We Never Know

We Never Know
Rumah Rehabilitasi



Kini si kembar bernama Puspa dan Langit sudah genap berumur 3 bulan. Puspa tumbuh menjadi bayi perempuan yang imut dan menggemaskan, sebaliknya Langit. Langit bayi malang, beberapa kali selama hidupnya dia sempat gagal nafas, untungnya ayahnya adalah seorang dokter bedah yang handal. Dokter Rio selalu siaga untuk pertolongan pertama bagi buah hatinya. Kini rumahnya bak rumah sakit mini. Perlengkapan medis hampir lengkap ia miliki. Jesica belajar banyak untuk hal itu. Tidak gampang memang, tapi wajib ia lakukan demi memperpanjang hidup salah satu anak kembarnya.


"Maafkan aku, sayang. Mungkin ini salah satu efek beberapa vitamin dan obat-obatan yang kamu konsumsi selama kehamilanmu."


"Mas....jangan ngomong gitu...ininkita lakukan sebab kita ingin melindungi anak-anak kita agar tidak terjadi seperti yang sebelumnya kan.... mungkin ini memang jalan dari Tuhan untuk Langit dan Puspa. Meski kembar mereka memiliki kondisi kesehatan, tolong jangan bedakan mereka. Mereka anak-anak kita, aku bisa merasakan apa yang Langit rasakan. Kamu ingat kan?!"


Deg!


Dokter Rio teringat masa lalu Jesica sebelum pada akhirnya dia menjadi wanita jelita saat ini. Memang itu bukan cacat bawaan, tapi akibat cacat di wajahnya, dia menjadi korban perundungan hingga ia dewasa. Bahkan sampai saat ini, telinganya belum kembali normal. Ada bagusnya memang, tapu cacat tetaplah tidak sempurna.


"Aku ga akan membiarkan anak kita menjadi anak yang tidak sempurna, kamu tau kan, aku seorang dokter bedah yang sudah cukup berpengalaman. Aku akan membuat Langit menjadi bayi yang sempurna, segera. Aku berjanji padamu sayang, dia akan tumbuh sama sehatnya dengan Puspa."


"Aku menyerahkan hal itu padamu Mas...kamu tau yang terbaik untuk Langit."


Dokter Rio mengecup kening istrinya. Mungkin Jesica terlihat tegar, tabah dan menerima kondisi salah satu anaknga yang terlahir tidak sempurna. Namun jauh di lubuk hatinya, Jesica merasa kasihan dan penyesalan serta ketakutan yang teramat akan masa depan Langit. Memang itu bukan cacat fisik, tapi itu akan mempengaruhi perkembangan fisiknya. Mungkin akan lebih fatal, karena jantungnya yang bermasalah.


Diam-diam dokter Rio merencanakan akan melakukan operasi pembuatan saluran pembuangan (lubang anus) untuk Langit.


***


"Sayang.....lusa, Langit akan melakukan operasi pembuatan saluran pembuangan, persiapkan kondisi fisinya jangan sampai drop ya!"


"Lusa? Operasi? Apa ga terlalu dini, Mas?"


"Aku udah konsultasikan ini ke dokter Burhan, dokter senior ahli bedah, dia membolehkan melakukan operasi untuk Langit. Aku berdua dengan dokter Burhan yang akan menangani langsung operasi untuk Langit."


"Iya Mas...aku percaya sama kamu."


Keesokannya......


(Pukul 10.00)


Sudah satu jam, dokter Rio dan dokter Burhan berada di ruang operasi, belum ada kabar menggembirakan. Jesica cemas, Puspa menangis terus sejak Langit masuk ke ruang operasi, mungkin dia merasakan kesakitan yang tengah dialami oleh kembarannya. Tiga puluh menit kemudian, dokter Rio keluar, Jesica menyambutnya dengan antusias. Dokter Rio memeluk Jesica erat sekali, menggambarkan keberhasilannya dalam operasi yang baru saja ia lewati. Dengan senyum dan tawanya yang khas dan melelehkan setiap wanita yang melihatnya, tanpa diberitau, Jesica paham.


"Mas, ternyata wajahmu lebih tampan sehabis melakukan operasi ya, aku baru menyadarinya." Sekali seumur hidupnya bersama dokter Rio, baru kali itu Jesica secara gamblang menyanjung ketampanan wajah dokter muda yang menjadi suaminya.


"Operasi kami berjalan mulus sayang, sebentar lagi Langit dipindahkan ke ruang perawatan."


Puspa pun diam begitu mendengar kabar Langit selesai melakukan operasi besarnya. Ternyata sedekat itu hubungan anak kembar ya?


Puspa merajuk pada ayahnya begitu dokter Rio melepas atribut kedokterannya. Saat ini, posisi dokter Rio sedang menjadi ayah untuk kedua anaknya, beberapa jam yang lalu, dia menjadi seseorang yang dipercayakan oleh orangtua pasien untuk kesembuhan keluarganya. Satu minggu lamanya, Langit mendapat perawatan intensif di rumah sakit sekaligus pemulihan pasca operasi.


"Besok Langit bisa pulang sayang."


