Wening

Wening
Pertarungan Terakhir



Wening segera bertindak dengan melompat ke depan. Tangannya yang terkepal, dia tinjukan pada perisai tak kasat mata yang mengelilingi tubuh Raline. Beberapa pukulan dia hantamkan, hingga perisai tadi terbelah. Wening pun dapat dengan mudah masuk dan mendekati tubuh Raline.


Akan tetapi, apa yang Wening lakukan sepertinya sudah terlambat. Wajah manis nan polos Raline, kini sudah berubah menjadi raut bengis serta menakutkan. “Kau terlambat, Nirwasita,” desisnya. “Butuh waktu selama tiga hari, hingga jiwa lezat Ratna dapat kucerna dan melekat sempurna padaku. Setelah ini, aku tak akan terkalahkan lagi!” Kalajanggi tertawa lebar dan sangat percaya diri. Suaranya terdengar begitu melengking. Dia lalu menoleh kepada Lastri yang terus diserang oleh Gandhi. Kalajanggi memperhatikan sejenak kedua orang yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit itu.


“Kau tak akan pernah bisa melukaiku, Nirwasita! Jika kau menyakitiku sedikit saja, maka itu artinya dirimu akan menyakiti tubuh rapuh gadis ini. Lalu, andai kulitku tergores, itu sama saja kau menggores tubuh anak tirimu ini.” Kalajanggi kembali tertawa terbahak-bahak. Dia begitu senang karena merasa di atas angin. Kalajanggi yakin bahwa Wening tak akan sanggup untuk menyerang apalagi mengalahkannya, karena harus mempertimbangkan keselamatan Raline juga.


Wening terdiam sejenak seraya berpikir keras. Bagaimanapun caranya, dia harus menyelamatkan Raline. Wening harus dapat mengeluarkan Kalajanggi yang merasuki tubuh gadis belia itu. Satu-satunya jalan adalah dengan membangkitkan kekuatan yang ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Namun, Wening masih belum dapat menemukan caranya. Wanita itu lagi-lagi berpikir dengan dalam.


Saat Wening terdiam seperti itu, Kalajanggi memanfaatkan hal tersebut untuk segera menyerang. Tangannya yang berkuku runcing, tiba-tiba memanjang dan bergerak membelit badan Wening dengan kencang.


Spontan, dia memancarkan cahaya dari dalam tubuhnya. Cahaya tadi telah berhasil melukai kulit tangan yang melingkar. Beberapa bagian kulit dari tangan hingga lengan Kalajanggi hangus dan menghitam.


“Aw, sakit!” pekiknya.


Wening begitu terkejut, karena bukan suara Kalajanggi yang dia dengar melainkan suara Raline. Dilihatnya tangan memanjang dan melingkar itu mulai longgar dan bergerak menyusut. Tangan itu kembali pada ukuran semula. “Raline!” seru Wening.


Gadis itu menoleh dan menatap Wening dengan sorot sendu. “Sakit, Kak.” Raline menunjukkan luka terbakar di salah satu sisi tangannya.


“Maafkan aku, Sayang.” Wening bergegas menghampiri Raline dan menyentuh lengannya.


Tak disangka, Raline segera menyeringai lalu mencekik leher Wening. “Kau bodoh sekali, Nirwasita! Perasaan ibamu telah menjadi sebuah kesalahan,” ledek Raline yang telah dirasuki lagi oleh Kalajanggi. Jemarinya kembali memanjang dan mencekik semakin kencang leher Wening.


“Ayo, bakar aku jika kau berani! Bakarlah anak tirimu,” tantang Kalajanggi.


Wening meringis kesakitan. Wajahnya memerah karena kesulitan mendapat oksigen. Leher pun terasa begitu nyeri, seperti hampir terlepas dari tubuh. “Raline, sadarlah. Lawan Kalajanggi. Keluarkan dia dari tubuhmu,” ucap Wening pelan. Kedua tangannya berusaha melepaskan tangan Kalajanggi dari leher.


Mata Wening memandang tajam pada sorot tatapan kosong Raline. “Raline, lawan dia.” Wening berbicara dalam hati, berharap putri sambungnya itu dapat mendengar.


“Raline.” Tak putus asa, Wening kembali memanggil dalam hati. Dia menggunakan telepati untuk dapat berkomunikasi dengan gadis itu.


Sesaat kemudian, tatapan kosong Raline mulai terisi. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Dia mulai menyadari kehadiran Wening di sana. Raline juga melihat ayahnya tengah bertarung dengan bi Lastri. “Kak,” balas Raline melalui telepati pula. “Aku terjebak, Kak. Kalajanggi mengunciku,” ucapnya tanpa suara.


Tangan berkuku runcing itu bergerak normal, seperti tangan seorang gadis pada umumnya.


Perlahan, Raline melepaskan cekikannya. “Ma-maaf, Kak. Aku tidak sadar,” sesal Raline yang setengah kebingungan.


“Tidak apa-apa, yang penting cepat keluarkan dia dari tubuhmu.” Wening menempelkan telapak tangan pada diri Raline. “Aku tak bisa menggunakan kekuatanku karena sama artinya dengan melukaimu,” jelasnya.


