Wening

Wening
Menghilangnya Raline



“Pulanglah, Nak. Di sini bukan tempatmu,” ucap Wening lembut. Akan tetapi, bocah itu menolak. Dia menggeleng kuat-kuat dan melayang semakin mendekat ke arahnya.


“Aku takut pada ibu,” sahut bocah itu. “Maaf,” ucap bocah itu lagi, tepat sebelum tangannya bergerak memanjang dengan kuku-kuku hitam yang runcing dan mengarah langsung ke tubuh Wening.


Namun, secepat kilat gadis itu menangkis tangan bocah tersebut dan mencengkeramnya erat. “Jangan sampai aku melukaimu,” ancamnya. Telapak tangan Wening mulai diselimuti oleh cahaya putih. Perlahan cahaya itu memancar semakin terang, menembus bola mata hitam pekat milik bocah tadi.


“Sakit! Ibu!” pekik bocah itu nyaring. Dia menutupi wajah mungilnya dengan kedua tangan. Cairan hitam mulai menetes dari sela-sela jari kecil miliknya. Bocah itu lalu menurunkan tangan. Tampaklah wajah pucat yang telah basah oleh cairan hitam yang semakin deras mengalir. “Tolong,” pinta dia lirih sebelum sosoknya berubah menjadi kepulan asap hitam.


“Bimo!” teriak suara nyaring melengking seorang wanita yang berasal dari belakang tubuh Wening. Gadis itu segera menoleh dan terbelalak saat melihat penampakan iblis wanita berukuran raksasa. Tubuhnya tembus pandang seperti bayangan. Giginya runcing dengan mata merah menyala. Sementara rambutnya panjang dan terlihat gimbal.


“Jadi, inikah sosok aslimu, Kalajanggi?” Wening tersenyum sinis. Sementara sosok itu bergerak tak beraturan. Sesekali tubuhnya terlihat kemudian tiba-tiba menghilang dan begitu seterusnya, membuat Wening terbahak. “Kekuatanmu belum penuh rupanya,” ledek gadis itu puas.


“Jangan banyak bicara!” Iblis Kalajanggi terbang menerjang ke arah Wening. Namun, ternyata sosok itu hanya bisa menembus, melewati tubuh Wening tanpa bisa menyentuhnya.


“Kau sangat gegabah, Kalajanggi! Kau belum kuat tanpa adanya tanpa inang,” ujar Wening dengan tenang.


Namun, Kalajanggi tak peduli. Dia kembali menyerang Wening. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, sebuah badik telah lebih dulu melayang ke arah penampakan mengerikan tadi hingga bentuknya menjadi terburai tak beraturan lagi. Tak berselang lama, bayangan itu pun menguap perlahan hingga akhirnya benar-benar menghilang.


Wening menoleh ke samping. Dia melihat Gandhi tengah berlari ke arahnya. “Syukurlah, aku tidak terlambat,” ucap pria itu lega.


“Bapak?” Ragu, Wening menyebut sang kekasih yang saat itu sudah berdiri di hadapannya. Gandhi datang ke sana dengan memakai piyama.


“Aku sedang tidur saat aki Sukmana mendatangiku dalam mimpi. Dia mengatakan bahwa kau sedang membutuhkan bantuan.” Gandhi menjeda kalimatnya, saat melihat benda pusaka yang tadi dia lemparkan kini melayang dan kembali menghampiri dirinya. Gandhi meraih badik itu, lalu menyembunyikan benda tersebut di pinggang.


“Bapak sudah bisa menggunakan benda ini?” tanya Wening. Tersirat rasa bangga dalam kalimat yang dia tujukan untuk pria tampan itu.


“Sepertinya begitu.” Gandhi memamerkan senyum kalemnya pada Wening. “Jadi … itu tadi ….” Duda tampan tersebut mengalihkan pembicaraan.


"Itu merupakan wujud asli Kalajanggi,” lanjut Wening. “Akan tetapi, saya lihat dia masih lemah tanpa adanya inang. Dia harus merasuki tubuh seseorang untuk bisa melukai saya,” jelasnya.


“Oh, begitu. Bagiku yang terpenting kau baik-baik saja, Wening.” Gandhi menyentuh pipi mulus gadis itu lembut. “Sayang, kau basah kuyup.” Dia tertawa pelan seraya menggenggam pergelangan tangan Wening dan menuntunnya menuju kamar paviliun. Gandhi membuka pintu serta menyalakan lampu. Dia masuk kamar lebih dulu.


“Pak?” Wening sempat berhenti di depan pintu dan menggeleng lemah.


“Jangan khawatir, aku hanya ingin membantumu.” Gandhi terus menarik tangan Wening dan membawanya berdiri di tepian ranjang. “Buka bajumu,” suruhnya.


“Pak?” Wening semakin tak mengerti dengan sikap aneh Gandhi. Gadis itu mulai merasa risih, mengingat apa yang telah mereka lakukan pada malam sebelumnya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah itu sesuai dengan yang dikatakan oleh aki Sukmana,” jelas Gandhi.


Mendengar penjelasan dari pria itu, tangan Wening bergerak ragu melucuti bagian atas seragam perawatnya. Sementara Gandhi berkali-kali menelan ludahnya, menahan gejolak yang meninggi dan siap untuk diledakkan ketika melihat tubuh indah gadis itu.


