Wening

Wening
Suara Gaib



Berhubung Wening sudah bersedia untuk kembali ke kediamannya, maka Gandhi pun merasa tenang ketika harus pergi ke luar kota untuk menghadiri rapat penting yang berkaitan dengan perusahaan. Terlebih, sesuai saran dari Wening bahwa dia meminta satu orang perawat lagi untuk menggantikan suster Ratna yang mengalami gangguan kesehatan. Tadi pagi, seorang suster baru telah datang mendampingi Wening, bersamaan dengan suster Ratna yang meninggalkan kediaman Wiratama.


Sekitar dua sampai tiga jam, waktu yang Gandhi tempuh setelah melewati jalur tol hingga memasuki area jalan raya perkotaan. Saat itu, waktu telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Suasana pun sudah cukup sepi, terlebih karena perumahan tempat tinggal Gandhi terletak di pinggiran kota. Duda satu anak itu sudah berkali-kali mencoba untuk pindah ke daerah pusat kota. Akan tetapi, entah kenapa karena seakan tak ada satu pun rumah yang berjodoh dengannya. Karena itu, dengan terpaksa dia tetap menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Butuh waktu sekitar setengah jam untuk bisa sampai ke perumahan tempat tinggalnya. Namun, perasaan aneh mulai menghinggapi pria empat puluh tahun itu. Dirinya seakan telah melewati jalur yang salah, karena Gandhi tak kunjung tiba di perumahan yang dia tuju. Akan tetapi, Ghandi terus melajukan mobilnya menembus malam yang kian larut. Sudah lama, dia tidak melakukan perjalanan malam. Sebenarnya, Gandhi bisa saja menginap di kota tempat dirinya mengadakan pertemuan tadi, tetapi entah mengapa kata hati pria itu mengatakan jika dirinya ingin langsung pulang malam itu juga.


Tanpa sengaja, pandangan mata pria bertubuh tegap tersebut menoleh ke arah kaca spion. Di sana, dirinya melihat seberkas cahaya berbentuk bulat seperti sebuah bola api yang melayang dan terus mengikuti mobil yang dia kendarai. Pada awalnya, Gandhi mengabaikan hal itu. Dia menganggap jika cahaya tersebut hanya sebuah sinar dari pantulan lampu mobil di belakangnya. Akan tetapi, makin lama bola cahaya itu semakin mendekat. Gandhi pun menginjak pedal gas dengan kencang, sehingga mobilnya melaju lebih cepat.


Kembali dilihatnya ke arah kaca spion, dan bola cahaya itu masih juga mengikutinya. Namun, Gandhi adalah seorang pria modern dengan pemikirannya yang sangat logis dan selalu rasional. Lagi-lagi, pria itu tak mau ambil pusing. Dia justru semakin menambah kecepatan laju mobil saat itu, hingga akhirnya Gandhi tiba pada sebuah jalan yang dia sendiri tak yakin apakah pernah melewati jalur tersebut atau tidak, karena sebelah kiri dan kanannya terasa begitu asing.


Tanpa diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba muncul kabut asap yang makin lama semakin tebal dan mengganggu jarak pandang pria itu. Dari sana, Gandhi mulai merasa was-was. Akan tetapi, dia harus berusaha untuk tetap tenang dan berkonsentrasi. Lengah sedikit saja, maka akan sangat fatal akibatnya.


Gandhi kemudian melihat arloji di pergelangan kirinya. Sudah hampir dua jam dan dia tak juga sampai di perumahan yang dituju. Di sepanjang jalan yang dia lalui pun begitu lengang, seakan hanya dirinya yang berkendara pada malam itu. “Wening,” gumam pria empat puluh tahun tersebut. Entah mengapa, hanya nama itu yang ada di dalam pikirannya. Seusai menyebut nama Wening, tiba-tiba laju mobilnya terhenti. “Apa-apaan ini?” gumam pria itu lagi. Dia masih belum memahami apa yang tengah dialaminya. Gandhi terdiam sejenak, ketika lampu sorot mobilnya menangkap sebuah bayangan seseorang yang berjarak beberapa meter di depannya.


Orang itu pada awalnya tak terlihat jelas. Dia berjalan dengan tenang menuju ke arah mobil Gandhi berada. Sementara pria itu mulai merasa cemas. Ia tentunya tak akan berbuat bodoh dengan keluar dari mobil dan menghampiri orang asing tersebut.


Makin lama, sosok yang terkena lampu sorot dari cahaya mobil milik Gandhi semakin terlihat, meskipun tidak terlalu jelas. Akan tetapi, Gandhi merasa yakin jika sosok itu merupakan seorang wanita tua dan ... Gandhi tersentak. Sigap, dia kembali berusaha menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas dengan kencang. Ditabrakkannya mobil itu pada sosok yang diyakininya bukanlah seorang manusia, karena sosok itu menuju ke arahnya dengan melayang beberapa senti di atas tanah.


“Ini gila!” rutuk Gandhi. Cekatan tangannya memainkan kemudi. Pria itu pun kembali menoleh ke belakang, tetapi sosok wanita yang melayang tadi tak terlihat lagi di belakangnya sehingga Gandhi dapat bernapas lega.


Namun, ternyata pria itu salah. Ketika dirinya kembali mengarahkan pandangan ke depan, tatapannya langsung tertuju pada dua buah tangan dengan kuku tajam yang menjuntai dari atas mobilnya dan menempel pada kaca depan, membuat Gandhi terkejut dan seketika mengerem laju kendaraanya. Pria itu terdiam sejenak dengan raut wajah yang terlihat begitu tegang. Dia sedikit mendongak untuk memeriksa ada apa sebenarnya di atas mobil yang tengah ia kendarai.


