Wening

Wening
Menyibak Tabir Masa Lalu



Wening terjaga tatkala sebuah tangan kekar mengusap pipinya lembut. “Pak Gandhi?” ucapnya ketika melihat wajah tampan sang kekasih di sisi ranjang. Wajah Gandhi tampak lusuh. Jelas terlihat bahwa dia tidak tertidur sama sekali. “Pak? Kenapa saya ada di sini?” Wening terduduk dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia baru menyadari bahwa dirinya saat itu sedang berada di dalam kamar Gandhi.


“Kamu pingsan di dekat kolam renang, jadi aku membawamu ke kamarku,” jawab Gandhi.


Wening terdiam sejenak. Masih teringat jelas kata demi kata yang dilontarkan oleh Paundra. Gadis itu terbelalak seketika lalu memandang Gandhi tanpa berkedip. “Pak, utara itu di mana?” tanya Wening yang terdengar seperti racauan bagi Gandhi.


“Apa kamu baik-baik saja, Wening? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” Sorot khawatir jelas terlihat dari mata Gandhi.


“Saya bertemu Paundra tadi malam sebelum pingsan. Dia mendatangi dan memerintahkan agar saya pergi ke arah utara,” terang Wening.


“Paundra? Siapa itu Paundra?” Gandhi segera menegakkan badannya dan menatap tajam pada Wening.


“Paundra adalah leluhur saya, Pak. Kakek buyut Nirwasita, anak dari Kalajanggi,” jawab Wening pelan. Sedikit takut dia menceritakan hal tersebut kepada Gandhi, tapi pria itu harus tahu yang sebenarnya.


“Kalajanggi … iblis itu? Dia yang sempat merasuki Raline?” Gemetar nada bicara Gandhi.


Wening mengangguk pelan. “Ibu saya Hapsari merupakan keturunan Kalajanggi, sementara ayah saya yang bernama Antasena merupakan keturunan pembasmi Kalajanggi. Ayah saya bahkan diberi nama yang sama dengan nama leluhurnya, yaitu Antasena,” papar Wening.


Entah kenapa, jantung Gandhi tiba-tiba berdegup kencang ketika Wening menyebut nama Antasena. Kilasan-kilasan masa lalu mulai memenuhi benaknya. Bumi seakan berputar dan kembali pada masa ratusan tahun yang lalu, ketika negerinya masih berbentuk kumpulan dari kerajaan-kerajaan. Gandhi melihat ratusan orang-orang berbaju perang sambil memegang tombak tengah berlari ke arahnya.


Kaki Gandhi seakan terpaku ke tanah. Jangankan berlari, bergerak pun dia tak bisa. Maka, yang dia lakukan saat itu adalah melindungi kepala dengan kedua tangan dan berjaga-jaga agar senjata tajam itu tak melukainya. Namun, yang terjadi kemudian benar-benar di luar nalar. Orang-orang tadi berlari menembusnya seolah Gandhi adalah sosok tak kasat mata bagi mereka.


Pria rupawan itu terkejut. Dia tertegun dan segera mengamati seluruh tubuh serta telapak tangan. Semua terlihat normal baginya. Dia lalu mencoba menyentuh bahu salah seorang prajurit dan ternyata tangannya menembus tubuh itu begitu saja. Gandhi hanya seperti sebuah asap. “Di mana ini?” gumamnya seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.


Pertanyaan Gandhi segera terjawab ketika di tengah lapangan luas yang dia pijak, dua kubu dari orang-orang yang memegang senjata saling menyerang dan bertempur. Bunyi pedang yang saling beradu dengan tombak terdengar sangat nyaring.


Gandhi akhirnya dapat bergerak mundur. Dia berusaha menghindar sejauh mungkin. Namun, gerakannya terhenti saat seseorang berteriak lantang di belakangnya, “Jangan berhenti sampai pasukan penyembah iblis itu hancur, sehancur-hancurnya! Jangan biarkan mereka membangkitkan kembali Kalajanggi! Jangan sia-siakan pengorbanan Nirwasita dan Sentanu!”


Setelah berseru demikian, seseorang itu memandang tepat ke arah Gandhi, seakan-akan dia dapat melihat kehadiran dia di sana. Lebih mengejutkan bagi Gandhi, karena wajah seseorang itu sangatlah mirip dengan aki Sukmana.


