
Gandhi masih terpaku memandangi badik kecil yang berada di dalam genggamannya. Secara tiba-tiba, keadaan di sekeliling pria itu seakan bergerak dan bergeser ke samping seperti sebuah tirai yang disibakkan. Suasana gelap dan sepi yang tadi mengelilinginya, kini berganti dengan cahaya terang dari lampu-lampu taman yang menghiasi halaman luas kediaman mewah miliknya. Gandhi pun dibuat semakin tidak mengerti. Kini dia telah berada di depan rumahnya sendiri.
“Pak Gandhi. Bapak baru pulang?” sapa Wening yang tiba-tiba sudah berdiri di teras, dan tentu saja membuat Gandhi seketika tersentak. Pria empat puluh tahun itu menoleh dan segera menyembunyikan badik yang tengah dia pegangi dari Wening.
“Suster Wening? Kenapa belum tidur?” Gandhi balik bertanya. Dia lalu berjalan ke hadapan gadis berambut panjang tersebut dan berdiri menatapnya. Malam itu, Wening terlihat sangat berbeda di mata Gandhi. Rambutnya yang terurai panjang, meriap-riap terkena hembusan semilir angin malam. Tanpa sadar, Gandhi pun menjatuhkan badik yang tadi dia genggam dengan begitu saja. Dia berdiri semakin mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka berdua.
“Leher Bapak kenapa?” tanya Wening cemas saat melihat luka robek yang cukup lebar di leher Gandhi. Perhatian gadis itu juga tertuju pada noda darah pada kerah kemeja pria tersebut.
“Ceritanya sangat panjang, kita bahas saja nanti,” jawab Gandhi sambil sambil menyibakkan beberapa lembar rambut yang menutupi kening gadis cantik di hadapannya dengan mesra.
“Mari saya obati,” ucap Wening menawarkan diri dengan sukarela. Akan tetapi, bukannya menanggapi tawaran dari Wening, Gandhi justru malah menyentuh pipi gadis itu kemudian melu•mat bibirnya dengan mesra. Dia kembali mengulang sesuatu yang pernah dilakukannya seperti beberapa hari kemarin. Hal itu terus berlangsung hingga cukup lama. Kedua insan tersebut asyik saling menautkan bibir masing-masing dengan mesra.
Entah apa yang mempengaruhi mereka saat itu. Setelah dari teras, Gandhi mengajak Wening masuk dan menuju kamarnya. Di dalam ruangan luas bernuansa merah hati, mereka melanjutkan apa yang tadi keduanya lakukan saat berada di teras dengan jauh lebih mesra dan panas, hingga membuat Wening tak berdaya.
"Biar saya obati dulu lukanya, Pak," ucap Wening menahan tubuh Gandhi yang hendak kembali menciumnya.
"Nanti saja," tolak Gandhi yang sudah tidak dapat menahan dirinya. Dia kembali mencumbui gadis. Sementara Wening yang sudah terbuai oleh manisnya cumbuan dari Gandhi, membiarkan saja ketika duda tampan itu melucuti baju yang dia kenakan satu per satu, dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
“Kau benar-benar cantik,” bisik Gandhi kembali melu•mat bibir polos gadis itu seraya merebahkan tubuh semampainya di atas kasur. Gandhi yang kini berada di atas tubuh Wening, tak henti-hentinya menciumi wajah dan leher gadis itu. Dia juga mulai menelusuri setiap lekuk indah Wening, dari atas hingga ke bawah. Tak ada satu bagian pun dari tubuh sintal tersebut yang luput dari sentuhannya.
Wening yang belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu, tak kuasa menolak seseorang yang sudah berpengalaman seperti Gandhi. Gadis itu hanya mampu menggerakkan ujung kakinya di atas sprei berbahan sutera, demi menahan perasaan luar biasa atas semua sentuhan penuh gairah yang membuat gadis dua puluh lima tahun tersebut kian terbakar hebat.
Suasana kamar yang temaram dengan cahaya lampu tidur berwarna kuning, membuat aroma percintaan di antara mereka tercium makin semerbak. Desah napas berbaur dengan erangan manja nan parau dari Wening yang saat itu sudah benar-benar tak kuasa mengendalikan segala akal sehatnya. Begitu pula dengan Gandhi yang sepertinya telah mengabaikan segala wibawa yang selalu dia jaga selama ini. Malam itu, mereka hanya ingin menuntaskan semua angan-angan yang selama ini hanya mampu tersalurkan lewat tatapan dan sebuah sentuhan bibir.
Sesaat kemudian, Wening tampak meringis pelan. Terdengar juga rintihan kecil yang justru semakin membuat Gandhi begitu berhasrat untuk segera memiliki gadis itu. Perih mulai mendera, ketika dia merasakan Gandhi merangsak masuk ke dalam dirinya. Dicengkeramnya dengan erat punggung pria yang kini telah berhasil menjadi seseorang yang beruntung, karena menjadi yang pertama bagi Wening.
