
Tepat sebulan sejak Ana meninggalkan kota Malang, kota dimana ia dibesarkan, kota dengan sejuta kenangan sekaligus luka. Dengan bekal uang 350.000 dari hasil tabungannya selama ia bekerja paruh waktu selama SMA, tak ada artinya untuk bertahan hidup di ibu kota pada tahun 2021.
"Aku belum dapet kerja, uangku tinggal 5.000, bagaimana ini?" gumamnya sambil meringkuk di emperan toko yang sudah tutup, beralaskan kardus yang sudah lembab.
Kruyuk....kruyuk....
Terdengar bunyi perutnya yang sudah tidak bisa diajak berkompromi namun kantongnua berusaha menolaknya.
"Heh...gembel, itu tempat gue, sono pergi!" usir salah satu gelandangan senior yang biasa menempati space yang sedang dipakai Ana saat itu.
"Tolong Bang...semalam ini aja Bang....badan saya ga kuat lagi Bang," pinta Ana yang terdengar sangat melas.
"Bodo amat!" Pria itu tak menggubris Ana, justru dia menendang tas yang di bawa Ana saat itu. Terpaksa Ana bangkit dan mencari tempat lain. Tak ada lagi emperan toko yang bisa ia singgahi untuk bermalam, malam itu.
Ana berteduh di bawah pohon yang cukup besar yang lumayan bisa melindunginya dari gerimis syahdu malam itu. Ana membentangkan sarung lusuh peninggalan Simbok di bawah pohon tersebut, lagi-lagi dia meringkuk, menahan sakit dan lapar. Seseorang datang ketika Ana mulai bisa terpejam. Melihat kondisi Ana yang memprihatinkan, pria itu jongkok tepat di depan Ana yang tengah meringkuk.
"Permisi...." sapanya lembut.
Ana ingin sekali membuka matanya, rasanya sungguh berat bahkan tak bisa terbuka saat itu. Ana tak sadarkan diri. Menyadari seseorang di hadapannya, jiwa kemanusiaannya membuncah. Pria itu membopong tubuh Ana yang kurus, kotor dan basah karena gerimis malam itu, ke dalam mobilnya. Pria itu meletakannya di bangku belakang. Melajukan mobilnya ke arah Bintaro, arah rumahnya berada.
22.00
"Bi...tolong bantu saya membersihkan gadis ini," pintanya pada Bibi yang membantu di rumah mewahnya tersebut.
"Astaghfirulloh....!" Bibi mundur dua langkah melihat siapa yang dibopong tuannya ke kamar tamu.
"M-maaf den.....siapa ini?" penuh ragu bibi bertanya.
Pria yang bernama Rio itu hanya menggeleng. Bibi lekas menggantikan baju Ana yang tidak bisa disebut layak pakai dengan salah satu dasternya. Kebetulan ukuran tubuh bibi dan Ana tidak jauh berbeda.
"Udah den..."
"Makasih Bi...dia sadar belum?" tanyanya kemudian.
"Belum den.."
"Buatkan teh hangat ya Bi, nanti biar saya yang memberikannya sekaligus memeriksa gadis itu."
Sepuluh menit kemudian bibi datang dengan segelas teh jahe kesukaan majikan mudanya.
"Biar saya den..."
"Ga usah, istirahat aja."
Bibi kembali ke kamarnya dengan seribu pertanyaan di benaknya. Sementara pria bernama Rio itu dengan stetoskop yang masih terkalung di lehernya lengkap dengan baju dinasnya segera ke kamar tamu.
"Huuuuh.... kenapa dia memiliki luka separah ini!" gumamnya sambil hendak memeriksa tensi Ana.
Belum sempat Rio memeriksa Ana, dia sudah terbangun.
"S-siapa?"
"Aku yang menyelamatkanmu tadi," jawab Rio lembut.
"Kamu dokter?" tanya Ana. Dia bisa mengenali seragam yang dipakai Rio. Rio hanya tersenyum.
"Minumlah ini, selagi hangat," sambil menyodorkan secangkir teh jahe.
Asap mengepul dari atas cangkir tersebut, aromanya menggelitik hidung Ana.
"Saya periksa kamu sebentar ya?" tanya Rio sopan. Dia tidak ada rasa canggung sedikit pun, sebab begitulah pekerjaannya sehari-hari. Dari bau wangi sampai bau anyir, dari pasien cantik sampai pasien berlumuran darah dan remuk akibat kecelakaan sudah pernah ia tangani.
"Hhhh....." Rio menarik nafas panjang.
"Dimana rumahmu? Kenapa hujan-hujanan?"
Ana hanya menggeleng, tiba-tiba....
Cacing di dalam perut ana kembali berdemo. Sialnya sang dokter muda mendengarnya.
"Udah...ga usah jawab dulu." Rio mengeluarkan ponselnya sambil mengetik pesan untuk seseorang. Tak berselang lama, muncul wanita paruh baya dengan nampan penuh makanan memasuki kamar itu.
