Wening

Wening
Akhir untuk Sebuah Awal



Pertarungan telah usai. Gandhi bergegas membawa Raline menuju mobil, yang dia parkirkan jauh di bawah kaki Gunung Tampiraga. Sementara Wening pun sudah memulihkan tenaganya yang terkuras habis, dan tak menghiraukan rasa lelah yang mendera. "Kita harus segera keluar dari hutan ini sebelum fajar menyingsing," ucap Gandhi sambil terus membopong tubuh Raline yang tak sadarkan diri, melewati jalan setapak yang mereka lalui semalam.


"Iya, Pak. Sebentar lagi terang dan aktivitas penambangan batu kapur akan dimulai," sahut Wening berjalan cepat mengikuti sang suami.


Beberapa saat kemudian, ketiganya telah tiba di dekat mobil Gandhi. Pria itu segera membaringkan tubuh Raline yang lemah di jok belakang dengan ditemani oleh Wening. Sedangkan Gandhi segera masuk melaui pintu sopir dan duduk di belakang kemudi. Sesaat kemudian, mobil double cabin itu pun melaju dengan gagah meninggalkan kaki Gunung Tampiraga.


Selama di dalam perjalanan, Raline mulai tersadar. Dia membuka mata dengan perlahan. Dilihatnya Wening yang duduk sambil terpejam. "Kakak ...." Parau suara gadis itu terdengar pelan, tetapi berhasil membuat Wening terjaga.


Wanita itu menunduk dan melihat Raline, dengan kepala yang berada di atas pangkuannya. "Raline. Kau sudah siuman." Wening tersenyum bahagia.


Gandhi yang saat itu tengah fokus pada lalu lintas kota di pagi menuju siang hari, sempat menoleh untuk sejenak. "Syukurlah. Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanyanya seraya kembali mengalihkan pandangan ke depan.


"Ayah ... apakah kita akan pulang?" tanya Raline lemah.


"Iya. Kita akan pulang. Mulai saat ini kita aman dari gangguan iblis Kalajanggi," jawab Wening yakin, meskipun dia tahu bahwa Kalajanggi akan terus bangkit. Namun, entah kapan pastinya.


"Aku lelah, Kak. Aku tidak menyangka ternyata selama ini bi Lastri memiliki niat jahat padaku,” ucap Raline penuh sesal. Terbayang dalam ingatannya atas segala yang telah wanita itu lakukan terhadap dirinya. Sesuatu yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.


“Tak ada di antara kita yang dapat memperkirakan hal itu,” sahut Gandhi menimpali. “Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah berkumpul lagi. Ayah senang karena kamu juga baik-baik saja,” lanjutnya sambil terus mengemudi.


“Ayahmu benar, Raline. Semua sudah membaik.” Wening tersenyum seraya mendehem pelan. Dia seakan tengah memberikan kode kepada Gandhi. Pria berusia empat puluh tahun itu pun menatap kepada Wening melalui pantulan spion dalam. Senyuman menawan terlihat jelas di wajahnya yang tampan dan maskulin. Gandhi paham dengan apa yang Wening maksud.


“Apa kamu lapar, Raline?” tanya Gandhi. “Ayah akan membelikanmu makanan, sekalian kita beristirahat untuk sejenak,” ucapnya seraya membelokan mobil yang dia kendarai ke sebuah SPBU. Di sana juga terdapat mini market. Gandhi segera keluar, kemudian menuju ke mini market itu.


Tak berselang lama, Gandhi kembali dengan satu kresek makanan. “Kalian makanlah dulu. Aku ingin ke toilet sebentar,” ucapnya setelah menyodorkan belanjaan tadi lewat jendela mobil, dan langsung diterima oleh Wening.


“Ayo, Raline. Bangunlah dulu.” Wening membantu Raline untuk duduk. Gadis belia itu bersandar dan menatap Wening sesaat, ketika sang perawat menyodorkan sebungkus roti keju dan air mineral untuknya.


“Kakak sudah berjuang banyak untukku. Apakah itu tidak membuat Kakak merasa terbebani?” tanya Raline sambil membuka perekat plastik pembungkus roti tadi dan memakan isinya.


Mendengar pertanyaan itu, Wening hanya tersenyum. Dia meneguk air mineral dari botol yang lain. “Tentu saja tidak. Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya merasa takut jika Kakak akan pergi karena merasa terbebani dalam merawatku,” jawab Raline sambil terus menyantap roti kejunya.


“Ayah rasa Suster Wening tidak akan merasa terbebani,” sela Gandhi. Pria itu tiba-tiba sudah berdiri di dekat jendela kaca mobil yang terbuka. “Kamu tidak ingin ke toilet dulu, Sayang?” tanyanya kepada Wening dengan senyuman menggoda sambil membuka pintu.


