Wening

Wening
Ketakutan Ratna



Wening kembali memasuki kamar Raline sambil membawa segelas air putih. Dilihatnya gadis remaja itu tengah asyik bercanda dengan Anggita. Ini sesuatu yang di luar dugaan, karena Raline bisa langsung akrab dengan rekan sejawat Wening tersebut.


“Minumlah dulu,” dia lalu menyodorkan gelas yang dibawanya kepada Raline.


“Apa kabarmu, Suster Wening? Kukira kau masih dalam masa cuti,” ujar Anggita melirik Wening dengan senyum ramah.


“Seharusnya aku masih cuti, tapi pak Gandhi memaksaku kemari,” jawab Wening sambil tersipu. Dia tak harus menjelaskan dengan lebih jauh lagi.


“Hmm,” Anggita mengedipkan matanya lucu. “Memang sudah saatnya, Ning. Seusia kita memang sedang butuh-butuhnya pasangan,” kelakar gadis itu sambil berbisik. Anggita pun menepuk pelan punggung Wening. Dia selalu berusaha mengakrabkan dirinya dengan gadis itu, meskipun Wening nyatanya lebih banyak diam.


Raline yang melihat keakraban dua orang yang duduk di depannya hanya bisa tersenyum. “Senang ya, kak. Dapat memiliki seorang teman pasti sangat menyenangkan. Tidak seperti aku. Sejak kecil, aku selalu sendirian dan hanya keluar saat akan periksa ke rumah sakit,” tuturnya penuh sesal. Ada rona kesedihan di wajah manis gadis belia itu. Tentu saja, dia juga mengharapkan sebuah kehidupan yang normal seperti remaja seusianya. Kepala Raline kemudian menunduk. Tangannya meremas selimut yang menutupi bagian kakinya.


“Hei, kau kan punya ayah, kak Wening, kak Anggita,” hibur Wening seraya merengkuh pundak gadis berusia lima belas tahun itu. “Kakak yakin, tak lama lagi kau bisa keluar dan menikmati udara segar secara leluasa. Berdoalah, Raline. Semuanya akan segera membaik,” ujar Wening dengan setengah merayu, agar gadis itu berhenti merajuk.


“Apa benar kalau penyakit seperti yang kuderita tidak akan bisa disembuhkan? Apa aku akan mati, Kak?” Raline mengalihkan pembicaraan begitu saja. Bukannya merasa tenang, raut wajah gadis itu justru malah terlihat semakin sendu.


“Hei, kau dilarang berkata seperti itu. Semua penyakit ada obatnya, bersabarlah,” sahut Anggita menimpali. “Dunia kedokteran, makin hari semakin maju. Semua ilmuwan berlomba-lomba untuk melakukan penelitian yang akan membawa banyak manfaat bagi kita. Zaman sudah sangat modern, segalanya serba mudah saat ini. Kau tidak perlu khawatir, ada kami berdua yang akan selalu membantumu hingga kembali pulih,” lanjutnya. Anggita memang terkenal sebagai perawat yang paling ramah di antara rekan-rekan Wening yang lain. Wening pun tak merasa heran dengan sikap yang ditunjukan gadis itu kepada Raline.


“Kau sakit bukan karena kelainan darah langka, melainkan akibat parasit yang ada di dalam tubuhmu,” tegas Wening yang enggan melepaskan tangannya dari lengan kurus Raline.


“Parasit?” Anggita menoleh begitu saja pada Wening dengan raut keheranan. “Maksud Suster Wening apa? Aku sama sekali tidak menemukan hal itu dalam laporan kesehatan yang diberikan oleh suster kepala,” Anggita mengernyitkan keningnya.


Seketika Wening tersadar. Parasit yang menempel dalam tubuh Raline memang tak akan pernah teridentifikasi oleh alat medis secanggih apapun, karena itu merupakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Wening pun tak harus terlalu banyak bicara tentang hal tersebut. Bagaimanapun dirinya menjelaskan, tidak semua orang akan dapat memahaminya. “Ah, tidak apa-apa. Maksudku, memang ada banyak parasit yang bisa menempel dalam tubuh kita, yang mungkin belum terdeteksi dengan jelas. Itu bisa saja, kan?” terang Wening dengan tenang.


“Mungkin saja begitu,” gumam Anggita. “Aku jadi teringat pada suster Ratna. Sejak izinnya selesai, dia kembali ke rumah sakit. Akan tetapi, hanya sekali saja dia terlihat berdinas di lagi di sana. Sampai sekarang, suster Ratna menghilang entah ke mana,” tutur gadis cantik itu sambil menautkan alisnya.


“Menghilang? Menghilang bagaimana maksudmu?” tanya Wening dengan mimik yang benar-benar penasaran.


