Wening

Wening
Pertaruhan Nyawa



Gandhi terlihat tak sabar. Dia segera berlari ke arah altar batu tersebut dan mencoba menghampiri Raline yang sudah terbaring tak bergerak sama sekali. Namun, tiba-tiba tubuh pria itu terpental ke belakang dengan cukup keras.


Sepertinya ada sebuah perisai tak kasat mata yang membatasi sekitar altar tadi, dan tidak dapat ditembus oleh orang awam. Gandhi yang sempat terjengkang di atas tanah, kini mulai bangkit. Sedangkan Wening masih berdiri menatap altar tadi. “Aku tidak bisa mendekat ke sana,” ucap Gandhi dengan napas terengah-engah.


“Ada perisai gaib yang membatasi altar itu,” ujar Wening tanpa menoleh ke arah Gandhi.


“Perisai gaib?” sahut Gandhi tak mengerti.


Belum sempat Wening memberikan penjelasan, sayup-sayup terdengar suara riuh di sana. Padahal saat itu tak ada siapa pun selain mereka berdua. Namun, seolah-olah di sana seperti ada belasan orang yang tengah merapalkan sebuah bacaan yang tak terdengar begitu jelas.


Gandhi mulai terlihat gelisah. Dia lalu duduk bersila di sebelah Wening yang masih berdiri sambil memejamkan kedua mata. Tak berselang lama, roh mereka berdua terlepas dari raganya.


Gandhi bangkit dan menoleh kepada Wening. Pria itu mengangguk dan segera melangkah maju bersamaan dengan langkah kaki Wening. Mereka berjalan mendekat ke arah altar dan seakan menembus sebuah dinding kaca. Keduanya merasa lain dan seolah telah masuk ke dalam sebuah dimensi yang berbeda.


Wening dan Gandhi melangkah pasti dan semakin mendekat ke tempat Raline terbaring. Sedikit lagi, tangan pria itu dapat menyentuh tubuh putrinya. Akan tetapi, tiba-tiba seseorang mendorong Gandhi dan Wening begitu saja hingga mereka tersungkur.


Di depan mereka, telah berdiri bi Lastri yang tampak jauh lebih muda dari yang terakhir mereka lihat. Sementara di belakang wanita itu, puluhan orang berwajah pucat dengan bola mata hitam seluruhnya, berdiri sigap dan bersiap untuk menyerang.


“Aden kecil? Aden ingat bibi?” tanya bi Lastri. Nada suaranya terdengar begitu aneh dan menakutkan.


Gandhi yang mencoba bangkit setelah jatuh tersungkur, mengernyitkan kening dan mencoba mengingat-ingat sosok wanita di hadapannya itu. “Tolong lepaskan anakku,” ucap Gandhi pada akhirnya.


“Den, bibi sayang sama Aden.” Wanita itu memiringkan kepala sembari tersenyum samar. “Dulu Aden dan Bimo senang bermain bersama,” tuturnya. Suara yang keluar dari tenggorokan bi Lastri bagaikan suara dari beberapa orang yang bercampur menjadi satu.


Bi Lastri lalu mengulurkan tangan dengan lurus. Telapaknya menghadap ke arah Gandhi. Dari tengah-tengah telapak tangan itu, muncul sebuah titik hitam yang makin lama semakin membesar. Hawa panas keluar dari sana, lalu bergerak menerjang tubuh Gandhi dan Wening.


Secepat kilat, Gandhi membentuk tameng dengan badiknya. Lingkaran tak kasat mata, berhasil melindungi dia dan juga Wening. Dalam keadaan tersebut, memori Gandhi yang selama ini terkunci, kembali terbuka.


Bayangan-bayangan masa lalu datang menghantam bak air bah.


Gandhi kecil adalah sosok anak yang sakit-sakitan sejak lahir. Berbeda dengan kedua kakaknya yang memiliki fisik dan kesehatan sempurna, dan bisa bebas bermain. Gandhi kecil harus menghabiskan hari-harinya di dalam kamar.