Beberapa saat lamanya, kedua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut tampak begitu asyik dan semakin menikmati pergumulan panas dengan berbagai posisi yang berbeda. Selama hal itu berlangsung, ada banyak kilasan dari masa lalu yang tergambar dalam ingatan keduanya. Sebuah kebersamaan yang indah antara Nirwasita bersama Sentanu.
Sesaat kemudian, terdengar sebuah lenguhan panjang dan dalam dari Gandhi saat dirinya harus menahan perasaan luar biasa, ketika kepuasan itu akhirnya dia dapatkan dengan sangat mutlak. Dia lalu mencium kening gadis yang kini terkulai tak berdaya di atas tempat tidurnya. Wening terlihat begitu kelelahan, sedangkan Gandhi hanya tersenyum puas. Pria itu kemudian turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Wening masih terbaring dengan tubuh polos bersimbah keringat.
Untuk sejenak, gadis itu terdiam. Nalurinya merasakan bahwa ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya saat itu. Wening pun segera bangkit dan melihat sekeliling dengan sorot mata yang tajam. Tatapannya mulai menyapu setiap sudut kamar tersebut. Akan tetapi, dia tak melihat ada siapa pun di dalam kamar itu, selain Gandhi yang baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh atletisnya yang terlihat sangat luar biasa.
“Suster tidak ingin ke kamar mandi?” tanya Gandhi dengan tatapan yang terpaku pada Wening yang juga dalam keadaan sama seperti dirinya. Wening pun mengangguk dan turun dari tempat tidur. Dia melangkah begitu saja ke dalam kamar mandi dengan diiringi tatapan nakal dari Gandhi yang saat itu kembali tersenyum. Pria tampan empat puluh tahun tersebut, kemudian naik ke tempat tidur setelah sebelumnya mengenakan t shirt round neck putih terlebih dahulu. Dia menunggu Wening kembali dari kamar mandi.
Tidak berselang lama, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk putih yang melilit tubuhnya. Gandhi tak banyak bicara saat itu. Dia terlalu asyik memperhatikan Wening yang tengah mengenakan pakaiannya satu per satu. Sungguh itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat indah bagi dirinya, setelah sekian lama menduda. “Kemarilah,” ajak pria tampan tersebut ketika Wening telah selesai berpakaian. Gadis berambut panjang itu menurut. Dia merangkak naik dari ujung tempat tidur, hingga ke sebelah Gandhi. Dia segera merengkuh tubuh sintal yang baru saja dinikmatinya.
“Saya akan mengambil obat untuk luka di leher Bapak,” ucap Wening. Dia masih menggunakan bahasa yang formal saat berbicara kepada Gandhi.
“Nanti saja. Lagi pula, ini hanya luka gores,” ujar Gandhi menanggapi. “Saya ingin membicarakan sesuatu yang tadi saya alami dalam perjalanan pulang,” lanjutnya.
“Bagaimana Bapak bisa terluka seperti ini?” tanya Wening seraya menyentuh luka gores yang sudah bersih dari noda darah.
“Itulah yang hendak saya ceritakan,” jawab Gandhi tanpa melepaskan dekapannya. Sementara Wening sepertinya menyukai hal itu. Selang beberapa saat, Gandhi mulai bercerita tentang semua keanehan yang dia alami selama dalam perjalanan pulang. Dia merasa tak yakin dengan semua itu, tapi luka di lehernya memang nyata. “Cahaya itu berubah menjadi sebuah badik kecil yang ....” Gandhi terdiam. Dia baru ingat dengan badik yang didapatkannya tadi. Akan tetapi, di mana benda tersebut saat ini? “Ya, Tuhan. Saya telah menghilangkannya ....” Gandhi mulai mengingat-ingat di mana kira-kira dirinya menjatuhkan benda pusaka itu. Beberapa saat kemudian, pria itu pun mulai ingat sesuatu. “Sepertinya saya menjatuhkan benda itu di teras,” segera dia melepaskan tubuh Wening dan turun dari tempat tidur. Wening pun mengikutinya keluar dan berjalan menuju teras.
Setibanya di sana, Gandhi segera mencari ke setiap sudut yang dia lewati. Pria itu bahkan mencari hingga ke dekat mobil yang masih terparkir di luar dan belum sempat dimasukan ke garasi. Akan tetapi, benda tersebut tak ada di manapun. "Tidak mungkin hilang begitu saja," ucap Gandhi tak percaya. Dia terus berpikir keras. Sedangkan Wening mengedarkan pandangannya pada sekeliling halaman luas rumah megah itu.
Malam telah benar-benar larut. Suasana pun kian sepi. "Tak mungkin hilang begitu saja, kecuali jika ada seseorang yang telah lebih dulu mengambilnya," ucap Wening.