
π©ββοΈ: Hai An...gue Sella, save back ya
πββοΈ: Baik dokter Sella
π©ββοΈ: Siang ini kita bisa ketemu? Kalo lo ga keberatan pastinya
πββοΈ: Saya izin sama dokter Rio dulu ya
π©ββοΈ: Tenang aja, gue udah bilang mau pergi sama elo
πββοΈ: Ok
Ana sedikit terkejut mendapat pesan singkat dari dokter Sella, nyatanya selama mereka bertemu, keduanya tak pernah akur, cenderung membenci.
"Mungkin dokter Sella udah sadar, jika selama ini ia salah," gumamnya.
Sejak operasi wajahnya 3 bulan yang lalu, Ana tinggal kembali di rumah dokter Rio di Bintaro. Rupanya sang dokter tampan tidak tega melihat Ana sebatang kara tinggal di villanya. Lagipula sekarang kondisi Ana juga jauh lebih baik dari sebelumnya, hanya butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.
"An...ikut saya!"
"Ini perintah atau ajakan?" batin Ana. Tapi apa pun itu, Ana tetap mengikuti dokter Rio sebagai majikan sekaligus malaikat penolongnya.
"Mau kemana dok?"
"Psikiater," jawabnya singkat.
"Psikiater? Siapa?" tanya Ana bingung.
"Rasanya ada yang salah denganmu, mungkin masa lalumu begitu kelam, hingga sulit bagimu untuk mengembalikan rasa percaya dirimu. An....kamu itu cantik, cantik banget." Dokter Rio menghentikan mobilnya di tepi.
Ana kaget dengan ucapan dokter Rio.
"Apa ini sebuah rayuan untukku? Apa benar dia adalah dokter playboy seperti gosip yang sering kudengar tentangnya?" Lagi-lagi Ana hanya bisa membatin tanpa menemukan jawaban pasti.
Dokter Rio segera melanjutkan perjalanannya setelah menyadari Ana sedikit tidak nyaman dengan perlakuannya barusan.
"Apa saya membuatmu tidak nyaman?" katanya sambil mengemudi.
"Tidak, mungkin ada benarnya."
"We never know, kita tidak akan pernah tau seperti apa kehidupan kita kedepannya, pasti ada saja kejadian yang tidak disangka..."
"Ya...seperti saya yang bertemu dengan dokter di ujung kematian saya malam itu, kemudian dokter membiayai semua operasi bedah wajah ini, saya ga pernah tau kejutan apa lagi ke depannya." Ana menyambung ucapan dokter Rio.
Rio membalasnya dengan senyuman. Mereka langsung menuju ruang psikiater. Sudah ada dokter Mul yang merupakan senior dokter Rio di rumah sakit itu.
"Siang dok, ini yang kemarin saya ceritakan, namanya Ana, saya tinggal dulu." Dokter Rio meninggalkan Ana dan dokter Mul di ruang konsultasi. Dengan detil Ana menceritakan setiap episode kehidupannya. Dokter akhirnya menarik kesimpulan.
"Begini Ana, saya menyimpulan kalau kamu memiliki kepribadian βPetualangβ. Yang artinya Saya berubah sepanjang hari. Saya bangun dan saya menjadi seseorang, dan ketika saya tidur saya yakin saya sudah menjadi orang lain." Dokter Mul menjelaskan dengan bahasa yang sederhana sehingga semua kliennya mengerti apa yang ia katakan, termasuk Ana.
"Petualang menjalani hidup yang penuh warna, dunia yang sensual, diinspirasikan oleh hubungan dengan orang-orang dan ide-ide. Kepribadian petualang senang menafsirkan ulang hubungan tersebut, menemukan kembali dan bereksperimen dengan diri mereka dan perspektif baru. Petualang tampak sulit ditebak, bahkan bagi teman dekat dan orang yang dicintainya. Petualang sangat peka terhadap perasaan orang lain dan menghargai keharmonisan. Ketika dihadapkan pada kritik, itu merupakan tantangan bagi orang dengan tipe kepribadian ini untuk menjauh cukup lama dari keadaan itu agar tidak terjebak dalam suasana panas. Tetapi menjalani keadaan saat ini bergerak dalam kedua arah, dan setelah emosi perdebatan yang tinggi mulai mendingin. Petualang biasanya dapat menganggap yang lalu biarlah berlalu dan melanjutkan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa."
"Kurang lebih begitu Ana...namamu Jesica Anabela?" tanya dokter Mul setelah selesai menjabarkan karakter Ana.
"Iya dok..."
"Cantik sekali, sama seperti parasmu. Kamu dekat dengan dokter Rio?"
"Dia seperti malaikat penolongku, dok... dokter Rio adalah majikan saya."