“Sukma Kalajanggi kukunci di salah satu pohon di bukit Padang. Jangan sampai pohon itu tumbang atau rohnya akan kembali melayang,” ujar seseorang itu. “Di bukit Padang segalanya bermula, di sanalah pula semua akan berakhir,” ucapan pria itu mengakhiri penglihatan Gandhi. Asap putih pekat menyelimuti seluruh tubuhnya dan berputar cepat, lalu menghilang.


“Apakah yang dimaksud dengan utara itu adalah bukit Padang?” tanya Gandhi tiba-tiba.


“Apa menurut bapak begitu? Bapak tahu dari mana? Apakah dari penglihatan yang Bapak dapat barusan?” tanya Wening.


“Kau dan aku dulunya … m-maksudku, leluhur kita dulu berhasil mengalahkan Kalajanggi, lalu seseorang yang mirip aki Sukmana mengatakan padaku bahwa sukma Kalajanggi terikat di salah satu pohon di bukit Padang,” terang Gandhi.


“Apa kemungkinan Raline dibawa ke sana?” Wening tak dapat menyembunyikan kecemasannya. Tanpa sadar, dia mencengkeram lengan Gandhi kuat-kuat.


“Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Raline. Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sebentar saja,” keluh Gandhi sembari menyugar rambutnya, lalu tertunduk lesu.


Wening pun mengikuti. Dia duduk tepat di sebelah Gandhi seraya menggenggam erat jemari pria, yang tak pernah dia bayangkan akan menjadi kekasihnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Gandhi membalas dengan melakukan hal yang sama. "Aku senang karena ada kau di sini," ujarnya pelan.


"Kita akan mencari Raline bersama-sama sampai dia benar-benar ditemukan. Jangan khawatir, dalam diri Raline ada kekuatan yang tersembunyi dan bisa melindunginya. Setidaknya dia memiliki sebuah perisai. Hal itu akan menghalau setiap energi negatif yang berusaha masuk," ucap Wening menenangkan.


"Maksudmu?" tanya Gandhi tak mengerti.


"Saya merasakan ada energi positif yang cukup besar dalam diri Raline. Sedangkan, selama ini Kalajanggi berusaha untuk mendiaminya. Karena itulah terjadi pertarungan antara energi positif dalam diri Raline dengan energi negatif Kalajanggi. Saya rasa, hal itu pula yang mungkin membuat Raline sakit-sakitan selama ini. Dia masih terlalu muda dan belum mampu untuk mengendalikan sesuatu yang ada dalam dirinya," terang Wening panjang lebar, membuat Gandhi dapat memahami sesuatu.


"Apa karena itu juga penyakitnya tak dapat dideteksi oleh medis dengan begitu pasti?" pikir pria tampan itu.


"Ya, mungkin begitu, Pak. Saat ini, yang menjadi pemikiran saya adalah motif dari bi Lastri melakukan semua ini. Terlebih jika dia sudah mengabdi lama pada keluarga Wiratama." Wening berpikir sejenak. Dia menatap Gandhi yang tiba-tiba beranjak dari duduknya. "Bapak mau ke mana?" tanya Wening penasaran.


"Ke kamar bi Lastri. Aku akan mencari sesuatu di sana. Siapa tahu aku bisa mendapatkan sebuah petunjuk yang bisa membawa kita pada Raline," ujar Gandhi seraya berlalu.


Melihat kepergian Gandhi, Wening pun segera mengikutinya. Petunjuk sekecil apapun, akan sangat berguna bagi mereka saat ini. Dia mengekor tubuh tegap pria itu menuju ke kamar bi Lastri. "Apa menurutmu kita juga harus meminta bantuan pihak yang berwajib untuk menemukan Raline?" tanya Gandhi terdengar ragu.


"Entahlah, Pak. Akan tetapi, saya rasa tak ada salahnya melakukan hal itu. Dengan bantuan polisi, mungkin semua akan jauh lebih mudah. Selebihnya, biarkan kita yang menyelesaikan," ujar Wening yang kemudian berdiri di dekat Gandhi, setelah mereka tiba di kamar bi Lastri.