We Never Know

We Never Know
We Never Know



Terlihat dari luar pagar seorang wanita setengah baya, terlihat anggun dengan mini dress berwarna maroon yang serasi dengan sepatu berhak tinggi serta aksesoris yang menempel di tubuhnya. Perawakan tinggi dengan rambut pirang yang tergerai, mirip sekali dengan Jesica. Berjalan dengan tergopoh-gopoh.


"Dok...apa dia ibuku?" tanya Jesica begitu melihat seorang perempuan mendekat ke arah mereka.


"Mungkin...kulihat dia mirip denganmu."


"Apa kamu yang memiliki liontin ini?" tanya wanita itu dari dalam pagar sambil menunjukan sebuah liontin milik Jesica.


"Kamu yang bernama Jesica Anabela?"


Jesica mengangguk sambil terharu menetesakan air mata. Wanita itu setengah tergesa menyuruh security membukakan pagar untuk Jesica. Dia memeluk erat Jesica.


"Apa Anda ibuku?" tanya Jesica lirih.


"Maaf....maafkan aku nak...." balasnya.


Wanita itu melepaskan pelukannya. Menatap dan membelai lembut wajah Jesica.


"Kamu cantik sekali...matamu indah," ucapnya seraya terus membelai putri yang telah hilang bertahun-tahun lamanya.


"Apa aku mirip denganmu Bu?"


"Ya....kamu mirip sekali dengan Ibu waktu masih muda."


"Bahkan dia tidak tau sama sekali kehidupan putrinya sebelum mereka berdua dipertemukan oleh takdir." Dokter Rio membatin sambil larut dalam suasana haru.


"Masuklah....siapa laki-laki tampan yang datang bersamamu ?"


"Panggil aku Jesica, Bu...dia adalah dokter Rio. Dia seperti penyelamat hidupku selama ini. Setelah Simbok pastinya."


"Terimakasih nak dokter," ucap wanita itu sambil memeluk dokter Rio.


"Simbok? Penyelamat?" herannya.


Wanita yang diketahui bernama Nadine itu menggandeng Jesica dan dokter Rio memasuki istananya. Jesica begitu terkesima dengan keagungan rumah yang ditempati Ibu kandungnya. Satu yang belum ia temukan, Candradinata. Dari pertama kali Jesica menginjakan kaki ke rumah itu, ia sama sekali tidak menemukan sosok yang bernama Candradinata.


"Sayang.... menginaplah disini sementara. Ibu sendirian selama seminggu ke depan."


"Gimana dok?" tanya Jesica berbalik tanya ke dokter Rio.


"Dia suamimu?" tanya wanita itu.


"Ah...saya calon suami Jesica." Jabat dokter Rio mempertegas statusnya.


Jesica tersipu malu. Nadine mulai menceritakan kronologi kehidupannya di masa lalu.


"Aku ibumu...ibu yang berdosa karena membuangmu ke desa terpencil di sana, nak... mungkin tak pantas kamu sebut aku dengan kata ibu, itu terlalu suci buatku." Nadine mulai kesusahan mengungkapkan semuanya. Air matanya mulai bercucuran. Suaranya terdengar parau. Jesica masih kaku untuk merangkul wanita yang memang adalah ibunya. Jangankan untuk mengusap air matanya, sekadar memanggil "Ibu" saja terasa kelu di lidahnya.


"Maaf...Bu Nadine, suami Anda, Bapak Candradinata?"


"Ya...itu suami saya nak, dia sedang ke luar kota urusan pekerjaannya untuk seminggu ke depan. Maka dari itu, menginaplah disini sementara waktu, itu pun kalau ga keberatan."


Mendengar kata sementara waktu, membuat dokter Rio merasa janggal dengan statment dari wanita paruh baya itu. Firasatnya buruk.


"Maafkan saya Bu, sepertinya saya ga bisa, jarak rumah ini dengan tempat kerja saya terlalu jauh. Kamu mau disini Jesi?" tanya dokter Rio.


"Oh baik nak Rio... maafkan Ibu. Ibu ga maksa, tapi biarkan ibu menceritakan semuanya kepada kalian berdua. Setidaknya itu akan membuat ibu merasa lega, meski dosa itu akan dibawa sampai mati."


Wanita itu menceritakan detil kejadian puluhan tahun lalu.


