
“Neng?” bi Lastri tiba-tiba sudah berada di teras paviliun dengan posisi setengah membungkuk. Wanita berdaster itu menatap Wening yang masih duduk di lantai dengan keheranan. “Sedang apa Neng di sini?” tanyanya heran yang melihat Wening.
“Ah, tidak ada apa-apa, Bi,” jawab Wening seraya tersenyum kemudian bangkit. Gadis itu berdiri dan merapikan seragamnya. “Bagaimana keadaan Raline?” tanyanya kemudian.
“Itulah kenapa saya ke sini, Neng. Pak Gandhi menyuruh saya untuk memberitahu Neng, kalau Neng Raline sudah sadar dan menanyakan Neng Wening terus,” tutur bi Lastri dengan logat bicaranya yang unik.
“Baiklah, Bi. Terima kasih. Saya akan segera ke sana,” dengan tergesa-gesa, gadis itu berjalan. Dia melintasi pinggiran kolam renang dan berbelok memasuki rumah utama. Di depan pintu kamar Raline, Wening menghentikan langkahnya. Sayup-sayup dia mendengar suara Raline menangis. Tanpa ragu, Wening mengetuk pintu lalu membukanya. “Raline,” sapanya dengan senyum mengembang.
“Kak,” tampak mata Raline yang mulai sembab. Pipinya basah oleh air mata, sedangkan rambutnya acak-acakan. Tak jauh dari Raline, Gandhi tengah duduk dalam posisi menunduk. Pria tersebut asyik mengamati sesuatu di telapak tangannya. Pandangan duda tampan itu terlalu fokus pada benda kecil yang tampak berkilau. Dia seolah tak menghiraukan keadaan sekelilingnya.
“Kamu tidak apa-apa?” Wening melewati Gandhi yang duduk terdiam di tepi ranjang begitu saja, lalu menghampiri Raline dan merengkuh pundaknya.
“Ayahku aneh, Kak,” bisik Raline. “Sejak aku tersadar hingga sekarang, ayah masih membisu seperti itu. Saat aku memanggilnya, ayah tidak menyahut sama sekali. Aku takut,” Raline mempererat tangannya yang melingkar di pinggang ramping Wening.
Wening mengalihkan pandangan kepada Gandhi yang memang terlihat aneh. “Dia tidak melukaimu, kan?” Wening kembali mengalihkan perhatiannya pada Raline.
“Tidak, tapi aku kesakitan,” jawab Raline lirih.
“Kesakitan?” ulang Wening.
“Badanku terasa ngilu, Kak. Aku sudah mengatakannya pada ayah, tapi ayah tidak menjawab,” jelas Raline. “Aku juga mendengar suara-suara aneh di dalam kepalaku,” imbuhnya lagi.
“Ayahmu diam saja?” tanda tanya besar mulai muncul dalam benak Wening. Terlebih saat Raline mengangguk. “Ta-tapi bi Lastri tadi mengatakan bahwa pak Gandhi mencari Kakak,” gadis itu menyentuh dadanya sendiri sembari berpikir keras.
Kali ini Raline menggeleng. “Bi Lastri memang masuk kemari, tapi ayah tidak bicara apa-apa,” terangnya.
“Untuk apa bi Lastri masuk kemari? Apakah pak Gandhi memanggilnya?” cecar Wening yang semakin tidak mengerti.
Raline menggeleng lagi, “Bi Lastri memang begitu. Dia suka masuk ke kamar dan memberiku minum, meskipun aku tidak memintanya.”
“Apa kamu meminumnya?” khawatir, Wening mencengkeram kedua lengan Raline.
“Tidak, belum,” Raline memiringkan kepalanya dengan sorot mata yang tak bisa dimengerti.
“Raline?” Wening semakin mengernyitkan dahinya saat gadis remaja itu memandangnya aneh.
“Aku mendengar seseorang berbisik, Kak. Dia mengatakan, waktuku tidak banyak. Iblisnya menggunakan tubuhku sebagai rumah. Jika tidak segera diusir, maka aku akan mati,” mata Raline mulai berkaca-kaca. “Aku tidak mau mati,” resahnya.
Wening menegakkan tubuhnya. Dia menoleh pada Gandhi yang masih tetap pada posisi yang sama. “Pak?” panggilnya. Gandhi masih terdiam.
“Pak?” Wening bangkit dan berdiri di depan Gandhi yang tak juga menghiraukannya. Perlahan, aura Nirwasita hadir dan menguasai Wening. “Sentanu, apakah kau tengah berbicara dengan Aki Sukmana?” dia bertanya di dalam hati.
Akan tetapi, Gandhi dapat mendengarnya. Dia seketika tersadar, lalu menatap Wening.
“Wening? Sejak kapan?” Gandhi terlihat sangat kebingungan.
“Ma-maaf, Nak. Ayah tidak mendengarnya,” sesal Gandhi. “Beberapa saat yang lalu, aku seperti tengah berada di dalam ruang kerja, berbincang-bincang dengan ….” Gandhi tak melanjutkan kalimatnya. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. “Dengan siapa, ya? Aku lupa,” sambungnya keheranan.
“Sudahlah, tidak apa-apa, Sentanu. Badik itu sedang memperkenalkan dirinya padamu,” ujar Wening di dalam hati yang anehnya dapat didengar dengan jelas oleh Gandhi. Tangan gadis itu masih berada di pundak Gandhi sembari mengusap-usapnya lembut. Wening sudah hendak melanjutkan ucapannya, ketika terdengar ketukan pelan di pintu kamar Raline.
