Wening

Wening
Pertarungan Iblis Rongke



"Raline," desis Gandhi dengan tatapan tajam mengarah pada cahaya di atas puncak Gunung Tampiraga. Tanpa banyak bicara, dia bergegas meraih tangan Wening, kemudian menarik wanita itu untuk segera mengikutinya. Wening pun akhirnya tersadar. Dia segera mengikuti Gandhi yang melangkah dengan pasti meskipun suasana di sekeliling mereka begitu gelap. "Hati-hati dengan langkahmu," ucap Gandhi mengingatkan.


Wening mengangguk. Dia terus mengekor langkah sang suami dari belakang, menyusuri jalanan yang sepenuhnya terbuat dari lapisan batu kapur. Saat itu, mereka masih menyusuri alur yang biasa dilalui oleh truk-truk pengangkut. Keduanya juga sudah melewati lahan yang menjadi area penambangan.


Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, jalanan yang mereka lewati juga menjadi semakin kecil dan lebih tepat disebut sebagai jalan setapak. Jalur kecil itu ditumbuhi semak belukar dengan pepohonan yang rindang dan membuat suasana semakin rimbun. Pekat menyimuti sekitarnya. Cahaya dari senter yang Gandhi arahkan seakan tak berpengaruh sama sekali.


Gandhi tertegun untuk sejenak. Dia mengarahan pandangannya pada sekeliling tempat itu. Tak ada jalan yang terlihat dapat mereka lalui, karena di sana hanya ada tebing-tebing curam. "Bagaimana caranya kita bisa sampai ke puncak gunung ini?" gumam pria tersebut mengarahkan cahaya senternya ke segala arah. Dia yang terbiasa hidup di perkotaan, kini dihadapkan pada situasi seperti saat ini.


"Bagaimana jika kita coba menerobos kebun talas di sana," cetus Wening menunjuk pada sebelah kanan mereka yang berupa perkebunan talas dengan kontur tanah landai.


"Apa kamu yakin?" Gandhi terdengar ragu. "Maksudku, haruskah kita menerobos pohon talas yang tinggi itu?” Gandhi terdiam sejenak. “Baiklah, mungkin kamu benar." Pria itu melangkah hati-hati dengan diikuti Wening.


Keduanya menyibakan setiap daun talas lebar yang mereka lewati. Sesekali, sepasang suami-istri tersebut melihat ke bawah, pada tanah yang mereka pijak agar jangan sampai bertemu dengan hewan melata yang berbahaya.


Beberapa saat lamanya Wening dan Gandhi menyusuri perkebunan talas dengan susah payah, karena kondisi tanah yang miring. Namun, setelah mereka semakin jauh masuk ke dalam hutan, hawa mistis kian terasa.


Gandhi tiba-tiba menghentikan langkah. Dia mengisyaratkan kepada Wening yang berada tak jauh darinya agar berhenti. Pria itu juga mematikan senter yang tengah dipegangnya, sehingga di sana benar- benar tak ada cahaya sama sekali.


Kedua sejoli itu terpaku di tempat masing-masing, saat terdengar sebuah dengusan napas kasar dan lebih mirip seperti suara pria yang sedang tertidur sambil mendengkur. Seketika bulu kuduk keduanya meremang, tatkala menyadari ada sesuatu yang lewat tepat di hadapan mereka, karena suara dengkuran itu terdengar dengan begitu jelas.


Gandhi sudah bersiap merogoh badik pusaka yang tersembunyi di dalam saku celana panjangnya. Pria itu telah memegangi gagang badik, tetapi belum mengeluarkan benda tersebut. Dia tak dapat memastikan makhluk apa yang mendekati mereka saat itu.


Gandhi juga sangat mengkhawatirkan Wening yang berada beberapa langkah darinya. Dia tak bisa melihat sang istri dengan jelas karena suasana yang gelap gulita. Sementara, suara dengkuran tadi terdengar semakin keras dan mendekat ke arah mereka.


Rasa khawatir yang kian membesar, membuat Gandhi harus melakukan sesuatu. Dia berinisiatif menyalakan senter dan mengarahakannya ke depan, bersamaan dengan munculnya sosok mengerikan yang segera menerkam ke arahnya sehingga membuat pria itu terjengkang. Senter yang dia pegang pun terjatuh, tapi untungnya Gandhi tak sampai menjatuhkan badik yang masih berada di dalam saku celana panjang. Gandhi tergelincir beberapa meter, karena serangan makhluk tadi.


Suara dengkuran itu terdengar makin menjadi. Sepertinya makhluk menyeramkan tadi merasa terusik hingga marah. Dia yang dapat bergerak dalam gelap, terus menyerang Gandhi yang masih berusaha untuk bangkit dan menahan dirinya agar tak semakin tergelincir ke bawah. Di saat Gandhi sedang merasa kesulitan, tiba-tiba muncul cahaya keemasan yang terang benderang dan menyibakkan suasana pekat di sana.


