
Minggu depan adalah hari yang akan ditunggu-tunggu. Hari di mana sekolah mereka akan dipenuhi oleh siswa-siswa serta orang yang berasal dari luar sekolah akan memenuhi sekolah mereka. Sekolah Harapan Maju akan mengadakan festival untuk merayakan ulang tahun mereka yang ke-31. Seperti tahun sebelumnya, kali ini mereka berharap jika festival kali ini tidak kalah ramai dan seru dari festival sebelumnya.
"Kalian ada ide untuk festival?" tanya Pak Beni menanyakan terkait festival.
Mereka berpikir apa yang akan mereka lakukan untuk festival nanti. Mereka sedikit kehabisan ide dikarenakan ide-ide yang sempat mereka ajukan pernah dilakukan di tahun sebelumnya. Mereka ingin sesuatu hal yang baru.
"Apa kita buka toko kecil jual makanan saja? Kita belum pernah mencobanya," usul Reyhan setelah ruang kelas sempat sunyi beberapa menit.
Lucunya, bukannya merespon usulan dari Reyhan, mereka malah menatap aneh ke Reyhan. Ini pertama kalinya Reyhan bersuara tanpa diperintah oleh guru. Bahkan Pak Beni juga merasa begitu.
"Usulan yang bagus, Reyhan. Karena tidak ada usulan lain, kita lakukan itu saja. Lagian kita belum pernah melakukannya," jawab Pak Beni menyetujui usulan Reyhan, begitu juga anak muridnya.
"Kita absen dulu, ya?" kata Pak Beni sembari membuka buku untuk absen.
"Semuanya hadir. Untuk festival kalian saja yang atur, saya akan mendukung dan membantu kalian. Semangat," kata Pak Beni menyemangati murid-muridnya sebelum keluar dari kelas.
Mina, si ketua kelas berdiri yang membuat seisi kelas fokus ke dirinya. Ia hanya ingin membahas tentang festival lebih dalam.
"Apa kalian ada ide untuk menarik perhatian orang-orang ke toko kita tanpa menggunakan uang atau lain sebagainya?" tanya Mina, membuat semuanya berpikir.
Semuanya diam. Apa yang harus mereka lakukan untuk menarik pelanggan tanpa menggunakan uang?
"Aku tahu!" jawab Chris dengan semangat membaut seisi kelas memandangnya.
"Apa?" tanya Mina penasaran. Bukannya menjawab Chris malah menatap ke arah Reyhan alih-alih menjawab.
"Kenapa dengan Reyhan?" tanya Mina bingung dan masih belum mengerti.
"Rini? Apa kau tahu apa yang dipikirkan oleh pacarmu itu?" tanya Arin yang belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh Chris.
"Aku tidak tahu," jawab Rini cepat.
Chris berjalan untuk menuju ke hadapan. Ia berdiri di seluruh depan teman-temannya dengan sangat percaya diri, "Dengar ini."
"Kelas kita mempunyai umpan untuk memancing ikan. Mereka bukan umpan yang biasa. Mereka umpan yang sangat bersinar," kata Chris membuat teman sekelasnya sedikit kesal.
"Bisa tidak kalau jelasin itu langsung ke intinya?" tanya Aiydeen yang sudah tidak sabar.
"Baiklah, kalian tidak sabaran. Gini, bagaimana jika Reyhan, Aiydeen, Sara dan Harin kita jadikan umpan untuk toko kita?" tanya Chris membuat mereka semua berpikir.
"Mengapa aku dijadikan umpan?! Aku tidak mau dimakan!" kata Aiydeen yang kesal.
"Kau tidak dimakan. Kau hanya mengambil pesanan dan menghantarkan pesanan. Itu saja. Mudah, kan?" jelas Chris lagi, membuat teman-temannya seketika mengerti apa maksudnya.
"Mereka berempat akan menjadi pelayan di toko kita?" tanya Mina memastikan.
Chris mengangguk, "Karena mereka ganteng dan cantik, aku yakin semua orang akan terpancing untuk ke toko kita," jelas Chris lagi.
"Kau cukup pintar," puji Mina.
"Pintar darimana! Aku tidak mau!" tolak Aiydeen dengan cepat.
