
Waktu pun berlalu, aku telah memasuki jenjang pendidikan yang baru yaitu SMA. Aku berpikir aku telah bebas dari penderitaan. Namun, itu semua hanyalah mimpi. Lagi dan lagi aku diejek karena penampilan diriku. Mereka mengejek mukaku yang jelek ini. Dan itu dimulai saat aku menyatakan perasaanku ke seseorang yang aku suka.
"Apa kau gila?! Lihat mukamu di kaca dulu, deh. Dasar jelek!" katanya yang sangat menyakitkan bagi diriku.
"Apa salahku?!" tanya aku dengan kesal.
"Apa salah kau?! Apa kau tidak sadar dengan muka jelek kau itu. Ada hati ingin menyukaiku!!!" jawabnya.
Saat itu, aku memberinya buku catatan. Namun, ia membuangnya ke tempat sampah padahal aku sudah capek-capek mencatat segala materi. Mereka mengejek aku jelek dan mereka menyamakan diriku dengan "raksasa" karena mereka menganggap jika wajahku mirip dengan makhluk tersebut.
"Bara. Lihat ada Harin. Apa kau terima dia?" kata seseorang serasa mengejek diriku dari kejauhan.
"Apa kau sudah mendengar cerita tentang Harin yang katanya nembak Bara?" lagi dan lagi, mereka pasti membicarakan ini.
"Mestilah! Aku kasian lihat Harin yang cintanya ditolak. Hahahaha," jawab temannya sambil ketawa.
Aku melanjutkannya aktivitasku tanpa memperdulikan omongan mereka, walaupun aku tahu jika yang mereka omongkan itu adalah tentang diriku. Aku pernah sekali untuk melawan, namun semua itu hanya sia-sia. Mereka semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya, aku kembali ke tempat awal dengan penuh penyesalan.
Mereka pada saat itu asyik-asyiknya sedang mengganggu diriku yang sedang belajar. Saat itu, aku kepikiran untuk melawan mereka. Dengan penuh keberanian, aku menatap "dia" dengan tatapan yang selama ini aku simpan yaitu marah.
Seketika, mereka semua diam dan menatap diriku. Lucunya aku bahagia karena ini pertama kalinya aku melawan mereka, namun akhirnya aku menyesal. Mereka membalasnya dua kali lipat dengan apa yang aku lakukan.
Mereka membawaku ke belakang sekolah. Sekarang, wajahku dipenuhi dengan bekas luka pukulan. Apalagi kalau bukan dipukuli olehnya. Aku duduk di atas rerumputan dengan rambutku yang sudah acak-acakan dan sedikit bekas luka di sudut bibirku.
"Kau punya nyali juga?" ucapnya tepat di depan wajahku.
Aku membalas tatapannya dengan tatapan "marah" ku. Melihat itu, dia langsung menampar pipiku. Tanpa takut aku langsung menatapnya kembali dengan tatapan yang masih sama. Tidak ada yang tahu jika aku diperlakukan seperti itu. Orang-orang hanya mengabaikan diriku walaupun wajahku sedang tidak baik-baik.
Akhirnya, semua usahaku sia-sia. Mereka tetap saja menang. Setelah kejadian itu, mereka tak hentinya mengganggu diriku bahkan lebih teruk dari yang sebelumnya.
Setelah berusaha untuk melawan, aku merasa sangat menyesal. Kenapa aku begini?
Mereka tidak pernah mengenal tempat bahkan saat belajar, mereka sempat-sempatnya mengganggu diriku dengan mencoret seragamku bagian belakang. Mereka mencoret dengan sebuah tulisan yang sangat besar supaya semua orang bisa membacanya.
"Orc. Itu nama barumu," ucapnya ke diriku dari belakang.
Aku tertunduk sambil menahan menangis, "Kita lagi belajar, jadi lihat ke depan," suruhnya sembari menjambak rambutku sehingga kepalaku terangkap ke hadapan dan aku menuruti perkataannya.