"Makasih ya Bi... maaf merepotkan."
"Lah...emang saya kerjaannya harus direpotkan den," gurau Bibi. Bibi keluar meninggalkan Rio dan Ana.
"Makanlah, setelahnya kamu bisa ceritakan semuanya kepada saya."
Ana memakan semua yang dibawakan Bibi tadi dengan lahap, tanpa sisa.
"Terimakasih ya....?" ucap Ana sambil membersihkan mulutnya dengan serbet yang disediakan.
"Rio... namaku dokter Rio," jawabnya sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan Ana.
"Kamu tidak jijik denganku?" tanya Ana ragu.
"Sudah menjadi makananku sehari-hari. Tekanan darahmu sangat rendah, badanmu demam tinggi. Maaf lukamu?"
Ana masih diam.
"Kamu mau menceritakan sesuatu kepada saya? Saya siap mendengar ceritamu, jika kamu mau," tawar Rio, seolah-olah tau apa yang sedang Ana pikirkan.
"Saya kesini untuk mencari pekerjaan dan orangtua kandung saya. Sudah sebulan lamanya saya merantau dari Malang, namun dengan kondisi wajah yang seperti ini, membuat orang-orang merasa takut dan jijik dengan keberadaan saya di dekat mereka. Bekal saya sudah habis. Setiap malam, saya numpang tidur di emperan toko, tapi malam ini, saya di usir oleh salah satu dari mereka. Tak ada tempat lain, saya keburu tidak kuat untuk berjalan lagi, saya memutuskan untuk istirahat di bawah pohon itu." Ana menjelaskan semua dengan deraian air mata.
"Ok saya ngerti, intinya kamu butuh pekerjaan ya?" tanya dokter memastikan dan mengakhiri perbincangannya dengan gadis malang yang baru saja ia temui. Ana hanya mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.
"Kerjalah di sini, kebetulan tukang kebun saya belum lama ini pulang kampung. Nanti kamu akan di antarkan ke kamarmu oleh wanita yang tadi mengantarkan makanan untukmu. Namanya Bi Mumun, dia juga bekerja di rumah ini." Rio bangkit dari duduknya hendak meninggalkan kamar Ana.
"Sungguh????" Ana masih tidak percaya. Dia sedang dipertemukan dengan malaikat kah? Di kala harapan hidupnya di ujung tanduk, seseorang datang memberinya pertolongan sekaligus memberi ia pekerjaan.
Ana bersujud di kaki Rio.
"Eh...eh..apa yang kamu lakukan? Aku bukan Tuhanmu!" sambil membantu Ana berdiri.
"Terimakasih ...terimakasih Tuan!"
"Jangan panggil tuan, panggil saja Rio, sepertinya umur kita tidak terlalu berbeda!"
"Bagaimana mungkin, saya selalu diajarkan untuk selalu menghormati orang lain, terlebih seseorang yang sudah berjasa!"
"Ok...ok....apa ya?" sambil memikirkan panggilan untuk dirinya sendiri.
"Gini aja deh...panggil saya dokter Rio, seperti profesi saya saat ini, kamu keberatan?"
"Tidak...sama sekali tidak keberatan dokter Rio."
Ana bergegas bangun, namun Rio menghalanginya kembali.
"Tunggu, sebaiknya kamu malam ini tetap di sini, terlalu malam untuk merepotkan Bi Mumun. Besok pagi baru pindah, ya?"
Ana manut saja dengan perintah majikan barunya. Dia sungguh terpana pada pandangan pertama. Jantungnya jadi berdegup dengan kencang.
"Aku tidak mengira, di kota yang dibilang kejam ini, masih tersisa manusia yang sangat baik, seperti dokter Rio. Udah baik, tampan, kaya lagi," gumam Ana sambil senyum-senyum sendiri di kamar asing yang baru saja ia tempati.
Plaaaak!
Ana menampar pipinya sendiri agar segera tersadar dari lamunannya.
"Bodoh! Ngomong opo aku ini!"
"Ternyata....rencana Allah sungguh tak ada yang bisa menebaknya. Berkali-kali aku ditolak ketika melamar pekerjaan pada seseorang. Ternyata Allah mengirimkan manusia berhati malaikat untuk menolongku yang hampir mati. Sekali lagi, pertolongan Allah itu tidak hanya berupa orang baik, kadang orang yang jahat kepada kita juga menjadi jalan keluar dan penyelamat dalam hidup kita. Andai gelandangan tadi tak mengusirku dari emperan toko, aku sudah mati kedinginan. Dokter Rio.... semoga Allah membalas kebaikanmu."
Pertama kali dalam hidup Ana, tidur di atas springbed empuk dengan covernya yang sangat tebal dan lembut. Belum lagi aroma ruangan itu. Bau khas orang kaya. Ornamen klasik menjadi hiasan dindingnya, menambah kesan mewah di kamar tersebut. Malam itu, Ana tidur dengan sangat nyenyak.