“Maksudku, dia jadi suka bersembunyi di dalam rumah, tak pernah keluar ke manapun,” lanjut Anggita. "Beberapa hari yang lalu, aku sempat berkunjung ke tempatnya. Namun, suasana di sana terlihat begitu sepi," tutur gadis itu lagi.


“Apa alamat rumahnya masih sama?” mata Wening menatap Anggita penuh arti.


“Ya. Masih yang dulu. Memangnya kenapa? Apa kau ingin menyadarkannya?” Anggita tergelak sambil menepuk lengan Wening kencang.


Ucapan Anggita membuat Wening menemukan sebuah ide. “Aku keluar sebentar, ya? Titip Raline,” selesai berkata demikian, Wening langsung menuju ke arah pintu keluar. Tak dipedulikannya Raline yang berteriak memanggil. Tujuannya adalah rumah tempat suster Ratna tinggal.


Wening sudah merangkai begitu banyak kata dalam kepalanya. Hingga akhirnya dia tiba di sebuah rumah dengan berbagai macam tanaman hias di dalam pot yang memenuhi halaman rumah tersebut.


Tanpa ragu, Wening mengetuk pintunya. Tak berapa lama, seorang wanita anggun membuka pintunya dan mengernyit keheranan. “Mau cari siapa?” tanya wanita itu sedikit ketus.


“Apakah saya bisa bertemu dengan suster Ratna, Bu? Saya adalah salah satu rekannya,” jawab Wening.


Raut muka wanita itu tiba-tiba saja terlihat sendu. “Baru kali ini ada rekan seprofesinya yang menjenguk,” ucapnya.


“Terima kasih. Uhm ....” Wening ragu-ragu hendak mengucapkan sesuatu. “Ratna sakit apa, Bu?” tanya Wening pada akhirnya.


“Nanti Neng bisa lihat sendiri,” jawabnya begitu saja setelah melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Wening.


Di depan sebuah pintu, wanita itu menarik napas panjang sebelum membukanya. Tampaklah sebuah kamar tidur dalam kondisi acak-acakan. Bau anyir menyeruak, menusuk indra penciuman Wening.


Di atas ranjang, suster Ratna tengah duduk meringkuk dengan rambut panjangnya yang menjuntai ke depan.


“Anak saya jadi berubah setelah berdinas di rumah keluarga Wiratama. Dia mendadak menjadi linglung dan yang paling parah, kadang-kadang matanya meneteskan darah,” jelas wanita itu seraya berbisik.


“Ibu tidak membawanya ke dokter? Apa kata dokter?” tanya Wening penasaran.


Wanita itu menggeleng lemah, “Ratna sudah melalui berbagai tes darah dan tes kesehatan lainnya. Semua hasilnya menunjukkan bahwa kondisi dia normal. Entah dari mana asalnya air mata darah itu.”


“Boleh saya berbicara dengannya?”


“Coba saja. Sering kali dia tak mau menjawab dan hanya diam,” ujar wanita itu.


“Baiklah, akan saya coba,” Wening berjalan mendekat, lalu berdiri di tepi ranjang tepat di samping Ratna. “Hai,” sapanya.


Tak ada balasan. Ratna masih tetap dalam posisinya. Duduk sambil memeluk kedua lutut tanpa memperlihatkan wajahnya.


“Hai,” sapa Wening lagi. “Ratna,ini aku Nirwasita,” bisiknya begitu lirih.


Seketika Ratna mendongak. Matanya terbelalak menatap Wening dengan rambut yang masih menutupi wajah. “K-kau?” desisnya.


“Apa yang terjadi, Ratna? Jelaskan padaku,” Wening menyibak rambut Ratna dan meletakkannya di belakang telinga. Wajah gadis itu terlihat kacau dengan banyak noda merah di sana sini.


Ratna menggeleng cepat. Diraihnya pergelangan tangan Wening, Ratna kemudian mencengkeramnya erat-erat. “Makhluk itu .... makhluk itu mengikutiku,” racaunya pelan.


“Makhluk? Makhluk apa?” Wening berkali-kali melirik wanita yang berdiri di depannya sambil serius mendengarkan percakapannya.


Ratna tak mau menjawab. Dia malah menggeleng cepat seraya mencengkeram kepalanya sendiri.


“Katanya setiap kali Ratna berkaca, yang tampak di pantulan cermin adalah seorang wanita berwajah mengerikan,” sela wanita itu.


“Ada lagi, Bu?” tanya Wening.


“Tidak ada, hanya itu saja. Namun, setelahnya Ratna mulai sering mengeluarkan air mata darah,” papar wanita itu, sebelum dia kemudian tertunduk pilu.