Melihat keberhasilannya melakukan operasi pada Langit, dokter Rio ingin melanjutkan perjuangannya menjadikan putranya menjadi anak yang sempurna. Dia mencari referensi dari berbagai sumber. Hingga akhirnya dengan bulat ia menyatakan untuk melakukan transplantasi jantung untuk Langit, tentu ini melibatkan Puspa.


"Ini terbilang terlalu dini untuk bayi seusia Langit, dia masih 6 bulan, ada beberapa kemungkinan yang bisa kamu pikirkan sebelum kamubmelakukan operasi besar untuknya," salah satu dokter spesialis menasihati dokter Rio. Dokter itu adalah teman baik Papanya Rio. Sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Apa dok?"


"Pertama ia akan dengan mudah mendapatkan bagian dari organ vitalnya karena ia anak kembar, tentu ia akan dapatkan dari Puspa. Kedua, ini kemungkinannya 50%, dia bisa sembuh dengan segera karena masih bayi atau malah sebaliknya, dia tidak kuat dan kondisinya terus memburuk. Ketiga mereka akan sembuh pasca operasi atau kehilangan keduanya."


"Resikonya amat besar. Jesica ga akan menyetujuinya. Aku akan membuat keputusan sendiri."


"Pikirkan baik-baik, jangan gegabah, jangan terpancing emosi, ini menyangkut nyawa 2 bayimu!" sokter itu terus mengingatkan.


Sebenarnya dari awal, dokter Rio sudah mendapat sinyal ini, dokter teman papanya sebenarnya sudah memberikan warning. Dia tidak menyarankan melakukan operasi itu untuk Langit. Namun dokter Rio lebih mengutamakan obsesinya. Dia memutuskan melanjutkan operasi itu yang melibatkan si kembar. Jesica tak bisa berbuat banyak, hanya doa yang ia berikan untuk kelancaran operasi itu. Hampir 5 jam, operasi itu dilakukan. Air mata Jesica sudah berkali-kali kering karenanya.


"Kita tinggal menunggu hasil, si kembar masih belum sadar," ucap dokter Rio yang keluar dari ruang operasi dengan ekspresi yang sedikit mengkhawatirkan.


"Ya Tuhan...." ucap Jesica lemas. Badannya gontai dan akhirnya lemas tak sadarkan diri. Sementara Jesica terbaring di ruang perawatan, dokter Rio terus memantau kondisi si kembar.


"Astaga...Puspa, tekanan darahnya menurun, kadar oksigennya juga terus menurun." Dokter Rio dengan sejumlah tim medis melakukan tindakan. Dan pada akhirnya, Puspa tidak bisa tertolong. Puspa meninggal saat itu juga.


Jesica semakin histeris. Badannya seperti tidak bertulang, tak ada makanan masuk, hanya air mineral yang ia teguk sebatas menghilangkan rasa haus. Kini dia hanya berharap Langit bisa segera sadar pasca operasi. Dia masih kritis. Hari ketiga pasca operasi dan pemakamam Puspa. Hati Jesica dan dokter Rio hancur bukan main.


"Dok...dok...Langit!" ucap seorang perawat yang mengisyaratkan kondisi Langit tak baik.


Dokter Rio bergegas memeriksanya. Tak ada perkembangan baik pada Langit. Dokter Rio teringat pesan dokter senior itu sebelum pada akhirnya ia memutuskan melakukan operasi ini. Dia segera memberi kabar dan kemungkinan terburuk pada Jesica.


"Aku udah ga berdaya Mas, kalau bisa, akan kugantikan posisi Langit sekarang juga!" ucapnya begitu dokter Rio mengabarkan kondisi putra mereka.


Tiba-tiba alat medis itu menunjukan garis lurus. Itu artinya selesai sudah perjuangan Langit melawan rasa sakitnya. Jesica sudah tak bisa menangis lagi, di pemakaman putranya, ia terus merancau tak jelas. Langit dikuburkan bersebelahan dengan Puspa.


***


Sebulan sejak kepergian si kembar, dokter Rio merasa khawatir dengan kondisi psikis yang dialami istrinya.


"Sepertinya dia mengalami depresi berat!" gumamnya.


Jelas saja, pertama si jabang bayi yang masih di kandungannya, kemudian Puspa, terakhir Langit. Kejadiannya sangat dekat, kehilangan buah hati secara berurutan, siapa yang bisa bertahan?


Beberapa kali, Jesica dibawa ke psikiater, bahkan sampai ke Penang, mereka semua menyarankan untuk memasukan Jesica pada rumah rehabilitasi jiwa. Awalnya dokter Rio menolaknya, tapi melihat kelakuan istrinya yang semakin sulit dikendalikan, dokter Rio semakin kehilangan kesabaran untuk merawat istrinya. Sebenarnya ia lebih menyesali semua peristiwa yang belakangan menguji keluarga kecilnya. Tugasnya sebagai seorang dokter seperti runtuh saat itu juga.


September 2023, dokter Rio memutuskan menitipkan Jesica di salah satu rumah rehabilitasi jiwa di Magelang.