Hal itu membuat Raline hampir tersedak dan segera menoleh kepada Wening yang tampak tersipu malu. Tanpa berkata apa-apa, Wening segera keluar dari mobil dan langsung menuju toilet. Wanita itu menyerahkan tugas kepada Gandhi untuk memberikan penjelasan terhadap Raline.


Sepeninggal Wening, Gandhi lalu masuk dan duduk di sebelah putrinya. “Sebentar lagi kita akan sampai di rumah. Kamu bisa melanjutkan istirahat di sana,” ucapnya lembut.


Sedangkan Raline menanggapi dengan sebuah anggukan. Dia sudah menghabiskan makanannya kemudian minum. Gadis itu pun terdiam sejenak. “Ini aneh sekali. Selera makanku tiba-tiba meningkat dan aku bisa makan dengan lahap,” ujar gadis berambut panjang itu. “Aku belum pernah merasa seperti ini, Yah. Badanku terasa lebih ringan dari sebelumnya. Aku seperti telah melepaskan sesuatu dari tubuhku,” lanjut Raline lagi sambil melihat kedua telapak tangan, kemudian membolak-balikannya.


Gandhi tersenyum melihat kondisi Raline yang memang terlihat berbeda dan jauh lebih ceria. Itu semua mungkin karena pengaruh Kalajanggi yang sengaja ditanamkan Lastri dalam tubuhnya telah sirna. Disentuhnya pucuk kepala Raline. Dia juga mengelus lembut rambut panjang anak gadisnya tersebut. ”Raline, Ayah ingin memberitahukan sesuatu padamu,” ucap Gandhi dengan tenang.


Raline menoleh dan menatap sang ayah dengan sorot mata penasaran. Dia seakan bertanya apa yang akan pria itu katakan padanya. “Selama kamu menghilang, Ayah dan suster Wening sudah melangsungkan pernikahan. Secara agama kami berdua sudah resmi menjadi suami-istri. Setelah kita menenangkan diri, kami akan mempersiapkan acara resepsinya. Ayah harap kamu tidak keberatan dengan hal itu," tutur Gandhi


"Meskipun kini Ayah telah menikah lagi, tapi itu bukan berarti Ayah akan melupakan atau menghapus kenangan tentang ibumu. Ibumu akan selalu menjadi wanita yang istimewa, dan dia juga telah mendapatkan tempat khusus yang tak akan tergantikan oleh siapa pun. Namun, Ayah ingin melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru. Kita berdua, Nak.” Gandhi memberikan pengertian kepada Raline dengan lemah lembut.


Mendengar penjelasan dari sang ayah, Raline tidak segera menanggapinya. Gadis manis itu masih terdiam, bahkan hingga Wening kembali dari toilet. Setelah Wening muncul, Gandhi segera keluar dari mobil. Dia tak perlu menunggu jawaban dari putrinya. “Kita lanjutkan perjalanan sekarang,” ucapnya yang kini sudah berada di belakang kemudi.


Sedangkan Wening juga telah duduk nyaman di sebelah Raline, yang saat itu memperhatikannya dengan lekat. Hal tersebut membuat Wening merasa tak nyaman. Dia lalu menoleh dan membalas tatapan gadis belia yang kini telah menjadi putri sambungnya. Sebelum Wening sempat mengatakan sesuatu, tiba-tiba Raline memeluk wanita itu dengan erat.


Wening awalnya tak mengerti. Dia menoleh kepada Gandhi yang juga sedang memperhatikan mereka berdua. Gandhi tersenyum seraya mengangguk pelan. Wening pun akhirnya dapat memahami arti dari isyarat yang Gandhi berikan. Dia balas memeluk Raline dengan erat.


“Akan selalu ada hikmah yang terkandung dalam peristiwa seburuk apapun yang menimpa kita,” ucap Wening lembut. Dia membantu Raline untuk turun, kemudian menuntunnya masuk. Kedatangan mereka disambut hangat oleh asisten rumah tangga yang lainnya. Mereka sibuk membantu Raline. Gadis itu berkata jika dirinya ingin mandi dan berganti pakaian. Hal sama yang juga ingin dilakukan oleh Wening dan Gandhi.


Namun, sebelum Wening kembali ke paviliun untuk mengambil pakaian, Gandhi terlebih dulu menarik wanita yang telah menjadi istrinya itu ke dalam kamar.


“Kita sudah resmi menjadi suami-istri sekarang. Aki Sukmana tidak akan protes lagi jika aku dan kamu ….”


“Saya ingin mandi dulu, Pak,” tolak Wening halus saat menanggapi godaan nakal dari sang suami.


