Wening

Wening
Aura Nirwasita



Setelah diberitahukan tentang keadaan Raline oleh Gandhi, Wening bergegas menuju rumah sakit. Dia memasuki gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini, gadis itu datang dengan sikap yang terlihat sangat berbeda. Jika biasanya Wening menghadapi semua orang dengan bahasa tubuh khas para introvert, kini dia mengangkat wajahnya dengan sorot mata menantang siapa pun yang menatapnya.


Satu hal yang juga terlihat tak biasa, Wening menggerai rambut hitamnya yang panjang. Sementara tangan kanan gadis itu menggenggam tangan kiri Gandhi. Duda tampan itu sama sekali tak protes. Dia malah terlihat senang dan tidak keberatan sama sekali.


“Di mana ruangannya?” tanya Wening dengan pandangan tetap lurus ke depan.


“Di depan, ruang A-3,” jawab Gandhi sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu masuk yang berada beberapa meter dari mereka.


Sesampainya di depan ruangan yang dimaksud, Wening membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan dan melihat seorang wanita berpakaian suster yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. “Siapa dia?” gumam Wening seraya menautkan alisnya.


Dia melangkah masuk dan mendekati ranjang tempat Raline tanpa menunggu jawaban dari Gandhi.


“Dia suster baru yang saya sewa selama kemarin Suster dirawat dan izin cuti,” terang Gandhi yang kini sudah berdiri di samping Wening.


“Apakah Suster dari rumah sakit ini? Kenapa aku tidak pernah melihat wajahmu?” Wening mengamati wajah gadis yang tampak seumuran dengannya itu dengan lekat.


“Saya perawat baru. Awal bulan ini saya baru mulai dinas,” jawab suster itu sopan. Sementara Wening masih terus memperhatikan gadis di hadapannya. Ekor mata gadis itu tertuju pada pin yang bertuliskan nama ‘Ratna’ di dadanya.


“Ratna?” ucapnya.


“Iya, itu nama saya,” suster baru itu tersenyum ramah padanya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Raline yang masih tertidur. Wening pun mengikuti arah tatapan suster itu dan ikut memperhatikan Raline yang terlihat amat nyenyak dalam tidurnya.


“Raline, ini aku,” panggilnya lirih. Tangan Wening terulur dan menyentuh pergelangan tangan Raline.


Raline yang awalnya tertidur pulas, tiba-tiba menggerakkan jemarinya. Gerakan itu, makin lama semakin kuat dan menjalar ke lengan hingga leher. Raline menggeleng lemah seperti baru tersadar dari mimpi. Dia mengerang pelan seraya meringis.


“Astaga, Raline!” seru Gandhi, antusias bercampur bahagia. “Bangun, Nak. Ayah sudah menunggumu berhari-hari,” ujarnya lagi penuh haru.


“Kak,” bukannya menyapa sang ayah lebih dulu, Raline malah memanggil Wening.


“Aku di sini,” Wening menggeser posisi suster Ratna yang awalnya berada paling dekat dengan ranjang Raline menjadi sedikit menjauh. Wening mendekati ranjang gadis belia itu, lalu duduk di tepiannya. Dia membungkuk mendekati wajah Raline sembari mengusap lembut kepalanya.


“Apa yang kau rasakan?” bisik Wening pelan.


“Seseorang mengambil alih tubuhku, Kak. Saat orang itu pergi, tubuhku seakan tanpa tenaga. Aku merasa sangat mengantuk dan kesulitan membuka mata,” jawab Raline dengan bibir terkatup. Gadis belia itu seakan tengah melakukan telepati dengan Wening.


Sesaat Wening tersadar, matanya yang berkilat tiba-tiba berganti menjadi sorot mata biasanya. Dia menoleh ke belakang dan memandang ke arah Gandhi dan juga suster Ratna, lalu kembali kepada Raline.


“Apa hanya aku yang bisa mendengarmu?” Wening mencoba bicara dari dalam hati. Anehnya Raline mengangguk, membuat Wening terkesiap dan menegakkan tubuhnya.


“Aku ingin pulang, Yah. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama,” Raline yang semula berbaring, tiba-tiba memilih untuk duduk sambil berusaha mencabut jarum infus di tangan kirinya.


“Jangan, Raline!” cegah suster Ratna dengan suara nyaring. “Biarkan dokter datang lebih dulu dan memeriksamu,” lanjutnya.


“Itu benar, Raline. Bersabarlah,” bujuk Wening pula.


“Aku akan bersabar asal Kakak terus berada di sampingku,” ujar Raline. Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat itu.


Wening tak segera menanggapi. Dia hanya menapas panjang sambil sesekali melirik suster Ratna yang tampak tidak menyukai keadaan itu, tetapi berusaha menyembunyikannya.


