Wening

Wening
Air Mata Darah



Sore itu, Wening hendak menuju ke paviliun yang dia tempati, karena beberapa barangnya memang masih berada di sana. Sebelum menuju ke paviliun, Wening harus lewat di depan dapur terlebih dahulu. Saat itu, dia melihat bi Lastri yang tengah menyiapkan menu makan malam untuk Raline dan yang lainnya. Biasanya, bi Lastri menyiapkan menu khusus untuk gadis belia itu. Menu juga biasanya disesuaikan dengan anjuran dari dokter.


“Masak apa, Bi?” tanya Wening yang tiba-tiba berdiri di belakang wanita paruh baya berdaster batik itu.


Bi Lastri tersentak. Dia terkejut luar biasa sampai-sampai hampir menjatuhkan centong sayur yang tengah dipegangnya. “Aduh, Neng. Jangan buat Bibi jadi kaget seperti itu,” bi Lastri berkali-kali mengelus dada. Sesaat kemudian, dia kembali melanjutkan pekerjaan.


“Itu untuk siapa?” tunjuk Wening pada semangkuk sup yang sudah tersedia di atas nampan.


“Ini untuk neng Raline. Dibiarkan dulu agar menjadi anget kuku. Neng Raline tidak suka kalau supnya terlalu panas,” jelas bi Lastri dengan logat sundanya yang kental.


Wening mengangguk. “Ya, sudah. Saya ke kamar dulu,” ucapnya. Gadis itu pun berbalik dan bermaksud untuk melanjutkan langkahnya menuju paviliun. Akan tetapi, langkah Wening tiba-tiba terhenti ketika dia melihat gerak-gerik aneh yang dilakukan bi Lastri. Ekor mata titisan Nirwasita itu menangkap sesuatu yang dirasa tak wajar. Wening pun menghentikan langkah dan kembali menghampiri asisten rumah tangga itu. “Bibi sedang apa?” tanyanya lagi-lagi membuat bi Lastri terkejut.


“Bibi kira Neng Wening sudah pergi,” bi Lastri tidak menjawab pertanyaan Wening.


“Saya bertanya tadi. Apa yang Bibi masukan ke dalam makanan untuk Raline?” selidik Wening serius. Sorot mata gadis itu terlihat sangat tajam dan membuat wanita paruh baya berdaster merah dengan corak batik itu menjadi sedikit gelagapan.


“Oh, itu Neng ... anu ... itu ... vitamin,” jawab bi Lastri tergagap. Dia mungkin merasa gugup karena melihat sikap dan juga tatapan Wening yang tegas.


Wening semakin mendekat. “Vitamin apa maksud Bibi?” selidik Wening lagi. “Siapa yang menyarankan? Dokter Sena?” ia terus mencecar wanita bertubuh agak gemuk itu.


“I-itu, bukan,” wanita itu semakin terlihat gelisah. Tanpa sadar dia berjalan mundur beberapa langkah. Satu tangannya tampak menjatuhkan sesuatu.


“Apa itu?” sigap Wening memungut kantong plastik kecil polos. Diamatinya kantong itu, lalu didekatkannya ke hidung. Penciumannya menajam, mengendus aroma khas yang menguar dari plastik tadi. “Bungkus vitamin tidak seperti ini, Bi! Katakan apa ini?” desaknya dengan sorot mata menyala.


“Sa-saya tidak tahu, Neng. Su-suster Ratna yang memberikannya pada saya. Dia bilang itu vitamin u-untuk neng Raline,” bi Lastri terbata dengan mata yang berkaca-kaca.


“Suster Ratna?” ulang Wening. Dia semakin mendekatkan dirinya kepada bi Lastri. “Katakan apa yang terjadi, Bi!” desisnya. Aura yang memancar dari dalam tubuh Wening terasa menakutkan bagi bi Lastri.


“Saya berani bersumpah, Neng. Suster Ratna mengatakan bahwa itu resep dari dokter Sena,” bi Lastri mulai terisak.


Seketika, aura Nirwasita menghilang dan tergantikan oleh Wening. “Maaf, Bi. Saya tidak bermaksud membentak,” Wening merasa tak enak terhadap wanita paruh baya itu. Dia lalu mengusap kedua lengan bi Lastri dengan lembut. “Saya akan coba tanyakan hal itu kepada suster Ratna. Bibi tenang saja, ya,” bujuknya.


“Tolong jangan laporkan hal ini kepada pak Gandhi, Neng,” pinta Bi Lastri mengiba, sementara Wening hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman datar. Gadis itu kemudian menggeleng. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera berbalik dan meninggalkan bi Lastri yang termangu sendirian di dapur. Wening melanjutkan langkah menuju paviliun. Dalam pikiran Wening saat itu, suster Ratna pasti sedang berada di ruangan kamarnya.


Saat melintasi kolam renang, aura Nirwasita kembali hadir. Kali ini dia membawa energi yang berkali lipat dari biasanya. Tanpa mengetuk pintu, Wening mendobrak pintu ruangan suster Ratna begitu saja.


“Suster Ratna!” seru gadis itu cukup lantang. Matanya menyapu ruangan kamar yang berantakan. Tas ransel, koper beserta isinya terburai, berserakan begitu saja di atas lantai. Akan tetapi, tak terlihat sosok suster Ratna di sana.


“Suster Ratna!” panggil Wening lagi. Rasa curiga mulai menyelimuti pikirannya. Dengan hati-hati, Wening memasuki kamar itu dan mencari rekannya di sana.