Hingga suatu malam, diam-diam dia keluar dari kamar dan menelusuri tiap sudut rumah besar itu untuk menghalau rasa bosan. Langkah Gandhi kecil berhenti di depan satu ruangan yang dia ingat sebagai ruang kerja sang ayah. Dia lalu menempelkan telinganya di pintu saat terdengar beberapa orang tengah berbincang-bincang di dalam sana.


“Kalajanggi meminta dua anak perempuanku. Jika mereka mati, maka habis sudah semuanya. Gandhi tak bisa diharapkan karena dia sakit-sakitan. Keturunan kita akan berakhir sampai di sini,” keluh suara seseorang yang Gandhi kenal sebagai ayahnya.


“Kalau begitu, korbankan saja Gandhi,” cetus ibunya.


“Kalajanggi hanya menginginkan anak-anak perempuan dari keturunan Wiratama, Tuan dan Nyonya,” sela bi Lastri mengingatkan.


“Ck!” Sang ayah berdecak kesal. “Gandhi sama sekali tidak berguna!” umpatnya kesal.


“Tentu saja berguna, jika kita satukan dia dengan Bimo,” cetus sang istri kembali memberikan ide yang mencengangkan.


“Disatukan bagaimana?” tanya sang ayah.


“Berikan kesehatan Bimo untuk Gandhi dan kau akan sama sejahteranya dengan kami, Lastri. Kau juga tak akan bertambah tua. Kau bisa hidup selamanya dan kaya raya,” ujar ibunda Gandhi kepada bi Lastri.


Gandhi tersadar dan kembali ke masa kini, bersamaan dengan tawa nyaring bi Lastri. “Sekarang Aden ingat, bukan?” tanyanya.


“Ja-jadi?” Gandhi terbata. Tangannya terlihat gemetaran hingga badik yang dia pegang hampir terjatuh. Beruntung, Wening sigap menangkap benda keramat itu dan memegangnya erat.


“Bimo sudah mengorbankan kesehatannya untuk menyembuhkan Aden. Tuan Wiratama sendiri yang melakukan ritualnya,” terang bi Lastri dengan mata menerawang.


“Beberapa hari setelah kematian dari kedua kakak Den Gandhi, tuan dan nyonya Wiratama membawa Bimo ke ruang bawah tanah. Di sana, mereka menghisap energi anak saya satu-satunya untuk disalurkan ke tubuh ringkih Aden. Mereka menjanjikan pada saya kekayaan dan keabadian dengan mengorbankan Bimo. Bimo, anakku ....” Bi Lastri mulai menangis tersedu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk kemudian mendongak secepat kilat, lalu menyeringai ke arah Gandhi.


“Kalajanggi saat itu ... sedikit lagi dia akan bangkit. Nyonya Wiratama sudah menyiapkan seorang tumbal lagi, tapi saya lebih dulu membunuhnya. Setelah itu, saya juga menghabisi tuan Wiratama walaupun saya sadar, semuanya sudah terlambat bagi Bimo. Bimo tidak bisa bertahan. Dia meninggal, bersamaan dengan tewasnya orang tua Aden.” Isakan bi Lastri berubah menjadi teriakan nyaring.


“Aku terlambat dan menyesal! Kusegel kembali Kalajanggi! Terus kurutuki kehadirannya di dunia ini sambil terus merawat dan menimang Aden hingga sebesar ini, karena separuh tubuh Aden adalah milik Bimo,” tuturnya.


“Sampai di suatu malam, setelah pernikahan pertama Aden dengan nyonya Marina, Kalajanggi mendatangiku dalam mimpi. Dia mengatakan akan mengembalikan Bimo padaku asalkan aku mempersembahkan Marina untuknya,” lanjut bi Lastri.


“Apa? Apa maksudmu, Lastri!” sentak Gandhi. Tangannya mengepal erat, berusaha menahan gemuruh di dalam dada.


