Wening

Wening
Pengorbanan Agni



Pagi-pagi sekali, beberapa asisten rumah tangga di kediaman Wiratama sudah terlihat sibuk. Mereka hilir mudik ke sana kemari menyiapkan ruang tamu, yang sebentar lagi akan digunakan sebagai tempat pernikahan Gandhi dan Wening. Sejak subuh, Gandhi sudah menghubungi penghulu serta koleganya untuk datang menjadi saksi, dan menghadiri prosesi pernikahan secara agama antara dirinya dengan sang perawat.


Sementara itu, Wening masih terpaku di depan cermin rias dalam kamar Gandhi. Gadis itu telah selesai memoles wajah dengan riasan tipis. Wening menyanggul rambutnya, kemudian dia tutupi menggunakan kerudung putih. Warna senada dengan baju terusan panjang yang dia kenakan saat itu.


Tepat pukul delapan pagi, terdengar suara penghulu memasuki ruang tamu. Jantung Wening berdebar semakin kencang. Seharusnya, hari itu menjadi saat yang paling bersejarah baginya. Momentum besar, di mana dia akan melepas masa lajang. Sayang sekali, karena kedua orang tua Wening sudah tak dapat lagi mendampinginya pada hari bahagia tersebut.


Setitik air mata mulai menetes di pipi. Sembari menunggu panggilan penghulu, dia kembali memandangi wajahnya pada pantulan cermin. “Ibu, ayah, aku akan menikah hari ini. Setelah semuanya selesai, aku akan menghadapi sesuatu yang besar. Entah akan berakhir seperti apa. Kalaupun aku mati, setidaknya aku bisa berkumpul bersama kalian lagi,” gumamnya lirih.


Selesai berkata demikian, udara di sekitar Wening mendadak terasa dingin. Begitu dingin, sampai-sampai napas yang berembus dari hidung dan mulutnya berubah menjadi asap putih. Wening menyadari keanehan itu, tetapi dia tetap bersikap tenang.


Seutas senyuman terkembang dari bibir indahnya, tatkala dia menangkap bayangan wajah cantik sang ibu yang tengah berdiri di sisi kanan Wening. Bayangan itu terlihat jelas di cermin. “Putriku cantik sekali,” puji Hapsari.


Tak lama kemudian, sesosok bayangan kembali muncul. Kali ini berada di sisi kiri tubuh gadis itu. Seorang pria yang terlihat begitu tampan, tersenyum padanya melalui pantulan cermin. “Ayah,” panggil Wening senang.


“Jangan pernah merasa sendiri. Ada kami di sini,” tutur Antasena lembut, tetapi penuh wibawa.


“Sepertinya aku akan mati sebentar lagi,” ucap Wening lirih.


“Tak baik bicara seperti itu, Nak. Ingatlah, bahwa hanya Sang Pemilik jiwa yang tahu kapan kau akan mati,” tegur ibunya terdengar begitu lembut dan menyejukkan hati.


“Dulu, Nirwasita juga ....”


“Nirwasita dan dirimu adalah dua orang yang berbeda. Kau boleh memiliki kekuatan Nirwasita, tapi kau tetap bukan dirinya,” potong Antasena.


“Mereka hanyalah leluhur yang mewariskan kekuatan secara turun temurun. Seperti halnya aku yang merupakan keturunan ke-29 dari Paundra, sedangkan Paundra adalah putra dari Kalajanggi. Hal itu tak serta merta membuatku menjadi iblis, walaupun Kalajanggi pernah bersemayam di tubuhku untuk beberapa waktu lamanya,” terang Hapsari.


“Jangan membuang waktumu untuk memikirkan yang belum terjadi, Nak. Percayalah pada kekuatan diri sendiri.” Telapak tangan Antasena menyentuh puncak kepala Wening. Begitu pula Hapsari yang turut meletakkan tangannya di atas tangan Antasena.