"Terus kau?" tanya Mina ke arah Reyhan yang hanya diam.
"Apa muka aku ini kelihatan senang dengan usulan itu?" tanya Reyhan dengan ekspresi dingin.
"Aku tidak tahu. Mukamu tidak menunjukkan reaksi apa pun, makanya aku tidak tahu kau mau atau tidak," balas Mina.
"Tidak mau," jawab Reyhan dengan cepat.
"Kau?" tanya Mina ke arah Harin yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan ini.
"Aku baik-baik saja," jawab Harin.
"Saya juga," kata Sara dengan cepat.
Di saat Harin mengatakan jika ia akan melakukan itu, siswa yang ada di samping Aiydeen langsung menyuruh Aiydeen untuk ikut karena Harin juga ikut. Awalnya ia nolak namun ia akhirnya terima hanya karena Harin ikut juga, "Oke... Aku ikut karena Harin," ucapnya menerima nasibnya.
"Kenapa kalian tidak mau?" tanya Mina.
"Karena Harin ikut, aku ikut," kata Aiydeen yang berubah pikiran.
"Oke baiklah. Bagaimana dengan kau Reyhan?" tanya Mina lagi.
"Tidak mau. Kalian tuli, kah?" jawaban yang pendek, jelas dan padat namun menyakitkan.
"Kalau bukan untuk festival, sudah aku giling kau di penggilingan," kata Mina dengan sangat kesal.
Akhirnya bel pun berbunyi. Mereka kembali ke tempat masing-masing untuk siap-siap belajar. Harin sangat penasaran dengan Reyhan serta sifatnya itu. Baru kali ini ia melihat orang yang seperti itu. Karena Reyhan menolak ajakan itu, Harin berinisiatif untuk membujuk Reyhan untuk ikut. Ia akan membujuknya saat istirahat nanti.
Namun saat istirahat, niatnya ia kurung karena melihat Sara yang sudah menanyakan hal sama. Entah mengapa Harin merasa sedikit sedih melihat mereka berdua saling berbicara. Saking fokusnya ia melihat dua sosok tersebut dari kejauhan, ia tidak sadar jika Aiydeen yang sudah menunggu dirinya dari belakang.
"Apa yang kau lihat?" tanya Aiydeen yang membuat Harin kaget.
"Aish!!" kaget Harin.
"Apa yang kau lihat?" tanya Aiydeen yang penasaran namun ditarik oleh Harin yang membuat mereka berdua beranjak dari sana.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Harin.
"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menyapamu," jawab Aiydeen namun dianggap main-main oleh Harin.
"Aku serius," kata Harin dengan sangat serius.
"Salahkah aku menyapa dirimu?" pertanyaannya semakin membuat Harin kesal dan segera meninggalkan Aiydeen.
"Tunggu aku," kata Aiydeen yang mengikuti Harin.
Harin tidak menghiraukan Aiydeen yang tetap mengikuti dirinya. Ia seperti sebuah magnet yang akan tetap melekat jika dekat. Harin sudah tidak tahan lagi, ia membalikkan badannya secara tiba-tiba membuat Aiydeen ikut berhenti.
"Jangan ikut aku atau kau akan menyesal," ancam Harin dengan nada yang sangat kesal.
"Kenapa kau sangat kesal? Ada yang ingin aku tanyakan," balas Aiydeen membuat Harin semakin kesal.
"Pertanyaannya baru aku ingat 5 detik yang lalu," jawabnya.
Harin diam berarti ia sedang menunggu Aiydeen menanyakan itu ke dirinya.
"Apa kita dulunya pernah bertemu? Mukamu sedikit familiar bagiku," pertanyaan itu seketika membuat Harin kebingungan, bingung akan jawab apa.
Ia tahu jika Aiydeen dulu pernah berteman dengannya saat masih kecil. Hal itu malah membuat Harin semakin cemas, bagaimana jika Aiydeen mengetahui Harin yang dulu? Padahal dia sudah susah payah untuk menutupi hal itu. Dia hanya takut jika teman-temannya menjauh darinya karena telah menutupi wajah aslinya. Takut jika kehidupan yang pernah ia lewati itu muncul kembali.
