Wening

Wening
Bangkitnya Paundra



Gandhi dan Wening saling berpencar. Mereka tak putus asa mencari Raline ke setiap sudut rumah. Dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga, Gandhi menyisir area pekarangan belakang, sedangkan Wening memeriksa halaman depan. Namun, pada akhirnya apa yang mereka lakukan hanya sia-sia. Raline tak ditemukan di manapun, begitu pula dengan bi Lastri.


Gandhi berjalan memasuki bangunan utama dengan wajah lesu. “Bagaimana ini, Wening? Raline menghilang.” Pria itu mengacak-acak rambutnya sambil mengempaskan napas pelan.


“Di halaman depan juga tidak ada. Saya tidak mengira, bi Lastri akan berbuat senekat ini," ujar Wening penuh sesal. Dia merasa abai dalam menjaga gadis itu.


Perkataan Wening membuat Gandhi tertegun. Dia menyadari sesuatu kini. “Katakan, apa yang kau ketahui tentang bi Lastri, Wening?” Gandhi mencengkeram kedua lengan kekasihnya itu demikian erat.


“Dari semenjak saya memergokinya membubuhkan sesuatu di makanan Raline, saya sudah mulai curiga terhadap bi Lastri,” jelas Wening pelan.


“Apa? Dia pernah melakukan hal itu, tapi kenapa?” Gandhi menggeleng pelan karena tak mengerti. "Untuk apa bi Lastri berbuat demikian? Dia sudah mengabdi pada keluargaku sejak lama," jelas pria tampan tersebut. Ada keraguan yang terpancar atas perkataan Wening tentang asisten rumah tangga yang sudah senior itu.


“Entahlah, Pak. Saya juga tidak memahaminya dengan pasti. Saya tidak tahu apakah waktu itu hanya kebetulan atau bagaimana, tetapi bi Lastri mengaku bahwa sesuatu yang dia campurkan ke dalam makanan Raline tersebut merupakan vitamin. Dia juga mengatakan bahwa suster Ratna lah yang menyuruhnya.” Wening memperhatikan wajah Gandhi yang masih diliputi rasa tak mengerti untuk beberapa saat.


“Baik, lanjutkan,” titah Gandhi lirih.


“Saat saya mendatangi suster Ratna ... ternyata suster Ratna tiba-tiba sakit,” jelas Wening lagi.


“Jadi, itu alasannya Ratna memilih untuk mengundurkan diri dari tugasnya di sini?” Gandhi mulai menyatukan keping-keping yang berserakan di dalam benaknya.


“Waktu itu saya ingin mengetahui kebenarannya. Namun, suster Ratna tidak dapat dimintai keterangan. Perasaan saya mengatakan bahwa ada seseorang yang mencoba mengganggu suster Ratna agar tidak buka mulut, atau ....” Wening tak melanjutkan kalimatnya.


“Atau apa?” tanya Gandhi tak sabar.


“Atau memang dari awal, suster Ratna sudah diincar,” lanjut Wening.


Gandhi tertawa pelan. Antara rasa tidak percaya dan khawatir berbaur menjadi satu, dan membuat dirinya tak karuan. “Lalu untuk apa bi Lastri melakukan semua itu?” Gandhi masih saja merasa heran.


Wening tak segera menjawab. Gadis itu tampak berpikir untuk sejenak. Dia mencoba menjernihkan kekalutan atas rasa khawatir terhadap keadaan Raline. “Kalau boleh saya tahu, seperti apa sosok bi Lastri sebenarnya, Pak?” Wening mengajukan pertanyaan tentang wanita paruh baya yang selama ini lolos dari kecurigaannya.


“Dia ....” Gandhi berpikir keras sambil menggaruk pelipisnya. “Dia sudah lama bekerja di keluarga Wiratama, dari semenjak aku belum lahir,” terangnya.


“Seingatku, dulu dia pernah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki. Akan tetapi, aku tidak pernah melihat anaknya sejak ... sejak ....” Gandhi terlihat kebingungan.


“Ada apa, Pak?” Wening mulai merasakan gelagat aneh dari Gandhi.


“Aku tidak bisa mengingat dengan jelas tentang masa lalu bi Lastri. Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa dia sudah lama sekali tinggal di sini. Seharusnya, bi Lastri berumur jauh lebih tua dari yang terlihat saat ini. Usiaku saja sekarang sudah kepala empat. Bayangkan berapa usia bi Lastri yang sudah mengabdi pada keluargaku sebelum aku lahir. Dia bahkan kerap bercerita tentang masa kecil kedua kakak perempuanku. Ya, ampun. Kenapa aku merasa sangat aneh, Wening?” Gandhi mengusap dadanya sambil meringis.


