Wening

Wening
Kembalinya Badik Pusaka



“Raline?” Wening tersentak melihat keadaan gadis belia yang tengah berdiri dengan senyuman dingin kepada mereka berdua. Begitu juga dengan Gandhi. Baru kali ini dia melihat putri semata wayangnya dalam keadaan seperti itu. Terlebih saat itu tiba-tiba Raline tertawa mengikik dan membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya akan langsung meremang. “Siapa kau?” tanya Wening dengan penekanan suara yang dalam. Gadis itu tak terlihat takut sama sekali. Dia maju dan berdiri tepat di hadapan Raline yang saat itu menyeringai terhadapnya.


“Mundur!” seringai Raline dengan suaranya yang serak dan agak berat. Gadis itu kembali tertawa mengikik. Dia berjalan mengitari Wening sambil terus mengamati gadis bertubuh sintal itu. Raline kemudian mendekatkan wajahnya dan mengendus tubuh Wening. “Bau seorang pria,” ucapnya lagi.


“Raline, apa itu kau?” sela Gandhi. Dia berjalan mendekat kepada Wening. Pandangan aneh Gandhi layangkan terhadap anak gadisnya itu. “Kau bukan putriku,” gumam pria tampan itu. “Siapa kau?” tanyanya.


Raline kembali tertawa mengikik. Gadis berusia lima belas tahun tersebut, kemudian berjalan mundur hingga tubuhnya merapat pada salah satu pilar besar yang menjadi penyangga rumah megah itu. Raline melompat dan menempel pada pilar tersebut dengan posisi menghadap kepada Wening dan Gandhi. Sementara kedua tangannya bergerak dan terus membawa gadis itu naik dengan cukup tinggi. Dia juga tak henti-hentinya menyeringai, kemudian tertawa lagj. Sementara Gandhi dan Wening terus mengawasi perilaku gadis belia tersebut.


“Jangan macam-macam dengan Raline!” sergah Wening tegas. “Sedikit saja kulit gadis itu tergores, maka kau akan menerima akibatnya!” ancam gadis itu dengan jauh lebih tegas.


Namun, Raline justru menanggapinya dengan tawa mengejek. Sambil terus dalam posisi yang menempel pada pilar, gadis belia itu mengibaskan rambut panjangnya yang jatuh dan menutupi wajah. Sepasang matanya yang berwarna putih, menatap tajam kepada Wening. “Kau pikir aku takut padamu, Gadis Muda?” Raline tertawa lepas. “Aku sama sekali tidak takut. Sebelum kalian bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, maka Nirwasita dan Sentanu tak akan bisa bangkit sepenuhnya mekipun kau dan pria tampan itu sudah melakukan penyatuan terlarang. Kau pikir aku akan membiarkan kalian berdua bersatu? Sama seperti saat kupisahkan Nirwasita dengan Sentanu, maka itu juga yang akan kulakukan kali ini,” Raline kembali tertawa lebar.


“Kau tidak akan pernah bisa memisahkan kami. Berkali-kali pun kau lakukan itu, maka kami pasti kembali bersatu. Kau tahu kenapa? Karena kuasa Tuhan jauh di atas segalanya, apalagi jika dibandingkan dengan seorang iblis terkutuk sepertimu!” timpal Gandhi dengan kepala menengadah, seakan menantang seseorang yang kini tengah menguasai raga putrinya.


“Cih, suami istri yang menyusahkan!” geram makhluk yang bersemayam di dalam tubuh Raline. Tubuh mungil itu lalu melompat dari atas pilar dan menerjang Wening yang telah mulai dikuasai aura Nirwasita.


Wening segera menghalau tubuh gadis remaja itu tanpa melukainya. Ditempelkannya telapak tangan ke dahi Raline, sementara tubuh gadis remaja itu ia rengkuh rapat-rapat. “Keluarlah, Kalajanggi! Jangan kau rusak diri Raline. Hadapi aku tanpa perantara tubuh siapapun,” bisik Wening dengan penekanan yang dalam.


Seketika Raline terbelalak. “Kurang ajar!” pekiknya. Kuku-kuku yang awalnya pendek, tiba-tiba bergerak memanjang dan meruncing. Dengan kekuatan penuh, Raline berusaha menusuk leher Wening. Akan tetapi, Wening berhasil menepis serangan itu dengan tangannya sampai kuku-kuku runcing itu patah.


Tak ingin menyerah, Raline menjulurkan lidahnya. Lidah itu juga memanjang kemudian terbelah di ujung dan terus bergerak melilit leher Wening. Susah payah Wening melepaskan lilitan lidah itu dari dirinya.


Sementara Gandhi pun tidak mau tinggal diam. Dia menguatkan diri bahwa yang dia hadapi saat itu bukanlah putrinya, melainkan roh lain yang merasuki tubuh Raline.


Gandhi lalu berdiri di belakang gadia belia tersebut. Tangan kanannya mencengkeram serta memiting tangan kanan Raline, sementara lengan kirinya melingkar di leher sang putri lalu menekannya keras.


Mendapat perlawanan dari dua orang, Raline memekik nyaring. Belitan tangan Gandhi membuatnya kesulitan bernapas, sehingga kekuatannya melemah.


Tak ingin membuang kesempatan emas, Wening kembali menempelkan telapak tangannya ke dahi gadis itu. Asap hitam tampak keluar dari gesekan kulit Raline dan Wening. Makin lama semakin tebal, membumbung ke udara.


