
Gandhi terdiam menatap Wening yang masih mengamati keadaan sekeliling halaman luas rumahnya. “Siapa yang telah mengambilnya? Di rumah ini tak ada seorang pun yang patut untuk dicurigai. Lagi pula, sudah terlalu malam untuk ....” Gandhi tak melanjutkan kata-katanya, ketika tiba-tiba ada pusaran angin yang muncul di halaman rumah tersebut. Gandhi dan Wening pun saling pandang, ketika terdengar sebuah ketukan di atas permukaan keramik yang dipasang di sepanjang jalur halaman. Suaranya seperti dihasilkan dari sebuah benda keras dan tumpul yang saling beradu dengan keramik tersebut.
Makin lama, suara itu terdengar semakin jelas dan terasa mendekat ke arah mereka berdua. Akan tetapi, mereka berdua tak melihat siapa atau apapun di halaman. Refleks, Gandhi meraih pergelangan tangan Wening dan membawanya mundur beberapa langkah. “Ini tidak menyenangkan,” gumam duda tampan itu. Sedangkan Wening hanya terdiam dan mencoba untuk menajamkan mata batinnya. Namun, dia tak mampu untuk membaca suara apakah yang tengah mengarah kepada mereka berdua. Sementara itu, pusaran angin tadi perlahan sirna dari pandangan mereka.
Beberapa saat kemudian, suara itu menghilang. Suasana kembali hening dan seakan tak terjadi apapun di sana. Wening dan Gandhi sama-sama mengedarkan pandangan mereka pada setiap sudut halaman. Akan tetapi, tak terlihat ada sesuatu yang aneh di sana, hingga keduanya merasakan terpaan angin yang bertiup ke arah mereka. Wening dan Gandhi serempak memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian. Keduanya kembali membuka mata. Hal aneh pun terjadi. Mereka kini tidak berada di teras rumah mewah Gandhi, melainkan seperti di sebuah pelataran luas dengan tumbuhan liar dan ilalang yang cukup tinggi. “Di mana kita?” bisik Gandhi.
“Saya pernah berada di tempat ini sebelumnya,” jawab Wening pelan dan datar. Terakhir dia terlempar ke tempat itu, dirinya berhadapan dengan Paundra yang membawa kapak, lalu bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai saudari kandung Gandhi.
“Kapan?” tanya Gandhi seraya melirik ke arah Wening. Namun, belum sempat gadis itu menjawab, tiba-tiba muncul sesosok pria tua dengan mengenakan baju pangsi dan totopong di kepalanya. Dia juga berjalan dengan dibantu oleh sebuah tongkat kayu. Pria tua itu berjanggut lebat yang seluruhnya telah memutih. Kulitnya cokelat kehitaman dengan banyak sekali kerutan, menandakan usianya yang sudah benar-benar senja. Dia berjalan tertatih-tatih. Sementara Gandhi dan Wening terus memperhatikannya dengan raut penuh penasaran.
Tak berselang lama, pria tua itu telah berada beberapa langkah di hadapan keduanya. Wening ataupun Gandhi sama sekali tak mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
“Jadi, kalian sudah kembali bersama,” ucap pria tadi dengan suara dan nada bicaranya yang khas. Sedangkan Gandhi terdiam dan mengingat- ingat. Dia seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya.
“Jika memang kalian telah bersama, maka segeralah ikat dan kukuhkan dalam sebuah pernikahan yang sakral. Dengan begitu, apa yang kalian lakukan akan menjadi sebuah ibadah, bukanlah dosa,” ucapnya lagi membuat Gandhi dan Wening saling pandang.
“Siapa Anda?” tanya Gandhi. Dia belum berani mendekat. Begitu juga dengan Wening yang masih mengamati pria tua itu dengan saksama. Pria tua yang kini terkekeh setelah mendengar pertanyaan dari Gandhi.
“Siapa saya?” pria tua belum menjawab pertanyaan Gandhi. “Saya adalah Aki Sukmana. Kakek buyut dari keturunan Wiratama,” jelas pria tua itu, membuat Gandhi seketika terkejut saat mendengarnya. “Saya sengaja memanggil kalian berdua kemari, karena tak lama lagi di tanah ini akan ada sebuah peristiwa penting yang melibatkan kalian berdua. Namun, sebelum itu terjadi, sebaiknya kalian segera melangsungkan pernikahan. Dengan bersatunya kalian berdua dalam sebuah ikatan sakral, maka kekuatan yang telah lama hilang akan kembali, dan jiwa mereka pun dapat bangkit dalam diri kalian dengan sepenuhnya,” terang pria tua tadi sambil sesekali mengusap-usap janggut lebatnya yang panjang sebatas dada.
“Mereka siapa?” tanya Wening.
Pria tua itu masih berdiri memegangi tongkat kayu dengan ujung pegangannya yang diukir menyerupai bentuk kepala harimau. “Selama ini, jiwa Nirwasita dan Sentanu memang sudah ada dalam diri kalian. Namun, keduanya belum dapat dibangkitkan dengan sepenuhnya. Dengan penyatuan kalian berdua, maka Nirwasita dan Sentanu pun akan benar-benar bangkit dalam sebuah kekuatan yang baru dan jauh lebih besar,” tuturnya lagi.
