunjuk ke arah Harin yang membuat Rini langsung melihat dirinha dengan tatapan seribu pertanyaan.
"Tidak, kami tidak begitu akrab," jawab Harun dengan cepat berusaha untuk tidak membuat mereka salah paham.
"Tidak, kau akrab dengannya. Aku melihatnya sendiri," ucap Sara membuktikan perkataannya itu.
Saat itu, Sara sedang mengajak Harin ke taman. Kami yang sedang duduk dan mengobrol di taman harus dihentikan oleh kedatangan Reyhan yang memanggil Harin.
"Harin, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Reyhan ke arah Harin.
"Aku?" ucap Harin bingung.
"Cepat," ucap Reyhan dan langsung pergi dari sana.
"Aku pergi dulu, ya? Sampai nanti," ucap Harin sedangkan Sara hanya menatap kepergian Harin.
"Apa ini punyamu?" tanya Reyhan sembari memberikan lipstik ke arah Harin.
"Iya, aku kira hilang," jawab Harin sembari mengambil lipstik itu dari tangan Reyhan.
"Kau dapat ini dari mana?" tanyaku.
"Di kelas. Kemarin saat pulang, aku melihat ini di bawah mejamu," jawabnya menjelaskan sedangkan aku mengangguk mengerti.
"Apa itu sangat penting bagi dirimu?" tanya Reyhan saat melihat Harin yang mengusap lipstik tersebut seakan-akan benda itu sangat berharga.
"Mestilah, berkat ini aku bisa bertahan," jawan Harin dengan cepat.
"Bertahan? Maksudmu?" tanya Reyhan mendengar jawaban dari Harin tadi.
"Bukan apa-apa, kok. Lupakan saja," jawab Harin dengan cepat.
Hampir saja.
"Terima kasih," ucap Harin.
Namun, Sara melihat semuanya dari kejauhan. Rupanya saat Harin mengikuti Reyhan, Sara diam-diam mengikuti Harin dan melihat kejadian tersebut dari kejauhan. Jadi, Sara sudah melihat semuanya. Anehnya, Sara terlihat sangat tidak suka saat melihat Harin serta Reyhan berbicara satu sama lain.