Wening

Wening
Kerasukan



Wening tak bisa berlama-lama di tempat Ratna. Sebelum sore, dia memutuskan untuk segera kembali lagi ke kediaman Wiratama. Namun, pikirannya tak dapat lepas begitu saja dari semua yang diceritakan wanita tadi. Dia pun belum dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada rekannya tersebut. Setengah melamun, gadis bertubuh sintal itu terus melangkahkan kaki menyusuri koridor yang menuju kamar Raline.


Sebelum tiba di kamar gadis itu, Wening sempat tertegun dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menurut cerita dari wanita yang tadi dia temui di tempat Ratna, gadis itu menjadi aneh setelah kembali dari rumah megah Wiratama. Wening yakin jika gangguan yang Ratna alami pasti ada kaitannya dengan Kalajanggi. Akan tetapi, kenapa iblis itu harus mengusik kehidupan Ratna yang bukan siapa-siapa. Wening tak habis pikir. Kembali dilanjutkannya langkah menuju kamar Raline dengan perasaan yang tak menentu. Hari itu dia melanjutkan aktivitas seperti biasanya, hingga jam kerja berakhir.


Malam itu, Wening tak juga dapat memejamkan mata. Entah kenapa dirinya merasa begitu gelisah, bahkan hingga pagi menjelang dan dia harus kembali pada tugas hariannya.


“Ning! Ning! Buka pintunya!” terdengar suara Anggita dari luar. Dia terus mengetuk pintu ruangaan paviliun yang Wening tempati. Dari suara gadis itu, sepertinya dia sedang dilanda keresahan yang luar biasa. Untung saja karena Wening sudah selesai bersiap-siap dengan seragam perawat yang biasa dia kenakan. Segera dibukanya pintu itu, sehingga tampaklah Anggita dengan raut wajahnya yang memang tampak risau.


“Ada apa, Git?” tanya Wening penasaran sambil mengikat rambut panjangnya dengan gaya ekor kuda.


“Baru saja suster Hesty memberikan kabar padaku bahwa suster Ratna ... suster Ratna meninggal dunia semalam,” jawab Anggita antara risau bercampur sedih.


Ratna memang terbilang suster baru di rumah sakit tempat mereka bekerja. Namun, dia termasuk orang yang supel sehingga dirinya bisa cepat akrab dengan semua rekan-rekan sejawatnya. Sesuatu yang merupakan kebalikan dari Wening yang kesulitan dalam bergaul.


“Apa kau yakin, Git?” tanya Wening lagi seakan tak percaya dengan kabar yang dibawa Anggita.


Namun, Anggita segera mengangguk dengan penuh keyakinan. “Katanya Ratna akan dimakamkan siang ini di TPU dekat rumahnya. Teman-teman yang lain akan hadir di acara pemakaman. Jika mau, kita bisa berangkat bersama,” Anggita menawarkan diri.


“Kita harus meminta izin dulu kepada pak Gandhi. Namun, jika kita sama-sama pergi, lalu siapa yang akan menjaga Raline?”


“Kalau misalkan kita titipkan dulu pada bi Lastri bagaimana?” cetus Anggita membuat Wening terdiam dan berpikir untuk sejenak.


“Aku akan meminta izin dulu kepada pak Gandhi. Semoga hari ini dia tidak ada acara pergi ke mana-mana,” sahut Wening seraya menutup pintu paviliun rapat-rapat. Sambil berjalan di sebelah Anggita, pikiran Wening kembali melayang pada sosok Ratna yang baru dia temui kemarin. Gadis itu memang terlihat begitu kacau. Namun, Wening tak menyangka jika dia akan pergi dengan begitu cepat. Ada banyak pertanyaan aneh yang terus bergelayut dan mengusik pemikiran gadis itu, hingga akhirnya dia tiba di depan ruang kerja Gandhi. Meskipun Wening sudah diperingatkan untuk tidak sering-sering masuk ke sana, nyatanya dia tak mengindahkan peringatan tersebut. Dorongan kuat dalam dirinya, selalu memaksa dia untuk menemui duda tampan tersebut. Sementara Anggita langsung menuju ke kamar Raline.