“Sentanu ... keluarlah,” terdengar suara tanpa wujud yang menyuruhnya untuk keluar dari dalam mobil. Akan tetapi, Gandhi tak ingin melakukan sebuah kekonyolan. Tetap berada di dalam mobil adalah keputusan yang paling tepat menurutnya.


“Sentanu ... keluarlah. Jangan sampai aku yang memaksamu,” terdengar lagi suara gaib itu begitu jelas di telinga Gandhi yang kini tengah berusaha untuk menyalakan kembali mesin mobilnya, tapi apa yang dilakukannya tak juga berhasil. Sedikit emosi, Gandhi mengerutu kesal. “Sialan! Ayo menyala!” Namun, kenyataannya mobil itu tetap tak mau hidup.


“Kau tak ingin keluar? Baiklah kalau begitu, aku yang akan masuk,” terdengar lagi suara seorang wanita dengan diiringi sebuah tawa cekikikan yang seketika membuat bulu kuduk Gandhi meremang. Belum lepas pria itu dari rasa ngeri karena mendengar suara tawa tadi, entah dari mana datangnya tiba-tiba sesosok wanita berambut panjang dengan pakaian serba hitam duduk di jok sebelah. Dia langsung menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang runcing dan berwarna kehitaman.


“Si-siapa kau?” tanya Gandhi semakin memundurkan tubuhnya ketika wanita dengan bola mata berwarna merah itu mencoba untuk mendekat kepadanya. Wanita itu terus tertawa saat melihat raut tegang yang diperlihatkan oleh pria tampan tersebut.


“Kau lupa padaku, Sentanu?” helaan napas wanita itu dengan aromanya yang berbau anyir menyeruak dan terendus sangat jelas di indera penciuman Gandhi. “Oh, aku lupa jika saat ini Sentanu masih tertidur dan hanya bangun pada saat-saat tertentu saja,” ucap wanita itu lagi. Dia terus mendekatkan wajahnya kepada Gandhi.


“Aku bukan Sentanu!” bantah Gandhi. Refleks tangannya meninju wajah wanita yang telah sangat mengganggunya. Gandhi pun melepas sabuk pengaman dan segera keluar dari dalam mobil. Dia menutup pintu mobil itu rapat-rapat, kemudian setengah berlari menuju ke depan kendaraannya dan berdiri di sana. Akan tetapi, dia tak melihat wanita itu ada di dalam mobilnya.


Namun, ketika Gandhi berbalik, ternyata wanita itu sudah berada di belakangnya dan segera menyerang Gandhi dengan cara mencekik leher pria itu. Gandhi pun mundur beberapa langkah hingga tubuhnya kini setengah rebah di atas kap mesin yang panas. Gandhi terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan dengan kuku-kuku tajam dari wanita yang kini melayang di atas tubuhnya.


Pada saat pria itu semakin terdesak, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang menghantam tubuh wanita berkuku tajam tadi hingga dia terpental. Gandhi pun segera bangkit dan memegangi lehernya yang terasa sakit. Darah segar menetes dari luka robek pada leher sebelah kirinya, darah itu jatuh di atas kerah kemeja putih duda satu anak tersebut. Dia kemudian bergerak dengan agak sempoyongan menuju pintu mobil. Dari sana, dilihatnya cahaya putih itu kembali menghantam wanita tadi hingga si wanita menyeramkan itu pergi entah ke mana, karena dia menghilang secara ajaib ditelan gelapnya malam.


Sementara cahaya putih tadi, makin lama semakin meredup, kemudian padam seketika. Namun, bersamaan dengan hilangnya cahaya tadi, Gandhi justru melihat hal lain yang tergeletak di atas kap mesin mobilnya.


Dipandanginya benda tersebut, tetapi Gandhi tak berani untuk mendekati ataupun menyentuhnya. Pria itu masih merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia alami. Berkali-kali dirinya meyakinkan bahwa itu bukanlah mimpi, termasuk ketika dia menyentuh darahnya sendiri.


“Ambilah, Nak!” terdengar suara seorang pria tua tanpa wujud. Gandhi segera mengedarkan pandangannya pada sekeliling tempat itu. Akan tetapi, dia tak menemukan siapa pun di sana.


“Ambil dan simpan benda itu baik-baik. Perlakukan ia selayaknya kau merawat anakmu sendiri. Kelak, benda itu akan sangat membantumu,” suara pria itu terdengar kembali, tapi masih tanpa wujud yang nyata. Namun, suara pria tadi seakan telah memberikan sebuah kekuatan baru kepada Gandhi.


Tanpa ragu, pria tersebut meraih benda kecil yang tergeletak di atas kap mobilnya. Gandhi pun mengamati benda tersebut.


Adalah sebuah badik berukuran sekitar tujuh sentimeter dengan relief yang sangat khas dan dipenuhi ukiran-ukiran aneh di seluruh bagiannya. Ujungnya yang runcing tampak begitu tajam dan mengkilat. Sementara, di bagian gagangnya yang terbuat dari kayu juga terdapat sebuah ukiran menggunakan huruf pallawa. Gandhi hanya mengernyitkan keningnya karena tak memahami semua itu. Dia berdiri mematung, memandangi benda tersebut.