"Kalian mempunyai hubungan spesial?"
"Kurasa tidak."
Ana meninggalkan ruang konsultasi. Tidak sengaja ia berpapasan dengan dokter Sella.
"Ana? Disini juga rupanya? Kalau begitu kita ngobrol sekarang ya?" ajak dokter Sella.
Mereka memesan makan siang di kantin rumah sakit. Seperti biasa, Ana bersikap kaku, awalnya Ana merasa tidak nyaman berada dekat dengan dokter Sella. Atau ini sedang proses adaptasi bagi Ana untuk menghadapi dunia baru dengan kondisi "normal lagi"
"An... gue denger prestasi lo saat sekolah lumayan bagus, sekarang lo juga udah cantik, ga mau nyari kerjaan lain?" tanya dokter Sella di sela makan mereka.
"Maksudnya?" tanya Ana pura-pura tak mengerti.
"Gue sedang membuka praktek di deket rumah, gue butuh asisten sebagai seseorang yang terlibat langsung di dalamnya."
"Mmm...."
"Apa lo mau kerja sama gue?"
Wajah Ana semakin cerah, nampak bergairah mendengar tawaran yang di luar dugaannya. Menjadi asisten dokter kecantikan? Siapa yang mau menolaknya. Tanpa berpikir negatif terhadap dokter Sella, ia langsung menyanggupinya. Tentu saja dokter Rio tidak akan melarang Ana demi masa depannya, artinya usahanya mengembalikan kepercayadirian itu berhasil.
***
"Ini hari pertama lo, gue awasi setiap pekerjaan lo dari cctv yang connect ke ponsel gue, gue ga mau klinik kecantikan gue jadi kampungan gara-gara nama lo, nama lo Jesica Anabela kan? Ini kartu identitas lo sebagai asisten gue. Nama lo sekarang Jesica, kenalkan itu pada semua klien klinik gue. Ngerti? Sebulan kedepan lo masih gue training, gue berharap otak lo bener-bener encer!" briefing pagi sebelum Ana memulai hari pertamanya di klinik kecantikan milik dokter Sella.
Begitu cepat otak Jesica menyerap istilah kedokteran khususnya tentang kecantikan. Sebuah prestasi baru baginya, tanpa harus berkuliah ia bisa dengan cepat mendapat ilmu yang begitu berharga. Setiap klien klinik yang datang untuk berkonsultasi dengan dokter Sella, Ana selalu mencatat semua dalam buku agendanya. Suatu hari dokter Rio berkunjung ke klinik milik Sella. Hanya Jesica yang ia temui.
"Dokter Rio?" sapanya begitu melihat mantan majikannya datang, meski ia tau, kedatangannya untuk menemui dokter Sella.
"Dokter Sella sedang keluar, dok..." jelas Jesica.
"Saya ga nyari Sella, saya mau ketemu kamu," terang dokter Rio.
"Namamu Jesica?" tanyanya sambil membaca nametag yang tergantung di leher Jesica.
Jesica mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu cocok dengan panggilan itu sekarang, you look different, more beautifull, kamu sangat cantik dengan seragam merah mudamu."
"Apa ini pujian untuk saya, dok?"
"Iya, kamu udah menemukan kehidupan barumu."
"Kurasa begitu, saya berhutang budi pada dokter Rio, entah kapan saya bisa membalasnya."
"Sebentar ada klien," pamit Jesica tetap sopan.
Dokter Rio sungguh terpesona dengan penampilan baru Jesica saat itu. Caranya menjawab semua pertanyaan kliennya juga membuat ia semakin kagum. Siapa sangka, Jesica yang sekarang, adalah gadis kampungan, berwajah cacat dengan telinganya yang tuli yang ia temukan hampir mati di bawah pohon dekat komplek pertokoan rumah sakit. Keterampilannya menjawab dan menjelaskan istilah medis tidak menunjukan bahwa itu adalah jawaban dari seorang gadis yang hanya lulusan SMA.
"Darimana kamu mempelajarinya?" tanya dokter Rio setelah kliennya ke ruang perawatan.
"Semua kupelajari dari dokter Sella."
"Disini? Otodidak?"
Jesica hanya mengangguk.
"Maaf, dok...sebenarnya apa tujuan dokter Rio kesini. Kalau mau menagih semua utang, saya mohon maaf, belum ada dok."
"Haha...lucu sekali kamu Jes... santai aja, biarlah utang-utang itu menjadi alasan saya untuk mengujungimu kapan pun saya mau."
Wajah Jesica memerah karena rayuan maut dokter Rio.
"Apa kamu alergi dengan dokter tampan sepertiku?" sambil memperhatikan perubahan wajah Jesica yang semakin merah. Jesica semakin salah tingkah akibat gombalan dokter Rio.