“Akulah yang menyebabkan istrimu sakit-sakitan dan meninggal dunia. Aku pula yang memberikan ramuan pada Raline sehingga tubuhnya lemah dan mudah dirasuki Kalajanggi. Namun, Kalajanggi tak jua bangkit. Dia masih membutuhkan lebih banyak tumbal perempuan. Bertahun-tahun, Kalajanggi hanya tertidur di tubuh Raline. Aku marah, Den Gandhi! Seharusnya Bimo yang tetap sehat, berdiri di depanku saat ini! Bukannya dirimu! Aku tidak perlu tubuh awet muda ini! Aku hanya perlu Bimo!” Teriakan bi Lastri menggelegar ke atas dan seakan dijawab oleh angkasa dengan mengirimkan satu kilat yang merambat di langit malam.


“Lalu, apa maumu sekarang?” geram Gandhi.


“Kalajanggi meminta tumbal perempuan, maka kuberikan padanya perempuan-perempuan cantik penggoda Aden. Perawat-perawat neng Raline yang selalu terpesona pada Den Gandhi itu sangat mudah kupengaruhi. Dengan sukarela mereka memberikan energinya pada Kalajanggi.” Bi Lastri terkikik.


“Bukankah perawat-perawat itu mengundurkan diri?” tanya Gandhi tak mengerti.


“Mereka mengundurkan diri, sakit-sakitan, lalu mati,” jawab bi Lastri seraya kembali tertawa lepas.


“Astaga,” desis Wening. “Kenapa suster kepala merahasiakan semuanya? Dia malah mengatakan bahwa perawat-perawat itu pindah tugas ke luar kota.”


“Semua orang di sekitar Den Gandhi dan neng Raline, ada di bawah kekuasaanku, Wening. Termasuk juga suster kepala!” seringai bi Lastri. “Sekarang, semua syarat sudah terpenuhi. Ratna adalah tumbal terakhir dan tak lama lagi akan kita saksikan sama-sama bangkitnya Kalajanggi bersama Bimo, putraku,” ujar bi Lastri kembali menyeringai.


“Raline tak semudah itu menyerahkan tubuhnya sebagai inang. Aku percaya, kekuatan tersembunyi yang ada pada dirinya sebentar lagi akan bangkit!” ujar Wening dengan tegas.


“Apa kakek tua renta itu pelakunya? Apa dia yang meletakkan kekuatan di dalam diri Raline? Pantas saja Kalajanggi kesulitan untuk bangkit!” Bi Lastri berdecak sambil menggeleng pelan.


“Mungkin saja aki Sukmana sengaja mengulur waktu sampai aku datang.” Giliran Wening kini yang menyeringai.


“Kau memang pengganggu! Dasar wanita penggoda! Gandhi adalah milikku! Dia anakku! Tak akan kuberikan pada siapa pun!” seru bi Lastri seraya mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi ke udara.


“Aku bukanlah sebuah barang yang bisa diperebutkan,” sahut Gandhi gusar. Dia lalu melemparkan badiknya sekuat tenaga. Badik itu terbang kemudian berputar, lalu menyasar pergelangan tangan Lastri. Ketajaman mata pisaunya, telah berhasil memotong tangan wanita paruh baya tersebut. Pergelangan tangan Lastri pun terlepas dan jatuh di atas tanah dengan darah yang mengucur deras.


“Adeenn!” pekik wanita itu dengan luar biasa nyaring. Suaranya telah berubah menjadi lengkingan kesakitan. “Bangkitlah Kalajanggi! Hisap energi Raline dan berdirilah! Balaskan dendamku! Kembalikan Bimo padaku!” seru Lastri tanpa henti dengan sangat lantang.


Tak berselang lama, tubuh Raline yang saat itu dalam keadaan melayang, mulai bergetar dan tampak mengejang. Mata gadis belia itu tiba-tiba terbelalak sempurna. Napasnya pun kian memburu, lalu terengah-engah. Perlahan, kepala Raline menoleh kepada Wening dengan tatapan sayu. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan. “Kak, tolong aku ...." ucapnya dengan suara parau.