“Masuk,” seru Gandhi. Beberapa saat kemudian.
Bi Lastri menyembulkan kepalanya dan tersenyum. “Maaf mengganggu, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Pak Gandhi dan Neng Raline,” ujarnya.
“Siapa?” tanya Gandhi dan Wening secara bersamaan.
“Hai,” belum sempat bi Lastri menjawab, sesosok suster cantik dengan postur semampai sudah berdiri di belakang wanita paruh baya itu.
“Anggita?” mata indah Wening setengah terbelalak. Aura Nirwasita menghilang begitu saja dari dirinya.
“Hai, Suster Wening. Apa kabar?" sapa Anggita hangat dan terkesan formal.
Sementara Wening segera membalasnya dengan sebuah anggukan. "Baik, Suster Anggita," jawabnya.
Anggita masih dengan senyumannya. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangan kepada Gandhi. Gadis manis tersebut lalu tersenyum seraya mengangguk sopan. “Perkenalkan, Pak. Nama saya Anggita Setiawan. Saya ditugaskan oleh suster kepala untuk diperbantukan di sini menggantikan suster Ratna,” jelasnya dengan gaya bicara yang terdengar jauh lebih ramah jika dibandingkan dengan gaya bicara Wening.
Setelah mendengar Anggita memperkenalkan dirinya, Gandhi segera berdiri dan mengangguk pelan. “Selamat datang dan selamat bertugas, Suster,” sambutnya. “Saya permisi dulu,” lanjut pria itu setelah sebelumnya sempat melirik kepada Wening untuk sesaat. Tanpa berlama-lama, duda satu anak tersebut melangkah keluar dari dalam kamar Raline. Kini di dalam ruangan itu tinggal mereka bertiga.
Anggita menatap Wening untuk sejenak, kemudian beralih kepada Raline yang masih termenung di atas tempat tidur. “Hai, Raline. Mulai hari ini, kita akan lebih sering bertemu. Semoga kau bisa menyukaiku seperti kau menyukai suster Wening,” ucap gadis dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Wening. Sedangkan Raline hanya menoleh dan tersenyum kecil. Pandangan gadis itu kemudian beralih pada gelas berisi air putih di meja sebelah tempat tidur. Dengan segera, Anggita mengambil gelas tersebut lalu menyodorkannya kepada Raline. Namun, Wening lebih dulu mencegah. Hal itu membuat Anggita menatap rekannya dengan keheranan. "Ada apa, Suster Wening?" tanyanya.
"Ambilah air yang baru. Saya akan membuang air minum yang ini," ucap Wening segera merebut gelas itu dari genggaman Anggita yang masih keheranan.
"Air minum itu masih baru, Kak. Bi Lastri mengantarkannya sekitar setengah jam yang lalu," ujar Raline kepada Wening.
"Tak apa, Raline. Akan Kakak ambilkan yang baru," balas Wening seraya berlalu keluar kamar membawa gelas berisi air minum tadi. Dalam pandangan Wening, air putih dalam gelas itu nyatanya berwarna keruh bahkan cenderung hitam. Entah apa yang dicampurkan ke dalam air minum tersebut. Namun, itu sesuatu yang patut untuk diselidiki.
Derap hak sepatu milik Wening beradu dengan lantai, sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di sepanjang koridor sepi itu. Bunyinya begitu menggema dan berirama. Tatapan Wening tertuju lurus sambil terus menggenggem gelas berisi air yang sedikit berguncang karena gerak langkahnya. Makin lama, air itu terlihat semakin pekat, lalu tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
Wening tertegun. Diangkatnya gelas itu dan dia amati baik-baik. Di dalam gelas tersebut, tampak puluhan cacing kecil yang bergerak-gerak dan sebagian menempel pada gelasnya. Wening teringat pada ratusan belatung yang pernah dia muntahkan beberapa hari yang lalu. Seketika bulu kuduknya terasa berdiri. Namun, dia kembali melanjutkan langkah menuju dapur.
Di sana, Wening melihat bi Lastri baru selesai mencuci piring. Tanpa banyak bicara, dia membuang air di dalam gelas itu ke dalam bak cuci piring, lalu mengambil gelas baru dan mengisinya. Sebelum membawa air minum itu ke kamar Raline, dia menyempatkan diri untuk mengamati isi dari gelas yang sedang dipegangnya. Wening memastikan bahwa air itu benar-benar aman untuk dikonsumsi.
"Kenapa dengan airnya, Neng?" tanya bi Lastri. Dia terlihat heran dengan apa yang Wening lakukan saat itu.
"Tidak ada, Bi. Saya hanya memastikan bahwa ini benar-benar air putih atau bukan," sahut Wening yang kemudian menoleh kepada wanita paruh baya tersebut dan tersenyum kecil.
Sementara bi Lastri tampak bingung. Dia menautkan alisnya sambil tertawa pelan. "Neng Wening ini ada-ada saja. Sudah jelas warnanya putih, ya pasti benar-benar air putih. Kalau warnanya merah, baru itu bukan air putih," balas bi Lastri menanggapi ucapan Wening dengan geli.
"Iya, Bibi benar sekali. Terkadang kita harus cermat dalam melihat sesuatu, karena ada banyak hal yang terlihat putih dan bersih, tapi ternyata aslinya kotor dan penuh cacing," kalimat perumpamaan atau mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah sindiran halus dari Wening yang dia tujukan entah untuk siapa.