“Kalau begitu, satu ciuman saja,” rayu Gandhi tak ingin menyerah. Tak ada alasan bagi Wening untuk menolak permintaan suaminya. Lagi pula, kini mereka telah leluasa untuk melakukan apapun. Hingga beberapa saat lamanya, Wening berada di dalam kamar Gandhi, yang tentu saja sudah menjadi kamarnya juga.


Tak lama kemudian, Wening keluar kamar dan berpapasan dengan seorang asisten rumah tangga. “Selama saya dan pak Gandhi pergi, bagaimana keadaan suster Anggita?” tanya Wening.


“Suster Anggita tidak keluar dari paviliun. Saya bermaksud untuk mengantarkan makanan, tapi dia tidak membuka pintu. Padahal sudah saya panggil-panggil,” terang wanita yang berusia sedikit lebih muda dari bi Lastri.


Mendengar jawaban dari wanita itu, Wening segera berlalu menuju ke paviliun. Dia lalu berdiri di depan pintu ruangan yang ditempati Anggita. Diketuknya pintu ruangan tersebut. “Git!” panggil Wening dengan tidak terlalu nyaring. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam.


Wening kemudian memutar gagang pintu yang masih terkunci. “Git!” panggilnya lagi dengan jauh lebih nyaring. Perasaan wanita itu mulai cemas. Wening pun terus mengetuk pintu, hingga beberapa kali. Tak berselang lama, terdengar suara kunci yang dibuka dari dalam.


Perlahan pintu yang tadinya tertutup rapat kini mulai terbuka. Tampaklah wajah bangun tidur Anggita yang memaksakan tersenyum. “Wening? Jam berapa ini?” tanyanya.


“Kamu tidak apa-apa, Git? Sudah sejak tadi semua orang berusaha membangunkanmu,” ucap Wening tampak khawatir.


“Entahlah, Ning. Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Rasanya aku mengantuk sekali.” Anggita menguap sambil menutupi mulutnya.


“Mungkin kamu kelelahan karena telah menampung sukma Ratna,” terang Wening seraya tersenyum simpul, membuat Anggita seketika melotot tajam. “A-apa maksudmu? Jangan membuatku takut!” protesnya.


Wening menggeleng pelan dan kembali tersenyum. “Memang benar, Git. Sesaat setelah kita pulang dari melayat suster Ratna, kamu kerasukan. Akan tetapi, kamu tak perlu khawatir, aku sudah mengatasi hal itu. Jiwa Ratna kini sudah tenang di alamnya,” jelas Wening.


“Ja-jadi, aku ... kamu?” Anggita tergagap. “Kamu punya kekuatan untuk ....” Dia tak melanjutkan kata-katanya.


Wening mengangguk pelan. “Jangan takut padaku, ya. Memang beginilah takdirku,” ucapnya.


Anggita menggeleng cepat, “Tentu saja tidak! Untuk apa aku takut. Aku malah harus berterima kasih padamu karena telah mengusir makhluk halus dari dalam tubuhku, Wening.” Anggita segera memeluk tubuh sahabatnya untuk beberapa saat. “Terima kasih,” ucapnya lagi.


“Sama-sama,” balas Wening seraya menguraikan pelukan. “Kamu harus segera mengisi perut. Kamu ingin makan bersama atau dibawa ke sini saja?” tawarnya.


“Kita makan sama-sama saja. Sepertinya sudah sejak kemarin aku tidak keluar dari kamar,” jawab Anggita. “Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu,” pamitnya.


“Baiklah. Kutunggu di meja makan.” Wening mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Anggita yang masih berdiri memandangnya.


Anggita tersenyum sebelum membalikkan badan. Dia masuk kembali ke dalam kamar untuk merapikan diri. Setelah berganti pakaian, gadis itu menatap dirinya melalui pantulan cermin sembari menyisir rambut pendek sebahu. Anggita bersenandung lirih dan tertawa pelan, ketika melihat bola matanya kini tiba-tiba berubah warna menjadi kemerahan. Dia lalu meletakkan sisir dengan begitu saja, kemudian beranjak keluar dari kamar.


Suasana menjelang sore yang cerah, menambah ceria di hati Anggita. Senandung merdunya mengiringi langkah kaki gadis itu, masuk ke dalam bangunan utama. “Indahnya dunia,” gumam rekan Wening tersebut dengan senyuman aneh.


...● Tamat ●...


Hai, semua. Terima kasih karena telah mengikuti kisah Wening hingga akhir. Semoga dapat menghibur. Maaf untuk segala kekurangan dalam penyampaian. Seluruh nama, adegan, dan segala hal yang ada dalam novel ini murni dari kehaluan author semata. Jangan lupa untuk mampir juga ke judul lain dengan genre yang berbeda-beda.


Salam sayang,


🍒 Komalasari