Kedua sosok tadi lalu memejamkan mata untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menghilang. Tubuh Wening pun terasa lebih segar setelah kedua orang tuanya malakukan itu. Dia tak peduli apakah yang baru saja terjadi merupakan sesuatu yang nyata, atau halusinasi semata. Hidupnya seakan telah menjadi perpaduan antara ada dan tiada.


Gadis itu menarik napas panjang dan menengadah sejenak, sampai terdengar ketukan pelan di pintu.


“Neng, mari. Pak penghulu sudah memanggil,” ucap salah seorang asisten rumah tangga, yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar.


“Terima kasih, Bi,” jawab Wening seraya berdiri. Dia mengikuti wanita yang berusia sama dengan bi Lastri.


Di ruang tamu yang telah disulap menjadi tempat dilangsungkannya akad nikah, Wening mengangguk dan tersenyum pada semua orang. Tempat luas itu telah dihiasi dengan dekorasi bunga-bunga putih sederhana, tapi terkesan elegan. Beberapa rekan bisnis Gandhi tampak hadir, serta duduk tenang di atas karpet. Mereka bertugas menjadi saksi.


Seorang penghulu yang duduk berhadapan dengan Gandhi, menoleh pada Wening dan memberi isyarat padanya agar segera di duduk di samping pengantin pria.


Wening menuruti pria paruh baya tersebut. Dia berjalan dengan anggun. Sedangkan atapan Gandhi tak sedikit pun teralihkan, saat memandang gadis yang tak lama lagi akan menjadi istrinya.


“Sebelum kita mulai prosesinya, izinkan saya menyampaikan sedikit nasihat,” ujar penghulu tersebut. Pria itu lalu memberi wejangan-wejangan untuk calon pasangan pengantin.


Gandhi tampak khusyuk mendengarkan sembari sesekali tersenyum. Hati Wening pun semakin menghangat. Namun, beberapa saat kemudian instingnya menangkap sesuatu yang aneh. Dia mulai tidak fokus mendengarkan petuah penghulu. Matanya menerawang lalu menyapu sekeliling, berusaha mencari sesuatu yang aneh.


Gandhi melirik sejenak kepada Wening yang terbelalak menatap sesuatu. Penasaran, pria tampan itu pun mengikuti arah tatapan calon istrinya. Gandhi mengernyitkan kening saat melihat sosok wanita tak dikenal berdiri dengan tatapan nanar.


“Apa itu salah satu saudara mempelai?” tanya penghulu.


“Itu tante saya,” jawab Wening.


“Tante?” Seketika Gandhi menoleh pada Wening. “Kenapa tidak diajak masuk?” Pria itu segera berdiri dan menghampiri Agni. “Selamat datang, Tante. Silakan masuk. Akad nikah akan segera dimulai,” sambutnya.


Wanita itu mengangguk ragu. Kakinya melangkah pelan menuju ke depan. Dekat jaraknya dengan Wening yang masih tampak keheranan. Agni lalu tersenyum pada keponakannya sembari menempelkan telunjuk di bibir. “Aku akan melindungimu,” bisiknya.


Wening menggeleng keheranan. Dia sama sekali tak mengerti akan maksud kedatangan sang tante. Wening juga sama sekali tak paham, dari mana Agni mendengar rencana pernikahannya.


“Baiklah, karena semua sudah siap mari kita mulai saja." Penghulu itu mengulurkan tangannya, yang segera disambut oleh Gandhi. Mereka kini saling berjabat tangan. “Saudara Gandhi Wiratama,” ucap penghulu itu.


“Tolong, apapun yang terjadi jangan hentikan prosesi akad nikah ini,” sela Agni dengan suara yang nyaring. Sontak semua orang menoleh ke arahnya, tak terkecuali penghulu yang ikut mengernyitkan kening.


“Cepat, lanjutkan, Pak!” seru Agni dengan raut tegang.


