
Dengan menggunakan kunci cadangan, Gandhi membuka pintu kamar bi Lastri yang terletak di dekat dapur utama. Aroma amis dan ganjil, seketika menyeruak sesaat setelah pintunya terbuka lebar-lebar. Pria rupawan itu terpaksa memasuki kamar sembari menutup hidung. “Dari mana asalnya bau aneh ini?” tanyanya dengan raut tidak nyaman.
“Mungkin dari sana, Pak,” tunjuk Wening. Bangkai seekor burung yang telah membusuk, tergeletak begitu saja di atas ranjang yang tak seberapa besar. Sisa darah dari bangkai burung tersebut sudah mengering, membuat sprei menjadi terlihat kotor. Wening kemudian memberanikan diri untuk memeriksanya.
Burung itu sudah kehilangan sebagian besar bulunya. Di leher burung tadi terdapat luka sayatan yang kemungkinan besar menjadi penyebab kematiannya. Wening mengamati secara saksama bangkai tersebut. Satu hal yang menarik perhatiannya adalah bangkai tersebut mengering sempurna, seakan darah dalam tubuh binatang malang tadi telah terisap sepenuhnya.
“Jangan dipegang, Wening!” cegah Gandhi mengingatkan.
“Tidak, Pak,” sahut Wening seraya mengalihkan pandangan pada tempat lain. Sebuah lemari kayu besar yang memiliki kaca di daun pintu. Perlahan, Wening membukanya dan tak mendapati apapun. Tak ada baju maupun benda-benda lainnya. Di dalam sana, Wening hanya menemukan selembar kertas pada rak paling atas.
Wening memungut benda tersebut dan membukanya. Terdapat sebuah foto hitam putih di dalam lipatan kertas itu. Mata indahnya terbelalak saat melihat sosok di dalam foto tersebut. Seorang bocah cilik yang pernah dia temui dan hampir membuatnya terbunuh pada malam di mana Raline menghilang.
“Ada apa?” tanya Gandhi yang telah berdiri di belakangnya.
“Foto anak kecil, Pak. Wajahnya memang sangat mirip dengan bocah yang melayang di atas kolam renang,” terang Wening seraya mengernyitkan keningnya.
“Penampakan yang bermaksud mencelakaimu tadi malam?” Gandhi ikut mengamati gambar di dalam foto itu.
“Betul, Pak.” Wening mengangguk perlahan, lalu menyodorkan foto itu kepada Gandhi.
Beberapa saat setelah Gandhi menggenggam foto hitam putih tadi, pria itu kembali mendapatkan penglihatan. Waktu berputar kembali pada masa dirinya masih balita. Kenangan masa lalu yang sempat hilang, hadir dan memenuhi benaknya.
Ketika itu, Gandhi melihat seluruh anggota keluarganya tengah menangisi dua jasad yang dibaringkan di ruang tamu. Semua orang menampakkan kesedihan, kecuali kedua orang tuanya sendiri dan bi Lastri.
Kali ini, Gandhi dapat mengingat dengan jelas bahwa dua jasad yang terbujur kaku itu adalah milik kedua kakak perempuannya. Seketika, duda satu anak tersebut memundurkan tubuh. Sementara foto tadi masih dia genggam dengan erat. Gandhi tampak berpikir.
“Apa Bapak baik-baik saja?” tanya Wening heran melihat sikap aneh Gandhi.
“Aku melihat bi Lastri,” jawab Gandhi ragu.
“Di mana?” tanya Wening.
“Saat kedua saudariku tewas. Bi Lastri ada di sana. Akan tetapi, dia terlihat sama. Maksudku, apa mungkin jika seseorang tidak bertambah tua sama sekali? Kenapa aku sampai tak menyadari hal itu selama ini?” ucap Gandhi dengan setengah bergumam.
“Aku akan mencari sesuatu yang lain. Siapa tahu bisa menjadi petunjuk,” ujarnya lagi seraya memeriksa setiap sudut kamar. Tak ada satu hal pun yang Gandhi lewatkan, termasuk kasur busa yang biasa menjadi alas tidur bi Lastri.
Gandhi menyibakkan kasur itu. Di sana, dia menemukan selembar foto lagi. Tampak wajah bi Lastri yang tengah berpose dengan seorang pria yang diduga sebagai suaminya. Mereka berdua berdiri di dekat pesawahan dengan latar sebuah gunung kapur yang menjulang tinggi. Gandhi berpikir bahwa itu adalah kampung halaman dari wanita yang telah melarikan putrinya.
“Lihatlah, Wening. Apa kau mengenal daerah ini?” Gandhi menyodorkan foto itu kepada Wening.
Dengan segera Wening menerimanya. Dia mengamati foto itu dengan saksama. “Apakah daerah ini berada di utara? Saya pernah melihat gunung yang ada di dalam foto. Akan tetapi, saya lupa tepatnya di mana,” gumam Wening tanpa melepaskan pandangan dari foto tadi.
“Bagaimana jika kita segera bergerak ke utara dan mulai menyisir daerah sana. Kita cari tahu tentang gunung kapur yang berada di wilayah itu. Saya rasa tidak akan sulit untuk menemukannya,” cetus Wening.
Gandhi pun setuju. Namun, baru saja mereka akan beranjak keluar, tiba-tiba Wening menghentikan langkahnya. Gadis itu seketika terpaku dan menundukkan wajah. Hal tersebut membuat Gandhi terlihat keheranan. “Wening, apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Gunung kapur itu berada di salah satu wilayah terpencil, di utara. Gunung itu menjadi tempat bersemayamnya iblis Kalajanggi selama ini. Sudah banyak orang yang merupakan para penambang kapur, menjadi korban di sana. Tak hanya seorang wanita,” ucap Wening tiba-tiba dengan suaranya yang terdengar berbeda.