Raline berteriak semakin nyaring, seolah sedang merasakan sakit yang amat sangat. “Hentikan! Sialan! Hentikan!” pekiknya sambil sesekali menyeringai menunjukan deretan gigi-giginya yang runcing kehitaman.


Dalam beberapa detik, paras cantik Raline berubah menjadi wajah menyeramkan Kalajanggi, kemudian kembali pada diri Raline dan begitu seterusnya selama Wening masih menempelkan telapak tangan pada dahi gadis itu.


“Akan kuhentikan jika kau bersedia keluar dari tubuh Raline,” desis Wening sambil menyeringai.


“Tidak akan!” tolak Raline yang masih dikuasai iblis Kalajanggi. Dia semakin kuat memberontak, tetapi semua perlawanannya hanya sia-sia. Asap semakin pekat keluar dari sela-sela jari Wening yang masih menempel erat di keningnya. Kepala Raline pun seakan mendidih, membuatnya kehilangan kendali atas tubuh gadis belia itu sendiri. Sepasang mata gadis itu mendelik ke atas. Perlahan, kepulan bayangan hitam menguap dari dalam hidung dan mulut Raline. Semakin lama semakin banyak, hingga sirna seketika bersamaan dengan bunyi ayam berkokok.


"Apa putriku baik-baik saja?" Gandhi segera menegakkan tubuhnya. Penuh rasa cemas, dia mengamati wajah putri tercintanya dengaj mata yang terpejam.


"Tidak apa-apa, Pak. Raline hanya kelelahan. Kalajanggi bagaikan parasit. Dia bersemayam di tubuh Raline sekaligus menghisap energinya," terang Wening lembut.


"Sudah pagi, Wening. Sebaiknya kita bawa Raline masuk ke dalam," ujar Gandhi sambil terengah. Dia kemudian membopong tubuh gadis remaja itu masuk ke rumah.


Saat melewati ruang tamu, mereka berpapasan dengan bi Lastri yang tergopoh-gopoh menghampiri, "Astaga, neng Raline. Saya cari ke mana-mana. Di kamarnya tidak ada," ucapnya khawatir.


“Tidak apa-apa, Bi. Siapkan saja kamarnya,” titah Gandhi.


“Sudah, Pak,” bi Lastri mengikuti langkah Gandhi dan Wening, lalu membuka pintu kamar Raline lebar-lebar. Dengan sangat hati-hati Gandhi membaringkan putrinya di atas ranjang.


Sementara itu, Wening sigap mengambil peralatan dokter di atas laci meja samping ranjang untuk memeriksa kondisi kesehatan Raline.


“Semuanya normal. Hanya suhu tubuhnya saja yang agak tinggi,” ucap Wening beberapa saat kemudian.


“Saya siapkan kompresnya, Neng,” tanpa diperintah, bi Lastri segera tahu apa yang harus dia lakukan. Wening menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Sedangkan Gandhi masih berdiri memperhatikan anak gadisnya yang terbaring tak berdaya. Padahal saat itu dirinya pun merasa sangat lelah. Dia belum istirahat sama sekali dari semenjak kepulangannya semalam. Satu hal yang menjadi hiburan baginya adalah, sesuatu yang telah dia lakukan dengan Wening malam tadi.


Tak berapa lama, bi Lastri masuk ke kamar itu. Wanita paruh baya tersebut datang kembali dengan sebuah baskom dan saputangan kecil. Wening menerima baskom itu, lalu memeras saputangan dan meletakkannya di atas kening Raline. Selang beberapa saat, terdengar lenguhan pelan dari bibir gadis remaja itu.


“Apa putriku baik-baik saja?” Gandhi terlihat begitu cemas.


“Tidak apa-apa, Pak. Nanti jika dia sudah sadar, saya akan langsung memberikan obat penurun panas,” jawab Raline seraya menoleh dan tersenyum lembut pada duda tampan yang kini berdiri tepat di dekatnya.


Melihat hal itu, Gandhi tersenyum lega. Senyuman Wening membuat dirinya merasa tenang. “Istirahatlah dulu, Wening. Biar aku yang menjaga Raline,” ujarnya lembut.


“Bapak tidak ada masalah jika saya tinggal sebentar? Sekalian saya ingin membersihkan diri. Badan saya rasanya begitu lengket,” sahut Wening.


“Tentu saja. Mandilah,” Gandhi sejak awal berada di tepi ranjang Raline, semakin mendekat kepada Wening. “Bersihkan dirimu dari sisa semalam,” Gandhi tertawa pelan setelah menggoda gadis itu dengan ucapannya. Pria itu kemudian memegang dagu dan mengecup bibir Wening untuk sesaat.


Tak terkira betapa malunya Wening saat itu. Pipinya merona, demikian pula jantungnya yang berdegup semakin kencang. “Permisi,” sambil menunduk, Wening melewati Gandhi begitu saja dan setengah berlari meninggalkan kamar Raline menuju paviliun.


Kini di dalam kamar hanya ada Gandhi dengan Raline yang masih belum sadar. Diusapnya punggung tangan Raline penuh kasih. Tatap matanya tak lepas dari wajah damai putrinya, hingga ekor mata Gandhi menangkap sesuatu yang berkilauan di sisi lain tempat tidur Raline.


Badik yang sempat menghilang, tergeletak begitu saja di sana. Ujungnya berkilau terkena lampu kamar yang berada tepat di atasnya.