Kini tampaklah dengan jelas wujud dari makhluk mengerikan yang telah menyerang Gandhi. Makhluk itu bertubuh seperti singa dengan kepala manusia, tepatnya seorang wanita berambut lebat serta panjang, dan bulu berwarna kusam. Kulit wajahnya terlihat putih dengan beberapa kerutan yang menghitam.


Makhluk tadi menyeringai ke arah cahaya terang, yang membuat dia merasa semakin terganggu. Bibirnya yang berbentuk aneh dan selalu terbuka, tampak meneteskan cairan berupa lendir yang terlihat sangat menjijikan. Dengkuran napasnya pun kian tak beraturan.


"Menjauhlah iblis Rongke! Jika tidak, maka kau akan menerima akibatnya dariku!" ancam Wening dengan cahaya keemasan yang memancar dari seluruh tubuhnya.


Akan tetapi, makhluk yang ternyata bernama iblis Rongke tadi bukannya menurut dan mundur. Dia justru malah berbalik menyerang ke arah Wening. Dengan suara dengkurannya yang semakin nyaring, iblis Rongke bermaksud untuk menerkam ke arah wanita berselubung cahaya keemasan tersebut.


Sigap, Wening segera menghindar sehingga iblis Rongke tersungkur pada tempat yang kosong. Hal itu membuatnya menjadi semakin murka. Iblis Rongke berbalik dan kembali menghadap kepada Wening. Dia mengaum seperti singa. Suara aumannya terdengar begitu memekakkan, sehingga Gandhi harus menutupi kedua telinga rapat-rapat. Namun, tidak dengan Wening. Dia hanya menahan sedikit getaran yang membuat tubuhnya terguncang.


Dalam situasi seperti itu, iblis Rongke kembali menyerang. Akan tetapi, kali ini Wening menangkap rambut panjang iblis tersebut dan mencengkeramnya dengan kuat. Setelah itu, dia menghempaskan tubuh singa berkepala manusia tadi hingga menabrak sebatang pohon albasia, dengan diameter cukup besar yang tumbuh di tengah-tengah lautan kebun talas.


Iblis Rongke mengerang kesakitan. Dia kembali bangkit dan lagi-lagi mencoba untuk menerkam ke arah Wening. Tampak tenang, Wening merentangkan tangan lurus dengan telapaknya yang langsung menghadap pada wajah iblis tersebut. Sebuah gambar trisula dalam lingkaran muncul di sana. Gambar itu memancarkan cahaya yang menyilaukan, dan langsung tertuju pada sepasang mata bulat iblis Rongke.


“Menyerahlah, karena kau bukan tandinganku.” Suara Wening terdengar lembut, tapi begitu menggema dan penuh wibawa.


Namun, iblis Rongke sepertinya tak ingin tunduk begitu saja. Dia masih berusaha memberikan gertakan kepada Wening dengan menunjukkan seringainya. Cairan lendir menjijikan pun terus menetes dari mulut yang dihiasi gigi tajam dan taring runcing.


Tak ada pilihan lain bagi Wening. Dia segera memegangi kepala iblis Rongke, kemudian mematahkan salah satu tanduk yang tumbuh di sana. Iblis itu pun mengerang keras karena kesakitan yang luar biasa. “Kau yang memaksaku melakukan ini,” ucap Wening lagi. Sementara Gandhi yang tadi sempat tergelincir, kini sudah kembali. Dia tertegun melihat pemandangan di hadapannya.


“Aku berjanji akan mengembalikan tandukmu. Akan tetapi, dengan satu syarat,” ucap Wening lagi masih dengan suaranya yang lembut dan menggema. “Antarkan kami ke puncak gunung ini, pada api pemujaan yang sedang menyala di sana,” pinta Wening lagi, membuat iblis Rongke mau tak mau harus menurutinya.


Makhluk buas yang terlihat menyeramkan tadi menggeram keras. Dia menunjukan deretan giginya pada Wening. Sesaat kemudian, iblis itu pun berjalan mendahului wanita itu yang langsung memberi isyarat kepada Gandhi agar segera mengikutinya.


Gandhi mengangguk setuju. Dia tak memerlukan lagi senter yang telah terjatuh entah ke mana, karena cahaya dari tubuh Wening pun sudah sangat membantunya dalam berjalan. Satu keanehan terjadi, ketika tanah yang mereka pijak tak lagi landai. Keduanya juga tidak lagi menyusuri perkebunan talas tadi, melainkan sebuah jalan setapak dengan rumput liar di sepanjangnya.


Iblis Rongke terus menuntun keduanya hingga beberapa saat, hingga mereka tiba di sebuah pelataran dengan altar dari batu. Tampaklah tubuh Raline yang terbaring di atasnya.