
Sudah hampir tiga jam lamanya, Wening dan Gandhi menyusuri jalanan menuju ke arah utara. Sesuai dengan petunjuk dari Paundra, mereka disarankan untuk pergi ke sana. Namun, kenyataannya sepasang suami-istri itu tak tahu ke mana arah dan tujuan yang pasti, karena mereka pergi dengan hanya berbekal selembar foto milik bi Lastri yang berlatarkan sebuah gunung kapur. Foto itu tersimpan di dalam laci dashboard mobil.
Sementara hari pun telah mulai gelap. Gandhi juga terlihat sudah lelah, karena terus mengemudi hampir seharian. “Apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu, Pak?” cetus Wening saat melihat wajah tampan sang suami yang kian lusuh. Disentuhnya lengan Gandhi yang masih tampak cemas, meski tak dia tunjukkan dengan jelas.
Gandhi memelankan laju mobil yang dia kendarai. “Bagaimana jika kita berhenti untuk makan dulu?” tawarnya yang kemudian berbalas sebuah anggukan setuju dari Wening.
Setelah mendapat persetujuan dari wanita yang kini telah menjadi istrinya, Gandhi kembali menyusuri jalanan dan mencari warung makan yang dia nggap layak untuk dijadikan sebagai tempat mereka melepas lelah.
Setelah memarkirkan mobil double cabin miliknya, pria itu segera keluar diikuti oleh Wening. Sepasang suami-istri tersebut berjalan memasuki warung makan sederhana, tetapi terlihat nyaman dan juga resik. Mereka lalu memilih bangku yang kosong, karena kebetulan tempat makan tadi merupakan warung lesehan.
Di sana, terdapat tujuh hingga delapan buah bangku yang dapat menampung sekitar empat orang dalam setiap bangkunya.
“Kamu mau makan apa?” tawar Gandhi sambil membolak-balik selembar kertas berlaminating, dengan deretan menu beserta daftar harganya.
“Apa saja boleh,” jawab Wening. Dia pun tak tahu harus memesan apa saat itu.
Sambil mengeluh pelan, Gandhi menuliskan makanan apa saja yang dipesan pada secarik kertas. Setelah itu, dia menyodorkan kertas tersebut pada seorang pramusaji yang sejak tadi berdiri menunggu. Namun, sebelum pria muda itu berlalu dari hadapan mereka, Gandhi menyempatkan bertanya. “Apa nama daerah ini?”
“Ini daerah Leuwi Goong, Pak,” jawab pria muda bertubuh kurus itu.
Entah kenapa, tiba-tiba Gandhi berinisiatif untuk bertanya lagi pada pemuda kurus tadi. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam saku kemeja putihnya. Gandhi menunjukkan foto tadi pada pemuda tersebut. “Apa Adek tahu ini gunung apa dan ada di daerah mana?” tanya Gandhi lagi.
Si pemuda terdiam sejenak sambil memperhatikan foto tersebut. Raut wajahnya seakan tengah mengingat-ingat, atau mungkin memastikan sesuatu. “Sebentar, Pak. Saya panggilkan teman saya dulu,” ucapnya setelah beberapa saat terdiam. Gandhi pun mengangguk setuju.
Tak berselang lama, pemuda tadi kembali dengan membawa seorang pemuda lain yang merupakan rekan sepekerjaan, berperawakan tak jauh berbeda dengan dirinya. Dia lalu meminta Gandhi untuk menunjukkan foto yang tadi diperlihatkan kepadanya. “Apal teu? (Tahu tidak?)” tanyanya pada pemuda yang satu lagi.
“Oh, eta mah jiga Gunung Tampiraga (Oh, itu seperti Gunung Tampiraga),” jawab pemuda itu. ”Paling sekitar satu kilometer lagi dari sini, Pak. Bapak lurus saja terus mengikuti jalan besar. Setelah nanti menemukan bundaran yang ada air mancurnya, Bapak ambil jalur kiri.” Pemuda tadi memberi arahan kepada Gandhi, yang saat itu seketika melepaskan wajah lusuh dan sorot lelah karena hampir putus asa. Tak berbeda dengan Gandhi, Wening pun terlihat sumringah mendengarnya.
“Terima kasih, Dik,” ucap Gandhi dengan senyum lebar. Dia merogoh saku belakang celana panjangnya dan mengambil dompet. Gandhi mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, kemudian dia berikan kepada mereka. Kedua pemuda tadi menerima pemberian Gandhi dengan ekspresi tak terkira. Mereka tak menyangka jika akan mendapatkan rezeki tak terduga pada petang itu.