“Memangnya kenapa kami harus membantu mereka untuk bangkit? Ini tidak masuk akal,” Gandhi masih belum memahami semua yang dialaminya pada malam itu.
“Nirwasita dan Sentanu, harus segera bangkit. Ada tanggung jawab besar yang diemban keduanya. Nirwasita, dia adalah sang pembasmi yang akan membinasakan iblis jahat Kalajanggi. Namun, dia tentunya tak dapat melakukan hal itu seorang diri. Dukungan dari Sentanu sangat dibutuhkan dalam ini. Akan tetapi, sayangnya kau benar-benar ceroboh. Kau telah mengabaikan amanat dengan menghilangkan benda pusaka yang telah diberikan padamu,” pria tua yang menyebut dirinya sebagai leluluhur Gandhi bernama Aki Sukmana itu terus memberikan penjelasan, dan membuat Gandhi ataupun Wening menjadi semakin dapat memahami apa maksud dari semua yang dituturkannya.
“Kalian memang ditakdirkan untuk melanjutkan segala hal yang pernah terputus di masa lalu. Sentanu mati demi melindungi Nirwasita, sedangkan Nirwasita mengorbankan dirinya untuk memusnahkan Kalajanggi,” tutur Aki Sukmana datar, tapi terlihat penuh wibawa. Tampak dengan jelas dari bahasa tubuhnya, jika dia bukanlah orang sembarangan.
“Me-mengorbankan diri?” ulang Wening lirih seraya menautkan alisnya.
“Ya," jawab Aki Sukmana masih dengan nada bicara dan sikap tubuh yang sama. "Kekuatan yang ada dalam dirimu, yang merupakan sebuah sinar putih itu teramat kuat, sampai-sampai harus membakar dirimu sendiri. Namun, hanya sinar itulah yang bisa kau gunakan untuk mengalahkan Kalajanggi,” terang Aki Sukmana.
Gandhi menggenggam tangan Wening erat-erat. Pikirannya sungguh tak tenang mendengarkan penjelasan itu. “Apakah nanti kekasih saya juga akan mengalami hal yang serupa dengan Nirwasita?” dadanya bergemuruh membayangkan bahaya yang kelak bisa saja menimpa Wening.
“Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Sentanu. Bisa saja Nirwasita kini menjadi jauh lebih kuat. Itulah kenapa kau harus menjaga baik-baik pusaka yang kuberikan padamu! Karena hal itu mungkin dapat melindungi Nirwasita dari maut!” tegas Aki Sukmana.
“Bukankah Aki tadi mengatakan bahwa Nirwasita sudah memusnahkan Kalajanggi? Kenapa sekarang dia bisa muncul lagi? Siapa yang memunculkannya?” cecar Gandhi tak mengerti.
“Itu merupakan tugas kalian untuk menemukan siapa pelakunya. Sekarang, bergegaslah mencari benda pusaka yang kuberikan padamu, lalu segeralah kalian menikah!” titah Aki Sukmana seraya mengetuk tongkatnya keras-keras ke atas tanah. Setelah itu, angin kencang kembali menerpa.
Gandhi sigap melindungi Wening dari kerasnya angin yang berembus, dengan memeluk tubuh ramping gadis itu erat-erat. Tak berapa lama, angin kencang tersebut mereda dan menghilang begitu saja bersamaan dengan menghilangnya sosok Aki Sukmana. Mereka sekarang juga telah kembali berada di halaman depan kediaman Wiratama.
Deru napas Gandhi terdengar jelas di telinga Wening yang tengah menelusupkan kepalanya di dada bidang pria itu. Sungguh dia tak mengira jika pada akhirnya, dia dan Gandhi akan terikat oleh perasaan yang telah ada ratusan tahun lalu. “Bapak ... apakah Bapak bersedia menikahi saya?” tanya Wening pelan.
“Tentu saja. Saya bersedia melakukan apapun sebagai bukti tanggung jawab saya yang sudah ....” Gandhi tak melanjutkan kalimatnya. Angannya malah melayang pada beberapa waktu lalu, di mana dia telah merenggut kesucian Wening.
“Maafkan aku, Wening. Entah kenapa, aku menjadi tak terkendali saat melihatmu,” tutur Gandhi pelan. Dia tak lagi menggunakan bahasa formal pada gadis cantik yang masih berada dalam dekapannya itu.
Sedangkan Wening hanya menggeleng lemah saat menanggapi permintaan maaf duda tampan itu. Ingin sekali dia mengungkapkan bahwa dirinya pun sangat menikmati perlakuan Gandhi terhadapnya saat itu. Namun, tentu saja Wening tidak akan melakukan itu. Bagaimanapun juga, dia masih harus tetap menjaga image di hadapan Gandhi, meskipun Wening yakin bahwa Gandhi telah dapat menebak apa yang ada dalam isi hatinya. “Sepertinya, saya sudah mulai jatuh cinta terhadap Bapak,” gumamnya lirih dan agak malu-malu.
“Sepertinya, aku juga demikian,” balas Gandhi seraya terkekeh pelan. Akan tetapi, tawanya harus terhenti tatkala dia melihat Raline yang tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka berdua. Penampilan gadis itu benar-benar kacau dengan rambut yang acak-acakan dan baju tidur kusut bahkan sobek di beberapa bagian. Raline menatap mereka berdua dengan sorot yang mengerikan. Kedua bola mata anak gadis itu berwarna putih seluruhnya.