Wening

Wening
Bocah di Atas Kolam



Anggita yang saat itu tengah dirasuki seseorang, kemudian duduk bersimpuh. Kepalanya bergerak dengan gemulai. Terkadang dia menunduk, lalu mendongak dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Sesaat kemudian, gadis itu tertawa mengikik dan membuat siapa pun yang mendengar pasti akan langsung merinding.


Namun, tidak demikian dengan Wening yang kini sudah dirasuki aura Nirwasita. Gadis itu menatap tajam ke arah Anggita. Dia sedang menelisik sosok yang tengah merasuki gadis itu. Tak berselang lama, Wening pun menyebutkan satu nama. "Ratna?"


"Ya, ini aku ...." Suara serak yang keluar dari mulut Anggita terdengar begitu parau. Helaan napasnya pun tak beraturan dan agak berat. "Aku sedih, Wening ...." Suara serak itu terdengar lagi bagaikan sebuah hembusan angin.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Wening tanpa mengalihkan pandangannya dari Anggita, yang ternyata dirasuki arwah Ratna. Gadis itu kembali tertunduk dan membiarkan rambut panjangnya terjatuh ke depan, sehingga makin menutupi wajah pucat tadi.


"Seseorang Wening. Dia memberikanku pada iblis yang dipujanya," jawab Ratna yang berada dalam tubuh Anggita.


"Seseorang itu punya nama, Ratna," ujar Wening menegaskan. Sedangkan Ratna kembali tertawa mengikik. Akan tetapi, sesaat kemudian dia terisak pelan. Wening pun mendekat dan menurunkan tubuhnya di di hadapan Anggita yang masih tertunduk.


"Aku tidak tahu siapa, Wening. Dia adalah seseorang yang pasti akan dilaknat Tuhan, karena telah bersekutu dengan iblis. Kematianku begitu dipaksakan dan tak kukehendaki sama sekali. Bantu aku. Aku ingin terlepas dari rasa penasaran ini," ucap Ratna lagi masih dengan suara paraunya yang semakin berat.


"Aku akan membantumu sebisaku. Kau kehendaki atau tidak kematian ini, sadarlah bahwa itu merupakan takdir. Terima saja. Orang yang telah melakukan kekejian itu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal," ujar Wening.


"Lepaskan semua amarahmu. Bebaskan hatimu dari rasa penasaran akan dunia. Setelah itu, beristirahatlah dengan tenang," lanjut Wening lagi dengan nada bicara yang terdengar berbeda. Seketika cahaya putih muncul dan menyelubungi seluruh tubuhnya. Dia lalu menyentuh pucuk kepala Anggita yang tengah tertunduk.


"Tolong sampaikan permintaan maaf pada ibuku. Katakan padanya bahwa selama ini diam-diam aku berpacaran dengan seseorang bernama Arifin, dan dia sudah melamarku satu bulan yang lalu. Akan tetapi, aku belum sempat berbicara kepada ibu."


Terenyuh hati kecil Wening mendengar hal itu. Dia mengangguk pelan tanpa melepaskan tangannya dari kepala Anggita. "Pergilah, Ratna. Aku akan menyampaikan pesanmu," ucap Wening.


Bersamaan dengan itu, sekumpulan asap berwarna hitam keluar dari tubuh Anggita. Asap tersebut membumbung tinggi kemudian menguar dan sirna seketika.


Beberapa saat kemudian, tubuh Anggita pun tergeletak di lantai. Gadis itu tak sadarkan diri. Sementara cahaya putih dari tubuh Wening juga telah menghilang.


Wening terdiam sejenak menatap Anggita yang masih tergeletak di lantai. Dengan susah payah, dia mengangkat tubuh sang rekan ke atas tempat tidur dan membaringkannya. Setelah itu, dia menyelimuti tubuh Anggita.


Wening terduduk sejenak di tepian tempat tidur. Dia memikirkan ucapan Ratna yang mengatakan bahwa gadis itu telah ditumbalkan oleh seseorang yang tidak dia sebutkan namanya. Hal tersebut membuat rasa penasaran dalam diri Wening kian besar.


Gadis itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Anggita dan kembali ke kamar Raline. Di sana, dia melihat Raline sudah tertidur nyenyak. Perlahan, Wening mendekat dan duduk di samping ranjang gadis belia tersebut.


Disentuhnya leher dan pergelangan tangan gadis manis putri dari pria yang kini mengisi hatinya, meskipun hubungan itu belum mereka ikrarkan di depan umum. Wening tersenyum saat merasakan bahwa denyut nadi Raline ada dalam keadaan normal dan stabil.


Sesaat kemudian, dia lalu berdiri dan menghadap jendela kamar Raline yang mengarah ke kolam renang. Wening bermaksud untuk menutup rapat tirainya, sampai terlihat sesuatu yang mencurigakan di permukaan kolam renang. Cukup lama dia mengamati, hingga akhirnya memutuskan untuk keluar mendekat ke kolam renang itu.


Wening melongok sampai dia bisa melihat bayangan wajahnya di atas permukaan air kolam yang jernih dan kebiruan. Akan tetapi, tak ada apapun di sana. Dia mencoba untuk memastikan sekali lagi dengan mencelupkan tangannya ke dalam air. Terasa hangat.


Hal yang aneh karena kolam renang milik Gandhi bukanlah kolam air panas. Wening mencelupkan tangannya sekali lagi. Kali ini tak hanya terasa hangat, melainkan panas mendidih.