“Siapa aku? Aku adalah Paundra. Aku merupakan leluhur dari Nirwasita,” jawab dari seseorang yang merasuki Wening dan tak lain adalah Paundra.
“Ratusan tahun yang lalu, gunung itu begitu dikeramatkan oleh para warga sekitar. Tak ada yang berani mengusik, apalagi berkata sesuatu tentang Kalajanggi. Para warga yang haus akan kekayaan, atau hanya sekadar ingin memperoleh sesuatu yang melebihi dari apa yang sudah Tuhan berikan kepada mereka, biasa melakukan ritual sesat di sana. Termasuk melakukan pengorbanan nyawa para gadis secara langsung,” terang Paundra.
“Lalu, apakah orang yang membawa pergi putriku juga akan melakukan hal yang sama terhadap Raline?” tanya Gandhi semakin khawatir.
“Perlu kau ketahui tentang satu hal. Putrimu tidak sepenuhnya kosong. Ada sebuah kekuatan yang sudah diserapnya dari semenjak dia dilahirkan. Namun, dia belum dapat merasakan ataupun mengendalikan hal itu. Sementara orang yang tengah kau cari, berusaha untuk mempersembahkannya kepada Kalajanggi, tapi tak berhasil. Maka dari itu, dia berusaha untuk membangkitkan iblis tersebut dengan cara menunjuk Raline sebagai inang."
"Lagi-lagi, kekuatan yang sudah ada dalam diri putrimu menolaknya. Kalajanggi kesulitan untuk menjadikan tubuh putrimu sebagai tempatnya bersemayam. Karena itu dia belum dapat bangkit sepenuhnya, dan karena itu pula putrimu harus menderita sakit yang berkepanjangan,” tutur Paundra.
“Ketahuilah satu hal, wahai anak cucu aki Sukmana! Iblis Kalajanggi adalah makhluk abadi yang tak bisa musnah. Kekuatan Sang Pencipta lah yang dapat menghentikannya. Nirwasita hanya bertugas untuk menidurkan kembali. Namun, pada waktu-waktu tertentu Kalajanggi akan bangkit lagi, selama di dunia ini masih dipenuhi oleh orang-orang tamak yang tak mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan padanya."
"Akan tetapi, jangan takut. Selama itu pula, Nirwasita akan terus bangkit dan menjelma menjadi sosok lainnya. Untuk saat ini, pergilah ke utara dan temukan putrimu,” tutup Paundra, bersamaan dengan tubuh Wening yang terkulai lemas dan hampir saja jatuh membentur lantai andai Gandhi tak sigap menangkapnya.
“Wening? Kamu tidak apa-apa?” tanya Gandhi penuh kekhawatiran.
Wening membuka mata perlahan, lalu menatap dalam-dalam pada wajah tampan kekasihnya. Dia mengangkat satu tangan, kemudian membelai lembut pipi Gandhi. “Saatnya sudah tiba, Sayang. Aku harus menghadapi dia sekali lagi,” jawab Wening lirih dengan nada pilu.
“Apa maksudmu?” Gandhi makin mengeratkan rangkulan pada tubuh ramping Wening.
“Seperti dulu, ketika aku harus melumpuhkan Kalajanggi.” Wening tersenyum lembut sambil mengecup singkat bibir Gandhi.
“Kalau begitu, kita hadapi makhluk itu bersama-sama,” tegas Gandhi.
Wening menggeleng lemah, “Mungkin sudah takdirku jika pada akhirnya harus mati melawan Kalajanggi.”
“Jangan berkata seperti itu, Wening! Aku tidak suka mendengarnya,” tegur Gandhi serius.
“Ini kenyataannya, Pak. Nirwasita dulu juga harus tewas melawan iblis itu. Sekarang giliranku,” ucap Wening terlihat sendu. Namun, tak berselang lama raut wajahnya kembali berubah seperti biasa.
“Selama ada aku di dekatmu, maka tak akan kubiarkan kau mati, Sayang!” sahut Gandhi dengan begitu yakin.
“Bagaimanapun juga kita adalah manusia biasa yang tak akan sanggup melawan maut, sekuat apapun diri kita,” bantah Wening seraya tertawa lirih.
“Tidak ada seorang pun yang tahu akan seperti apa masa depan. Bisa saja kamu dapat mengalahkan Kalajanggi tanpa harus mengorbankan nyawa. Nirwasita dan Wening adalah dua sosok yang berlainan. Maka aku percaya, takdir kalian juga pasti berbeda!” tegas Gandhi.
Hati Wening menghangat saat mendengar ucapan kekasihnya itu. “Terima kasih, tapi ... bolehkah aku minta satu hal padamu?”
“Apapun itu, Sayang,” jawab Gandhi tanpa ragu sekaligus balas mengecup bibir Wening.
“Sebelum kita pergi ke gunung kapur di utara, bisakah Bapak menikahi saya terlebih dulu?” Tatapan hangat dan lekat Wening tujukan, kepada pria yang tanpa sadar sudah mengisi seluruh ruang di hatinya. Sebuah pertanyaan yang langsung berbalas sebuah senyuman lebar dari seorang Gandhi.
"Tak kau minta pun aku pasti akan menikahimu," jawab Gandhi terdengar begitu meyakinkan.