
Hari pertama Ana bekerja sebagai tukang kebun di rumah mewah dokter Rio, dia masih terheran-heran, tepatnya tidak percaya, dia menemukan seorang majikan yang super kaya dan baik hatinya. Dia berjanji dalam hati akan bekerja dengan setulus hati meski hanya sebagai tukang kebun.
"Ana..." panggil Bi Mumun dari dapur.
"Ya Bi...ada yang bisa aku bantu Bi?" tanya Ana sopan.
"Bukan...bukan itu, udah makan belum? Makanlah dulu, ini Bibi tadi masak nasi goreng telor mata sapi sekalian untuk sarapan den dokter," jelas Bibi.
Ana hanya menggeleng. Mungkin masih ada trauma yang menyangkut dalam dirinya tentang masa lalunya yang begitu pahit. Dia tidak bisa percaya dengan orang-orang di sekitarnya. Terlebih orang yang baru dikenalnya.
"Ndak usah takut, Bibi udah lama bekerja di sini, sejak den Rio masih SMP dan sekarang udah jadi dokter. Katanya kamu dari Malang ya? Bibi dari Solo lo, kita sama-sama orang Jawa."
Ana sedikit lega dengan pernyataan dari Bibi. Setidaknya ada seseorang yang ia kenal meski belum cukup dekat, dalam hati kecil Ana, percaya bahwa Bi Mumun adalah orang baik. Bi Mumun menjelaskan dengan gamblang siapa dokter Rio, bagaimana sifat dan sikapnya, seluk beluk rumah mewahnya, serta bagaimana ia harus bersikap pada majikannya serta tamu-tamunya yang kerap berkunjung ke rumah untuk sekadar ngopi atau ngeteh.
"Wajahmu kenapa An?"
"Ini? Ceritanya panjang Bi...sudah kututup semua memori buruk tentang awal mula cacat wajahku Bi.... maaf aku ga bisa cerita ya Bi."
Bibi hanya mengangguk, dia paham betul perasaan yang sedang menjalari Ana.
"Bi...saya berangkat dulu, mungkin nanti Sella akan mampir sebentar ke sini mengambil beberapa berkas. Sudah saya siapkan, kalo nanti saya belum nyampe, Bibi antarkan aja Sella ke ruang kerja saya."
"Ashiiap..." jawab Bibi sigap.
"Oya...Ana, kamu bisa tanyakan Bibi apa yang harus kamu kerjakan ya, nyamanlah!"
Ana mengangguk tanpa berani menatap wajah dokter Rio.
[Kenapa jantungku begitu berdebar begitu dokter Rio datang kesini ya?]
"Bi...tolong bantu Ana ya..." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Bibi dan Ana.
Seramah itu sikap dokter Rio pada karyawannya, membuat seseorang yang baru mengenalnya bisa salah paham dengan kebaikan dan keramahannya.
***
Di RS Premier Bintaro
13.00
"Sel...ga kok masuk dinas?" tanya Rio pada Sella, sahabat sekaligus partner kerjanya di RS Premier Bintaro.
"Iya...gue balik pagi tadi, masuk aja deh, mana berkas yang gue minta?" tanya Sella.
"Yah...ga gue bawa lah, katanya lo mau mampir ke rumah, ya gue tinggal di rumah dong. Besok deh, atau nanti pulangnya bareng gue aja, sekalian ambil!"
"Gue lagi bawa mobil, besok aja lo bawain ya...jangan lupa, itu ada list pasien gue yang harus segera ditangani O..."
"Iye... beres Sel."
22.00
Tiiiiin...tiiinnn....tiin
Klakson mobil Rio sudah memberi alarm di depan pintu gerbang, itu tandanya Bi Mumun harus segera menyiapkan teh jahe untuk majikannya.
"Den..., temennya ga jadi dateng ya?" tanya Bi Mumun begitu melihat Rio duduk di sofa ruang tamu.
"Oiya...enggak jadi Bi. Ana mana?"
"Ada di belakang, den."
"Ok."
"Eh ... belum, sebentar lagi dokter Rio. Saya habis bantuin Bi Mumun membersihkan dapur."
"Gimana, betah tinggal disini?"
Ana hanya tersenyum mendengar pertanyaan dokter Rio. Dia tidak tau harus menjawab apa. Yang pasti, Ana akan terus berbuat sebaik mungkin selama ia bisa melakukannya.
"Saya boleh tanyakan sesuatu?"
"Tentang?"
