Wening

Wening
Silsilah yang Terungkap



Wening menyalakan kran air hangat pada bathub. Dia lalu duduk di tepian bak sambil menunggu hingga airnya penuh. Sejenak, angannya melayang pada adegan percintaan antara dirinya dan Gandhi. Wening segera menggelengkan kepala, berusaha menepis bayangan nakal yang kini memenuhi benaknya. Gadis itu mendesah pelan, lalu mematikan kran.


Dengan tidak terburu-buru, Wening melepaskan pakaiannya satu per satu kemudian mencelupkan satu kakinya ke dalam air. Ragu-ragu dia memasuki bak mandi tersebut, ketika sekilas dirinya melihat air di dalamnya sempat berwarna hijau, sebelum kembali bening seperti semula.


Wening pun akhirnya memberanikan diri memasuki bak mandi setelah menuangkan sabun ke dalam air dan mengaduknya hingga berbusa. Gadis itu mengela napas panjang sambil menikmati aroma sabun itu. Sesekali dia mengusap kulit kuning langsatnya yang halus, kemudian memainkan busa dan meniupnya seperti seorang anak kecil.


“Syukurlah kau baik-baik saja, Nak,” terdengar suara seseorang yang amat dia kenal, membuat Wening berjingkat saking terkejutnya.


“Ibu?” seru Wening seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mandi. Namun, di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya. Suara yang terdengar pun hanya berupa tetesan air dari kran wastafel saja.


“Ibu?” panggil Wening lagi.


“Menunduklah,” terdengar kembali suara ibunya. Wening pun menurut. Pandangannya tertuju pada busa sabun yang menggunung di hadapannya. Wening lalu mengurai busa itu agar dapat melihat dengan jelas permukaan air. Tampaklah bayangan wajahnya di sana. Bayangan itu tersenyum, kemudian mengabur dan berganti menjadi wajah sang ibu.


“Ibu?” gumam Wening seakan tak percaya. “Apa benar ini ibu? Ini bukan penampakan yang akan mengaburkan konsentrasiku,


kan?” gadis itu berusaha untuk memastikan.


“Tidak, Nak.Ini benar-benar Ibu. Jangan takut ataupun ragu,” bayangan itu tersenyum lembut. Meskipun samar, aura kecantikannya tetap terlihat.


Tak terasa, air mata Wening menetes di pipi dan terus meluncur jatuh ke dalam air sehingga menimbulkan gelombang kecil. “Wening kangen, Bu,” suaranya terdengar begitu lirih.


“Ibu juga,” wanita itu tertawa kecil. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.


“Lelah, Bu. Lelah dan bingung,” keluh Wening. Jemarinya bermain-main di atas tumpukan busa yang berkumpul di sisi bathub.


“Semua pasti akan segera berlalu, Nak. Percayalah. Saat seusiamu, ibu juga harus melawan setan yang berasal dari dalam diri ibu sendiri,” jelas bayangan itu.


“Apa maksudnya itu, Bu?” Wening mengernyitkan keningnya.


“Maaf jika selama kami hidup, Ibu ataupun ayahmu tak pernah menceritakan apa-apa. Itu semua karena kami sangat menginginkan kehidupan yang normal untukmu. Akan tetapi, takdir telah tertulis. Kaulah gadis terpilih. Roh Nirwasita telah memilihmu,” lanjut bayangan ibunya itu.


Beberapa saat kemudian, air di dalam bathub tiba-tiba mengeluarkan asap yang makin lama makin pekat. Asap itu bahkan terlihat seperti menyelubungi seluruh tubuh Wening. Gadis itu kemudian batuk-batuk saat asapnya merasuk ke dalam lubang penciumannya. Wening sempat tak sadar untuk beberapa saat. Dia merasakan semuanya seakan sedang berputar mengelilingi dirinya, untuk kemudian berhenti. Suasana di sekitar Wening pun kembali normal, begitu pula dengan kondisinya yang sempat melemah.


Wening berusaha untuk berdiri dan meraih handuk. Dia sempat mencari bayangan sang ibu di atas permukaan air, tapi ternyata bayangan itu telah menghilang. Wening pun memutuskan untuk segera berpakaian dan melihat keadaan Raline.


Setelah berganti dengan seragam perawat, Wening melangkah ke arah pintu kamar dan membukanya. Namun, bukannya pemandangan taman belakang beserta kolam renang yang dia lihat, melainkan rumah peninggalan kedua orang tuanya. Pemandangan ada di depannya itu terlihat benar-benar nyata. Wening kembali dilanda kebingungan. “Ada apa lagi ini?” resahnya.


Dia memberanikan diri memasuki teras rumah dan berjalan lurus memasuki ruang tamu. Akan tetapi, bagian dalam rumahnya terasa begitu berbeda. Furnitur dan seluruh interiornya bukanlah yang selama ini Wening tahu. Perhatiannya kemudian segera teralihkan pada suara-suara berisik dari dalam kamar.


Wening terus melangkah untuk menjawab segala rasa penasaran dalam dirinya. Dia membuka pintu kamar perlahan. Wening melihat sang ibu dalam versi yang jauh lebih muda seperti bukan usianya. Dia tampak histeris di atas ranjang.


Di sekelilingnya terdapat beberapa orang. Wening dapat mengenali mereka sebagai kakek dan neneknya dari pihak ibu. “Lawan dia, Hapsari! Lawan!” titah sang nenek sambil melotot ke arah ibunya.