Untuk sesaat, Wening berpikir dan terdiam. Aura Nirwasita yang tadi sempat menguasai dirinya yang menghilang, kini mulai muncul. Matanya kembali berkilat, diiringi seutas senyuman sinis. “Baiklah kalau itu yang kau inginkan, Raline. Aku akan menjagamu dari hawa-hawa jahat,” ucapnya dengan nada yang sedikit aneh. “Pak,” Wening segera beralih kepada Gandhi. “Saya bersedia ikut bersama Bapak. Mungkin Bapak bisa mengurus proses kepulangan Raline dari sekarang,” sarannya dengan nada datar.


“Ah, ya. Tentu saja!” sumringah, Gandhi bergegas keluar dari ruang rawat inap, sementara suster Ratna sibuk membereskan barang-barang bawaan Raline dan juga milik dia sendiri tanpa banyak bicara.


Tak berapa lama, Gandhi datang bersama beberapa orang perawat dan dokter Sena, dokter keluarga yang selalu menjadi rujukan keluarga Gandhi. “Sudah bangun rupanya, Nak Raline,” sapa dokter Sena seraya mengeluarkan stetoskop dan memeriksa tubuh gadis remaja itu. Seorang perawat juga memeriksa tekanan darah Raline.


“Bagus semuanya,” dokter Sena mengangguk dan menepuk bahu Gandhi.


“Jadi, sudah boleh pulang hari ini ya, Dok?” tanya Gandhi setengah tak percaya.


“Tentu saja. Untuk lain-lain, biar suster Ratna yang mengurus,” tutur dokter itu, kemudian pamit meninggalkan ruangan.


Kebahagiaan Gandhi saat itu begitu terlihat. Tak henti-hentinya dia memamerkan senyum menawannya pada setiap orang di ruangan tersebut. Terlebih ketika mereka sudah meninggalkan rumah sakit dan tiba di kediaman Wiratama.


Bi Lastri dan beberapa orang asisten rumah tangga datang menyambut kedatangan Gandhi dan Raline. Bahkan wanita paruh baya itu sampai merebut pegangan kursi roda dari pegangan suster Ratna dan berniat mendorong Raline seorang diri. “Saya sudah memasakkan makanan kesukaan Neng Raline. Neng harus semangat makannya, ya,” ucap Bi Lastri sembari terus mendorong kursi roda itu hingga ke depan kamar Raline.


“Bibi juga senang sekali, Neng Wening kembali pulang,” ucap Bi Lastri dengan sorot penuh arti.


Wening hanya menanggapinya dengan senyum simpul. Dilihatnya Gandhi yang juga tengah tersenyum ke arahnya. Aura Nirwasita masih juga belum meninggalkan dirinya. “Jangan sering-sering mencuri pandang ke arahku, Sentanu,” bisik Wening sambil mengedipkan sebelah matanya pada Gandhi, lalu melenggang begitu saja memasuki kamar Raline. Bersama suster Ratna, dia mulai sibuk membantu Raline naik ke ranjang. Sesekali dia dan Raline menertawakan sesuatu, sedangkan suster Ratna hanya memasang raut datar melihat kedekatan mereka berdua.


Gandhi terpana dan seakan membeku di tempatnya setelah mendapatkan perilaku yang aneh dan sedikit menggoda dari Wening. Pelan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Lalu, apa yang bisa saya bantu di sini?” tanyanya kemudian.


“Tidak ada,” sahut Wening cepat, disambut oleh tawa Raline.


“Maaf, bukannya berkata seperti itu tidak sopan? Apalagi pak Gandhi adalah klien,” sela suster Ratna yang sedari tadi terus mengamati Wening.


“Santai saja, Suster Ratna. Memang beginilah kak Wening. Aku kira, papa juga tidak ada masalah,” timpal Raline yang berusaha membela Wening. “Kecuali ...” Raline menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap tajam pada suster Ratna.


“Kecuali suster cemburu pada kak Wening dan papa saya. Jangan bilang kalau suster juga naksir papa saya,” Raline terkikik geli sambil menutup mulutnya.


Merah padam wajah suster Ratna, antara merasa malu dan juga marah. “Saya permisi dulu,” pamit suster itu, lalu melangkah cepat melewati Gandhi begitu saja.


“Jaga bicaramu, Raline. Hormati orang yang lebih tua. Suster Ratna sudah berusaha merawatmu dengan sebaik-baiknya,” tegur Gandhi.


“Baiklah, Papa. Nanti aku akan minta maaf pada suster Ratna. Sekarang aku mau istirahat, bisakah papa keluar?” ujar Raline tanpa beban.


Mendengar hal itu, Gandhi hanya mampu menarik napas panjang. “Ya, sudah. Beristirahatlah. Suster Wening juga sepertinya masih harus banyak beristirahat,” ucap Gandhi pada akhirnya.


“Kak Wening biar di sini, Pa. Kami masih belum selesai mengobrol. Betul kan, kak?” Raline menaikturunkan alisnya lucu, membuat Wening tertawa.


“Kalau itu yang kamu mau, Raline,” jawab Wening pelan.