
"Hei...Jes...lo pikir, lo siapa?" dengan lantang dokter Sella melabrak assisten pribadinya begitu ia sampai di klinik kecantikannya.
"Maaf, saya ga ngerti, maksud dokter Sella apa?" tanya Jesica benar-benar bingung.
"Jangan belagak bego!! Gue yang ngangkat derajat lo! Lo mau nusuk gue dari belakang!" Dokter Sella dengan kasar mendorobg tubuh Jesica, untunglah ada dokter Rio yang kebetulan berada diantara mereka.
"Sel, ngapain lo pagi-pagi marah-marah?" tanya Rio santai.
"Ah ngapain sih lo, ga usah ikut campur urusan gue!" bentak Sella.
Suasana menjadi dingin setelah dokter Rio datang ke klinik tersebut. Jesica menjadi kikuk karenanya. Dengan lekat ia memperhatikan dokter Rio yang masih menenangkan dokter Sella.
"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Jesica ramah, dia sudah terbiasa melayani customer, dia selalu ingat pesan Simbok,melayani pelanggan dengan hati.
Ibu-ibu itu tersenyum dengan sambutan hangat dari Jesica.
"Kamu karyawan baru ya?" tanyanya kemudian.
"Betul, maaf bisa minta identitasnya?"
"Aku tamu VVIP di klinik ini, dokter Sella pasti tau," terangnya.
"Saya sungguh minta maaf," sesal Jesica.
Dokter Sella segera menyambut tamu VVIP-nya dan meninggalkan Rio di ruangannya.
"Maafkan kelancangan asisten baru saya," ucap dokter Sella.
"Oh...tidak tidak.....sama sekali tidak, justru aku sangat kagum dengan kesopanannya, tidak seperti kamu, mungkin kamu seorang dokter yang ternama, kaya, cantik, punya segalanya, tapi kamu tidak mempunyai apa yang gadis itu miliki."
Bagaikan tersambar petir, Sella sungguh merasa dipermalukan di depan semua karyawan kliniknya. Terlebih di depan Rio, hampir saja harga dirinya runtuh begitu saja.
***
Plaaaaaak!
Tangan dokter Sella mendarat tepat di pipi Jesica. Jesica terkejut hingga terjerembab.
"Aww...," rintihnya.
"Bereskan semua barang-barang lo dari sini! Ini hari terakhir lo kerja ama gue, gue ga mau liat muka lo lagi!" Dokter Sella mengusir Jesica dengan kasar.
"Tapi apa salah saya?"
"Lo masih ga sadar? Emang dasar lo cewek kampungan, ga tau diri!"
Ketika dokter Sella hampir menampar Jesica untuk yang kedua kalinya, dokter Rio datang dan menarik lengan Jesica serta membenamkan wajah Jesica dalam pelukannya.
"Sel...!" teriaknya.
"Nyesel gue ngelepas Jesica buat lo!"
"Rioooo...wait, ini ga seperti yang lo liat!"
"Percuma lo mau jelasin kayak gimana juga Sel, gue akan bawa Jesica ke rumah gue lagi, mulai sekarang, please jangan hubungi gue kecuali soal kerjaan!"
Dokter Rio membantu membereskan semua barang-barang Jesica, tidak terlalu lama, barang bawaannya hanya sedikit.
"Ssst.... denger ya, saya paling ga suka bullying, and....i love you Jesica," papar dokter Rio.
"Jangan bercanda dokter, saya tau, dokter adalah seseorang dengan selera tinggi bahkan mungkin perfectionis, ga mungkin saya jadi bagian hidup dokter Rio."
"Baru kali ini, seorang dokter Rio di tolak oleh seorang gadis. Sungguh, Jesi....come on, berikan aku kesempatan."
"Tapi dok, bagaimana dengan...."
"Sella?"
Jesica hanya mengangguk dan mengusap bekas air matanya.
"Kamu kedinginan ya? Pakailah jasku, kamu akan sedikit hangat. Awalnya aku tidak tertarik padamu, melihatmu setiap hari bersamaku, aku merasa kehilangan begitu kamu bekerja dengan Sella, namun ketika kupikir Sella berubah, dengan berat hati aku melepasmu. Di situ aku tau, ternyata aku menyukaimu Jesi...Please, kita jalani dulu ya!"