Tatapan Wening beralih pada Hapsari, sang ibu, yang tengah terbelalak dengan mulut terbuka. Matanya terlihat putih sepenuhnya, persis kondisi Raline dini hari tadi.


“Panggilkan Antasena!” seru sang kakek. Neneknya bergegas bangkit dan berlari keluar kamar, menembus badan Wening begitu saja yang berdiri di ambang pintu seakan Wening tak kasat mata. Sementara kakeknya masih berusaha menahan tubuh Hapsari.


“Bertahanlah, Nak! Antasena sudah datang,” sang nenek tiba-tiba sudah berdiri di samping Wening, sambil menggandeng seorang pemuda rupawan yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.


“Ayah?” spontan Wening memanggilnya.


Pemuda itu menoleh sesaat, kemudian tersenyum samar, lalu kembali fokus pada Hapsari yang bertingkah aneh di atas ranjang.


“Seseorang mencoba membangunkan Kalajanggi yang bersemayam di dalam tubuhnya, Bu,” ucap Antasena.


“Lalu, bagaimana selanjutnya, Nak Antasena? Sampai kapan Hapsari harus menderita begini? Kenapa keluarga kami harus mendapatkan kutukan seperti ini?” tanya sang nenek sambil terisak.


Antasena terdiam sejenak. “Jangan sebut ini kutukan, Bu. Kasihan Hapsari. Anggap saja ini adalah garis takdirnya yang terlahir dalam garis keturunan Paundra, sedangkan Paundra adalah putra Kalajanggi. Wanita iblis itu telah memilih tubuh Hapsari sebagai tempat tinggalnya. Lebih mudah bagi Kalajnaggi untuk menggunakan tubuh keturunannya sebagai wadah,” terangnya.


“Kenapa bukan tubuhku? Bukankah aku juga keturunan langsung dari Paundra?” sahut kakek Wening yang sedari tadi terdiam.


“Kalajanggi hanya membutuhkan tubuh keturunan perempuan,” jawab Antasena.


“Ibu tidak mau tahu, Nak Antasena! Ibu hanya ingin makhluk itu keluar dari tubuh Hapsari!” teriak sang nenek yang mulai hilang kendali.


“Ada caranya, jika ibu bersedia,” ujar Antasena sedikit ragu.


“Apapun itu, kami bersedia!” tegas kakek Wening.


“Kalau begitu, nikahkanlah saya dengan Hapsari. Hanya dengan cara itu, Kalajanggi bisa pergi dari tubuhnya,” jelas Antasena.


Suami istri itu saling memandang sebelum akhirnya mengangguk. Mereka menyetujui pernikahan Antasena dan Hapsari yang merupakan orang tua kandung Wening. Melihat hal tersebut, dada Wening terasa sesak. Matanya berkunang-kunang dan tubuhnya pun ambruk seketika.


Beberapa saat lamanya, Wening merasa tubuhnya lemas, sampai pada akhirnya dia dapat menggerakkan tangan dan membuka mata. Dia tersadar bahwa dirinya kini sedang tergeletak di depan teras kamar paviliun. Dirinya sudah kembali ke masa kini.


“Astaga!” desah Wening sambil meremas rambut panjangnya. “Aku keturunan Kalajanggi,” ujarnya sembari menangis.


“Tak peduli siapapun leluhurmu, Nak. Kau tetap anak Ayah. Antasena yang di masa lalu berhasil menghentikan kejahatan Kalajanggi meskipun hanya sementara. Namun, kau yang menuntaskan pekerjaan Ayah. Kau yang menghancurkan Kalajanggi meskipun itu artinya kau harus menghancurkan dirimu sendiri,” tutur sesosok pria yang tiba-tiba sudah berada tepat di hadapan Wening.


Mata indah Wening terbelalak. “Ayah!" suaranya tertahan, karena isak tangis lebih dulu keluar dari bibirnya.


“Ayah dan ibu tak berani menceritakan hal ini kepadamu, Nak. Kami tak punya keberanian untuk itu. Akan tetapi, saat kami memiliki kekuatan untuk bercerita, kejadian buruk itu menimpa,” Antasena mengela napas pelan.


“Ayah dan ibu kecelakaan,” ujar Wening sesenggukan.


Antasena mengangguk. “Beruntunglah ada Sentanu. Dulu dia adalah salah satu anak keturunan yang menyembah Kalajanggi. Orang tuanya selalu menyajikan tumbal untuk iblis itu, hingga Kalajanggi menjadi sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan,” tutur Antasena.


“Kau perlu tahu, Nak. Sejak kau membunuh iblis itu ratusan tahun yang lalu, Kalajanggi tak pernah terbangun. Baru ketika Hapsari yang merupakan keturunan Paundra beranjak remaja, Kalajanggi menunjukkan geraknya. Setelah Ayah menikahi Hapsari, barulah darah Kalajanggi yang ada di tubuh ibumu terputus, karena darahku telah mengalir ke dalam tubuh istriku. Akan tetapi, ternyata makhluk jahat itu berpindah tempat. Dia malah bersemayam di tubuh perempuan yang sama sekali bukan keturunannya. Dia malah bersemayam di tubuh keturunan calon tumbalnya di masa lalu. Ini benar-benar aneh,” lanjut Antasena panjang lebar.


“Kenapa itu bisa terjadi, Yah?”


“Ada orang lain di luar lingkaran keluarga Sentanu maupun keluarga keturunan Paundra yang mencoba masuk dan membangkitkan Kalajanggi,” tegas Antasena sebelum sosoknya menghilang bagaikan kabut pagi yang menguap tertiup angin.