Wening juga tak bisa berteriak. Entah kenapa, suaranya seakan tercekat dan terkunci di tenggorokan. Dalam kalutnya, yang terlintas saat itu hanyalah wajah tampan Gandhi. Dia berusaha untuk menyembulkan kepala ke permukaan. Namun, ada sesuatu yang kembali menarik tubuhnya hingga tenggelam. Gadis itu meronta dan terus berusaha untuk melawan. Tarikan itu terlalu kuat, sehingga pada akhirnya Wening pun mengalah.


Beberapa menit di dalam air, hampir saja Wening kehabisan napas dan tak sadarkan diri. Tubuhnya mulai tenggelam ke dasar sampai seseorang menariknya sekuat tenaga ke permukaan. Samar-samar, tampak wajah Gandhi yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


Namun, suasana menjadi gelap sesaat. Wening seolah terhempas ke ruang hitam tak berujung dan tak berdasar. “Pak Gandhi?” teriaknya. Akan tetapi, tak ada jawaban. Tak ada siapa pun di sana. Suaranya pun terdengar memantul.


Tak berselang lama, muncul seberkas cahaya keemasan yang awalnya kecil kemudian makin lama tampak semakin membesar dalam waktu singkat. Sesosok wanita cantik dengan wajah persis dengan Wening berdiri tepat di hadapannya. Dari seluruh tubuh wanita itu mengeluarkan sinar keemasan.


“Dia tak akan bisa membunuhmu, Wening. Kau terlalu kuat untuk menjadi lawannya,” ucap wanita itu lembut. Namun, cara bicaranya terdengar penuh wibawa.


“Ka-kau siapa?” Wening mulai ketakutan. Dia seakan melihat bayangannya sendiri di cermin.


“Aku tak perlu susah-susah lagi mendatangi tubuhmu. Detik ini juga, akan kuserahkan seluruh kekuatanku padamu, Wening. Kau sudah benar-benar siap sekarang. Aku bisa merasakan hal itu.” Tangan wanita cantik tadi bergerak lurus sampai telapaknya menyentuh dada kiri Wening.


“Akulah Nirwasita. Seseorang yang selama ini hanya menjadi cerita dan mungkin terkadang tak kau sadari kehadiranku dalam dirimu. Kini, aku ada di hadapanmu untuk memberikan semua kekuatan dan kekuasaan yang kumiliki. Sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi milikmu, Wening,” ucapnya dengan mata terpejam.


Sementara Wening tampak semakin kebingungan. “Apa? Kau ... Nirwasita?” Wening terbelalak, ketika melihat sosok asli leluhurnya tersebut.


Sementara wanita itu hanya membuka mata dan tersenyum lembut. Akan tetapi, dia tak menjawab. Wanita berbalut cahaya keemasan tadi kembali memejamkan matanya. Sedangkan tangan halus itu semakin menekan kuat ke dada Wening.


Kepulan asap muncul dari sela-sela jari Nirwasita, ditambah dengan cahaya emas menyilaukan yang makin membuat dada Wening terasa panas dan kian sesak. “Bertahanlah,” bisik Nirwasita. “Sedikit lagi," ucapnya kemudian tanpa mengubah posisi.


Wening meringis tatkala mendapat perlakuan demikian. Dia tak kuasa menahan gelombang panas itu untuk lebih lama lagi. Sekuat tenaga gadis cantik tersebut berusaha untuk kembali meneriakkan nama Gandhi, meskipun apa yang dilakukannya hanya sia-sia.


“Bertahanlah, Wening!” seru Nirwasita, bersamaan dengan cahaya emas yang tiba-tiba berubah menjadi putih sempurna dan merasuk ke tubuh Wening.


Gadis cantik itu terbelalak ketika merasakan aliran energi yang luar biasa besar memenuhi tiap-tiap sel tubuh dan menjelma menjadi kekuatan dahsyat. Seketika penampilan Wening pun berubah. Rambut dan kedua matanya menjadi putih sempurna dengan tubuh yang berbalut cahaya keemasan yang terlihat begitu terang dan menyilaukan.


Wening membuka mulutnya lebar-lebar. Dia memekik keras, sedangkan Nirwasita juga melakukan hal yang sama. “Hadapi dia yang telah berusaha mencelakaimu, Anakku! Lawan dan hancurkan!” Teriakan itu membahana, menggetarkan gendang telinga Wening sampai berdenging.


“Bangkitlah, keturunan Paundra!” seru Nirwasita sebelum akhirnya menghilang.


Seketika Wening membelalakan kedua mata. Wajah cantik itu mendongak dan menatap lapisan permukaan air yang berada di atasnya. Tubuh Wening terasa begitu ringan, sehingga membuatnya mudah sekali meluncur ke atas kemudian melompat setinggi mungkin dan mendarat di tepian kolam renang.


Wening segera berbalik dan menajamkan penglihatan, ketika dia merasakan bahwa ada seseorang atau mungkin sesuatu yang tengah mengawasi dirinya. Saat itu, pandangan matanya terkunci pada seorang bocah laki-laki dengan wajah sendu. Dia menatap tak berkedip kepada Wening dengan sepasang mata yang berwarna hitam.


Tubuh bocah itu melayang di atas kolam renang. Sesekali dia terisak sambil mengusap matanya. “Ibu yang menyuruhku. Katanya, aku harus segera mempersembahkan kepalamu,” ucapnya lagi.