“Apakah bapak sempat mengonsumsi makanan atau minuman tertentu dari bi Lastri?” tanya Wening semakin merasa khawatir.


“Sepertinya dia sudah mempengaruhi pikiran Anda sejak sekian lama,” desis Wening.


"Ayolah, Wening. Jangan membuatku merasa semakin khawatir. Dia terlihat begitu peduli kepada Raline. Kalaupun bi Lastri memang memiliki niat jahat terhadap keluargaku, kenapa tidak dilakukannya sejak dulu?" Gandhi tampak berpikir keras.


"Bisa saja dia memang sudah melakukannya sejak dulu," sahut Wening membuat duda tampan yang masih terlihat awet muda itu segera menoleh seraya menautkan alisnya.


"Maksudmu?" tanya Gandhi.


Wening terdiam sejenak. Dia tengah merangkai kata-kata yang sekiranya akan dapat dipahami oleh pria di dekatnya tersebut. Gadis cantik bertubuh ramping itu mulai teringat akan sesuatu. "Suatu hari, saya pernah mendapatkan satu penglihatan yang sangat mengerikan," ucapnya kemudian setelah terdiam beberapa saat.


"Penglihatan seperti apa?" tanya Gandhi penasaran.


"Saya seakan terlempar pada masa yang saya pun tak mengetahui kapan tepatnya. Namun, saat itu saya menyaksikan sesuatu yang sungguh tidak manusiawi," tutur Wening lagi. Sedangkan Gandhi menyimak cerita yang Wening tuturkan dengan saksama dan tampak begitu serius.


"Malam itu, ada sebuah perkumpulan yang tengah mempersembahkan seorang gadis untuk dijadikan tumbal. Itu adalah pertama kalinya saya melihat sosok Kalajanggi secara langsung. Dia begitu menakutkan dan juga bengis. Kalajanggi memakan organ dalam dari gadis itu, lalubmeminum darahnya. Sementara orang-orang yang menumbalkan gadis malang tersebut ... oh, entah di mana hati nurani mereka." Wening kembali terdiam.


"Arwah suster Ratna bahkan sempat mendatangi saya dan mengatakan bahwa ada seseorang yang mengambil kehidupannya dengan paksa. Saya jadi teringat pada cerita dari Raline, yang mengatakan bahwa ada di antara suster yang pernah merawatnya mati terbunuh dengan misterius. Entah itu dilakukan oleh orang yang sama, atau hanya merupakan sebuah kebetulan. Saya juga masih menebak-nebak apa yang diinginkannya dari Raline," tutur Wening lagi.


"Ya. Apa yang Raline ceritakan memang benar. Aku mendengar kabar itu dari suster kepala. Namun, saat itu aku tidak terlalu peduli," ucap Gandhi heran. Sesekali dia menyugar rambutnya ke belakang.


"Sudah terlalu malam. Sebaiknya kau segera beristirahat. Besok kita lanjutkan pencarian. Dibutuhkan hati dan pikiran yang tenang untuk bisa menuntaskan masalah ini. Aku tidak bisa mengambil keputusan dalam suasana kalut," ujar Gandhi seraya beranjak dari duduknya. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Wening yang masih berdiri menatapnya. Wening dapat memahami keresahan hati yang tak diungkapkan oleh pria itu.


Sepeninggl Gandhi, Wening kembali berpikir. Namun, sekelebat bayangan telah mengusik konsentrasinya. Bayangan tersebut seakan mengajak untuk keluar dari ruangan itu.


Dengan segera, Wening mengikuti bayangan tadi hingga ke dekat kolam renang. Dia lalu tertegun saat melihat sosok pria yang telah lama tak menampakan dirinya lagi. Pria yang tiada lain adalah Paundra, berdiri dengan gagah seraya menatapnya lekat. Seketika, Wening bersimpuh dan menundukan wajah.


Paundra tersenyum samar melihat sikap yang terlihat sangat berbeda dari Wening. Gadis itu kini jauh lebih sopan terhadapnya. Itu semua karena saat ini Wening telah mengetahui bahwa Paundra merupakan leluhurnya sendiri. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Paundra terdengar penuh wibawa.


"Tidak baik. Aku merasa begitu kacau," jawab Wening tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Sekarang kau sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanmu. Tugasmu hanya tinggal selangkah lagi," ucap Paundra.


"Apa yang harus kulakukan setelah ini?" tanya Wening.


"Pergilah ke arah utara," jawab Paundra.