“Berbaliklah,” suruh Gandhi lagi dengan lembut. Lagi-lagi, Wening menurut. Dia membelakangi Gandhi. Luwes, tangannya menyibakan rambut panjang Wening dan meletakkannya di atas pundak sebelah kiri, sehingga Gandhi dapat melihat punggung mulus gadis itu dengan leluasa.


Jemari Gandhi lembut membelai punggung bagian atas dan berhenti di sana. “Aki Sukmana benar. Kekuatan Nirwasita seluruhnya telah berada di tubuhmu,” desisnya pelan.


“Dari mana Bapak tahu?” Wening sedikit menoleh ke arah Gandhi.


“Tanda ini. Pasti tanda ini baru muncul.” Jemari Gandhi berhenti di bawah bahu Wening.


“Tanda berbentuk lingkaran dan simbol trisula di dalamnya,” jawab Gandhi. Napasnya menyapu permukaan punggung Wening. Gadis itu merasakan sensasi aneh, terlebih saat bibir Gandhi mengecup pundaknya dengan penuh perasaan.


“Pak, ingat kata-kata aki Sukmana. Nikahi saya dulu,” ucap Wening malu-malu.


“Kau benar, Sayangku.” Gandhi terkekeh pelan. Dia mengecup pundak Wening sekali lagi, lalu membalikkan badan gadis itu. “Sekarang, gantilah bajumu. Aku berjanji untuk tidak mengganggu lagi,” ucap Gandhi seraya mengangkat tangannya, membentuk dua jari.


“Bapak keluar dulu,” suruh Wening sopan.


“Aku di sini saja. Lagi pula, aku sudah melihat semuanya.” Gandhi tersenyum nakal.


“Astaga.” Wening men•desah pelan. Terpaksa dia membiarkan Gandhi tetap berada di sana.


Setelah berganti pakaian dan merapikan kamar, dia menghampiri Gandhi yang sedari tadi berdiri menghadap ke jendela. Tatapannya kosong menerawang ke arah kolam renang sampai Wening melingkarkan tangannya dari belakang ke pinggang Gandhi. “Bapak sedang memikirkan apa?” tanya Wening lirih.


“Aku tadi mendengar Kalajanggi menyebut sebuah nama,” jawab Gandhi. Wajahnya masih lurus menatap ke arah kolam renang. “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu,” gumamnya.


“Bimo?” Wening teringat nama yang sempat disebut oleh Kalajanggi.


Gandhi mengangguk, “Iya, Bimo. Di mana ya, aku mendengarnya?”


“Nama saudara atau kenalan Bapak mungkin?” tebak Wening.


“Tidak. Aku tidak punya teman atau keluarga dengan nama itu,” jawab Gandhi seraya berbalik pada Wening. Tanpa permisi, dikecupnya bibir Wening lembut dan penuh perasaan. “Malam ini, aku ingin tidur denganmu.” Lirih suara Gandhi, membuat bulu kuduk Wening meremang.


“Ingat kata kata aki Sukmana ....”


“Sekadar tidur saja, Wening. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku bersumpah!” potong Gandhi. “Ya?” pintanya lagi tanpa sungkan.


Wening terkikik geli, lalu mengangguk. Dia lalu terdiam saat teringat akan sesuatu. “Pak?”


“Apalagi, Sayang,” tanya Gandhi gemas.


“Kalau Bapak di sini, Raline bagaimana? Siapa yang menemani? Suster Anggita sedang tidak enak badan,” terang Wening.


“Tenang saja, Sayang. Ada bi Lastri yang menemani,” ucap Gandhi sambil berusaha mencium bibir Wening lagi. Namun, gadis itu terlebih dulu memundurkan badannya dan memasang wajah tegang. “Ada apa lagi, Sayang? Kenapa wajahmu aneh begitu?” Gandhi mengempaskan napasnya pelan.


“Bi Lastri menemani Raline di kamarnya?” ulang Wening seraya terbelalak.


“Iya, kenapa memangnya?” Gandhi menautkan alis tanda tak mengerti.


Wening tak menjawab. Dia malah berlari cepat ke luar kamar, melintasi kolam renang dan berbelok menuju kamar Raline. Gandhi turut mengikutinya di belakang. “Ada apa ini, Wening? Jangan membuatku panik,” tegurnya.


Wening terdiam sejenak di depan pintu kamar Raline. Diputarnya gagang pintu itu, tetapi tak bergerak seakan ada seseorang dari baliknya yang menahan gagang pintu sehingga sulit untuk terbuka. “Macet, Pak. Tidak bisa dibuka,” ucapnya sambil meringis.


“Biar kucoba.” Gandhi menggeser tubuh Wening, lalu mencoba melakukan apa yang Wening lakukan tadi. Akan tetapi, benar kata Wening. Sekuat apapun Gandhi berusaha, gagang pintu itu tetap tak bergerak.Mulai tak sabar, Gandhi menendang pintu kayu itu keras-keras. Butuh tiga kali tendangan sampai pintu tadi jebol hingga terbuka.


“Raline!” panggilnya. Baik Gandhi dan Wening mulai merasa was-was ketika tak menemukan siapa pun di dalam sana, termasuk gadis itu sendiri. “Raline!” serunya lagi. Gandhi dan Wening menelusuri tiap sudut ruangan, tapi Raline ataupun bi Lastri tak ditemukan di manapun.