Wening membuka satu pintu yang menjadi sekat antara ruang berisitirahat dengan kamar mandi. Dibukanya pintu itu sambil kembali memanggil nama suster Ratna.


Namun, seketika Wening tertegun. Dia melihat suster Ratna dalam keadaan telentang di dalam bath up. Posisi kepalanya menengadah, sedangkan kedua mata wanita muda itu separuh terbuka dan menatap ke langit-langit.


“Kau sedang apa?” tegur Wening.


Bukannya menjawab, suster Ratna malah tertawa lirih dengan posisi yang tetap sama. “Jangan sok, Wening,” ujarnya pelan. “Jangan karena kau suster yang lebih senior dariku, sehingga kau bisa berbuat sesukamu,” imbuhnya.


“Aku hanya ingin menanyakan apa yang dokter Sena perintahkan padamu!” tegas Wening.


“Apa maksudmu?” suster Ratna mulai menoleh dan menatap tajam padanya.


“Apa dokter Sena menyuruhmu mencampurkan zat tak jelas ke dalam makanan Raline?” Wening tak mengindahkan sindiran suster Ratna.


“Dengar ya, manusia aneh! Aku tidak mengerti maksudmu! Dokter Sena tidak pernah menyuruh untuk mencampurkan vitamin ke dalam makanan! Semua vitamin harus ditelan secara langsung!” sanggahnya dengan nada meninggi.


Suster Ratna berdiri dari bath up dengan kondisi tubuh tanpa sehelai benang pun. Dia menghadapkan dirinya pada Wening sambil berkacak pinggang dengan mata memerah.


“Kenapa matamu?” tanya Wening datar.


“Jangan mengalihkan pembicaraan!” sentak suster Ratna. Kali ini tak hanya memerah, matanya juga mulai berair. Air itu kemudian menetes dari sudut mata. Namun, bukan tetes bening yang keluar dari sana, melainkan darah. Suster Ratna mulai menyadari bahwa ada yang tak beres dengan dirinya. Dia pun mengusap wajah dan mencium bau anyir membasahi pipinya.


“Apa ini?” perhatian suster Ratna teralihkan pada telapak tangannya yang sudah penuh dengan noda merah. “Kenapa dengan mataku? Kau apakan mataku, Wening?” pekiknya histeris.


Wening yang menyadari ada yang tak beres dengan rekannya itu memilih untuk memejamkan mata. Dalam keadaan begitu, dia bisa melihat ada sesuatu yang menempel di balik tubuh molek suster Ratna. Sebuah bayangan hitam bersembunyi di belakang gadis itu.


Wening menyeringai dan berjalan mendekati suster Ratna yang masih kebingungan dan histeris.


“Apa, apa yang kau lakukan?” suster Ratna meringis ketika merasakan darah semakin deras keluar dari bola matanya.


Gerakan Wening begitu tenang. Telapak tangannya menempel di dahi suster Ratna. Beberapa saat lamanya Wening terpejam dan terdiam. Suster Ratna mulai merasakan


telapak tangan Wening yang memanas.


“Hentikan!” dia berusaha melepaskan tangan Wening yang kuat menempel di dahinya.


“Ssh. Diamlah, Ratna!” sentak Wening seraya mengusap dahi suster Ratna perlahan. Apa yang Wening lakukan saat itu membuat bayangan hitam itu berpindah menjauh dan menghilang, menguap begitu saja bagaikan kabut pagi yang terkena panas matahari.


“Bagaimana ini? Apa yang terjadi?” suster Ratna mulai terisak.


“Sudah tidak apa-apa. Bukalah matamu,” suruh Wening.


Setengah ketakutan, suster Ratna menurut dan membuka mata. Dirabanya pipi dan seluruh permukaan wajah. Air darah sudah berhenti mengalir, menyisakan bau menyengat.


“Cucilah wajahmu!” perintah Wening.


Lagi-lagi suster Ratna menurut. Dia meraup air dari bath up dan membasuh wajahnya hingga bersih. Tampak jemarinya gemetaran setelah baru saja mengalami kejadian tak masuk akal.


“Sudah. Tidak apa-apa,” aura Nirwasita menghilang. Wening kembali menjadi dirinya lagi. Dia pun bergegas meraih handuk dan melilitkannya ke tubuh suster Ratna.


“Ayo,” Wening membantu suster Ratna keluar dari bath up. Dia terus menuntun sang rekan ke arah ranjang, lalu mendudukkannya di sana. “Pakailah bajumu,” Wening memungut baju seenaknya dari dalam koper dan memakaikannya pada suster Ratna.


“Siapa yang menugaskanmu kemari?” tanya Wening sambil membantu memasangkan baju di tubuh suster Ratna.


“Pak Gandhi saat itu membutuhkan perawat, lalu suster kepala memilihku,” jawab suster Ratna lirih dan gemetar.


“Baiklah, tidak apa-apa. Sekarang berkemaslah. Mulai besok, aku akan meminta pada pak Gandhi untuk meminta kepada suster kepala,” tutur Wening lembut.


“Meminta apa?” suster Ratna mengernyitkan dahinya keheranan.


“Meminta menggantikanmu dengan Anggita. Kau sudah tidak aman di sini, Ratna. Ada makhluk yang sepertinya tak mau lepas dari dirimu. Dia menempel bagaikan parasit,” jelas Wening, membuat suster Ratna terhenyak.