"Maaf, wajahmu..." dokter Rio sedikit tidak enak hati untuk bertanya tentang masa lalu Ana. Tapi, jiwa kedokterannya lagi-lagi mendominasi jiwa mudanya untuk mengetahui sesuatu yang ada di hadapannya, terlebih jika itu ada kaitannya dengan kesehatan.
"Oh... ini, ini bekas luka bakar akibat cairan kimia yang mengenai wajah saya dok, kejadiannya 3 tahun yang lalu, begitu pula ini." Ana menunjukan alat bantu dengarnya yang masih menempel di salah satu kupingnya. Dokter Rio menyibakan rambut panjang Ana untuk memastikan apa yang sedang ditunjukan Ana.
"Itu juga?" tanya dokter Rio memastikan.
Ana mengangguk.
"Tapi sekarang saya udah ga masalah dengan ini semua, sudah biasa dok," jelas Ana.
Dokter Rio hanya manggut-manggut.
"Udah larut, tidurlah.. istirahat yang cukup," perintah dokter Rio.
Ana senang bukan main dengan perhatian dari dokter Rio. Pertama kali dalam hidupnya, ia diperlakukan sehangat ini oleh seseorang selain almarhumah Simbok.
Sebelum adzan subuh dokter Rio sudah berkemas. Dia tidak menemukan bibi, hanya Ana di halaman belakang.
"An...nanti siang ada temanku mau datang, tolong bilang pada Bibi," pesan dokter Rio pada Ana. Ana mengiyakan pesan darinya.
Sekitar pukul 10.00, Sella datang ke rumah Rio. Di halaman depan dia menemukan sosok asing di rumah sahabatnya itu.
"Siapa kamu?" tanya Sella pada Ana yang sedang merapikan kebun bunga.
"S-saya...." belum sempat Ana menjawab, Sella sudah memotong ucapan Ana.
"Jangan-jangan kamu maling ya, semua ini adalah bunga yang mahal, aku yang membelikannya untuk Rio!" tuduh Sella bertubi-tubi.
Mendengar ada suara Non Sella, Bi Mumun segera berlari keluar membawa berkas yang disiapkan oleh den Rio untuknya.
"Bi...hati-hati, ada maling bunga!" sambil menerima berkas yang ia butuhkan.
"Maaf....Non, ini namanya Ana, dia tukang kebun baru di rumah ini, bukan maling," jelas Bi Mumun.
"Hah? Rio mempekerjakan orang cacat, buruk rupa sepertimu? Yang benar aja, kayak ga ada orang lain, apa kata temen-temenya yang liat ada monster di rumahnya? Jangan-jangan lo penyihir ya!" tuduh Sella mentah-mentah.
Baru saja, Ana menata hidupnya yang baru, mulai bangkit dari trauma bullying, ada saja yang mau menjatuhkan kembali mentalnya. Ana berlari menuju belakang rumah, Bi Mumun mengikutinya setelah Sella pulang.
"An... maafkan perkataan Non Sella ya. Dia memang cantik, tapi mulutnya tajemnya gak ketulungan, kaya daun ilalang, bikin perih kalo kena daunya." Bibi mencoba menghibur Ana yang masih sesegukan.
Bibi memberitaukan kejadian itu pada dokter Rio. Dia hanya tertawa, pikirnya itu adalah gurauan yang tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Tiga bulan lamanya Ana bekerja di rumah itu sebagai tukang kebun, dia masih berusaha membetah-betahkan diri untuk tetap disana. Namun setiap kali dokter Sella datang ke rumah dokter Rio, hatinya kembali hancur berkeping-keping, perkataannya sama menyakitkannya dengan Dewa, anak laki-laki yang pernah menjadi sahabatnya.
Lambat laun, dokter Rio menyadari bahwa Ana mulai tidak nyaman dengan pekerjaannya.
"Kenapa, apa yang membuatmu tidak nyaman?" tanya dokter Rio suatu sore.
"Jujur saja, saya sudah tau semuanya." Dia menambahkan. Ana masih terdiam, dia ragu mengiyakan kesimpulan yang memang tepat.
"Kalo begitu, kamu bekerjalah di vilaku, di Bogor, tapi di sana kosong. Rawatlah seperti rumahmu sendiri. Mungkin kamu butuh waktu untuk sendiri, sambil memulihkan kepercayaan dirimu. Bagaimana?"
Ana mengangguk, dia mencium tangan dokter Rio layaknya seorang istri yang meminta restu kepada suaminya.