Kedua pemuda tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Gandhi dan juga Wening. Namun, mereka tak tahu justru sebenarnya Gandhi dan Wening lah yang teramat berterima kasih terhadap mereka.
“Syukurlah, Pak. Akhirnya kita mendapatkan petunjuk dengan tidak sengaja,” ucap Wening merasa lega.
“Raline pasti dalam keadaan aman. Ada leluhur kita yang akan menjaganya dengan baik.” Wening terus mencoba menenangkan pria yang sangat dicintainya.
Beberapa saat berlalu, makanan yang mereka pesan pun datang. Gandhi dan Wening segera menyantapnya. Mereka harus makan agar tenaga kembali terisi serta dapat menghadapi segala hal yang akan terjadi, dan tentunya belum dapat diprediksi. Seusai santap malam dan membayar semuanya, pengantin baru tersebut kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah yang tadi diberitahukan oleh pemuda di warung makan.
Gandhi tampak jauh lebih bersemangat dari sebelumnya, begitu juga dengan Wening. Dia pun terlihat berkonsentrasi dan mungkin tengah mencoba untuk mencari gambaran, tentang hal apa saja yang kira-kira akan mereka temukan.
Tanpa terasa, mereka telah tiba di bundaran dengan air mancur. Gandhi mengarahkan mobilnya ke sebelah kiri. Tak jauh dari jalanan yang mereka lewati, tampaklah gunung yang sejak tadi mereka cari.
Gunung Tampiraga, merupakan sebuah gunung kapur setinggi dua ribu seratus enam puluh empat meter di atas permukaan laut. Gunung itu terlihat gagah dengan pepohonan yang cukup rimbun. Dari arah jalan besar, terdapat sebuah jalanan yang jauh lebih kecil dan hanya dapat dilalui satu mobil saja. Jalanan itu pun bukanlah berupa jalur beraspal, melainkan hanya jalanan dengan batuan kapur yang melapisinya.
Gandhi juga tidak bisa membawa mobilnya terus masuk, mengikuti jalur yang biasa dilewati mobil pengangkut batu kapur tersebut. Dengan terpaksa, dia menghentikan laju mobilnya di tengah perjalanan. “Kita harus turun di sini. Mobilku tidak bisa dibawa masuk terlalu dalam,” ujar Gandhi. Dia melepas sabuk pengaman dan bergegas keluar dengan diikuti oleh Wening.
Suasana di sekitar sana begitu gelap. Satu-satunya pencahayaan hanya dari lampu sorot yang sengaja Gandhi nyalakan dari mobilnya. Mereka berdua berdiri saling berdampingan seraya menghadap gunung kapur tinggi menjulang, bagaikan tangan seorang raksasa yang hendak menangkap keduanya dalam satu genggaman.
“Apakah Raline benar-benar ada di sana?”
tanya Wening dengan setengah bergumam.
“Seperti itulah yang dikatakan oleh leluhurmu yang bernama Paundra,” jawab Gandhi. Dia lalu kembali ke mobil dan membuka pintu belakang. Dari sana, pria itu mengambil beberapa peralatan seperti senter dan lain-lain.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Gandhi kepada Wening, yang masih terpaku memperhatikan gunung di hadapannya dengan sangat lekat. Entah apa yang tengah menjadi pusat perhatian Wening saat itu. Dia masih belum beranjak, meskipun Gandhi sudah mematikan lampu sorot dari mobilnya.
“Ayo, Wening,” ajak Gandhi. “Apalagi yang kau tunggu?” tanyanya karena Wening masih terus terpaku. Gandhi yang sudah melangkah maju kembali berbalik dan mulai terganggu dengan sikap aneh istrinya. “Apa yang sedang kau perhatikan?” tanya pria itu lagi.
Wening tak menjawab pertanyaan Gandhi. Wanita muda tersebut hanya menunjuk ke arah puncak gunung. Di sana terlihat cahaya yang mirip dengan sebuah kobaran api. Hal itu tampak sangat jelas, dalam keadaan sekelilingnya yang gelap gulita.
“Apa itu?” desis Gandhi dengan penekanan yang dalam.
“Itu adalah api ritual pengorbanan,” jawab Wening yang seketika membuat Gandhi terbelalak sempurna saat mendengarnya.