Jika kalian diposisi seperti ini, apa yang akan kalian lakukan? Tetap kuat walaupun diganggu oleh mereka atau lebih memilih untuk mengakhiri semuanya? Iya, aku memilih opsi yang kedua. Aku capek dan ingin mengakhiri secepatnya.
Aku berdiri sembari menatap air sungai yang mengalir pelan serta angin malam yang sepoi-sepoi. Apa yang terjadi jika aku jatuh dari jembatan ini? Apakah itu sakit namun aku sudah tidak tahan lagi? Jika aku benar-benar melakukannya, apa ini benar-benar berakhir? Haruskah aku melakukannya?
Aku ragu.
Namun, kalimat-kalimat itu selalu meneror isi kepalaku.
"Karena kau jelek."
"Ngaca dulu deh!"
"Orc. Itu nama barumu."
"Aarrkkkkk!" Jeritku dalam hati seraya air mataku jatuh membasahi pipiku.
Aku memanjat batu pembatasan jembatan dan berdiri di atasnya dengan sebuah tulisan yang tertulis di belakangku. Aku menatap ke arah depan, merasakan betapa pelan angin malam ini. Aku ragu. Aku bingung.
"Ini benar-benar berakhir jika aku melakukannya?"
Nyaris sekali aku hampir melakukannya. Seseorang memanggil diriku. Aku tidak mengenalnya tapi suaranya begitu hangat di telingaku. Aku menatapnya. Dia menatapku dengan bingung.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya dengan sangat hangat namun kedengarannya sangat cemas dan khawatir.
"Saya harus bagaimana?" tanyaku kembali sembari menangis.
"Siapa yang membuat kamu seperti ini?" tanyanya menenangkan diriku sembari memegang tanganku.
"Mereka mengatakan jika wajahku itu jelek," jawabku.
Ia memegang tanganku yang dingin dengan tangannya yang hangat itu. Ia menarik pelan tanganku sehingga tubuhku turun dari batu pembatas tersebut. Ia menarik pelan tubuhku dan memelukku.
Itu sungguh hangat.
"Astaga. Mereka mengatakan itu kepadamu? Sini mendekat," ucapnya sembari memeluk tubuhku.
"Dengan pelukan akan membuat semuanya menjadi lebih baik," ucapnya.
Ia melepaskan pelukan tersebut dan menatapku dengan senyuman hangatnya. Aku bisa merasakan kehangatan walaupun hanya dari matanya.
****
Sebuah toko parfum yang baru saja buka beberapa hari setelah kejadian itu, aku mengunjungi tempat itu karena aku sangat menyukai parfum. Aku berandai jika diriku bagaikan sebuah parfum yang bisa dinikmati bahkan dengan mata yang tertutup.
Dengan itu, mereka akan menilai diriku dengan sesuatu yang keluar dari tubuhku bukan dari penampilanku. Tempat tersebut sungguh ramai. Aku menuju ke sebuah rak buku yang dipenuhi oleh majalah-majalah. Aku mengambil salah satunya dan membuka majalah itu.
"Keindahan parfum yang sebenarnya terletak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat dilihat. Aroma adalah satu-satunya hal indah yang bisa dirasakan bahkan dengan mata tertutup."
Kata-kata itu yang membuat aku sangat menyukai parfum. Parfum bisa dinikmati dengan mata tertutup. Kata-kata itu sangat keren bagiku. Suatu hari nanti, aku akan menjadi seperti orang itu.
Namun, aku baru tersadar sesuatu. Kata itu ternyata dari seorang yang pernah bertemu denganku. Orang yang menyelamatkan hidupku. Dengan kehangatannya ia menyadarkan diriku.
Andaikan saja tidak ada dirinya, mungkin saja aku tidak akan bisa berdiri di tempat ini. Berkat dirinya, aku mengurungkan niatku untuk mengakhiri hidupku.