"Jesi... maafkan ibu, harusnya ibu bisa memilihmu waktu itu, bukan suamiku. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Ibu ga berhak menyesal, semua udah terlanjur salah. Setelah kejadian yang hina itu, 2 bulan setelahnya, ibu dinikahi oleh Candradinata. Laki-laki yang masih menjadi suamiku sampai saat ini." Sejenak wanita itu menarik napas panjang kemudian melanjutkan ceritanya.


"Jadi ayahku bukan Candradinata?" tanya Jesica.


"Secara biologis bukan. Maaf, maafkan ibumu ini nak...." rintih wanita itu penuh penyesalan.


Braaaak......


Terdengar suara tas yang dihempaskan dengan kasar.


"Jadi selama ini kamu membohongi aku?" bentak Candradinata.


"Bukan...bukan begitu Mas...aku bisa ceritakan semuanya, kenapa kamu kembali lagi? Sejak kapan kamu berdiri disini Mas?"


"Diam kamu, puluhan tahun kamu mengubur semua ini dari aku. Kamu membodohi aku Nadine!" bentak Candradinata.


"Enggak Mas....aku sama sekali enggak bermaksud demikian. Bayangkan aja, apa mungkin aku tega membunuh darah dagingku sendiri, dia masih berusia 7 hari saat itu. Lebih baik aku menaruhnya di suatu tempat, dia akan dirawat oleh seseorang. Mas...harusnya kamu tau perasaanku."


"Enggak...enggak Nadine. Sampai kapanpun aku tak akan pernah mengakui dia sebagai anakku, meski aku sangat mencintai dirimu. Sekalipun kamu berlutut di hadapanku, jangan harap, aku akan membiarkan anak haram ini berada satu atap dengan kita. Gak sudi....cih!!"


"Mas...keterlaluan kamu!!"


"Apa....apa aku salah, dia memang anak haram. Anak lelaki hidung belang, memalukan sekali!"


"Maaasss!! Itu udah masa lalu!"


"Bukankah kamu masih mencintainya, mungkin sampai sekarang?"


"Enggak Mas.... aku hanya mencintai kamu, dulu mungkin aku mencintai laki-laki itu, tapi setelah aku menikah denganmu, ga ada laki-laki lain selain kamu Mas... Biarkan anakku tinggal bersama kita Mas." Nadine terus memohon dan meminta belas kasihan kepada suaminya.


Jesica menangis sejadi-jadinya, kaki dan tangannya gemetaran.


Plaaaak...


Tangan itu mendarat di pipi Jesica. Alat bantu pendengaran Jesica terlontar ke lantai, dokter Rio berlari ke arah kekasihnya. Itu tak cukup menyakiti hatinya ketimbang semua ucapan Candradinata yang secara gamblang menghina Jesica sedemikian. Dokter Rio segera memungutnya, hendak memasangnya kembali, namun Jesica menolaknya. Lebih baik tak mendengar apa pun saat itu, terlalu menyakitkan mendengar semua hinaan dari mulut orang yang paling dia rindukan selama ini.


Candradinata dan Nadine sedikit terkejut dengan benda kecil itu. Mereka segera menyadarinya, Nadine histeris karenanya, Candradinata makin jijik dengan Jesica.


"Kamu lihat....Nadine! Bukan hanya haram, dia ga bisa dengar!" bentak Candradinata.


"Mas...bukan salahnya dilahirkan dengan kondisi seperti itu, cukup mas... cukup, dia anakku. Jangan pernah menghina dirinya Mas, itu melukai aku."


"Selama ada kaitannya dengan si bajingan itu, aku tak akan pernah tinggal diam. Susah payah kuangkat derajatmu Nadine. Susah payah kubangunkan istana megah ini untukmu, apa begini balasanmu padaku?" suaranya mulai melunak, namun tetap pedas.


Jesica masih berdiri kaku bak patung. Menyaksikan ibu kandungnya beradu mulut dengan suaminya. Jesica tak habis pikir, pertemuan dengan orangtuanya membuatnya semakin hancur. Selama ini, ia membayangkan akan sangat bahagia setelah berjumpa dengan orangtua kandungnya. Kenyataannya, salah satunya mati-matian menolak keberadaannya. Siapa gerangan laki-laki yang dimaksud oleh Candradinata, kenapa ia begitu membencinya?


Apa yang akan Jesica lakukan mulai sekarang? Apakah dia akan melanjutkan hidupnya tanpa siapa pun, atau dia akan mengubah takdirnya menjadi seperti yang ia harapkan selama ini?


we never know.....