"Pertanyaan macam apa itu?" bukannya menjawab, ia malah jawab dengan marah yang membuat Aiydeen seketika bingung.
Di satu sisi, terlihat Sara yang sedang berbicara dengan Reyhan. Seperti yang kita tahu, Reyhan tidak pernah menghiraukan Sara walaupun bahan pembicaraan mereka itu penting.
"Kenapa kau tidak ingin ikut? Pekerjaannya tidak terlalu sulit," tanya Sara untuk membujuk Reyhan.
"Kenapa kau tidak pernah menjawab pertanyaanku?" tanya Sara.
Tetap saja, Reyhan hanya menatapnya dengan wajah yang tidak mempunyai ekspresi sedikit pun. Sara sangat sabar, ia bisa menahan rasa kesal saat berbicara dengan Reyhan.
"Kenapa kau tidak ingin ikut? Aiydeen ikut karena Harin, lho," pertanyaannya membuat Reyhan akhirnya menjawab pertanyaannya.
"Jadi Harin ikut sekali?" tanyanya setelah beberapa kali mengabaikan pertanyaan dari Sara.
"Iya, kau akan ikut jika ada dia?" tanya Sara lagi.
*****
Saat itu mereka sedang siap-siap untuk pulang. Tidak sangka jika Rini dengan tiba-tiba membuka pembicaraan dengan Reyhan yang ingin ikut padahal dia sudah tolak saat di kelas tadi. Harin sedikit bingung, apa alasan ia menerima ajakan tersebut. Apa karena Sara yang membujuknya.
"Harin, kau kenapa?" tanya Rini yang bingung melihat Harin yang tiba-tiba berhenti bagaikan internet saat sinyal sedang lemot.
"Hah? Tidak ada apa-apa," jawab Harin dengan cepat dan langsung memakai tasnya.
"Kalian sadar tidak jika Sara yang membujuk Reyhan. Tidak disangka ada juga yang mencairkan es batu tersebut," ucap Rini semakin membuat Harin cemas.
Ia tahu jika mereka akan mengatakan hal ini di depannya. Harin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kenapa harus ia repot-repot memikirkan tentang Reyhan dan Sara? Ia harus berterima kasih ke Sara karena telah mengajak Si Kutub Utara itu.
*****
"Harin, lihat itu. Ramai sekali!" kata Rini yang kagum melihat betapa ramainya sekolah mereka.
Siswa-siswi serta orang-orang yang dari luar sekolah meramaikan suasana festival tersebut. Tidak ada satu tenda yang kosong akan pelanggan. Semuanya dipenuhi oleh tamu yang datang. Ada yang menjual pernak-pernik perhiasan seperti gelang, rantai dan lain-lain, ada juga yang menjual pakaian dan tak sedikit yang menjual makanan. Tidak hanya itu saja, ada tempat untuk berfoto dan tempat bermain.
Harin senang sekali dan merasa semangat sekali saat melihat suasana saat itu. Ia tak henti-hentinya tersenyum sepanjang jalan menuju ke kelasnya. Sesampainya di sana, Harin disambut hangat oleh Sara yang sudah menunggunya. Begitu juga teman lainnya.
"Ayo kita ke tenda," ajak Mina setelah semua rekannya sudah berkumpul.
"Bukankah kita sudah telat?" tanya Sara.
Toko mereka sedikit telat karena teman mereka yang membawa kompor lupa membawanya. Sambil menunggu kompor tiba, mereka bersiap-siap untuk membuka toko.
"Enggak apa-apa, kok," balas Mina sebelum menuju ke lapangan tempat festival itu berada.
Benar saja. Rencana mereka berbuah manis. Banyak sekali yang datang ke toko mereka. Sampai-sampai mereka tidak punya waktu untuk bernafas sejenak. Banyak cewek-cewek yang berkumpul di hadapan tenda mereka hanya melihat Aiydeen dan Reyhan yang sedang bekerja. Tak sedikit juga yang cowok yang datang datang untuk melihat Sara dan Harin.
Hari sudah sore, semakin sedikit orang yang berkunjung. Jadi, mereka yang sudah bekerja keras bisa beristirahat sejenak. Namun, ada hal yang terjadi di antara mereka. Bagaikan hujan turun secara tiba-tiba setelah panas terik. Hal yang tidak terduga terjadi.