Tak banyak bicara, penghulu itu memulai prosesi pembacaan ijab kabul, yang dilakukan oleh Gandhi dalam satu tarikan napas. Tak lama, para saksi dan tamu lainnya serempak mengucapan kata, “Sah!”


Semua orang tampak bahagia, terlebih Gandhi. Senyuman tak lepas dari wajah rupawannya. Berkali-kali dia mengecup punggung tangan Wening. Suasana menjadi sedikit riuh saat semua yang hadir, berebut ingin bersalaman dengan sepasang pengantin baru.


Akan tetapi, tidak demikian dengan Agni. Wanita itu berdiri mondar-mandir di lorong yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang tengah. Dia lalu berdiri membeku ketika tiba-tiba rumah berguncang, seakan terjadi gempa.


“Lindungi Wening, Gandhi!” teriak Agni tiba-tiba. Suasana meriah dan bahagia berubah menjadi kepanikan saat goncangan terasa semakin dahsyat.


“Ada gempa!” seru semua orang seraya berhamburan keluar. Keanehan terjadi saat Gandhi menggandeng Wening berlari menuju pintu. Pintu tersebut dan seluruh jendela kediaman Wiratama, tertutup secara serentak. Gandhi berusaha membukanya, tetapi sia-sia. Rumah itu seolah mengunci dia dan istrinya serta Agni dari luar.


“Ada apa ini, Tante?” Waspada, Wening mulai mengepalkan tangan.


“Ada banyak makhluk yang berusaha menggagalkan pernikahan kalian! Inilah tugasku untuk melindungimu hari ini, Wening.” Agni merentangkan tangan dan berbalik membelakangi Wening. Dia menghadap lorong menuju ruang tengah.


Saat itu, keadaan mulai hening. Guncangan tak lagi terasa. Akan tetapi, tak berselang lama dari arah ruang tengah tampaklah gumpalan asap hitam. Gumpalan yang awalnya kecil dan hanya ada beberapa, tiba-tiba membesar dan bertambah berkali lipat. Asap hitam tersebut membentuk sosok bayangan seperti manusia yang membesar.


Mereka semua berusaha meraih tubuh Wening dan Gandhi. Akan tetapi, dengan gagah berani Agni segera menghadangnya. “Akulah adik Antasena yang masih tersisa! Lenyaplah kalian semua!” Selesai berkata demikian, cahaya merah terang benderang memancar dari bagian depan, kemudian membakar bayangan-bayangan hitam yang seakan tak ada habisnya itu hingga tak tersisa.


Cahaya terakhir bersinar sangat terang, sampai-sampai mata Wening terasa silau. Gandhi terus berusaha melindungi istrinya dengan memeluk tubuh ramping Wening hingga beberapa saat.


Sekeliling mereka kini terasa begitu sunyi. Perlahan Gandhi membuka mata dan melihat Agni tergeletak dengan tubuh hangus. “Tante!” Dia segera menghampiri wanita itu. Baru beberapa langkah, sesosok bayangan kembali muncul. Bayangan itu berwarna putih terang yang semakin lama semakin redup dan membentuk sosok Paundra. “Aku yang akan mengurus Agni. Kalian bergegaslah pergi ke Gunung Tampiraga. Cepat!” Suara Paundra terdengar begitu nyaring.


Pintu-pintu dan jendela yang tertutup, kini terbuka seluruhnya. Tak menunggu lama, Wening menyobek bagian bawah pakaiannya agar dapat bergerak leluasa. Dia meraih tangan Gandhi dan berlari ke teras, diiringi tatapan kebingungan dari beberapa tamu yang masih bertahan di sana untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Nanti saja aku ceritakan!” Gandhi melambaikan tangannya, kemudian bergegas ke garasi. Dia segera memasuki mobil dan menyalakannya mesinnya. Dengan kecepatan tinggi, Gandhi melajukan kendaraan ke arah utara. Sementara itu, di salah satu kamar paviliun, Anggita yang terlelap dalam posisi telentang, membelalakkan matanya dengan tiba-tiba.