“Suster Ratna meninggal dunia semalam. Saya dan suster Anggita bermaksud untuk menghadiri acara pemakamannya siang ini. Namun, itu juga jika Bapak memberikan izin,” ucap Wening yang berdiri di dekat meja kerja Gandhi.


Pria yang sedang sibuk di depan layar komputernya itu segera mengalihkan pandangan kepada Wening. “Apa? Bukankah suster Ratna baru beberapa hari berhenti dari sini? Memangnya apa yang terjadi?” tanya Gandhi seraya beranjak dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri Wening yang masih berdiri.


“Entahlah, Pak. Kemarin saya baru melihat keadaannya. Sepertinya suster Ratna memang kurang sehat,” jelas Wening membalikan badan sehigga jadi menghadap kepada Gandhi yang kini telah berada tepat di hadapannya. Wening terdiam ketika pria itu menyentuh wajahnya. Dia seakan sudah tahu apa yang akan Gandhi lakukan setelah itu. Apa yang menjadi perkiraan Wening memang tidak keliru. Untuk beberapa saat, dia kembali merasakan nikmatnya sentuhan bibir duda tampan tersebut.


“Jika sedang berdua, bisakah agar kita jangan terlalu formal?” Gandhi tak juga melepaskan tangannya dari wajah cantik Wening yang kini sudah mulai terlihat berbeda. Gadis itu tidak terlihat pucat lagi, karena dia membubuhkan riasan meski tipis saja.


“Saya masih bingung,” balas Wening tersipu malu. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajah cantiknya.


Tampaklah Anggita berdiri di luar ruang kerja itu. Dia ingin memastikan apakah mereka mendapatkan izin dari Gandhi atau tidak. Wening segera mempersilakannya untuk masuk. “Maaf, Pak. Pemakaman suster Ratna akan segera dimulai. Apakah kami boleh minta izin sebentar?” tanya gadis itu sopan.


“Oh, iya. Suster Wening tadi sudah mengatakannya kepada saya,” jawab Gandhi. “Silakan hadiri pemakaman suster Ratna, tapi setelah selesai segeralah kembali karena saya masih banyak pekerjaan. Jadi, saya tidak bisa berlama-lama mengawasi Raline,” pesannya yang berbalas anggukan serempak dari kedua perawat cantik itu. Tanpa membuang waktu, mereka pun segera berpamitan kepada Gandhi dan menuju ke tempat pemakaman Ratna.


Prosesi penguburan jenazah sudah berlangsung, ketika Anggita memarkirkan motornya tak jauh dari area pemakaman tersebut. Mereka berjalan sekitar lima puluh meter sampai tiba di antara kerumunan para pengantar jenazah. Aura tidak baik sudah mulai hadir di sekitar sana. Wening merasakan ada seseorang atau mungkin sesuatu yang tengah mengawasinya. Namun, dia tetap mengikuti jalannya acara itu hingga selesai dan para pengiring mulai membubarkan diri, termasuk beberapa rekan perawat lainnya. Akan tetapi, lain halnya dengan Wening dan Anggita. Mereka terlebih dahulu menemui wanita yang tiada lain adalah ibunda Ratna. Wanita yang kemarin berbicara kepada Wening saat gadis itu datang menjenguk keadaan putrinya.


“Apa yang terjadi, Bu? Baru kemarin saya melihat keadaan suster Ratna,” Wening menurunkan tubuhnya dan ikut berjongkok di sebelah ibunda Ratna. Begitu juga dengan Anggita. Mereka bertiga menghadap pada segundukan tanah merah dengan nisan dari kayu bertuliskan nama Ratna Amelia.


Ibunda Ratna tertunduk lesu. Terdengar isakan pelan yang begitu memilukan dari bibir wanita paruh baya tersebut. “Sekembalinya Neng kemarin, Ratna kembali hiteris. Dia meracau tentang bayangan hitam. Ratna mengatakan bahwa bayangan hitam itu akan mengambil nyawanya. Selagi saya memanggil pak ustadz, rupanya Ratna melakukan hal-hal yang sangat mengerikan. Sepertinya dia memukul-mukulkan kepala ke dinding hingga berdarah. Tak hanya sampai di situ, dia juga memecahkan kaca rias yang ada di kamar dan menyayat wajahnya dengan potongan kaca itu. Saya tak sanggup melihatnya. Begitu banyak darah di mana-mana, seakan memenuhi kamar anak saya. Wajah Ratna pun sangat hancur dengan daging pipinya yang hampir terlepas ….” Ibunda Ratna menangkup wajahnya sambil menangis sesenggukan. Dia tak kuasa melanjutkan ceritanya kepada Wening dan Anggita.