Saat itu, Harin yang sedang ke kamar mandi tidak sadar jika ada tamu yang datang ke toko mereka. Semuanya baik-baik saja. Tamu yang datang berjumlah 3 orang dan itu 2 cowok dan seorang cewek. Mereka datang dan duduk di meja sebagaimana pelanggan yang datang ke suatu toko. Mereka disambut oleh mereka, begitu juga dengan Sara yang kelihatan sangat mengenali mereka. Sara ikut duduk bersama mereka dengan sangat senang.
"Siapa mereka?" tanya Arin tidak tahu.
"Tidak tahu tapi katanya mereka teman Sara," jawab Rini.
"Teman?" kata Arin penasaran.
Mereka tertawa dan bercanda bersama. Setelah beberapa menit kemudian, Harin kembali ke tenda mereka. Harin masih belum sadar siapa yang sedang duduk bersama Sara. Hari yang ia harap akan berjalan dengan mulus seketika sirna. Sara memanggil namanya membuat 3 sekawan itu melihat ke arah pemilik nama.
"Harin," panggil Sara.
Wajah Harin seketika berubah. Tidak ada ekspresi selain cemas dan ketakutan. Tidak ada yang sadar jika Harin sedang dalam masalah. Harin menelan keras ludahnya karena takut melihat 3 orang yang datang ke tempat mereka. Sara memanggil namanya sekali untuk mengajak dirinya untuk bergabung bersama mereka.
Awalnya, ia tidak mau namun dia terpaksa ke sana karena tidak ingin membuat teman-temannya mencurigakan dirinya. Mereka bertiga melihat lekat Harin. Tatapan itu membuat Harin semakin berkeringat dingin. Tidak ada yang bisa lakukan selain pura-pura tidak mengenal.
"Harin, bukankah sebelumnya kamu bersekolah di SMA Suka Maju?" tanya Sara, membuat 3 orang tersebut memandang Harin dengan penasaran.
"Iya," jawabnya sambil bergetar.
"Wahh.... Mereka juga dari sana. Apakah kalian dulunya satu kelas?" tanya Sara lagi dengan sangat senang.
Harin tidak menjawab. Kata yang bisa menjelaskan perasaan Harin saat itu adalah takut. Ia tidak bisa bernafas dengan baik karena ketakutan. Mengapa Harin bertemu dengan mereka lagi?
Mereka lanjut mengobrol namun berbeda dengan Harin yang hanya berdiam. Ia kelihatan sangat tidak nyaman. Lihat dari wajahnya, ia sangat ingin pergi dari tempat itu. Hal tersebut membuat teman-temannya yang melihat dirinya menjadi sangat khawatir.
"Harin. Kamu kenapa?" tanya Sara yang sadar.
"Hah? Aku rasa badanku tidak enak. Mungkin capek. Aku pergi dulu, ya?" kata Harin yang sudah siap-siap untuk pergi dari sana.
"Harin Herlina?" panggil salah satu dari mereka bertiga yang membuat Harin seketika mematung di tempat.
Semua orang yang ada di sana sontak menatap ke arah meja yang terlihat Harin yang berdiri mematung dengan sangat ketakutan.
"Benar kamu, kan?" tanyanya yang membuat orang yang melihat kejadian itu menjadi sedikit bingung.
Orang itu tersenyum tak berselang lama setelah bertanya ke Harin yang membuat mereka semua seketika kaget.
"Benar, itu kau. Ini sudah lama. Apa kabar?" tanya orang itu yang membuat Harin semakin tidak nyaman.
Mereka bertiga seketika tertawa sambil mengatakan hal-hal yang tidak dimengerti oleh mereka di sana. Namun berbeda dengan Harin yang kelihatan tidak nyaman dengan perkataan mereka. Itu membuat teman-temannya ingin membantu Harin yang hampir menangis. Reyhan yang sudah tidak tahan dengan perlakuan 3 orang tersebut, berinisiatif untuk mengusir mereka. Namun, niatnya ia kurung karena melihat Harin yang tiba-tiba menjerit.
"Diam!" jerit Harin membuat semua orang diam seketika.