"Apa dokter sering melakukan ini?" tanya Jesica penasaran.
"Ya...tapi ga seperti ini!"
"Artinya..."
"Kalo kamu nerima aku, silahkan keluar dari mobil dan bukakan pintu mobilku, sebaliknya, kalo kamu menolakku, keluar dan langsung masuk ke rumah. Mengerti?" tanya dokter Rio sambil mengusap pipi Jesica yang terlihat sedikit memar akibat gamparan dari Sella.
Cukup sepuluh menit bagi Jesica untuk memutuskannya. Dia berjalan keluar dan berhenti di depan mobil dokter Rio. Jesica menatap ke arah pintu rumah dokter tampan itu.
"Sepertinya gue tau apa jawabannya, seumur-umur baru ini, gue ditolak cewek!" gumamnya sambil menutupkan kedua tangannya ke arah wajah.
Jesica maju beberapa langkah menuju rumah, namun seketika dia berbalik badan dan membukakan pintu mobil untuk dokter Rio. Tentu saja dia kaget begitu tiba-tiba pintu mobilnya terbuka. Dokter Rio segera keluar dan memeluk Jesica.
"Makasih Jesi..." katanya.
Jesica masih kaku dengan hubungannya yang baru saja resmi terjalin dengan seorang dokter tampan yang selama ini menjadi malaikat penolongnya.
"Dokter Rio...makasih untuk semuanya, semoga dokter ga salah memilih saya sebagai bagian hidup dokter."
"Stop untuk memanggilku dokter, saat ini kamu dan aku adalah sepasang kekasih."
"Saya ga bisa melakukannya dok, terlalu banyak perbedaan di antara kita. Saya menyadarinya, dokter tidak bisa memaksa saya begitu saja. Tapi...saya akan selalu berusaha menjadi yang terbaik."
"Ok...terserah kamu. Kita masuk, Bi Mumun akan senang melihatmu kembali kesini."
***
(Di klinik kecantikan dokter Sella)
"Gila emang si Rio... bisa-bisanya dia ngebelain gadis kampungan itu, dia lupa, persahabatannya sama gue udah berapa taun, cuma gara-gara cewek itu, dia blokir nomer gue sekarang!" Dokter cantik itu terus mengomel sambil menutup kliniknya yang terlambat beberapa jam karena beberapa kliennya mengajukan complain berat terkait pelayanannya.
"Apa hebatnya gadis itu, dia cuma lulusan SMA, gadis cacat yang baru aja memulai hidupnya karena belas kasihan orang lain, ah....shiit!!"
Dokter Sella tertidur setelah lelah memaki. Sementara itu, dokter Rio yang tengah kasmaran, dia tidur dalam hati damai dan berbinar-binar. Jesica di kamar barunya, masih terjaga. Seperti biasa, dia selalu menuliskan kembali apa yang terjadi hari itu. Sedikit membaca-baca apa yang kiranya bisa menambah pengetahuannya.
"Kini aku menyadari, setiap makna ada dalam setiap ekspresi kehidupan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah merencanakan masa depan. Menemukan cita-cita untuk mendasari tujuan dan berupaya mencapai tujuan yang menciptakan prinsip positif dan aku tau itu bukanlah tugas kecil. Jika tujuan dan prinsip ini mulia, aku dapat bertindak dengan kemurahaan hati dan kerelaan yang menakjubkan. Aku akan mengembangkan ilmu yang kudapat belakangan ini, mungkin bukan dari orang yang tepat, tapi kurasa ini bermanfaat dan aku akan mempertahankan kebiasan baru itu, mungkin tidak muncul secara alami, tetapi menggunakan waktu setiap hari untuk memahami motivasi itu, memungkinkanku untuk menggunakan kekuatan yang kumiliki untuk mengejar apa pun yang aku sukai."
Jesica Anabela, mulai mencintai dirinya, semangat baru dalan hidupnya ia bangun perlahan, dengan dukungan yang tulus dari seorang malaikat berwujud dokter muda nan tampan yang kini menjadi bagian kecil dari hidupnya. Jesica Anabela, gadis yang tak ingin membalas semua sakit hatinya meski berkali-kali dihempaskan, memetik semua buah manis yang ia tanam dengan kesabaran.