Bagi Wening, cerita seperti itu sudah tidak terlalu mengerikan. Dirinya pernah mengalami hal yang jauh lebih menyeramkan, ketika dia didatangi berbagai makhluk aneh di rumahnya. Namun, tidak bagi Anggita. Tubuh gadis itu merinding seketika. Dia merasa gelisah dan seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Anggita mulai tidak konsentrasi. Dia sibuk dengan apa yang dirasakannya saat itu. Sementara Wening mulai melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Anggita. Dia pun segera berpamitan dan mengajak rekannya untuk pulang.


“Ning, kamu saja yang yang mengendarai motornya. Kepalaku tiba-tiba pusing,” ucap Anggita sambil meringis dan memijit-mijit keningnya pelan. Wening mengangguk setuju. Dia menerima kunci motor dari Anggita. Tak berselang lama, kedua perawat itu pun berlalu meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


Selama di dalam perjalanan, Anggita terus mengeluh bahwa dia merasa tak enak badan. Setibanya di kediaman Wiratama, gadis itu memilih untuk segera pergi ke paviliun dan beristirahat. Sementara Wening kembali ke kamar Raline. Hingga malam tiba, Anggita tak juga keluar dari paviliunnya. Hal itu membuat Wening merasa cemas.


Sekitar pukul delapan malam, Raline sudah tertidur karena pengaruh obat yang dia minum. Wening pun dapat segera melihat kondisi rekan kerjanya. Seperti biasa, dia melewati area kolam renang sebelum tiba di paviliun. Perasaan aneh itu kembali hadir. Wening mengedarkan pandangannya pada setiap sudut halaman yang hanya diterangi oleh beberapa buah lampu taman. Namun, dia tak melihat ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Gadis itu pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang ditempati Anggita.


“Git,” panggil Wening pelan sambil mengetuk pintu. Akan tetapi, tak ada jawaban sedikit pun. Wening lalu memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Dia pun masuk.


Suasana di dalam ruangan itu sangat sunyi.


“Git,” panggil Wening lagi. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban dari Anggita. Wening berinisiatif untuk melihat ke dalam kamar tidur. Di sana pun dia tidak menemukan keberadaan Anggita. Wening lalu memeriksa ke kamar mandi. Aneh sekali, karena Anggita juga tak berada di sana.


“Git ….” panggil Wening dengan sedikit nyaring karena dia tak menemukan Anggita di mana-mana. Dia pun berpikir sejenak. “Ke mana dia? Apa Anggita sudah sehat dan keluar dari sini? Mungkin dia sedang makan malam,” pikir Wening seraya menggumam pelan. Gadis itu pun memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan tersebut. Dia berjalan menuju pintu kamar yang tertutup sendiri. Namun, ketika Wening membuka pintu itu, tiba-tiba dari bagian atas pintu muncul sosok Anggita dalam posisi terbalik dengan wajah yang berada tepat di depan wajahnya.


Seketika Wening melonjak mundur karena merasa terkejut. Gadis itu terbelalak melihat keanehan yang terjadi pada rekannya tersebut. Dia semakin merasa ngeri, ketika melihat sepasang mata Anggita yang berwarna hitam pekat menatap tajam ke arahnya. Gadis berambut panjang itu pun menyeringai dan terlihat sangat menyeramkan dengan wajahnya yang teramat pucat.


“Anggita? Apa yang terjadi padamu?” Wening masih terbelalak tak percaya, terlebih saat melihat rekannya itu menjatuhkan diri dan merangkak pelan ke arahnya dengan wajah menyeringai yang sebagian tertutup rambut panjang. “Siapa kau?” tanya Wening tanpa rasa takut sedikit pun.