“Aku tidak bisa, Kak. Dia menguasaiku lagi,” rintih Raline sembari memejamkan matanya rapat-rapat.


Melihat hal itu, Wening tak tinggal diam. Tangannya makin menekan dada Raline, sampai muncul asap putih yang mengepul dari sela-sela jarinya.


Tubuh gadis remaja itu terlempar beberapa meter ke belakang, lalu mendarat dengan posisi lutut tertekuk dan tubuh condong ke depan. Satu tangannya dia arahkan pada Wening.


“Kurang ajar!” maki Kalajanggi lalu menghambur pada Wening yang sudah dalam sikap siap dan waspada.


Ketika Kalajanggi sudah berada di depannya,


Wening menghantam ulu hati iblis yang bersemayam di dalam tubuh Raline itu sekuat tenaga. “Maafkan aku, Raline,” sesalnya, ketika tubuh kurus itu terlempar dan terjatuh ke atas tanah.


“Aku harus membuatmu tidak sadar agar dia keluar.” Wening segera menekan punggung Raline dengan lututnya. Tak hanya itu, dia juga menempelkan telapak tangan pada tengkuk Raline.


Asap keluar dari sela-sela jemarinya. “Kau tak bisa memaksaku ke luar dari sini, Wening!” racau Kalajanggi kemudian. Akan tetapi, Wening tak menghiraukannya. Dia terus menempelkan telapak tangan pada tengkuk Raline.


“Kurang ajaar!” Lengkingan mengerikan lolos dari mulut Raline. Gadis malang itu terkulai lemas, sedangkan sosok Kalajanggi mulai menampakkan diri. Dia seakan keluar dari punggung Raline dan membentuk tubuhnya sendiri. Kalajanggi kini tak hanya sekadar berbentuk asap.


Tanpa menunggu lama, Wening segera memancarkan cahayanya pada Kalajanggi yang berubah bentuk menjadi wanita dewasa. Sedangkan satu tangan terkepal dan menghantam area perut iblis betina itu. Kalajanggi pun jatuh dalam posisi telentang.


Sementara Wening melompat cepat ke atas tubuh iblis tadi. Kedua tangannya menyentuh leher Kalajanggi sambil merapalkan mantra.


Sinar keemasan dan terang, keluar dari dalam tubuh Wening. Cahaya itu merambat ke ujung tangan dan meresap ke dalam kulit Kalajanggi. Sinarnya merasuk ke aliran pembuluh darah, kemudian terus menyebar pada seluruh permukaan kulit Kalajanggi. Namun, iblis itu tak putus asa. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, dia mencengkeram tangan Wening. Cahaya merah keluar dari sekujur tubuh Kalajanggi dan mendorong sinar putih yang berasal dari Wening.


Kalajanggi melirik Lastri yang hangus terbakar oleh badik milik Gandhi. Amarahnya memuncak ketika mengetahui bahwa Lastri telah kalah hingga tewas. Aura negatifnya membuat cahaya merah itu semakin kuat memancar, mengalahkan cahaya keemasan milik Wening.


Wening segera memejamkan mata. Pilihannya saat itu hanya satu. Dia mengeluarkan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Nirwasita, meskipun hal itu akan dapat membakar dan menghancurkan tubuhnya sendiri.


Wening meyakinkan diri bahwa hanya itulah satu-satunya jalan untuk menghentikan Kalajanggi. Dengan konsentrasi penuh, dia memancarkan energinya. Wanita itu tak berhenti meskipun suhu tubuh kian meninggi.


Sesaat kemudian, Wening dapat merasakan aroma hangus yang menguar dari permukaan kulitnya. Akan tetapi, dia tak peduli. Wening harus dapat mengunci Kalajanggi tanpa membuang waktu lagi.


Tak disangka, sentuhan telapak tangan seseorang mendarat di pundak kanannya. Tak berselang lama, pundak kirinya juga disentuh oleh seseorang. Masih dengan mata terpejam, Wening dapat merasakan bahwa mereka adalah Raline dan Gandhi yang berdiri di sisi kanan kirinya.


Raline dan Gandhi bermaksud menyalurkan kekuatan untuk membantu Wening. Hal itu membuat cahaya keemasan Wening bersinar kuat, mendorong mundur cahaya merah Kalajanggi. Cahaya dari tubuh Wening bergerak perlahan, melahap cahaya merah hingga menyelimuti tubuh Kalajanggi.


“Tidak! Tidak! Jangan!” Kalajanggi menggeliat kesetanan saat cahaya keemasan Wening ‘memakan’ tubuhnya sedikit demi sedikit, hingga tersisa bagian kepala sampai ke bahu.


“Kali ini kau musnah, Kalajanggi!” Wening membuka mata lebar-lebar, kemudian menekan leher Kalajanggi dengan kedua tangannya. Sebuah kekuatan dahsyat dan luar biasa meledak, kemudian menghancurkan sisa dari sosok Kalajanggi.


Saking dahsyatnya ledakan yang dihasilkan dari pertempuran dua energi tadi, membuat Raline dan Gandhi terpental hingga terlempar beberapa meter ke belakang. Di saat itu pula, roh Wening dan Gandhi kembali ke tubuh masing-masing.